Kamu kira dengan mudah aku bisa melupakan semua hal tentang kita secepat kamu melupakannya? Bahkan aku masih mencoba menata kembali hati yang kamu runtuhkan.
Bisa-bisanya kamu berhasil membuatku melambung tinggi, bahkan menghalangiku untuk melihat kebawah. Padahal dibawah ada banyak duri yang siap menancap ketika aku terjatuh.
Dan sekarang? Belum sempat aku menengok kebawah, mencoba melihat duri-duri tajam itu. Namun dengan cepat kamu sudah melepaskanku dan siap menghempaskanku kearah duri-duri tajam itu. Dengan mudah! Dan sekarang kau mulai melambungkan dirimu sendiri semakin keatas, tidak lagi menghiraukanku, menengokpun tidak. Kini aku sadar.
Seseorang yang mahir melambungkanku, juga lebih mahir untuk menjatuhkanku.
Karma memang tidak pernah ada dalam islam, dan aku tidak mempercayainya. Namun seseorang yang berbuat keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Begitupun sebaliknya.
Sama halnya dengan menanam keburukan sebiji jagung, selanjutnya akan mendapat balasan keburukan sebiji jagung pula.
Aku tidak ingin berlarut-larut pula dengan kesedihan yang bahkan tidak ada artinya, namun apa salah memiliki rasa kecewa? Rasa sakit? Semua manusia pasti akan merasakan itu apabila kepercayaannya dihancurkan begitu saja, pertahanannya diruntuhkan begitu saja.
Memang wanita selalu memakai perasaan dalam menjalani hubungan, beda dengan kalian kaum adam. Itu sudah menjadi takdir.
Intinya aku kali ini tidak apa-apa, tidak sesakit beberapa hari yang lalu. Aku hanya harus membiasakan diri tanpa kabarmu, harus merelakan yang bukan milikku lagi.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu