Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Seseorang yang Baru

Haloo, apa kabar dunia?  Perkenalkan, aku seseorang yang baru,  Baru terlahir menjadi sosok yang berbeda. Berbeda karena setiap melangkah, genggaman yang nyata kini dapat aku rasakan dan tidak lagi ada keraguan.  Seseorang yang baru, karena harus merubah seluruh aktivitas dari pagi ke malamnya sangat amat berbeda dengan kebiasaan yang dulu. Ah semestinya bukan "harus", kata-kata itu terlalu menggambarkan bahwa aku sedang terpaksa dan tertekan menjalani diriku sebagai sosok yang baru. Padahal nyatanya, aku sedang sangat menikmati.  Menikmati waktu ketika mataku terbuka dan kembali terpejam, ada sosok laki-laki yang sedang ada disampingku.  Sesekali ia menatapku dalam, lalu mengecup keningku, dan menenggelamkan tubuhku didadanya yang bidang. Sungguh, aku sangat menikmati setiap detiknya.  Bersama dengannya 24/7 ternyata tidak merubah ekspektasiku tentangnya, dengan waktu yang cukup singkat untuk kita berkenalan dan memutuskan berada dititik ini; aku kira, bel...

(S)ampai nanti, Tuan

Kala itu aku merayu Tuhan, saat tubuhku sudah berdarah-darah dan tidak karuan. Untuk hidup enggan, matipun menyusahkan. Pada titik itu aku adalah gelandangan tanpa tujuan, beban bagi yang berdampingan, dan duri bagi yang datang bertuan. Jadi, apa gunanya diri ini, Tuhan? Namun dalam titik itu, Tuhan mengirim seseorang. Yaitu kau yang menarikku dari lembah berkubang, menggenggamku tanpa lepas pandang. Bahkan ketika hatiku berada diambang, kau meyakinkanku akan arti perjalanan yang panjang. Tuan, ketika kali pertama bertemu denganmu. Sesuatu menamparku, ialah cerita lalu yang melukaiku, cukup dalam hingga menembus enamel tulang-tulangku. Tentu berbekas, bahkan tak sesempurna ketika kuberani melawan arus. Tubuhku tergerus dan hampir hangus, itu mengapa tak sekalian tubuh ini hilang bersama arus. Namun Tuhan punya takdir, Ia menuntunku dalam cerita lalu tanpa pernah membuat ceritaku berakhir. Ia punya cara untukku akhirnya bertemu dengan kau, menerima uluran tanganmu dengan bayang cerita...

Tidak ada lagi kamu dalam tulisanku

 Untuk laki-laki yang dulu sering kuceritakan dalam tulisan, Kini bukan lagi kamu yang terdefinisi indah dalam tulisanku, kamu hanyalah masa lalu yang menyakitkan, yang ingin kuhapus bersama kenangannya. Lari dari persembunyian, tertatih mencari jalan pulang, terluka oleh duri omongan, dan pedih karena tidak adanya penerimaan. Kamu kira itu semua mudah? Selepas kepergianmu kembali ke rumah, aku menangggungnya sendirian, tanpa pernah memohon untuk kamu kembali. Kusembuhkan mental yang telah kamu hancurkan berkali-kali. Pelukanmu memang masih kuingat betul, sebagai yang pertama. Aku hampir frutasi ketika kamu tanpa berpamitan pergi, saat separuh nyawaku sudah kuberikan padamu sebagai lelaki. Tapi apa yang kulakukan dulu? aku hanya membiarkanmu, tanpa meminta sedikitpun belas kasihan atau rasa cintamu yang dulu. Karena aku tau, ini bukan hanya salahmu, tapi aku juga; yang terlalu percaya bahwa kamu benar-benar mencintaiku seperti yang selalu kamu katakan. Jika kamu tahu tulisan ini, k...

Semuanya telah terlewati

Dear Monster Senjaku, Pada akhirnya kita bisa melewati semua, singkatnya cerita perkenalan beserta kerikil-kerikilnya tidak menggoyahkan tujuan kita.  Pada titik ini aku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok sepertimu, laki-laki yang menerimaku dengan segala cerita masa lalu yang tidak baik-baik saja. Kamu masih menggenggamku meski sesekali merasakan kecewa karena mengetahui kenyataan yang ada. Kita sama-sama bukan dari masa lalu yang baik, begitu ujarmu. Begitupun dengan takdir yang sangat adil pada kita, sepasang kekasih yang menapaki jalan menuju pernikahan dengan ridho-nya. Seandainya kita tidak memiliki cerita masa lalu itu, mungkin salah satu dari kita akan berpikir ulang untuk ada dalam hubungan ini. Mas, kemarin ujian kita sangat berat menurutku. Terkadang aku ingin menyerah dan melepaskanmu saja. Tapi ternyata kamu jauh lebih kuat untuk menggenggamku, meyakinkanku bahwa semua akan berlalu dan kembali baik-baik saja. Dan seperti yang kamu bilang, semuanya membaik. Perem...

Untuk laki-laki yang pernah meletakkanku dalam persembunyian

 Dear laki-laki yang pernah meletakkanku dalam persembunyian, Kamu tau, sejak aku memutuskan untuk pergi secara diam-diam dari tempat persembunyian yang kamu buat untuk kita, aku berjalan dengan sekuat tenagaku meski tertatih, mengembalikan mentalku yang hancur karena melihatmu kembali ke rumah tanpa pernah ingin menilikku dahulu. Aku hampir menyerah... Tapi melihatmu sudah berbahagia, aku merasa semakin bodoh. Mengapa aku harus terus menunggu? bahkan hingga sejuta tulisanku tentangmu pun tidak akan mengembalikan apapun, termasuk sembuhnya luka yang kamu buat. Dan kini, datang laki-laki yang mau menggenggam tanganku erat tanpa melihat masa laluku. Tapi kamu masih kusembunyikan dari seluruh ceritaku padanya. Kenapa? Karna kamu yang paling menyakitkan. Aku ingin mengubur semua tentang kita, tak terkecuali tentang aku yang  masih berulang kali membukakan pintu untukmu datang dan membiarkanmu kembali pergi. Aku merasa amat sangat bodoh saat itu. Batinku berkecamuk, semalaman aku t...

Penerimaan yang tanpa bertanya

 Dear Monster Senjaku, Ketakutan yang selama ini kututupi darimu, kemarin akhirnya kamu ketahui. Dan hal yang membuatku lagi-lagi kagum padamu ialah caramu menerimaku. Penerimaan yang tanpa bertanya, hanya mendengarkan lalu sudah.  Caramu meyakinkanku bahwa semuanya tetap sama meski kenyataan baru telah kamu ketahui. Kamu memelukku dan menguatkanku dari ketakutan itu. Kamu selalu berujar bahwa masa lalumu sama buruknya dengan masa laluku, dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Namun sebagai seorang perempuan, aku takut dengan pernyataan yang sudah banyak terjadi dikehidupan nyata. Yaitu; perempuan bisa menerima masa lalu seorang pria, tapi tidak semua pria bisa menerima masa lalu perempuannya. Mas, aku pernah hancur, keluar dari persembunyianku yang dulu nyatanya menguras tenaga dan mentalku. Hingga sampai detik ini.  Seseorang yang kuanggap mau menjadikanku rumah, tapi ternyata tidak ingin mengubah apapun selain tetap menjadikanku sebagai persinggahan. Aku pernah sebodoh i...

Kamu yang baru dari masa lalu

 Dear Monster Senjaku, Jika pada saatnya nanti masa lalu mengubah ekspektasiku tentangmu, setidaknya aku masih mengingat bahwa takdir lah yang mempertemukan kita dengan ketidak masuk akalan yang nyata. Dan kamu yang sekarang adalah kamu yang baru dari masa lalu. Harusnya tidak ada kekhawatiran atas masa lalu yang kamu sendiri telah menutupnya rapat-rapat. Jika nanti aku masih mempermasalahkannya, tolong ingatkan aku dengan cara lembutmu. Aku hanya perempuan biasa yang pencemburu, tapi aku akan mudah luluh dengan kata-katamu.

Cara dia menerimaku

Genggaman, pelukan, dan tatapannya. Rasanya masih tidak menyangka bisa berada difase merasakan itu semua, menikmati senyumannya tiap kali bertemu. Sebenarnya kehadiran dia masih kurasa aneh dan tidak bisa diterima dengan logika. Mimpi yang kuanggap hanya bunga tidur, ternyata menjelma nyata. Begitukah cara takdir Tuhan bekerja? ketika hamba-Nya mengeluh meminta dipertemukan dengan seseorang yang mencintainya, seolah jentikan jari, Tuhan mengirimkannya. Aku yang selalu ketakutan untuk mengulang kembali bercerita, yang tidak mudah diterima oleh pendengarnya. Tapi Tuhan seolah menguatkan hatinya untuk menetap, mengesampingkan egonya dan tetap menerima lukaku. Ia mendengarkan ceritaku sekali, dan memintaku untuk tak kembali bercerita. Disaat semua orang yang berada diposisinya memilih untuk mundur, ia lebih memilih untuk mengenyahkan. Menutup cerita masa lalu, dan menggenggam tanganku untuk berjalan bersamanya. Tuhan terima kasih, meski ia tidak serta merta bisa menerima ceritaku, namun ia...

