Menerawang, dimana saat aku begitu bahagia bisa melihatmu tersenyum disampingku seakan-akan didunia ini aku yang sangat menyenangkan untuk kau pandang. Kau selalu memegang tangan kecil ini dan tidak ada niatan untuk melepasnya. Pegangan itu yang selalu membuat jantung ini tidak hentinya berdetak cepat, darah yang mengalir seirama dengan jantung. Tidak melebih-lebihkan, hanya saja jika kau mampu mendengarnya memang begitu nyatanya.
Diatas motor maticmu kita sering bercanda, meluapkan segala rasa rindu. Entah rindu untuk saling mengejek atau memuji. Tapi hal itu yang sangat sulit dilupakan setiap bab-nya.
Dimasjid aku sering melihatmu berdiri tegap didepan beberapa orang, dengan tangan bersendekap dibawah dada bidang itu dan dengan tegas kau memimpin mereka untuk menghadap ke Ya Robbi. Mengimami mereka dengan khusyuk.
Kau selalu bisa membuatku terpanah, selalu.
Kau selalu bisa membuatku tertawa dengan lebar tapi tiba-tiba membuatku kesal dan kemudian tersenyum. Begitu cara kau membuat setiap pertemuan kita menjadi sulit dilupakan, pertemuan yang kali ini aku nanti-nanti, yang selalu menjadi bayangan, hal baru apa yang akan kita lakukan nanti ketika kita bertemu.
Aku sadar, sesadar-sadarnya. Aku tidak lagi bisa ada disampingmu terus, tidak bisa memperhatikanmu lagi walau itu dari jauh, kita akan sulit memandang. Bahkan ini yang sekarang aku rasakan, wajah yang aku harapkan tiba-tiba muncul dihadapanku dengan membawa senyumnya yang selalu meyakinkan aku bahwa senyum itu tercipta karena bahagia melihatku, sekarang sangat sulit untuk kulihat, sulit untuk kuterka dimana letak senyum itu.
Aah semoga saja senyummu itu tidak pernah hilang ketika melihatku. Meski hanya bertukar kabar dan senda gurau dipesan pribadi namun mampu membuat senyum itu tetap tinggal dibibir kecil itu.
Karena aku selalu menyukai senyummu, senyum tulus yang tidak pernah menjanji dan mengingkar. Senyum yang hanya untuk mengutarakan bahwa aku masih sangat spesial untukmu. Senyum yang tidak meminta balasan dariku, namun selalu membuatku membalas senyum manis itu.
Mungkin aku ini pecandu. Pecandu senyummu.
Pecandu yang selalu ingin melihatmu tersenyum, dan ketika sudah melihatnya, kenyamanan selalu menghampiri.
Bagaimana dengan wanita lain yang mudah terpesona oleh senyum manis itu? Apa aku harus menutup mulutmu agar wanita lain tidak bisa merasakan senyummu? Aah tidak mungkin sekali. Bertemu saja sulit.
Apa aku harus menyumpal mulutmu dengan lak ban permanen yang diciptakan khusus untukmu saat aku tidak disampingmu. Haha tidak sejahat itu aku.
Tenang, aku akan berbaik hati melihatkan senyummu. Karena aku yakin kau bisa jaga hatimu. Senyum spesialmu akan kau simpan hanya saat bertemu denganku
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu