Riuh khalayak menyeruak seolah aku ada diantara mereka,
Namun nyatanya aku tetap sendiri menikmati secuil hati yang ingin pergi.
Terkadang, memang raga sedang berjalan,
Tapi hati masih terdiam dan meredam.
Secuil hati yang ingin pergi,
Tak mampu berkutik karena hierarki ego,
Mengapa tak dihancurkan saja?
Mengapa tak dipatahkan saja?
Jika nyatanya bersumpah tetap tak dipercaya.
Siapa yang mau datang hanya untuk pergi?
Tak ada.
Tapi, merenung membuat seruan hati terdengar sangat gamblang.
"Aku ingin pergi, aku ingin pergi. Aku lelah bergelut sendiri."
Maka, sang raha hanya bisa diam.
Ketika melihat hati yang meronta hendak pergi.
Terperangkap dalam sunyi, karena seonggok hati yang tak tau diri.
"Hei hati, mengapa kau tak mengalah?"
Seolah lelah juga, raga ingin meredam hati.
Berhenti. Mungkin bisa membuatnya baik-baik saja.
Tapi tiba-tiba hati menangis sesenggukan, menatap raga yang kebingungan.
"Apa yang kulakukan selama ini jika tidak berhenti? Aku sudah berhenti sejak dulu untuk menemanimu. Dan sekarang aku lelah."
Hati menyerah. Dia kalah. Dan ya sudahlah.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu