Langsung ke konten utama

He is still distract (3)

"Chika mau pulang bareng?"
Tanyaku kepada seorang gadis cantik yang sedang berdiri disamping pintu ruang rapat. Gadis itu menoleh dan tersenyum.

"Oh terimakasih ke. Tapi aku pulang sama andre" jawabnya dengan masih senyum manisnya.

"Andre?" tanyaku dengan muka cemberut.

"Iya, maaf yaa gak bisa pulang bareng kamu"
Ucapnya dengan menepuk-nepuk pelan pundakku, sebenarnya aku tidak apasih kalau harus pulang sendiri. Tapi masalahnya aku harus mengendarai motor itu sendiri, sedangkan biasanya aku dianterin bunda yang sekalian berangkat kebutik dan pulangnya bareng echa sahabatku.

"Chika yuk"
Suara andre yang baru keluar kelas membubarkan tekukan wajahku yang sepertinya tidak berhasil untuk membujuk chika bareng pulang denganku.

"Ooh iya, duluan ya ke. Maaf gak bisa bareng"
Ucap chika dengan senyum yang mengembang sembari berjalan digandeng andre. Eeh sebentar.. Digandeng? Apa jangan-jangan mereka? Pacaran? Omegad omegad. Chika yang cantik pacaran sama andre yang ganteng, besok kalau nikah anaknya gimana ya? Super doong.

"Gua anterin pulang"
Suara besar dari arah dalam ruang rapat mengagetkanku yang sedang asyik melihat chika dan andre bermesraan. Aku segera menoleh kearah asal suara tersebut.

O M G.
Devan sudah berdiri tegap dibelakangku dengan wajah khasnya yang dingin itu.

"Haa?"

"Pulang bareng"

Astaghfir, nyebut nike. Muka aneh lagi yang aku tunjukan. Sampai-sampai dia bosen melihatnya.
Aku mengangguk dengan cepat, supaya dia tidak berubah pikiran. Dengan cepat pula aku memberikan kunci motor kak inka.

"Pake mobil gua"
Ucapnya dengan berjalan mendahuluiku menuju tempat parkir.

"Tapi motor kak inka gimana? Besok dipakek ke klinik"
Kini aku bisa menyamai langkahnya, dengan wajah datar dan tatapan dinginnya dia merebut kunci motor yang sedang aku pegang. Iissh bukan hanya dia dingin tapi juga tidak sopan!

"Yasudah pakek motor, jangan banyak bicara!"

"Iya iya.. Eeh tapi kok tumben gak pakek bahasa formal? Saya saya gitu"
Ucapku dengan tertawa terbahak bahak.

"Sudah dibilangin jangan banyak bicara"

Segera aku memberhentikan tawa kerasku itu dan menunduk.

"Emangnya gak boleh pakek "gua"?"
Tanyanya yang tiba-tiba membuatku terkejut. Aku kira setelah menyuruhku berhenti bicara, dia akan berhenti juga.

-Devan pov-

Hening.
Aku segera menoleh kearah gadis yang masih berjalan disampingku. Dia menatapku.

"Kenapa gak dijawab? Gak sopan diajak orang bicara malah diem"
Ucapku pada nike yang masih memandangku. Kali ini dia malah memukul lenganku.

"Awww.. Kenapa dipukul"
Ini anak sangat menyebalkan, sudah aneh dan menyusahkan lagi. Sudah nasib baik dia aku anter pulang.
Karena kejadian tadi sore yang dia hampir menabrakku, aku sangat yakin kalau nike tidak begitu mahir mengendarai motor. Makanya aku mempunyai inisiatif mengantarkannya agar tidak terjadi apa-apa dijalan.

"Katanya tadi gak boleh banyak bicara"
Ujarnya dengan cemberut.
Oh iya, aku kan yang menyuruhnya untuk diam karena sudah berani-beraninya menertawakan omonganku.

Aku menghela nafas kasar.

"Boleh"
Dengan suara datar aku memperbolehkannya berbicara.

"Ooh okeee. Tadi kamu kan nanyak emangnya gak boleh pakek gua? Sebenarnya gak papasih, malah lebih bagus ketimbang pakek "saya" kalok ngomong sama aku. Lagian aku udah kayak nenek-nenek aja diajak ngomong bahasa seformal itu. Kalok didepan rapat kayak tadi baru layak pakek bahasa formal gitu."

"Pakek helm'mu"
Sudah berapa lama anak aneh ini berbicara sampai aku sudah naik keatas motornya.

"Iiissssh. Jadi daritadi aku ngomong gak didengerin?"
Gerutunya dengan menghentakkan satu kakinya ketanah.

"Nanti dulu. Kamu naik. Aku anter pulang ini udah malem"
Geretakku yang sepertinya berhasil membuatnya lemas. Dengan sifat dingin dan datarku selalu bisa membuatnya takut atau bahkan salah tingkah. Haha
Dengan lemas dia menaiki motor.

***
"Jadi tadi aku ngomong beneran gak didengerin?"
Suara lembutnya memecah keheningan setelah motor melaju beberapa menit lalu.

