Langsung ke konten utama

He is still distract (2)

-Nike pov-

Aku masih mengingat jelas wajah datar itu, wajah yang segera mengalihkan pandangannya ketika ku lihat.

Dengan langkah gontai aku memasuki rumah. Seperti biasa rumah terasa sangat ramai, yang terdengar begitu nyaring ketika melewati ruang keluarga. Pemandangan seperti biasa yang selalu aku lihat saat pulang dan selalu membuat moodku yang jelek sedikit membaik.

"Eeh sudah pulang toh anak bunda yang cantik"
Suara lembut itu terdengar sangat merdu dengan sedikit serak. Mungkin suaranya banyak dia keluarkan untuk melerai dua anak bunda yang sekarang sedang bertengkar merebutkan remote tv.

Oh ya, dirumah ini aku tinggal berempat dengan bunda, kakak dan adik bungsuku(kak inka dan viko rusadi). Ayah meninggal 5tahun yang lalu saat aku masih smp kelas 1, kak inka sma kelas 2, sedangkan viko masih kelas 1 sd, ayah meninggal karena penyakit ginjalnya yang sudah sangat parah tapi dia biarkan dan tidak begitu dipikirkan sampai suatu hari kondisinya melemah dan saat itu juga ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Huuft, setiap mengingat itu. Aku benar-benar tidak bisa membendung tangis.

Aku tersenyum kearah bunda yang sedang menyiapkan makan siangnya, meskipun dia selalu sibuk dibutik miliknya yang cukup besar. Tapi bunda tidak pernah lupa untuk pulang dan menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya apalagi hari ini kak inka ada dirumah. Biasanya dia selalu sibuk menyiapkan tugas kuliahnya yang sangat merepotkan sebagai calon dokter muda. Sejak meninggalnya ayah, kak inka ingin sekali menjadi dokter. Dia ingin menjaga keluarganya, dan aku sangat akrab dengannya. Entah, tapi kita bisa dibilang seperti saudara juga sahabat. Kak inka tidak segan-segan menceritakan kehidupan asmaranya dan kadangkala meminta solusi ketika mengalami patah hati. Haha menyenangkan sekali punya kakak sepertinya.

"Kamu kenapa ke? Lemes gitu?"
Suara kak inka dengan memperbaiki posisi duduknya disofa yang sudah kembali membawa remote tv. Sedangkan disudut sofa, viko merenggut dengan menyedekapkan kedua tangannya dibawah dada.

Aku kembali tersenyum
"Gak papa kok kak, aku kekamar dulu ya"

"Iya, terus cepet-cepet keluar. Kita makan bareng. Okee. Viko udah laper nihh" ucap adik laki-laki satu-satunya yang sudah kembali merebut remote tv ditangan kak inka.

Aku berjalan dengan senyum mendengar dua orang itu berantem lagi. Dan dengan cepat aku menghempaskan tubuhku diatas kasur. Terasa lemas sekali, dengan tugas-tugas yang menumpuk. Ini masih tugas sma. Bagaimana dengan tugas kuliah, tapi aku melihat kak inka begitu ceria dengan tugas-tugas yang merepotkan itu. Mungkin memang dia wanita yang cerdas kali yaa.

Tiba-tiba aku teringat kesosok dingin itu, kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu yang membuat tingkah konyolku kembali terlihat didepan devan. Sebenarnya tidak hanya tadi aku melakukan sikap aneh itu. Tapi sudah berpuluh-puluh kali. Dan dengan sikapnya yang tetap dingin seperti es yang selalu diperlihatkan padaku, yang membuat aku merasa aneh didepannya.

Aku menghembuskan nafas dengan kasar, dan mengacak-acak rambutku.

"Kenapa sih, didepan devan gua selalu aneh. Dasar nike nerd haaass"

Cercaan lagi yang selalu aku keluarkan untuk diriku sendiri.

"Nikee.. Kok lama"
Suara yang cukup keras menghentakkanku dan secara refleks membuatku terbangun. Aku menepuk dahiku.

"Gua lupa kalok mau makan siang"

"Ii..iyaa bun. Bentar. Ini lagi ganti baju"
Sedikit mengeraskan suara agar bunda dapat mendengar suaraku, agar meyakinkan kalau aku memang benar-benar sedang berganti baju. Haha padahal aku sedang memikirkan manusia dingin itu.

***

Tit tit tit.
Setelah makan siang aku kembali kekamar, sebenarnya kak inka menawarkan untukku bercerita karena dia melihat suasana wajahku yang tidak begitu menyenangkan untuk dilihat. Tapi aku menolaknya, mungkin sangat melelahkan hari ini.

Suara hp yang tadi berbunyi, kembali berbunyi lagi. Tit tit tit.
Tidak biasanya hp yang seperti kuburan ini berbunyi.

"Ini apa benar nike?"
Teks yang sama dikirim berulang kali dengan nomor yang sama.

"Iya, ini siapa?"

"Aku devan"

Deg. Deg deg. Deg deg deg.
Itu ibarat suara jantungku kali ini.
Devan prameswara, manusia dingin. Tiba-tiba mengirim pesan pada nike yang selalu bersikap aneh didepannya.

"Iya ada apa?"
Sebenarnya jika diucapkan, kalimat itu tidak berbentuk. Akan tercekat-cekat jika yang mengucapkan aku.

"Kamu bisa kesekolah sekarang? Ada rapat"

Rapat? Rapat apaan? Aku bukan gadis seaktif itu disekolah sepertinya. Eksakpun tidak ada yang aku ikuti, lain dengan si devan. Memang dia ahlinya dari segala macam eksak. Huuft memang cowok idaman banget gak siih.

"Rapat apa?"

"Rapat anggota pra acara hari ulangtahun sekolah"

Haaa? Aku bahkan tidak mengetahui sekolahku kapan berulang tahun? Memang dasar nike.
Aku tidak boleh terlihat nerd didepan devan. Aku berpura-pura mengetahuinya saja.

"Ooh iya. Sekarang? Ada siapa disekolah?"

"Sudah banyak yang datang"

"Yasudah aku otw dulu"
Balasku sembari bergegas mengambil tas kecilku dan memakai cardigan dan snicker.

"Kak aku kesekolah dulu yaa"
Ucapku dengan semangat membuka pintu rumah.

"Loh ngapain? Kan udah sore ke"
Ucapnya yang heran melihatku, sedangkan bunda dan viko sudah berangkat kebutik.

"Ada rapat kak. Aku bawa motor kak inka yaa"

Dengan cepat aku memakai helm dan menyalakan motor matic milik kakak tersayangku itu.

"Tadi bukannya lagi gak mood ya"
Suara kecil itu yang masih aku dengar, bagaimana tidak. Kak inka sudah berada disamping motornya dan melihatku dengan wajah heran.

Aku cengengesan melihat kearah kak inka.

"Aku berangkat dulu ya kak. Assalamualaikum daah"

Ucapku dengan mengegas keras motor matic itu yang menyebabkan hampir menabrak pagar rumah. Aku sedikit tidak mengerti memakai motor matic sih, padahal mudah.
Kak inka yang melihatku, sepertinya tidak yakin melepaskan aku sendiri mengendarai motor kesayangannya itu.

"Nikee.... Haas tuh anak. Jadi kawatir kan. Ooh iya dia kan tadipamit, waalaikum salam deek"
Aku masih mendengar samar-samar suaranya, dengan masih mendorong motor matic dengan badanku yang hampir menabrak pagar. Dan kembali menaikinya dengan cepat.

***

-Devan pov-

Kenapa cewek itu yang harus terpilih, dia bahkan tidak terlihat aktif dieksak lainnya. Kenapa kelasnya memilih dia sebagai perwakilan kelas sebagai anggota pra acara hut sekolah. Bahkan sekarang aku masih menunggunya hampir 30menit didepan sekolah. Benar-benar tidak tepat waktu.

Tapi tiba-tiba dari arah samping kanan, motor yang melaju kencang berarah menuju tempatku berdiri.

"Huaaaaaaak"
Mungkin suara yang jarang aku keluarkan tiba-tiba terdengar sangat nyaring ketika sebuah motor hampir saja menabrakku.

Dibukanya helm sipengendara itu. Dibalik helm itu ada wajah yang tidak asing untukku. Nike. Dia berulah lagi.

"Hehe maaf ya devan"
Katanya dengan cengengesan tanpa merasa bersalah.

"Yasudah cepat turun dari motor dan ikut saya kedalam"

Dengan sigap nike sudah turun dari motor dan sudah menyamai langkahku.

"Formal banget sih, saya"
Suara kecil itu masih bisa aku dengar meskipun dia sedikit berbisik disampingku.

"Ngomong apa?"
Suaraku datar sepertinya berhasil membuatnya salah tingkah, nike langsung menundukkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.
Tanpa aku sadari aku tertawa kecil melihat sikap konyolnya ini anak. Dia selalu bersikap aneh.

***

"Lama banget sih dev"
Suara lembut tiba-tiba terdengar saat kita sudah memasuki ruang rapat. Aku hanya tersenyum datar kearah karin. Dia selalu mengurusi urusanku. Menyebalkan bukan? Jika harus disuruh memilih karin atau si nike aneh itu aku akan memilih nike. Haa.. Kenapa aku bandingkan dengan nike.

Aku segera duduk dikursi depan diantara semua anggota rapat. Aku dipercaya sebagai ketua pelaksana pra acara hut sekolah ini. Sedangkan aku lihat nike masih bingung mencari tempat duduk.

"Nike.. Duduk disamping chika"
Suaraku kukeraskan agar terdengar oleh gadis aneh itu sembari menunjuk kekursi paling depan yang kosong.

-Nike pov-

Semua mata melihatku ketika si dingin itu berbicara padaku. Mungkin menurut mereka sangat mengherankan jika devan, manusia dingin. Mengurusi urusan orang, bahkan sebenarnya mencari tempat duduk aku sangat bisa mencarinya sendiri.

Dengan langkah yang aku percepat, aku segera menuju tempat duduk yang kosong disamping chika.

"Heiii.."
Sapa gadis cantik disampingku. Chika juga sangat berbakat, pintar dan cerdas. Mungkin didalam ruang ini yang sangat buruk dalam kecerdasan adalah aku! Haass kenapa aku yang harus dipilih dalam acara orang-orang cerdas seperti ini.

"Heiii.."
Aku tersenyum kearah gadis itu, dia begitu ramah dan murah senyum.

"Oke. Sekarang saya akan mulai membagi kelompok untuk beberapa acara yang akan kalian tangani"
Suara berat dengan keras tiba-tiba terdengar dari arah depan. Kulihat devan menunduk kearah kertas yang sudah dia pegang.

"Sie perlengkapan.. Devan, andre, chika, nike dan karin"

Haiiissssh...
Apa apaan, ini kelompok orang-orang cerdas tingkat dewa. Aku? Tidak layak seepertinya.

"Wah kita satu kelompok kee"
Ucap chika sembari melihat kearah ku dengan gembira, sedangkan aku masih menatap kedepan dimana devan melihat dengan tatapan tajamnya padaku seperti ingin menerkam.

"Hehe iya" senyum masamku akhirnya tersungging meski tidak sepenuhnya.
Ini seperti musibah paling besar dalam hidupku. Bagaimana tidak, nike yang selalu terlihat aneh didepan devan. Sekarang malah satu kelompok dengan manusia dingin itu.

"Sekarang segera berkumpul kekelompok yang sudah saya bentuk"
Suara besar itu kembali terdengar, setelah beberapa menit tadi menyebutkan anggota-anggota kelompok lain. Devan segera berdiri menghampiri tempat dudukku dan chika bersama andre yang sejak tadi sudah disampingnya. Chika tersenyum melihatnya, chika juga cukup mengagumi devan tetapi tidak seperti cewek-cewek lain yang sangat antusias.

"Mana karin?"
Tanya manusia dingin itu setelah berada didepan aku dan chika. Aku masih menundukan kepalaku, aku takut hal-hal aneh malah membuatku malu didepan anak-anak cerdas ini.

"Aku disini"
Ucap gadis cantik yang langsung mengalungkan lengannya dilengan pria tegap itu. Aku bisa melihatnya meski kepalaku menunduk.
Dan devan sepertinya berusaha melepaskan lengan gadis cantik yang memang sangat centil itu.

"Sekarang kita mulai rapatnya"
Suara berat itu kembali menggugah diamku. Dan secara refleks melihat kearah wajahnya. Yaampun, tampan, sangat tampan. Sekarang bahkan aku bisa melihatnya dengan waktu yang cukup lama.

"Nikee. Duduk"
Suara berat itu kembali terdengar dan menyadarkan lamunanku. Aiissh semua orang sudah duduk sedangkan aku berdiri dengan memperhatikannya. Tidaak.
Aku segera duduk kembali disamping chika, dia hanya tertawa kecil melihatku. Betapa malunya, kenapa lagi-lagi aku melakukan hal konyol didepan devan bahkan teman-temannya.

Bersambung part III

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...