Langsung ke konten utama

He is still distract (1)

Gak ada kerjaan, gak ada bunyi hp yang tanda-tandanya ada chat, sepi, mager, boring. Jadi Mau buat cerita fiksi, yang panjang. Fiksi loh ya fiksi. Kalau baper sih gak papa hehe. Sekalian hayati ceritanya.
Oke langsung baca.

Dingin diwajahnya yang hangat, tidak bisa membuatku mundur mengaguminya.

-
Nike veronika rusadi. Gadis dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi dan berprawakan cantik dengan mata lentiknya yang membuat semua pria melihatnya akan terkesima. Meski banyak pria yang coba mendekatinya, dia tidak bergeming menanggapinya. Karena ada sosok yang mengalihkan perhatiannya, sosok yang sangat tampan dan menjadi incaran para wanita. Sikapnya yang dingin dan terkesan cuek membuat nike mengurungkan niat untuk lebih dekat mengenalnya, dia memilih untuk melihatnya dari kejauhan. Bahkan dia sendiri tidak bisa memungkiri setiap bertemu dengannya, tingkah-tingkah aneh secara refleks terjadi di dirinya. Bisa dibilang salah tingkah. Hft.

-Nike pov-

Kini aku melihat punggungnya lagi, dengan dingin dia melewatiku, terus berjalan tanpa melihatku. Aku siapa? Aku sangat berharap dia sapa. Seharusnya aku sadar, dia tidak pernah mengenalku. Bahkan 2tahun disekolah ini. Aku siapa? Hanya gadis kecil yang penakut. Sedangkan dia pria tampan dengan sejuta prestasi yang sudah membawa nama baik sekolah kesegala macam kegiatan nasional. Dia juga dikelilingi oleh banyak siswi yang jauh lebih membuatnya tertarik. Tapi selama ini aku melihatnya sangat sangat dingin dengan siswi-siswi itu.

"Hoe.. Lu ngapain disini?"
Suara menggelegar itu lagi. Suara vino yang cemprengnya paling hits dikelas.
Kenapa harus cowok ini yang selalu membubarkan lamunanku tentang devan.
Devan. Devan prameswara. Nama yang sangat familiar disekolah ini. Dan devan lah sosok yang selama ini mengalihkan perhatianku.

"Apaan sih lu"
Kini aku bisa membalas suara cempreng itu. Pemilik suara itu sangat sangat menyebalkan, seperti suaranya.

"Dicariin temen-temen lu tuh. Malah bengong disini"
Ucapnya dengan mengangkat tangannya dan menaikkan pundaknya sembari melihat keseliling. Yaa, aku baru tersadar. Aku sedang berada dilorong sekolah yang sepi. Sepertinya aku tidak sadar tiba-tiba berhenti saat tadi devan berjalan disampingku dengan dagu yang dinaikkan.

"Eeh ngapain gua disini"

"Lu sarap ya? Apa ilang ingatan?"

Secara tiba-tiba jitakan mendarat dikepala monster cempreng itu. Selalu menyebalkan.

"Gua kekelas dulu"
Ujarku tidak peduli dengan monster cempreng itu. Monster cempreng pun menjadi panggilan yang sudah aku patenkan untuknya.

Sedangkan aku masih melihat vino berdiri ditempatnya dengan mengusap-usap kepalanya dengan umpatan-umpatan dari mulutnya dengan suara cempreng khasnya.
Meski dia menyebalkan, vino tetap teman yang selalu membuatku tertawa. Dia juga sangat baik sebenarnya.

Braakk.

Gara-gara menoleh kevino sembari berjalan aku menabrak orang, sepertinya orang ini begitu tinggi dan tegap. Aah mampus pasti guru.

"Kamu gak papa?"
Suara yang tidak terlalu mirip dengan suara guru disekolah ini. Aku segera menoleh kearah suara itu, yang sedari tadi sudah memegangi lenganku yang hampir terjatuh.

"Eeh.. Tidak.. Tidak apa apa"
Suaraku sedikit tercekat melihat orang yang sedang memegang lenganku dengan erat. Aku berusaha memperbaiki posisiku dan melepas lenganku dari pegangannya.

"Kalok jalan fokus kedepan"
Ucapnya dengan senyum yang mengembang.

"Eeh.. Iya kak. Maaf"
Kenapa aku menjadi gugup sperti ini, dia kan kak rion. Memang dia juga tampan dan berprestasi, dia juga banyak yang mengagumi. Aku juga sudah dekat dengannya, dia baik dan perhatian. Tapi aku sedikitpun tidak tertarik dengannya, mungkin karena sikapnya yang ramah dan murah senyum kali ya. Mungkin aku suka yang dingin-dingin kayak devan. Haha aneh.

"Emm. Aku kekelas dulu ya kak"
Ucapku sembari berlari terbirit-birit melihat senyuman manisnya yang tidak henti-hentinya dia tunjukkan.

"Kalok jalan hati-hati"
Kini aku bisa mendengar suaranya yang sedikit dikeraskan, aku masih berlari kecil menuju kelas. Dan tanpa sadar bibirku sedari tadi melengkung seperti bulan sabit.

Braakk

Huuft. Siapa lagi yang aku tabrak ini. Kenapa hari ini aku tidak fokus banget sih. Apa gara-gara bertemu kak rion. Tidak tidak, aku tidak menyukainya.

"Maaf maaf"
.
Tidak ada jawaban.
Tapi aku masih bisa melihat kakinya didepanku. Resiko menjadi anak setengah pendek, setengah tinggi. Aku harus mendongakkan kepala kalau harus melihat orang-orang tinggi speerti ini.

"Maa...af"
Aku tercengang, sangat sangat terkejut.
Yang aku tabrak kali ini sosok yang aku kagumi. Haiish itu devan.
Tapi kenapa harus menabrak nya sih, apa tidak ada cara yang manis saat bertemu dengannya. Apalagi aku baru tersadar kalau aku melongo melihatnya setelah mengutarakan maaf yang bahkan tidak sempurna aku ucapkan.

Tapi tiba-tiba dia berlalu, tanpa menghiraukan permintaan maafku. Bahkan dia tak melihatku sama sekali.
Huu dasar, kenapa dia secuek ini sih.
Bahkan aku membayangkan dia bersikap seperti kak rion tadi, yang sedikit berbasa-basi. Atau apa dia ilfeel melihatku melongo kayak tadi. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana bentuk wajahku tadi.

Aku kembali kekelas dengan muka yang amburadul, baru beberapa menit tadi aku senyum-senyum sendiri. Sekarang bibirpun tidak tertarik untuk menyunggingkan senyum itu lagi.

Bersambung ke part II

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...