Sabar hati, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan orang yang rindukan.
seperti sudah tersinkron, hati dan bibirku jadi sejalan kali ini.
Aku tersenyum dikala ingatanku mengingat, "besok kita akan bertemu".
Ternyata ada tahap-tahap sebelum melakukan project yang sedang kita rencakan, dan hal itu semakin membuat banyak waktuku untuk bertemu denganmu. Kukira hanya sekali kita bertemu; tepatnya pada saat project itu dikerjakan. tapi ternyata kita perlu meeting dulu, membicarakan tema, rancangan, dan sebagainya yang diperlukan pada hari H.
Aku merasa sedang menjadi perempuan yang baru jatuh cinta, sedangkan ku sudah punya cinta ini jauh sebelum aku terjatuh.
Banyak hal yang pernah kita lalui, dulu, berfase-fase.
Dari saat paling awal, ketika kita pertama kali mengenal, berbincang ringan mengenai pekerjaan, pendidikan, dan basa-basi yang membuatku sering menjadi tidak waras.
Kemudian ketika kamu mengungkapkan perasaan, setelah banyak tulisan tentang keraguanku mengenai perasaanmu yang sebenarnya. dari saat itu, aku tau hatiku tak sia-sia, hatiku jatuh pada orang yang tak salah.
Sampai pada akhirnya kita berada di fase paling sulit, entah mungkin bisa dikatakan menjadi akhir dari semua cerita itu, kepergiaan menjadi pilihan kita, komitmen yang pernah berusaha kita jaga tak lebih dari cucuran airmata saling meninggalkan. Untuk menyapa tak ayal menjadi sangat tabu, bahkan kamu tak memberi ruang untuk itu.
Aku menatap lampu bolam yang ada di persimpangan jalan, tempatku banyak menunggu dalam diam. hanya bisa menunggu, tanpa tau kabarmu, setidaknya aku bisa melihatmu kala itu.
Sekarang? Aku bersyukur, entah mulai darimana, sampai kita bisa berbincang santai seperti dulu. Hingga kita punya project bersama seperti sekarang.
Terimakasih, meski cinta ini tak bisa kuhilangkan, tapi kamu masih mau menerimaku sebagai teman. Tak apa. Mungkin lambat laun kamu akan mengerti, bahwa persepsimu tentang meninggalkan itu mudah, salah.
seperti sudah tersinkron, hati dan bibirku jadi sejalan kali ini.
Aku tersenyum dikala ingatanku mengingat, "besok kita akan bertemu".
Ternyata ada tahap-tahap sebelum melakukan project yang sedang kita rencakan, dan hal itu semakin membuat banyak waktuku untuk bertemu denganmu. Kukira hanya sekali kita bertemu; tepatnya pada saat project itu dikerjakan. tapi ternyata kita perlu meeting dulu, membicarakan tema, rancangan, dan sebagainya yang diperlukan pada hari H.
Aku merasa sedang menjadi perempuan yang baru jatuh cinta, sedangkan ku sudah punya cinta ini jauh sebelum aku terjatuh.
Banyak hal yang pernah kita lalui, dulu, berfase-fase.
Dari saat paling awal, ketika kita pertama kali mengenal, berbincang ringan mengenai pekerjaan, pendidikan, dan basa-basi yang membuatku sering menjadi tidak waras.
Kemudian ketika kamu mengungkapkan perasaan, setelah banyak tulisan tentang keraguanku mengenai perasaanmu yang sebenarnya. dari saat itu, aku tau hatiku tak sia-sia, hatiku jatuh pada orang yang tak salah.
Sampai pada akhirnya kita berada di fase paling sulit, entah mungkin bisa dikatakan menjadi akhir dari semua cerita itu, kepergiaan menjadi pilihan kita, komitmen yang pernah berusaha kita jaga tak lebih dari cucuran airmata saling meninggalkan. Untuk menyapa tak ayal menjadi sangat tabu, bahkan kamu tak memberi ruang untuk itu.
Aku menatap lampu bolam yang ada di persimpangan jalan, tempatku banyak menunggu dalam diam. hanya bisa menunggu, tanpa tau kabarmu, setidaknya aku bisa melihatmu kala itu.
Sekarang? Aku bersyukur, entah mulai darimana, sampai kita bisa berbincang santai seperti dulu. Hingga kita punya project bersama seperti sekarang.
Terimakasih, meski cinta ini tak bisa kuhilangkan, tapi kamu masih mau menerimaku sebagai teman. Tak apa. Mungkin lambat laun kamu akan mengerti, bahwa persepsimu tentang meninggalkan itu mudah, salah.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu