Terimakasih untuk semua lukanya. Mungkin sangat berat dan menyusahkan. Tapi tidak ada guna pula untuk memperbaiki semuanya. Karena yang bertahan dan berjuang selama ini hanya aku, bukan dia!
Oke, terimakasih untuk senyum palsunya selama ini. Senyum yang berhasil menghipnotisku dan paling menjatuhkanku kali ini.
Senyum yang selalu aku bangga-banggakan dalam tulisanku.
Oke, kalian yang tidak suka boleh menertawakan kesedihanku kali ini. Tapi tidak untuk nanti, aku bukan lagi orang yang merengek-rengek sedih untuk kalian tertawakan.
Aku hanya salah mencintai seseorang. Karena memang benar persepsi awalku, aku hanya nomor kesekian di hidupnya.
Terimakasih semua lukanya. Terimakasih senyum palsunya.
Aku salah menjatuhkan pilihan pada seseorang yang tak pernah memakai hati
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu