Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Perempuan yang sudah kuhilangkan dari hatiku

Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganmu, Terakhir kali, kamu bercerita semua yang terjadi dalam kehidupanmu setelah aku pergi, lalu memberiku selamat setelah tau aku dan dia memulai sebuah hubungan. Kemudian kamu hilang, benar-benar hilang. Aku tidak lagi bisa menemukanmu dari sudut manapun. Dan, entah kenapa perasaan takutku yang dulu mencuat kembali. Aku takut kehilanganmu lagi. Dia menarikku untuk duduk di tikar yang sengaja sudah di tatanya bersama yang lain, hari ini aku berlibur dengannya dan teman-temanku untuk mengisi waktu libur. Disaat seperti ini, kenapa pikiranku masih ada di kamu yang entah sedang apa, dan bagaimana kabarnya. Rasa khawatirku tak kunjung reda meski tangannya terus menggandengku. Dia memberiku perhatian lebih, dan aku bisa melihat itu dimatanya. Ada cinta yang luar biasa, namun aku belum seutuhnya bisa membalas. Karena, perempuan yang aku mau ada diluar sana, menghilang begitu saja tanpa kabar dan ucapan selamat tinggal. Hingga dimalam hari, aku ba...

Kita pernah searah

Aku yang menatapmu penuh dengan harapan, Tak lebih hanya kamu anggap sebagai teman. Aku yang memintamu untuk datang, Sedang kamu lebih memilih untuk pulang. Aku yang susah mencari cara untuk memulai perbincangan, Kamu dengan mudah mengakhirinya tuan. Aku yang berjalan dibelakangmu, Tapi berada diantara barisan teman-temanmu. Aku yang menjadikanmu tujuan, Kamu menjadikanku teman curhatan. Aku yang melihatmu seperti nirmala, Kamu melihatku tak lebih dari candala. Aku yang mendoakanmu disepertiga malam, Sedang kamu mencintainya dengan sangat dalam. Aku yang sibuk mencuri pandang, Tapi kamu tertawa bersama seseorang. Aku yang melindungimu dari hujan, Tapi kamu lebih memilih bermain dibawah hujan. Aku yang menantimu dipersimpangan, Sedang kamu sedang berbincang dengan seseorang untuk masa depan. Aku yang menangis atas perjuangan, Sedang kamu tertawa bahagia karena mendapatkan seseorang yang kamu harapkan. Aku yang ingin berhenti berjuang, Kamu tiba-tiba datang dengan ...

Apa masih ada ketulusan itu meski sedikit?

Kembali ku lihat momen-momen yang sengaja dia abadikan menjadi sebuah rangkuman singkat, dan ku melihat betapa bahagianya kamu ketika bersamanya, yang mungkin tidak pernah kamu dapatkan ketika bersamaku. Sama-sama menjabat tangan, tertawa dibawah terik matahari, dan minum ice cream berdua. Mengingatkanku bahwa jalanmu bukan lagi menujuku, tapi menuju perempuan lain. Kemarin aku melewati persimpangan, menatap tiap jalan yang pernah kulalui bersamamu. Ternyata itu sudah berlalu cukup lama, dan bisa saja kamu sudah lupa. Salahku memang menawarkan kata teman, sedang aku sendiri belum sepenuhnya bisa menjadi temanmu. Masih ada harapan-harapan kecil yang kubuat. Lalu aku memutuskan untuk tak lagi menghubungimu, setidaknya momen-momen yang dirangkum olehnya menjadi pengingatku. Lagian kamu pasti sudah terbiasa tanpaku, yang bukan menjadi hal penting lagi, yang hanya menjadi teman berbasa-basi. Aku berjanji pada diriku untuk benar-benar berhenti, bila hari ini kamu tak memulai untuk mengh...

Perempuan yang selalu kujaga dan kuhargai

Aku kembali mendapatkan sikapmu ini lagi, setelah beberapa tahun belakangan kita berpisah. Kamu bersikap seperti ini ketika dulu aku memutuskan untuk tak lagi berkomitmen dan membebaskanmu. Merelakanmu untuk sebuah restu. Jika kamu tau, aku merasa adalah laki-laki yang payah kala itu. Melepaskanmu dengan alasan materi. Sedangkan kutau, kamu tak pernah mempermasalahkan hal itu, asal kita bersama. Semua itu sudah berlalu, bersama kabarmu yang tak lagi kudengar, dan hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan. Hingga sebuah tangan menghentak pundakku, dan dia hadir merubah keadaan. Dia yang berusaha mengulurkan tangan untuk ku kembali bangkit, meski dia tau hatiku tidak semudah itu bisa berpaling. Ujarannya seolah menguatkanku, dan memberi tau bahwa ada seseorang yang bisa membuatku bahagia selain kamu. Sedangkan selama ini kamu yang hadir untuk buatku bahagia, sekalipun kamu pernah menyakitiku. Dia menarikku keluar dari zona ini, dimana aku yang masih memperhatikanmu dari kejauhan. Dia m...

Kalah sebelum dimulai, mundur sebelum berproses

Dengan menjadi perempuan sok kuat, akhirnya aku runtuh juga. Menutup mata, ternyata tak membuatku lupa akan semua kenangan kita dulu. Berjajar rapi, dan tidak ada satupun yang tau, bahkan kamu sekalipun bahwa; aku masih mencintaimu hingga kini. Tidak ada yang bisa kulakukan selain merelakanmu pergi bersama perempuan lain. Yah, kamu sudah bebas sekarang, lukamu sudah sembuh sempurna hingga meluruhkan seluruh cintamu yang dulu. Mungkin aku bisa belajar darimu, dari cinta tulusmu. Bagaimana harus merelakan seseorang yang dicinta untuk mencari kebahagiaannya. Sungguh, seseorang yang sedang bersama denganmu sekarang sangat beruntung, hingga mampu mengambil ketulusan cintamu. Aku tidak pernah lupa, Monster Senjaku. Bagaimana tahun belakangan ini kita tak saling berkabar, dan harusnya aku tau juga bahwa pasti ada perempuan lain yang ingin memulai hubungan denganmu, meluluhkan hatimu. Kamu tidak akan selamanya membuka lebar rentangan tanganmu untuk terus menyambutku. Aku mengerti bagaimana...

Jika kamu mencintainya, kenapa membuatku jatuh cinta?

Malam itu aku ingin menangis, Menghindar dari pemilik dada bidang yang selalu menenggelamkanku dalam kenyamanan. Aku tidak ingin kamu tau bahwa; semenyedihkan ini melihatmu bertengkar dengannya, yang itu karenaku. Aku selalu memintamu untuk datang, selalu menahanmu untuk menetap, tanpa aku tau; setelah itu selalu terjadi pertengkaran hebat antara kamu dan dia. Selama ini kamu selalu menjauh ketika mengangkat telpon darinya, dan kembali dengan wajah yang masam. Tapi sekarang aku tau apa alasannya. Dalam perjalanan, dibalik riuhnya kendaraan, aku menangis. Tiba-tiba dadaku rasanya sesak melihatmu menahan emosi karenanya, meminta maaf berulang kali, padahal ini sepenuhnya bukan kesalahanmu, aku juga lah yang membuatmu enggan pulang, aku lah yang membuatmu dituduh olehnya. Tapi kamu yang dihakimi sendirian. Aku yang berharap diprioritaskan seperti dia, menjadi sadar bahwa; pantaskah aku meminta hal itu? Ketika aku lah yang ada diantara kamu dan dia. Aku lah yang datang ter...

Alasan senyummu yang hambar

Aku harus ingat bahwa; kita sudah tidak saling komitmen, artinya tidak ada lagi yang menahanmu untuk pergi dan mencari kebahagianmu diluar sana. menyeretmu datang kembali dalam kehidupanku, dan berdamai dengan kata teman, seharusnya menjadi pertimbanganku matang-matang. Aku harus siap, apabila melihatmu berbahagia disana bersama perempuan lain, menceritakan tentangnya padaku. Aku masih ingat betul pertemuan kita kemarin, banyak hal yang kita bicarakan, candaan yang telah lama kurindukan, ingatan-ingatan tentang masa lalu, dan rasaku yang masih jatuh padamu, kekagumanku oleh mata sendumu, senyuman indahmu, dan tawa renyahmu. Namun aku tidak pernah sadar bahwa semua itu sudah hambar. Kamu tidak lagi merasakan seperti apa yang rasakan. Wajar, sepanjang waktu setelah kita memutuskan untuk tak saling berkomitmen, kita tidak lagi saling memberi kabar, bahkan takut untuk memulai percakapan meski itu hanya basa-basi. Jadi tidak ada salahnya kamu memulai hubungan dengan perempuan lain....

Aku yang menangis dipundakmu

Aku baik. Mungkin sama halnya denganmu. Sama-sama tak peduli bahwa ada batu besar setelah kerikil-kerikil ini. Padahal, sebenarnya- dalam hati masing-masing; ketakutan akan terlepasnya genggaman itu sangat nyata. Kita menjalani ini, seolah tidak ada dia. Kita bersorak ria, seolah tidak ada aral. Begitulah. Dan pada akhirnya, aku yang menangis dipundakmu, Menyadarkanmu; bahwa ruang ini sempit, dan entah siapa yang akan keluar lebih dulu. Tentunya bukan aku.

Aku

Aku, Buih embun yang kamu cari setiap pagi, Gubuk kecil tempatmu menaung kala siang, Bintang senja yang membuatmu menetap setiap sore, Kunang yang cahayanya kamu suka saat malam, Payung kecil untukmu berlindung dari hujan, Yodium ketika tubuhmu terluka, Paracetamol ketika demam membuatmu menggigil. Ya, aku yang selalu ada untukmu. Tapi tak pernah menjadi yang pertama, tak pernah diprioritaskan, tak pernah diperkenalkan, dan tetap menjadi yang disembunyikan. Bersenang-senanglah disana, tapi jangan pernah lupa ada aku, yang selalu menunggumu datang meski tujuanmu hanya untuk singgah. Sebagai perempuan, aku berhak untuk cemburu pada orang yang aku sayang kan? Sebagai manusia, aku berhak untuk iri pada apa yang ingin ku dapatkan kan? Ku mohon, jangan salahkan perasaanku. Kamu yang telah membuatku mempunyai perasaan ini. Dan sekarang? Kamu seolah acuh tak mau tau. Aku coba mengerti satu hal; bahwa aku yang tak pernah dianggap, tak harusnya berharap punya sayap untuk mendekap...

Harap itu tetap kurapal

Sejatinya hati perempuan, tak luput dari keragu-raguan. Sebagai yang masih menempati persembunyian, diam adalah hal paling menyakitkan. Lalu apa yang dapat dilakukan? Ketika perempuan ini ingin tau kabar dan keadaan, namun takut kamu mendapat kecaman. Lalu tidak lama, waktu menggiringmu untuk datang pada perempuan; yang telah menunggumu hingga lupa arah pulang. Persilahkan aku untuk berbicara, Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan tentang hati yang rapuh berantakan. Akhirnya, setelah kamu persilahkan, Satu demi satu racauan dapat kukatakan. Dan semua jawaban logismu dapat kuterima dan tidak dapat disalahkan. Okee. Harusnya selesai. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi? Tapi kenapa perempuan ini masih belum puas. Hatinya masih sakit, seperti diombang-ambing oleh tuas. Dari kebimbangan itu, kamu malah marah. Wajar. Ketika masalahnya dibilang selesai, tapi perempuan ini masih berkutat untuk berkilah, dan memojokkanmu hingga lelah. Akhirnya aku sadar. Aku sedang iri pad...

Dia nirmala sedang aku hanya candala

Tuan Petrikor, Kenapa ku sebut kamu seperti itu? Karena kamu bak aroma hujan, yang mengundang candu, Membuatku terus berjalan, meski petir bersautan menderu. Terkadang kamu bak arunika, terkadang pula kamu bak swastamita. Kedatanganmu dan kepergianmu, Begitu saja, silih berganti seperti matahari. Dia nirmala, sedang aku hanya candala, Yang tuan temui ketika jengah. Mengapa? Apakah menjadi candala adalah karsa yang kuasa? Sedang, seorang bayi datang keperadaban suci tanpa dosa. Terbiasa dipenjara oleh rasa, Aku rela menjadi tahanan untuk menunggumu datang membawa karsa, Tapi lagi-lagi kamu datang hanya membawa asa yang tak kuasa. Apa definisi "Aku" dalam hidupmu? Meminta cinta dan raga, Tapi tak ada doa samawa, Memohon suka, Tapi yang ada duka.

Meski senyummu hambar, cinta ini tetap menguar

Monster Senjaku, terima kasih. Kamu sudah berbaik hati untuk tetap menjadi teman. Berselisih, Bertukar pikiran. Kamu kembali seperti dulu, Sebelum kita saling mengungkapkan rindu untuk jadi satu. Meski senyummu hambar, Cinta ini tetap menguar. Jika kamu tau, cinta ini sejengkalpun tidak berkurang, Mungkin kamu akan kembali pergi. Memalingkan muka, dan tak mau masuk lagi ke ruang, Lalu, aku kembali meringis merasakan sakit hati. Jadi, aku memutuskan berpura-pura, Agar usaha menarikmu lagi tidak menjadi sia-sia. Biarlah, jika dengan menjadi teman adalah sebuah pilihan, Yang terpenting aku tak kehilangan untuk kesekian. Aku tau sekali rasanya menahan rindu, Dan itu yang membuatku sekarang menjadi pecundang. Yang berharap beradu, Tapi tak tau cara berjuang. Mungkin mudah diucap, Namun sulit untuk diungkap. Dari apa yang aku rasa, Kamu sudah tak mau merasa. Aku yang menyakitimu, tapi aku yang ingin kamu kembali. Aku yang menghancurkan perasaanmu, tapi aku yang menan...

Berharap secuil diistimewakan

Baca sebelumnya : Kenapa harus aku yang disembunyikan? Untuk marah, aku siapa? Seseorang yang hanya kamu butuhkan ketika sedang terluka, lalu kamu hempaskan ketika bahagia. Tapi, kamu tak pernah akui itu. Ucapmu aku berarti dihidupmu, memiliki tempat sendiri dihatimu. Kalau boleh tau, dimana tempatku dihatimu? Ketika yang kamu perkenalkan pada khalayak adalah dia, perempuan yang telah kamu lingkarkan cincin di jari manisnya. Ketika kamu membangun masa depan bersamanya, perempuan yang selalu mengkhawatirkan dan memintamu untuk cepat pulang. Ketika kamu bekerja keras untuknya, perempuan yang ingin kamu bahagiakan bersama keluarga kecilnya. Lalu sekarang aku ingin bertanya, ketika apa kamu melakukan suatu hal, yang itu untukku? Aku diam. Aku memilih untuk selalu mengerti keadaanmu. Asal kamu tau dan ingat, selama ini aku selalu ada untukmu, mengalah untuk kamu yang keras kepala, menghibur untuk kamu yang emosi karenanya, memelukmu ketika kamu butuh kehangatan, mencumbumu ketika ka...