Kali ini aku harus relain tidak ikut sahabat-sahabatku makan sama kak chiko. Ada keharusan yang tidak boleh aku tinggalkan.
"Kok lama sih raf?" tanya sesosok cowok berdiri didepanku.
Mungkin sosok yang menjadi penyemangatku setiap latihan.
Memanggil namaku saja dia berbeda dengan yang lain.
"Maaf tadi ada macet" ucapku dengan menundukan kepala.
"Maceet? Memang kamu darimana?" tanyanya yang sekarang mulai penasaran.
"Macet banyak mobil semut lewat" ucapku dengan tersenyum manis tanpa dosa. Hihi.
Zaldi, diapun tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Oh iya namanya rizaldi, aku sering memanggilnya zal. Berbeda dengan teman-teman yang lain.
"Haha kirain macet beneran. Soalnya tadi gue berangkat kesini gaada macet sama sekali" ucapnya yang sekarang mulai akrab kembali denganku. Meskipun dia dan aku anggota banjari, kita jarang memanggil aku-kamu.
"Hehe gitu aja lo percaya" ucapku yang sekarang mulai mencair setelah melihatnya tertawa.
Zaldi dari sekolah lain yang memang bergabung dibanjari sekolahku, tidak hanya dia saja sih temannya juga banyak. Bahkan dari sekolah lain pula. Banjari kita juga sering memenangkan berbagai lomba.
Hari-hariku cukup disibukkan dengan latihan dan lomba-lomba banjari seperti ini, banyak piagam dan piala yang aku dapatkan sebagai anggota atau vokalis dalam banjari. Jadi tidak aneh jika aku sangat akrab dengan zaldi.
"Yasudah ayok masuk kedalam, semua udah nunggu lo tau" ucapnya dengan berjalan kedalam masjid yang aku ikuti dari belakang.
"Jadi tadi lo didepan masjid nungguin gue?" tanyaku yang secara tiba-tiba.
"Iya, emang sengaja nunggu lo" jawabnya yang entah membuatku sangat sangat bahagia kali ini. Jujur sejak awal aku sudah menyukainya, apalagi sifatnya yang tidak cuek dan dingin. Yang tidak seperti kak chiko.
Seandainya zaldi sekolah juga di sekolahku, mungkin dia juga akan dipuja-puja banyak cewek. Disekolahnya saja banyak cewek yang pengen jadi pacarnya, tapi zaldi milih tidak menghiraukan.
"Ngapain lo senyum-senyum?" tanyanya yang tiba-tiba menoleh kearahku. Aku menjadi kikuk.
"Eeeh. Gapapa" ucapku gugup dengan memutar bola mataku.
"Haha gausah geer" ucapnya yang kembali menghadap kedepan.
"Siapa yang geer" gerutuku lirih yang semakin membuat zaldi tertawa.
Setelah sampai disekumpulan cewek-cewek berjilbab dan cowok berpeci. Aku dan zaldi kembali diam dan dingin. Kita saling menghormati didepan anggota banjari, panggilanpun kembali aku-kamu.
Penggalan cerita di wattpad guys. Berhubung belum selesai ceritanya jadi belum bisa ngepost link wattpadnya :)
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu