Langsung ke konten utama

Belakangan ini

Entahlah apa namanya rasa ini, yang sangat perih.
Aku masih berkutat dengan ponsel yang menyala didepan wajah dan tak berkedip sekalipun ini mata, sesekali aku melihat kearah statusbar hanya untuk mengecek notif bbm darimu, tapi nihil. Aku masih menunggu balasan darimu, balasan dari seorang kekasih, bukan menunggu balasan dari orang yang tak pasti. Yang sedang aku tunggu sudah pasti!
Tapi sepertinya aku harus kembali kecewa, kembali menelan ludah dengan terpaksa. Kau memang membalas pesanku, tapi kau segera mengakhiri pembicaraan yang bahkan sedang aku mulai. Aku hanya mencoba meluapkan sedikit rasa rindu ini yang  belakangan ini sedang sangat menggebu-gebu, tapi sepertinya kau sedang kelelahan sampai tak sedikitpun mengerti yang aku rasa. Baiklah, aku mengerti. Beberapa hari ini memang kau sibuk, emm mungkin tepatnya "sangat", sangat sibuk. Hingga belakangan ini pula kau sering hanya membaca pesanku tanpa ada niat membalasnya.
Apalah daya aku, wanita yang begitu mudah merindu, aku kembali menghubungimu, mencoba menanyakan kembali kabarmu, mencoba memberi bahan bicara untuk kita mulai. Tapi memang percuma ya percuma.
Aku kembali menghela nafas panjang, mencoba mereda mata yang terasa panas sejak belakangan ini. Aku harus tau keadaanmu sekarang, kau sangat sangat sibuk. Aku tidak boleh menjadi egois karena ingin mendapat perhatian lebih darimu, aku tidak boleh berprasangka buruk tentangmu, aku tidak boleh mudah lelah untuk memberimu semangat. Iya, mungkin sekarang kau membutuhkan semangat, setidaknya semangat dariku yang entah kau butuhkan atau tidak. Aku hanya berusaha selalu ada dihari-harimu, selalu ada saat kau membutuhkan.
Aku mematikan data selular, kembali membuka situs dimana banyak cerpen yang menarik aku baca. Hal ini yang selalu aku lakukan saat kau tak ada kabar, atau pergi lama sekali.
Mungkin dengan membaca cerpen itu mata yang terasa memanas sedikit mereda, dada yang sesak terasa sedikit lega, sedikit. Tapi setidaknya tidak sesesak yang tadi. Aku tidak pernah mencoba memulai pesan dengan pria lain untuk mengisi ruang pesan yang kosong darimu. Tidak! Tidak akan aku lakukan. Kalau tidak ada hal yang penting yang memaksaku melakukannya. Aku hanya berusaha menjaga kepercayaanmu.

Aku hanya merindukan percakapan basa-basi kita dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...