Langsung ke konten utama

Seandainya kamu mau datang

Sejak kemarin aku rasa kamu sedang berdamai dengan keadaan. Kita berbincang tentang yang lalu, dan kamu tertawa mengingatnya, kamu tidak menghindar seperti biasanya ketika ku mulai membuka cerita masa lalu. Aku berusaha membuatmu semakin ingat, kenangan-kenangan yang ada kutunjukkan dan; ini lah aku yang masih menyimpan rapat tentangmu, yang tak bisa lupa begitu saja. Tanpa kuduga, kamu masih mengingatnya, kamu menimpali apa yang ku ceritakan. Seperti yang kuingat beberapa hari lalu, perihal kita pergi ke rumah makan, dan masakannya yang kurang cocok di lidah, kamu diam-diam memotretku, dan ternyata aku masih menyimpan hasil jepretan itu. Masih tersimpan rapi bersama kenangannya yang entah dapat terulang kembali, atau tidak sama sekali.
Seolah menyerah dengan rasa, kita berbincang cukup lama sampai saat ini, kita bergurau dan berujar ringan. Ingin rasanya bertanya bagaimana perasaanmu sekarang padaku? Masih sama seperti yang kupunya, atau sudah habis oleh hati lain yang mengalihkanmu sekarang.
Tapi nyaliku tak seberani itu. Aku takut kamu akan bersikap acuh lagi, dan akan sulit bagiku mencari kabar tentangmu. Tak masalah, Monster senjaku, anggap aku temanmu, adikmu, atau sahabatmu, selagi kamu nyaman.
Karena ini memang salahku yang meninggalkanmu. Tapi percayalah, salahku lebih dari itu. yaitu; memintamu masih menjadi temanku, disaat semua yang telah ku lakukan.
Jika disuruh melepaskanmu, aku sudah melepasmu sejak kita tak saling berkomitmen. Tapi lepasan itu tak seutuhnya, ketika hati menyuruh kembali, tapi terlambat.

Monster senjaku, kamu masih memiliki tempat di hati ini, seandainya kamu mau datang.

Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan komentar kamu

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...