Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Mata Hujannya

Hujan. Dingin? Sejuk? Menggigil? Mungkin akan ada salah satu yang kita pilih dari tiga keadaan tersebut saat rintikan air turun dengan pongahnya ke bumi ini. Namun Lea tidak akan merasakan ketiga hal itu, melainkan rasa kaku, tidak saat air turun dari langit ke bumi tersebut, tapi saat mata yang terjelma dari hujan itu menghampirinya dan menatapnya dengan sendu. Lea masih kesulitan jika dihadapkan pada mata hujannya, Rayn. Yah, laki-laki itu lah yang membuatnya kesulitan bersikap normal. Terkadang dia begitu berusaha untuk mencoba, namun malah hal yang aneh terjadi. Seperti kali ini, saat gadis itu harus bertemu dengan Rayn secara tidak sengaja. Dia mau menyapa laki-laki itu, tapi bagaimana caranya jika mereka tak pernah saling mengenal. Oh bukan mereka, tapi hanya Rayn, karena Lea mengenal laki-laki itu, bahkan sangat mengenalnya. Seperti bintang dan bulan, kedua benda langit tersebut berdampingan, namun mereka tak pernah saling menilik. Lea hanya bintang yang diam-diam mencari tau ...

Ketika hati tau tempat pulang (2)

Sudah lebih dari satu minggu Aqila tidak memberi kabar sedikitpun pada Abyan, dia melupakan janjinya agar cepat kembali, ketempat dimana dia akan mudah menemukan Abyan, tapi naasnya sampai sekarang laki-laki itu tak kunjung menemukan Aqila. Bahkan pesan yang dikirimnya tidak pernah dibalas oleh gadis itu, juga telfonnya, entah itu dari WA, Line sampai BBM, semua tidak mendapat respon satupun. Sedangkan jika dikampus, saat pulang, biasanya selalu bareng, kini Abyan malah selalu dapat jawaban dari teman sekelasnya kalau gadis itu sudah pulang lebih awal. Ditambah, saat Abyan sengaja mampir kerumahnya, namun hanya jawaban bahwa gadis itu tidak sedang berada dirumah. "Lu kemana sebenernya Qila, janji lu hanya satu minggu. Tapi sampek sekarang, lu nggak nyamperin gue disini," "Apa gue ngelakuin hal salah yang bikin lu kecewa? Sedangkan selama ini lu nggak pernah takut buat negur gue kalo salah.. Ada apa sebenernya? Jika memang ada yang salah, kita bisa bicarain ini semua. A...

Ketika hati tau tempat pulang

Haloo, lama tak mampir di blog tercintaku ini. coba siapa yang kangen sama aku? haha. yang kepo boleh lah, tunjukin wujud kalian dikolom komentar dibawah (kalo berani) wkwk. atau sekedar yang cuman mampir, tapi aku yakin itu adalah hal yang disengaja dan termasuk kepo. hakk, sama saja. ah sudahlah, aku mampir pasti bawa oleh-oleh, mau apa? cerpen? cerbung? kamut? atau tentangmu? hahak. oke, kali ini aku hadir dengan cerpen saja ya. Untuk kamu sang Senja, biar kamut yang mewakilimu ya. - KETIKA HATI TAU TEMPAT PULANG- "Qila, hapus nggak fotonya! kebiasaan banget ya lu cari masalah sama gue." Laki-laki itu tidak ada habisnya menggertak gadis bernama Aqila, dan sayangnya gadis itu tidak memperdulikannya sama sekali. "Mau pilih mana lu, tangan kiri apa tangan kanan?" "tangan kanan isinya apa? tangan kiri juga isinya apa?" Tanya Qila malah menantang. "Tangan kanan isinya rumah sakit, tangann kiri isinya kuburan. pilih mana lu?" Tantang la...

Masih dengan Jingga yang sayang Senja

Mataku menangkap senyumnya yang cukup lama tak kutemui, kedutan bibirnya yang menguarkan kebahagiaan tersendiri untukku, tak pernah membuatku bosan sedikitpun. Bagaimana denganmu? Hai monster senja. Rasanya, satu meja denganmu, dengan kalimat yang menyiratkan rasa agar aku tetap semangat, akhirnya sampai padaku, meski sebenarnya tanpa melakukan itu pun, aku sudah sangat semangat melihat senyummu. Lucu ya. Iya, selucu itu aku jika dengan sang senja. Terkadang, aku melihat senyumanmu berubah menjadi tawa, saat kamu sudah berhasil mengerjaiku dengan kejailan yang terkadang membuatku geli sendiri mengingatnya, tentu, apa yang tidak bisa dia lakukan jika hanya untuk merubah moodku. Dia begitu mahir atas hal itu. Tapi dia juga lebih mahir mengembalikan mood yang tadinya jelek menjadi sangat baik. Tapi tidak bisa dipungkiri, jika dia sudah mulai jail, dia begitu menyebalkan, sangat menyebalkan. Dan naasnya, semua kejadian itu, semua peristiwa itu, diantara kita, hanya terjadi disekelumpit ...

Jingga sayang Senja

Senja, Jingga sayang Senja. Apakah kamu tau, Senja. Setiap tulisanku terbesit tentang, sikapmu, sifatmu, atau bahkan bayanganmu. Kamu bukan masa laluku, kamu bukan cerita lamaku yang masih kuharapkan, kamu pun bukan bagian hidup yang harus kulupakan. Kamu adalah sebagian cerita hari-hariku sekarang, kamu ada, aku pun ada. Senja ada, Jingga pun ada. Kehadiranmu cukup membuatku bersemangat setiap menjalani semuanya. Terdengar lucu ya, mungkin untukmu. Karena kita hanya seorang teman. Tak lebih dan tak kurang. Dan naasnya dalam status itu lah aku terperangkap, mencintai yang tak tau, mengharap yang tak pasti, Jingga cukup mengerti dimana posisi sebenarnya. Aku hanya berada diantara para teman Senja, yang tak mungkin bisa mengharap lebih perasaannya. Tapi dengan itu aku bersyukur, kamu mau bicara denganku, meski dalam bahasan kita tak pernah membicarakan soal hati, hatiku dan hatimu yang sebenarnya. Cukup membicarakan kabar dan kebanyakan saling melempar olokan lah diantara pembicaraan...

Mons

Saat kamu menanyakan bagaimana hatiku sekarang, jawabannya adalah tak baik-baik saja. Sungguh, ada sesuatu yang membuat hati rasanya nyeri. Apa kekecewaanmu masih tak berujung? Ini terlalu lama, dan aku semakin takut. Entah apa mungkin itu benar adanya, karena aku pun tak jelas tau atas hal itu. Tapi kenapa selucu ini, apa iya aku yang membesar-besarkan kekesalanku ini atas hati yang sedikit nyeri, atau memang kamu yang mulai... Ah entahlah. Hanya saja aku tak pernah mau itu terjadi. Kenapa setiap orang memilih bersikap acuh saat apa yang mulai diraihnya sudah dekat, kenapa? Apa salah, aku berfikiran seperti ini? Apa kah peka, atau tidak peka itu tergantung yang memberi kode? Kode yang seperti apa? Sedangkan kamu sendiri mulai acuh. Entahlah, aku hanya berharap apa yang menjadi harapan kita dulu benar adanya, dan tak hanya menjadi bualan semata.

Maaf, Mons

Maaf, jika ini membuatmu bingung, Jika ini membuatmu muak, jika ini membuatmu kesal, jika ini membuatmu kecewa, Dan jika semua ini menyakitimu. Aku sadar, aku bukan permata yang indah, bukan pula bidadari cantik, yang dengan sesuka hati memaksakan kehendak tanpa ada yang mau membantah. Aku hanya perempuan yang tak tau malu, menginginkan hal berlebih tentang apa yang aku anggap baik untuk kita, dan memaksakannya pada kita, membuatmu harus bersedia menurutinya. Meski satu kata bentuk kekecewaan tidak pernah kamu utarakan, namun aku bisa merasakan hal itu, sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dariku. Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin meminta maaf padamu, selama ini aku banyak mau, menuntut hal yang sebenarnya memberatkanmu, menjadikan keputusanku sebagai keputusanmu juga, padahal belum tentu kamu menyetujuinya. Aku tau kamu melakukan itu semua karenaku, rasa itu sangat berlebih, aku pun begitu. Tapi kenapa aku seegois ini, semunafik ini, yang tidak tau bagaimana hatinya yang sebe...

