Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

Baik baik

Kamu kira dengan mudah aku bisa melupakan semua hal tentang kita secepat kamu melupakannya? Bahkan aku masih mencoba menata kembali hati yang kamu runtuhkan. Bisa-bisanya kamu berhasil membuatku melambung tinggi, bahkan menghalangiku untuk melihat kebawah. Padahal dibawah ada banyak duri yang siap menancap ketika aku terjatuh. Dan sekarang? Belum sempat aku menengok kebawah, mencoba melihat duri-duri tajam itu. Namun dengan cepat kamu sudah melepaskanku dan siap menghempaskanku kearah duri-duri tajam itu. Dengan mudah! Dan sekarang kau mulai melambungkan dirimu sendiri semakin keatas, tidak lagi menghiraukanku, menengokpun tidak. Kini aku sadar. Seseorang yang mahir melambungkanku, juga lebih mahir untuk menjatuhkanku. Karma memang tidak pernah ada dalam islam, dan aku tidak mempercayainya. Namun seseorang yang berbuat keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Begitupun sebaliknya. Sama halnya dengan menanam keburukan sebiji jagung, selanjutnya akan mendapat balasan keburukan ...

He is still distract (3)

"Chika mau pulang bareng?" Tanyaku kepada seorang gadis cantik yang sedang berdiri disamping pintu ruang rapat. Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Oh terimakasih ke. Tapi aku pulang sama andre" jawabnya dengan masih senyum manisnya. "Andre?" tanyaku dengan muka cemberut. "Iya, maaf yaa gak bisa pulang bareng kamu" Ucapnya dengan menepuk-nepuk pelan pundakku, sebenarnya aku tidak apasih kalau harus pulang sendiri. Tapi masalahnya aku harus mengendarai motor itu sendiri, sedangkan biasanya aku dianterin bunda yang sekalian berangkat kebutik dan pulangnya bareng echa sahabatku. "Chika yuk" Suara andre yang baru keluar kelas membubarkan tekukan wajahku yang sepertinya tidak berhasil untuk membujuk chika bareng pulang denganku. "Ooh iya, duluan ya ke. Maaf gak bisa bareng" Ucap chika dengan senyum yang mengembang sembari berjalan digandeng andre. Eeh sebentar.. Digandeng? Apa jangan-jangan mereka? Pacaran? Omegad omegad. Ch...

He is still distract (3)

"Chika mau pulang bareng?" Tanyaku kepada seorang gadis cantik yang sedang berdiri disamping pintu ruang rapat. Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Oh terimakasih ke. Tapi aku pulang sama andre" jawabnya dengan masih senyum manisnya. "Andre?" tanyaku dengan muka cemberut. "Iya, maaf yaa gak bisa pulang bareng kamu" Ucapnya dengan menepuk-nepuk pelan pundakku, sebenarnya aku tidak apasih kalau harus pulang sendiri. Tapi masalahnya aku harus mengendarai motor itu sendiri, sedangkan biasanya aku dianterin bunda yang sekalian berangkat kebutik dan pulangnya bareng echa sahabatku. "Chika yuk" Suara andre yang baru keluar kelas membubarkan tekukan wajahku yang sepertinya tidak berhasil untuk membujuk chika bareng pulang denganku. "Ooh iya, duluan ya ke. Maaf gak bisa bareng" Ucap chika dengan senyum yang mengembang sembari berjalan digandeng andre. Eeh sebentar.. Digandeng? Apa jangan-jangan mereka? Pacaran? Omegad omegad. Ch...

Luka?

Terimakasih untuk semua lukanya. Mungkin sangat berat dan menyusahkan. Tapi tidak ada guna pula untuk memperbaiki semuanya. Karena yang bertahan dan berjuang selama ini hanya aku, bukan dia! Oke, terimakasih untuk senyum palsunya selama ini. Senyum yang berhasil menghipnotisku dan paling menjatuhkanku kali ini. Senyum yang selalu aku bangga-banggakan dalam tulisanku. Oke, kalian yang tidak suka boleh menertawakan kesedihanku kali ini. Tapi tidak untuk nanti, aku bukan lagi orang yang merengek-rengek sedih untuk kalian tertawakan. Aku hanya salah mencintai seseorang. Karena memang benar persepsi awalku, aku hanya nomor kesekian di hidupnya. Terimakasih semua lukanya. Terimakasih senyum palsunya. Aku salah menjatuhkan pilihan pada seseorang yang tak pernah memakai hati