Hari ketika ia melamarku

Aku masih menatap laki-laki yang kemarin baru saja berjanji akan menyebut namaku dan nama ayahku, ketika ia berikrar kabul didepan penghulu. Kalimat yang bisa diucapkan oleh siapa saja saat mengenalku, sebelum mereka tau seberapa lebar luka masa lalu. Aku kembali mengerjap, memastikan bahwa apa yang sedang terjadi saat ini adalah benar adanya. Dia melingkarkan cincin di jari manisku, tersenyum bangga seolah sedang memenangkan sebuah penghargaan megah.Tidak ada tatapan muak atau jijik sedikitpun dimatanya, yang ada hanya ketulusan dari seorang laki-laki kepada perempuannya. Hari ini, kamu melamarku. membuktikan satu langkah dari kesungguhanmu. Aku masih tidak menyangka, Tuhan mengirimkanmu secepat yang aku minta. Akh, kenapa aku masih meragukan ketetapan Tuhan. Bahkan ketika aku sudah meminta. Ternyata jalan cerita kita masing-masing tidak mudah. Aku mengerti sekarang, Tuhan memberikan jalan yang kita lewati masing-masing untuk sendiri terlebih dahulu, tanpa saling menemukan. Hanya agar...

(S)eseorang yang Menuntunku Ketika Tersesat

 Seseorang yang tiap kali ada dimimpiku, yang entah berasal darimana, tapi selalu menuntunku ketika tersesat, menarikku dari bawah palung, dan menyembuhkan lukaku. Terakhir kali, aku bermimpi ia menyembuhkan lukaku. menatapku dengan pandangan yang meneduhkan, tanpa merasa jijik atau berniat untuk pergi. Ia malah membawaku terbang tinggi, merangkulku dan memastikan tubuhku yang penuh luka ini tidak terjatuh ke bumi lalu hancur seperti ketakutanku. Dan seseorang yang datang tiap kali aku bermimpi, kini sudah berada didepanku. Aku coba mencubit kulitku untuk kesekian kalinya, berusaha membangunkanku dari mimpi yang penuh harapan ini. Sakit rasanya ketika terbangun dan mendapati aku yang tak pernah tau siapa seseorang tersebut. Tapi ketika sekarang aku sudah ada dihadapannya, aku malah berpikir ini masih mimpi.  Ia benar-benar ada didepanku, menatapku dengan senyum yang artistik, sederhana namun membuat siapapun yang melihatnya akan terhipnotis. Persis ketika ia menatapku saat ada...

(E)legi Menjelma Selesa

 Ketika meyakini bahwa hitam putih akan berwarna, yang hampa akan riuh oleh khalayak, dan yang hanya dipandang sebelah mata akan disambut dengan perayaan. Maka aku juga harus meyakini bahwa elegi akan menjelma selesa yang bersukaria.  Aku tak tau seberapa menyakitkannya masa lalumu, kau juga mungkin tak tau serapuh apa aku dimasa lalu. Kita hanya dua orang yang dipertemukan dalam satu waktu, yang sebelumnya sekedar mengenal, menyapa hanya sebatas "pagi". Kini perlahan merubah haluan menjadi "kita". Tak lepas tangan Tuhan yang mengatur. Acapkali aku menahan diri agar tak terlalu berharap, manakala kau berusaha meyakinkanku tentang sebuah ikatan. Tapi aku tetap terjatuh oleh pesona ketulusanmu. Entah sebenarnya kau ini siapa, hingga semudah itu membuat keputusan untuk bersamaku.