Cahaya Awan (Part 7)

"Terimakasih atas waktunya Pak." "Iya, saya terimakasih juga.. Saya permisi balik duluan. tidak apa-apa kan? Saya masih ada perlu lagi." "Oh iya Pak, tidak apa-apa, kita bicarakan hal ini lain waktu." "Baiklah, saya tinggal ya." "Loh Pak," Sebelum perempuan itu melanjutkan ucapannya, Arbani sudah menariknya terlebih dahulu, meninggalkan dua laki-laki yang masih duduk santai sepeninggalnya dengan Arbani. "Bukannya meeting kita belum selesai Pak?" Tanya Najwa. Langkahnya pun masih mengikuti laki-laki itu, bagaimana tidak, jika tangannya saja ditarik oleh Arbani. Setelah sampai diparkiran, Arbani menghentikan langkahnya dan melepas tangan perempuan itu, kemudian memperhatikan Najwa yang sedang bingung dengan tingkah laki-laki itu. "Katamu, kamu harus cepat-cepat ke panti. Kita akan kesana sekarang." Ucap Arbani akhirnya. "Tapi saya kira kita akan menyelesaikan meeting itu sampai tuntas Pak." "...

Cahaya Awan (Part 6)

"Hai Najwa." Suara bariton tiba-tiba saja muncul disamping Najwa, perempuan itu sedikit terhenyak, namun dia begitu tau suara siapa. "Iya Pak." Perempuan itupun membalas dengan senyuman. Hari ini laki-laki itu tampak cerah, sangat cerah, sampai untuk memandangnya pun Najwa takut. "Itu tadi Aqil bukan?" "Iya Pak, memang Kak Aqil." "Tumben nggak mampir?" "Katanya sih ada urusan, dia janji kalo pulang nanti bakal jemput saya.." Najwa tiba-tiba menunduk, dia ingat kejadian kemarin malam, saat Aqil tidak menepati janjinya, dan menyuruh Arbani untuk menjemput Najwa. "Oh ya Pak, saya minta maaf atas kejadian kemarin. Karna Kak Aqil, Pak Arbani jadi repot untuk jemput saya, padahal itu tidak seharusnya terjadi, Pak Arbani adalah atasan saya." "Kenapa?" Tanya Arbani, pertanyaan ambigu dan Najwa tidak bisa menangkap maksudnya. "Kenapa maksudnya Pak?" "Iya kenapa? Bukannya kita sudah menjad...

Cahaya Awan (Part 5)

"Gue tau ini bukan hal mudah buat lo, termasuk gue." Najwa memperhatikan laki-laki disampingnya. Mereka sekarang berada didalam mobil untuk mengantar perempuan itu berangkat kerja. Setelah acara makan malam dan keputusan yang diambil sepihak oleh Sarah, Najwa pergi kekamarnya, bukan bermaksud marah atau kesal, namun gadis itu ingin menenangkan diri. Kenyataan bahwa Bundanya memiliki persepsi lain tentang dirinya dan Aqil, dia memandang bahwa mereka cocok untuk menikah. "Gue pun sadar hal itu," Aqil melirik sebentar kearah Najwa dan kembali fokus menyetir. "Bunda sudah gue anggap sebagai ibu sendiri, dengan kehilangan kasih sayang seorang ibu selama 15 tahun, membuat gue merasakan perhatian Bunda lo seperti bentuk kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Tapi gue gak nyangka, kalo yang difikirkan Bunda lo berbeda, gue tau maksudnya baik, semua orangtua pun pasti memiliki maksud baik untuk anaknya. Mungkin dia merasa dengan kita menikah, kita akan mudah sal...

Cahaya Awan (Part 4)

"Terimakasih Pak, sudah mengantarkanku." Gadis itu tersenyum dan kemudian membuka pintu mobil yang membawanya bersama Arbani sampai dirumah. "Ya." Jawaban yang sangat singkat. Namun Najwa tidak ambil pusing, toh sebagai bos dia berhak atas itu. "Terimakasih sudah berusaha jadi temanku." Tambahnya yang berhasil membuat Najwa berhenti ketika pintu mobil sudah terbuka hampir setengah. Najwa tersenyum dibalik tubuhnya, setidaknya ini titik awal dimana laki-laki itu bisa menerima kenyataan bahwa selalu ada teman sejati didalam hidupnya, yang tanpa memakai kedok untuk berbuat baik untuknya. Pertama, Aqil, dan Najwa harap untuk yang kedua, sahabat laki-laki itu adalah dirinya. "Assalamualaikum Pak." Ucap gadis itu saat sudah ada diluar mobil. Dan Arbani tersenyum kearahnya, jenis senyuman tulus yang dibawanya dari syurga, adem rasanya. "Waalaikumsalam." Dan laki-laki itupun menutup kaca mobil, kemudian dnegan cepat membawa mobil ters...

Cahaya Awan (Part 3)

"Wa, mau bareng sama aku?" Tanya seorang gadis yang seumuran dengan Najwa, dihari pertamanya bekerja ini dia sudah mendapatkan teman yang sangat baik, meski gadis yang bernama Nilam itu hanya salah satu staff admin disana, namun sikapnya mudah membaur dengan Najwa yang menjadi sekretaris. "Aku dijemput sama Kak Aqil, Nilam.. Kamu duluan aja ya." Jawab Najwa sembari masih menelusuri jalanan yang ada didepannya, namun sosok yang dicarinya tidaklah muncul. "Aku jadi penasaran sama Kak Aqil, gimana orangnya. Bukan saudara, bukan keluarga, bukan pacar, bukan sahabat, tapi baiknya minta ampun sama kamu." Ucap Nilam menggoda. Sedangkan Najwa tersenyum lugu, tidak mengerti apa yang dimaksud temannya itu. "Nilam, plis deh jangan mulai." Gerutu Najwa, dan Nilam hanya tertawa geli melihat keluguan temannya itu. "Yaudah, aku pulang duluan ya." Ucap Nilam akhirnya. "Iya, hati-hati ya Lam." Jawab Najwa seiring tangan Nilam melam...

Cahaya Awan (Part 2)

"Oh ya, gimana sama Najwa?" Kini Aqil baru membuka topik tentang gadis itu, yang sudah sejak tadi dia anggurin hanya untuk ngobrol tentang banyak hal bersama Arbani. "Pekerjaannya cukup bagus untuk karyawan baru sepertinya." Jawab Arbani seadanya, benar yang difikirkan Najwa, laki-laki itu tidak semenakutkan para bos seperti yang dia baca dikebanyakan novel romance. "Bukan, bukan yang itu," Sahut Aqil, Najwa yang sebelumnya mendengar jawaban Arbani sedikit tenang dan bersikap biasa saja, sekarang berubah menegang dan keringat dingin, dia tahu betul, Aqil tidak akan membiarkan Najwa begitu saja tersanjung. Ah laki-laki itu sudah seperti musuh dalam selimut. "Terus?" Kata itu akhirnya muncul dari mulut Arbani. Itu artinya membuka kesempatan lebar untuk Aqil menggoda Najwa. "Apa dia tidak grogi saat menghadapi lo?" Tanyanya. Benarkan? Dia benar-benar menurunkan reputasiku. Gerutu Najwa dihatinya, gadis itu sudah bersungut-sungut ...

Cahaya Awan (Part 1)

"Bunda, Najwa berangkat dulu, doakan semoga hari ini lancar ya." Pagi-pagi sekali gadis itu sudah rapi lengkap dengan map berisi CV juga beberapa berkas yang diperlukan untuk interview. Dengan hijab berwarna peach, wajah gadis itu terlihat bersinar dan ceria. "Iya sayang, Bunda selalu mendoakan apa yang terbaik buat kamu. Semoga nanti kamu mendapat ilmu yang lebih luas lagi." Ucap Sarah sembari mengambil sebuah kotak makan diatas meja. "Ini, kamu bawa, jangan sampai apa yang sedang kamu raih menghalangi kebutuhanmu." Tambah wanita itu. Najwa tersenyum, kemudian mengambil kotak makan tersebut dari tangan Bundanya. "Terimakasih Bunda, tapi hari ini Najwa hanya sedang interview, belum tentu Najwa diterima kan?" "Diterima atau tidak, kamu harus makan bekal ini.. Kalo bisa, Aqil juga diajak makan, Bunda sudah melebihi makanannya kok." Ucap wanita itu sembari melirik keambang pintu, disana sudah ada laki-laki yang berjalan memasuki r...