Langsung ke konten utama

Lagi lagi

Menerawang, dimana saat aku begitu bahagia bisa melihatmu tersenyum disampingku seakan-akan didunia ini aku yang sangat menyenangkan untuk kau pandang. Kau selalu memegang tangan kecil ini dan tidak ada niatan untuk melepasnya. Pegangan itu yang selalu membuat jantung ini tidak hentinya berdetak cepat, darah yang mengalir seirama dengan jantung. Tidak melebih-lebihkan, hanya saja jika kau mampu mendengarnya memang begitu nyatanya.
Diatas motor maticmu kita sering bercanda, meluapkan segala rasa rindu. Entah rindu untuk saling mengejek atau memuji. Tapi hal itu yang sangat sulit dilupakan setiap bab-nya.
Dimasjid aku sering melihatmu berdiri tegap didepan beberapa orang, dengan tangan bersendekap dibawah dada bidang itu dan dengan tegas kau memimpin mereka untuk menghadap ke Ya Robbi. Mengimami mereka dengan khusyuk.
Kau selalu bisa membuatku terpanah, selalu.
Kau selalu bisa membuatku tertawa dengan lebar tapi tiba-tiba membuatku kesal dan kemudian tersenyum. Begitu cara kau membuat setiap pertemuan kita menjadi sulit dilupakan, pertemuan yang kali ini aku nanti-nanti, yang selalu menjadi bayangan, hal baru apa yang akan kita lakukan nanti ketika kita bertemu.
Aku sadar, sesadar-sadarnya. Aku tidak lagi bisa ada disampingmu terus, tidak bisa memperhatikanmu lagi walau itu dari jauh, kita akan sulit memandang. Bahkan ini yang sekarang aku rasakan, wajah yang aku harapkan tiba-tiba muncul dihadapanku dengan membawa senyumnya yang selalu meyakinkan aku bahwa senyum itu tercipta karena bahagia melihatku, sekarang sangat sulit untuk kulihat, sulit untuk kuterka dimana letak senyum itu.

Aah semoga saja senyummu itu tidak pernah hilang ketika melihatku. Meski hanya bertukar kabar dan senda gurau dipesan pribadi namun mampu membuat senyum itu tetap tinggal dibibir kecil itu.
Karena aku selalu menyukai senyummu, senyum tulus yang tidak pernah menjanji dan mengingkar. Senyum yang hanya untuk mengutarakan bahwa aku masih sangat spesial untukmu. Senyum yang tidak meminta balasan dariku, namun selalu membuatku membalas senyum manis itu.
Mungkin aku ini pecandu. Pecandu senyummu.
Pecandu yang selalu ingin melihatmu tersenyum, dan ketika sudah melihatnya, kenyamanan selalu menghampiri.
Bagaimana dengan wanita lain yang mudah terpesona oleh senyum manis itu? Apa aku harus menutup mulutmu agar wanita lain tidak bisa merasakan senyummu? Aah tidak mungkin sekali. Bertemu saja sulit.
Apa aku harus menyumpal mulutmu dengan lak ban permanen yang diciptakan khusus untukmu saat aku tidak disampingmu. Haha tidak sejahat itu aku.
Tenang, aku akan berbaik hati melihatkan senyummu. Karena aku yakin kau bisa jaga hatimu. Senyum spesialmu akan kau simpan hanya saat bertemu denganku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...