He is still distract (2)

-Nike pov- Aku masih mengingat jelas wajah datar itu, wajah yang segera mengalihkan pandangannya ketika ku lihat. Dengan langkah gontai aku memasuki rumah. Seperti biasa rumah terasa sangat ramai, yang terdengar begitu nyaring ketika melewati ruang keluarga. Pemandangan seperti biasa yang selalu aku lihat saat pulang dan selalu membuat moodku yang jelek sedikit membaik. "Eeh sudah pulang toh anak bunda yang cantik" Suara lembut itu terdengar sangat merdu dengan sedikit serak. Mungkin suaranya banyak dia keluarkan untuk melerai dua anak bunda yang sekarang sedang bertengkar merebutkan remote tv. Oh ya, dirumah ini aku tinggal berempat dengan bunda, kakak dan adik bungsuku(kak inka dan viko rusadi). Ayah meninggal 5tahun yang lalu saat aku masih smp kelas 1, kak inka sma kelas 2, sedangkan viko masih kelas 1 sd, ayah meninggal karena penyakit ginjalnya yang sudah sangat parah tapi dia biarkan dan tidak begitu dipikirkan sampai suatu hari kondisinya melemah dan saat itu jug...
Yaallah banyak sekali peristiwa-peristiwa aneh yang sedang terjadi didunia ini. Entah itu dilangit maupun dibumi. Peristiwa-peristiwa yang menunjukan kekuasaan-Mu. Betapa malunya aku sebagai umat akhir zaman yang masih lalai akan tugas wajib sebagai seorang muslim. Seringkali aku mengeluh atas cobaan yang bahkan tidak seberat orang diluaran sana yang masih sangat berada dibawahku. Dengan ayah yang sudah Engkau panggil terlebih dahulu, seharusnya memotivasiku untuk menjadi anak yang lebih berbakti, menjadinya bangga dan selalu tersenyum melihat anaknya yang selalu berbuat kebajikan dan beramal sholeh. Ya Allah. Aku masih merasa kurang menjadi anak yang berbakti, merasa kurang menjadi umat yang patuh atas kewajiban sebagai seorang muslim. Aku masih sering membuat ibu menangis, masih lalai atas perintah Allah, masih suka berkufur nikmat. Ya Allah jadikan hamba anak yang mampu menolong kedua orang tua dari api neraka, dan membawa mereka ke surga-Mu yang kekal. Ingatkan hamba jika hamba...

He is still distract (1)

Gak ada kerjaan, gak ada bunyi hp yang tanda-tandanya ada chat, sepi, mager, boring. Jadi Mau buat cerita fiksi, yang panjang. Fiksi loh ya fiksi. Kalau baper sih gak papa hehe. Sekalian hayati ceritanya. Oke langsung baca. Dingin diwajahnya yang hangat, tidak bisa membuatku mundur mengaguminya. - Nike veronika rusadi. Gadis dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi dan berprawakan cantik dengan mata lentiknya yang membuat semua pria melihatnya akan terkesima. Meski banyak pria yang coba mendekatinya, dia tidak bergeming menanggapinya. Karena ada sosok yang mengalihkan perhatiannya, sosok yang sangat tampan dan menjadi incaran para wanita. Sikapnya yang dingin dan terkesan cuek membuat nike mengurungkan niat untuk lebih dekat mengenalnya, dia memilih untuk melihatnya dari kejauhan. Bahkan dia sendiri tidak bisa memungkiri setiap bertemu dengannya, tingkah-tingkah aneh secara refleks terjadi di dirinya. Bisa dibilang salah tingkah. Hft. -Nike pov- Kini aku melihat punggungnya lagi, d...

Terompet Sangkakala

Belakangan ini dunia digemparkan oleh terdengarnya suara terompet dari langit yang terdengar di kanada, amerika, eropa. Dan banyak yang mengatakan suara itu berasal dari terompet sangkakala. Naah.. Aku sendiri, sebagai seorang muslim menjadi penasaran bagaimana gambaran terompet sangkakala yang sebenarnya. Yuuk cuus baca ini. GAMBARAN TEROMPET SANGKAKALA BERDASARKAN HADITS SHAHIH RASULULLAH SAW “Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dandiserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah". Saya bertanya:“Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah: “BAGAIKAN TANDUK DARI CAHAYA.” Saya tanya: “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah: “SANGAT BESAR BULATANNYA, DEMI ALLAH YANG MENGUTUSKU(MUHAMMAD) SEBAGAI NABI , BESAR BULATANNYA ITU LEBIH LUAS DARI LANGIT DAN BUMI, dan akan ditiup hinggatiga kali. Pertama: N...

Hahaha!

Sudah kuduga, sejak awal semuanya hanya aku yang memakai hati. Tidak dia, tidak sama sekali. Dan bodohnya aku yang masih terus melanjutkan rasa itu. Sekarang? Nyatanya? Buktinya? Sesak, sesak, sesak. Dengan mudah bilang hal yang membuat mata menjalar panas ketika harus membaca kalimat itu. Kalimat yang selama ini aku takuti. Seharusnya aku sudah menyadari itu, bahkan pertemuan itu? Dia sudah tidak lagi punya rasa, dan bahkan aku tidak mengetahui semua itu. Senyum palsu itu, aku bahkan tidak bisa melihat kepalsuan itu. Aku tidak mengerti pikirannya! Tidak! Aku sudah mencoba mengalah deminya. Mereda egoisku deminya. Tapi balasannya? Haha sukses ya sudah pintar sekali buat sakit! Sukses. Sangat sangat sangat kecewa!

Kosong

Ada apa denganmu? Bahkan aku tidak tau apa yang sedang aku rasakan saat ini, semua begitu aneh. Aku rasa belakangan ini aku kehilangan sesuatu hal yang biasanya selalu membuatku nyaman. Dimana kau sebenarnya? Apa kau sesibuk ini? Sehingga untuk menghubungiku saja kau terlalu susah. Apa sesulit itu untuk membaca pesanku. Mungkin kau butuh waktu dengan kesibukanmu tanpa hiraukan aku dulu. Iya, tidak selamanya aku yang harus kau pentingkan. Aku mengerti itu sayang. Aku mengerti. Maafkan, aku terlalu sulit menahan egoku. Aku terlalu khawatir tanpa kabarmu. Aku terlalu sakit tak kau hiraukan. Maaf. Aku hanya takut kehilanganmu, takut kehilangan sosok yang selalu membuatku nyaman. Maaf aku terlalu merepotkan untukmu dengan mengurusi hatiku, menyuruhmu terlalu mengerti aku.

Senyum itu lagi.

Sosok tinggi dengan gelang hitam dipergelangan tangan kirinya, dasi yang tak selalu tepat dimana letaknya, lambaian tangannya setiap berjalan, rambutnya yang tipis berdiri,sosok yang sedang aku cari-cari belakangan ini. Dia berjalan bergontai menyusuri lorong-lorong dan matanya mulai menemukan aku yang sedari tadi memperhatikannya. Dia menghampiriku. Senyuman itu kembali mengembang dari bibirnya, senyum yang selalu membuatku nyaman. Kini aku sudah bersejajar dengannya, tinggiku yang hanya setelinganya, membuat memandangnya harus dengan mendongakkan kepala lebih tinggi. Aku hanya ingin melihat senyumnya lagi hehe. Ingin berbasa-basi lagi dengannya, tak jarang malah perdebatan kecil yang selalu muncul. Yaa, itu hal yang selalu dia lakukan. Keusilannya yang membuat perdebatan kecil itu muncul, memang dengan hal ini yang selalu membuatku nyaman dengannya. Karena dengan ini aku lebih banyak melihatnya tertawa saat wajahku sudah kutekuk masam. Senyumannya kembali mengembang saat aku sudah ...

Belakangan ini

Entahlah apa namanya rasa ini, yang sangat perih. Aku masih berkutat dengan ponsel yang menyala didepan wajah dan tak berkedip sekalipun ini mata, sesekali aku melihat kearah statusbar hanya untuk mengecek notif bbm darimu, tapi nihil. Aku masih menunggu balasan darimu, balasan dari seorang kekasih, bukan menunggu balasan dari orang yang tak pasti. Yang sedang aku tunggu sudah pasti! Tapi sepertinya aku harus kembali kecewa, kembali menelan ludah dengan terpaksa. Kau memang membalas pesanku, tapi kau segera mengakhiri pembicaraan yang bahkan sedang aku mulai. Aku hanya mencoba meluapkan sedikit rasa rindu ini yang  belakangan ini sedang sangat menggebu-gebu, tapi sepertinya kau sedang kelelahan sampai tak sedikitpun mengerti yang aku rasa. Baiklah, aku mengerti. Beberapa hari ini memang kau sibuk, emm mungkin tepatnya "sangat", sangat sibuk. Hingga belakangan ini pula kau sering hanya membaca pesanku tanpa ada niat membalasnya. Apalah daya aku, wanita yang begitu mudah mer...

Lagi lagi

Menerawang, dimana saat aku begitu bahagia bisa melihatmu tersenyum disampingku seakan-akan didunia ini aku yang sangat menyenangkan untuk kau pandang. Kau selalu memegang tangan kecil ini dan tidak ada niatan untuk melepasnya. Pegangan itu yang selalu membuat jantung ini tidak hentinya berdetak cepat, darah yang mengalir seirama dengan jantung. Tidak melebih-lebihkan, hanya saja jika kau mampu mendengarnya memang begitu nyatanya. Diatas motor maticmu kita sering bercanda, meluapkan segala rasa rindu. Entah rindu untuk saling mengejek atau memuji. Tapi hal itu yang sangat sulit dilupakan setiap bab-nya. Dimasjid aku sering melihatmu berdiri tegap didepan beberapa orang, dengan tangan bersendekap dibawah dada bidang itu dan dengan tegas kau memimpin mereka untuk menghadap ke Ya Robbi. Mengimami mereka dengan khusyuk. Kau selalu bisa membuatku terpanah, selalu. Kau selalu bisa membuatku tertawa dengan lebar tapi tiba-tiba membuatku kesal dan kemudian tersenyum. Begitu cara kau membua...

Rasanya.

Rasa ini kembali menghampiri, rasa yang semakin menyesakkan dada. Rasa takut kehilanganmu. Iya, takut kehilanganmu. Entah, namun saat ini perasaanku merasa ingin melihatmu tetap tersenyum ketika melihatku. Aku takut, takut sayang. Rasa takut yang aneh ya? Kau bingung? Padahal kau tidak berbuat apa-apa yang membuatku sesedih ini?. Tidak sayang, bukan kau yang menyebabkan kesedihan ini. Aku takut kehilanganmu, takut kau bosan denganku. Bosan? Manusiawi memang. Tetapi apa aku bisa merubah rasa bosanmu itu? Sulit. Aku orang yang kaku, yang tidak tau melakukan apa ketika seseorang yang aku sayang sudah mulai dingin. Aku ingin semuanya kembali seperti semula, saat kau masih sangat perhatian dan menyayangiku. Aku takut itu terjadi sayang, aku takut kau berubah dingin padaku. Aku takut kau berubah karena wanita lain. Kau tau? Sejak awal aku tak pernah menjalin hubungan selama kurun waktu yang panjang seperti ini. Kau juga pasti sudah tau rasaku sekarang. Sudah pasti sangat menyayangimu. ...

Hai KAU

Hai kau yang masih mengisi hari-hariku dengan senyuman. Tolong jaga rasamu ya, meski ini bukan kali pertama aku ucap. Tapi aku hanya ingin rasamu tetap dan tak berkurang. Kau tau? Aku menyayangi juga mengagumimu. Entah ada hal yang membuatmu berbeda dari yang lalu. Kau berbeda. Berbeda sekali. Kau tak menyukai perdebatan yang membuat semuanya memanas, tapi kau malah lebih suka menjailiku dengan nama-nama panggilan atau bahkan ejekan-ejekan yang membuatku mendengus kesal. Kau tak pernah mengucap kata pujian untukku, tak pernah juga berkata sayang kalau tidak aku awali. Kau tau? Aku lebih suka kau seperti ini. Kau memang tak pandai untuk merangkai kata-kata manis yang membuatku senyum tersanjung, tapi kau selalu mengucap kata yang selalu menenangkan. Yang selalu membuatku tersenyum tak takut kehilanganmu. Tawa meski dari kata-kata sederhana masih saja membuatku senang. Membayangkan setengah lingkaran dibibir yang menciptakan bulan sabit dimatamu. Tawamu yang tak pernah bosan untuk ...

Semangatku mungkin

Kali ini aku harus relain tidak ikut sahabat-sahabatku makan sama kak chiko. Ada keharusan yang tidak boleh aku tinggalkan. "Kok lama sih raf?" tanya sesosok cowok berdiri didepanku. Mungkin sosok yang menjadi penyemangatku setiap latihan. Memanggil namaku saja dia berbeda dengan yang lain. "Maaf tadi ada macet" ucapku dengan menundukan kepala. "Maceet? Memang kamu darimana?" tanyanya yang sekarang mulai penasaran. "Macet banyak mobil semut lewat" ucapku dengan tersenyum manis tanpa dosa. Hihi. Zaldi, diapun tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Oh iya namanya rizaldi, aku sering memanggilnya zal. Berbeda dengan teman-teman yang lain. "Haha kirain macet beneran. Soalnya tadi gue berangkat kesini gaada macet sama sekali" ucapnya yang sekarang mulai akrab kembali denganku. Meskipun dia dan aku anggota banjari, kita jarang memanggil aku-kamu. "Hehe gitu aja lo percaya" ucapku yang sekarang mulai mencair setelah mel...

Badboy

Ami pov Heeei kak" sapa liana sembari duduk disamping hani. Liana dan siska sudah mengenal aku, hani, rumi dan rafidah. "Heiii" sapaku balik. "Lo duduk disini?" tanya hani menyindir. "Iissh kak hani" ucap liana dengan bibir yang manyun. Yang membimuat kita tertawa geli melihatnya. - Aku melihat kearah pintu, semua anak sudah masuk. Bahkan aku sudah duduk dibangku ku sendiri, sedangkan kursi sampingku masih kosong. Pasti aku duduk lagi dengan fahri, dan pasti dia telat. Huufft kebiasaan. Dia adik kelas yang menurutku sangat menyebalkan, merepotkan setiap ulangan. Tapi dia juga yang membuatku selalu senang saat ulangan. Haha. Entah, sejak awal aku menganggapnya biasa saja. Bahkan aku senang membullynya. Tapi aku sadar ini ulangan terakhirku kelas 2. Nanti pasti aku tidak bisa melihatnya lagi saat ulangan. Aku juga akan sulit memperhatikannya mencontek ataupun mengerjakan. Aku takut kehilangan fahri. Haha mana mungkin. Dia adik kelas paling badb...

RINDU

Rindu. Sakitkah merindu? Apakah ada obat rindu selain bertemu? Nanti aku akan sangat merindukan, mungkin kau juga. Namun sudah kupastikan yang sangat merindu adalah aku. Akan sangat jarang melihat senyum indahmu, tawa kecil yang membentuk setengah lingkaran, tahi lalat dibawah mata sipitmu, hidung mungilmu. Haha mendeskripsikan wajahmu begini saja aku sudah snagat rindu sayang. Bagaimana nanti kita lama tidak bertemu. Mungkin kau juga tau selain rindu aku juga begitu khawatir dengan siulan genitmu itu sayang. Haha. Memang benar, aku takut tidak bisa mengawasimu seperti dulu lagi. Bukannya tidak percaya dengan setiamu, namun nanti akan semakin banyak wanita yang menhampirimu, mereka dengan mudah mendekatimu. Bagaimana denganku? Aku sekarang sudah tidak bisa lagi mencubit pinggangmu saat ada wanita melirikmu. Tapi aku percaya janjimu. Ingatkan janjimu dulu? Coba ingat-ingat. Aku mohon, meski nanti aku sudah jarang menemuimu. Memberi perhatian langsung kepadamu. Namun berjanjilah ak...