Langsung ke konten utama

Badboy

Ami pov

Heeei kak" sapa liana sembari duduk disamping hani. Liana dan siska sudah mengenal aku, hani, rumi dan rafidah.

"Heiii" sapaku balik.

"Lo duduk disini?" tanya hani menyindir.

"Iissh kak hani" ucap liana dengan bibir yang manyun. Yang membimuat kita tertawa geli melihatnya.

-
Aku melihat kearah pintu, semua anak sudah masuk. Bahkan aku sudah duduk dibangku ku sendiri, sedangkan kursi sampingku masih kosong. Pasti aku duduk lagi dengan fahri, dan pasti dia telat. Huufft kebiasaan.

Dia adik kelas yang menurutku sangat menyebalkan, merepotkan setiap ulangan. Tapi dia juga yang membuatku selalu senang saat ulangan. Haha.

Entah, sejak awal aku menganggapnya biasa saja. Bahkan aku senang membullynya. Tapi aku sadar ini ulangan terakhirku kelas 2. Nanti pasti aku tidak bisa melihatnya lagi saat ulangan. Aku juga akan sulit memperhatikannya mencontek ataupun mengerjakan.
Aku takut kehilangan fahri. Haha mana mungkin. Dia adik kelas paling badboy yang aku kenal. Mana mungkin aku takut kehilangan dia.

Tidak lama kemudian setelah guru pengawas sudah memasuki kelas, dengan berlari seorang cowok memasuki ruang kelas. Dengan bajunya yang khas, baju belakangnya yang dikeluarkan. Dan cara berjalannya yang sedikit menjinjit, aku sudah bisa menebak itu siapa, fahri.

Aku sudah begitu hafal dengan kebiasaannya, bukan hanya saat ulangan tapi kesehariannnya. Aku diam-diam mencari tahu tentangnya.

"Lo darimana aja?" tanyaku dengan pelan.

Sedangkan dengan nada yang tersengal-sengal fahri masih menyempatkan untuk menjawab pertanyaanku.

"Telaat. Huuuft" ucapnya sembari menyiapkan semua alat tulisnya.

Aku hanya berdecak dan menggelengkan kepala melihat tingkah anak satu ini.

"Kenapa?" tanyanya saat melihatku yang masih heran melihatnya.

"Gak papa. Cuman kebiasaan lo gak bisa dirubah apa?" ucapku yang kemudiam fokus melihat kearah depan karena guru pengawas sudah membagikan soal dan kertas jawaban.

"Gak bisa haha" ucapnya yang sudah selesai merapikan diri dan mengikutiku menghadap depan.
Aku hanya tersenyum manis mendengar suaranya itu.

Aku juga bisa dibilang anak yang bandel, tapi bandelnya cewek wajarlah. Kadang males belajar dan suka mencontek. Fahri yang tau kebiasaanku mencontek hani, sudah siap-siap untuk membullyku dan menggangguku. Seperti tidak ada kerjaan aja nih anak, padahal kertas jawabannya aja mssih bersih dari tulisan.

"Fahri" ucapku sembari menjitak kepalanya yang sedari tadi menghalangiku.

Dia hanya tertawa geli melihatku geram sambil mengusap-usap kepalanya yang kesakitan.

"Awas kalok tuh kepala ngehalangin lagi" ucapku menggretaknya dengan nada pelan agar pengawas tidak curiga.

"Emangnya kalok gue ngehalangin kenapa?" tanyanya dengan kepala ysng sudah menghalangi pandanganku kembali, tapi kali ini dia melihatku dengan memainkan alisnya naik turun dan senyum miring.

Sebentar, kenapa aku mulai menyukai senyum miring yang menandakan bahwa dia memang seorang badboy. Aku sudah mulai terlalu dalam memperhatikannya.

"Lo kenapa? Terpesona ya sama gue?" tanyanya yang membuatku menghentikan memperhatikannya.

"Geer banget sih lo" ucapku yang langsung menunduk malu karena ketahuan melihatinya.

"Haha udah deh ngaku aja, pakek salah tingkah segala lagi" ucapnya yang mengetahui aku langsung berbalik arah memperhatikan kearah depan.

Penggalan cerita diwattpad :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...