Aku tertawa kecil mendengar gerutuan nike.

"Denger. Intinya, aku boleh ngomong tanpa bahasa formal sama kamu kan?"

"Looh. Emangnya kamu mau ngomong terus ya sama aku?"
Suaranya begitu ceria jika aku dengar.

"Gak juga."

"Iiissh. Itu tadi bilang..."

"Gak terus-terusan juga. Aku juga punya orang yang lebih penting untuk aku ajak bicara ketimbang kamu"

Hfft. Suara helaan nafas keras terdengar dari balik punggungku.
Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh nike, yang malah membuatku senang melihatnya.

"Lagian kamu kenapa sih selalu aneh?"

-Nike pov-

"Waduuh. Beneran kan. Ini orang bakalan nanyak gini. Haduuh. Terus aku bakalan jawab apa? Masak iya aku jawab kalau aku salah tingkah didepannya. Sama aja jatuhin harga diri aku dong. Gini-gini aku gak mau dianggep murahan, meski belum menyatakan cinta langsung siih"
Gerutuku dalam hati.

"Nikee.."

"Eeh iya"
Aku terbangun dari lamunanku setelah sekian kali aku lakukan disaat ada devan disekitarku.

"Aku memang aneh"
Jawabku dengan lemas, aku tidak bisa memberi alasan apapun.

"Sebenarnya kamu tidak aneh, tadi waktu rapat juga kamu banyak memberi saran dan pendapat. Kamu juga kreatif. Sekarang juga kamu tidak aneh"

Dug. Dug dug. Dug dug dug.
Suara jantungnya beda sama yang tadi.

"Kamu kenapa sih terkadang bisa bersikap aneh?" tanyanya lagi.
Aku harus menjawab apa?

"Kamu juga selalu dingin, selalu aja masang wajah datar. Bahasanya juga formal lagi. Padahal kalok kamu sedikit murah senyum pasti banyak yang suka"
Yeess.. Aku berhasil mengalihkan pembicaraannya.

"Tanpa aku murah senyum juga sudah banyak yang suka"
Hfft kembali jawabannya dengan nada datar.

"Ya ya terserah lahyaa. Eeh tapi aku baru tau kalok kamu ternyata banyak omong yaa"

"Haa?"
Seperti maling tertangkap basah, dan dan aku bisa melihat wajah merahnya dikaca motor meski jalanan mulai gelap.

"Iyaa. Ternyata kamu banyak omong. Emang kalok sama orang yang udah deket gitu yaa?"
Tambahku lagi.

"Mungkin"
Jawaban yang tidak memuaskan.

"Padahal kata anak-anak kamu orang yang sangat-sangat dingiiin"
Tambahku. Sebentar, aku mulai berbohong. Bukan kata anak-anak sih, tapi hasil surveiku sendiri.

"Ya memang devan dilahirkan seperti ini" jawabnya dengan nada yang tegas.

"Iiuuuhh"
Dan dengan sekejap tawa yang belum aku dengar tiba-tiba begitu saja terdengar sangat nyaring dan seketika membuatku tertegun.

Setelah puas dia tertawa, kembali devan mengatakan sesuatu.

"Sebenarnya aku hanya malas meladeni cewek-cewek ganjen. Kalok sama temen cowok juga biasa aja"
Jawabnya kini dengan suara lembut.

"Iiiuuh pede banget. Eeh itu rumahku"
Ucapku yang melihat ketiga anggota keluargaku dengan cemas berada didepan rumah.

Beberapa saat kemudian devan sudah berhenti didepan rumah. Bunda yang cemas segera menghampiri aku dan devan.

"Duuh pasti anak tante ngerepotin ya? Dia nabrak orang dimana nak?"
Tanya bunda dengan melihat kearah devan yang sudah melepas helm dan turun dari motor.

"Bundaa, aku gak nabrak orang. Dia devan, teman aku"
Ucapku dengan kesal, pasti bunda berfikiran kalau aku habis menabrak orang dan devan sebagai oramg yang mengantarkan akupulang.

"Malam tantee"
Pemilik suara itu segera mencium punggung tangan bunda.

"Malam juga. Nak devan yakin nike tidak nabrak orang?"

"Bundaaaa"

"Sebenarnya tadi sayahampir dia tabrak, makanya saya nganterin dia sampek rumah biar tidak terjadi apa-apa dijalan tan"
Omegad.. Kenapa devan harus menceritakannya sih.

"Tuhkan ini gara-gara kamu nike"
Kini mata bunda melotot persis kearahku.

"Bukan salah nike tan, tadi saya yang menyuruhnya cepat-cepat"

"Tuhkan bun"
Kini aku bisa balas menatap bunda.

"Yasudah saya pulang dulu tante, nike"
Pamit devan yang sudah melambai-lambaikan tangannya kepinggir jalan yang ternyata dari arah depan sudah ada taxi.

"Oh iya nak, maaf merepotkan yaa"

Bersambung part IV

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...