(N)anti Tangan Inilah Yang Aku Genggam

"Nanti kau akan tau, seberapa banyak kau menempati ruang dihati. Tunggu, sampai aku datang ke rumah dan memintamu pada kedua orang tuamu." Suara itu terdengar lembut melewati gendang telinga dan mampu dibaca oleh hatiku dengan mudah, nafasnya berhembus mengelus daun telinga yang membuatku merinding. Bukan karena betapa seksi suaranya, tapi karena ia telah mengajukan diri untuk berkomitmen denganku, setelah banyaknya lukaku yang ia terima. Perempuan mana yang tak jatuh ketika mendapatkan tawaran sebuah kepastian seperti ini? Aku tak kunjung menjawabnya, dan ia mengulangi lagi ucapannya. "Apa kau masih ragu?" tanyanya yang kini mengalihkan pandanganku. Kutatap kedua matanya yang indah, dari bola matanya terpantul diriku yang sedang berkaca. Disana aku melihat perempuan yang tak sempurna, dengan bekas luka yang menganga lebar. Sangat menjijikan. Bahkan aku tak berani untuk bercermin. Tapi seseorang yang sedang menatapku dengan kedua bola matanya itu, menikmati wajahku ...

(J)ika Tuhan Menciptakan Malaikat Berbentuk Manusia

Langkahku tak lagi menapaki jalanan yang terjal dan berkelok, kini fasenya aku berada diudara yang melambungkanku bersama luka yang satu persatu jatuh ke tanah. Terlihat darah bercucuran mulai mengering, burung-burung menyanyi merdu mengiringi aku yang semakin terbang makin tinggi. Indah memang, namun rasa takutku semakin besar juga. Melihat kebawah yang kini rumah-rumah mulai terlihat hanya sekecil semut, terjatuh akan menghancurkan tubuhku seketika. Aku memandang seseorang yang sedang merangkulku, yang tadi sempat menyembuhkan lukaku, ia berjanji akan membawaku ke tempat yang indah, yang hanya akan ada kebahagiaan disana. Aku semakin takut akan harapan yang ia berikan, benar-benar nyata atau hanya ilusi? Tuhan tidak pernah menyebutkan ada malaikat-Nya yang berbentuk manusia, namun kini aku sedang berhadapan dengannya. Siapa dia? masih menjadi pertanyaanku hingga sekarang.

(A)ku Menyebut Ini Takdir

Ketika aku sedang berlari kencang, membelah udara yang menyayat tiap bagian kulit, berusaha pergi dari pertanyaan kenapa dan mengapa. Seseorang menghentikanku dipertengahan jalan, menawariku minum dan istirahat sejenak. Terdengar menggiyurkan, tapi aku sudah beberapa kali melakukan itu, dan pada akhirnya membuatku malah lemah dan terjatuh tiap berlari. Mereka hanya menawariku, tanpa benar-benar memberiku minum atau tempat istirahat, setelah melihat lukaku yang lebar dan menjijikkan. "Silahkan beristirahat dulu," Ucap seseorang didepanku, ia menatapku dengan teduh, sama seperti orang-orang yang sebelumnya menawariku, aku bisa memakluminya dan aku sudah terbiasa. "Tidak, terima kasih." Ucapku, mengapa aku menolak? setelah membaca kalimat sebelumnya, harusnya jawaban 'tidak' sudah mewakili alasanku. "Aku ingin menyembuhkan lukamu juga." Tambahnya yang membuatku terperangah, aku menilik tubuhku yang penuh luka menjijikan, dan seseorang didepanku masih ...

Tulisan Terakhir

Untuk sebuah hubungan yang pernah dimulai, harusnya ada kata perpisahan jika ingin melepaskan. Harusnya ada kepastian agar tak gusar akan pengakuan. Dan hari itu benar-benar tiba, kamu berjalan dengan tegap dan tegas mengucapkan selamat tinggal. Yakinlah, aku tidak apa-apa. Aku lega akhirnya berada difase ini. Bukan karena ingin segera lepas darimu, tapi aku ingin memutuskan kemana harus berjalan.  Tulisan ini mungkin akan jadi yang terakhir kalinya menceritakanmu. Karena hari-harimu bukan tentangku lagi, begitupun sebaliknya. Dan bahkan, mungkin aku akan lupa dengan apa yang kita lalui bersama, dulu. Ternyata kita kalah dengan dinding ego yang terbangun selama ini, kita memilih jalan masing-masing dengan saling merelakan. Untuk yang terakhir kalinya, aku mengucapkan maaf. Entah untuk yang keberapa kali, tapi aku merasa; akulah yang paling bersalah, aku yang paling egois dan bebal. Kamu, tidak. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Ini adalah kata-kata...