Langsung ke konten utama

Perempuan yang sudah kuhilangkan dari hatiku

Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganmu,
Terakhir kali, kamu bercerita semua yang terjadi dalam kehidupanmu setelah aku pergi, lalu memberiku selamat setelah tau aku dan dia memulai sebuah hubungan.
Kemudian kamu hilang, benar-benar hilang.
Aku tidak lagi bisa menemukanmu dari sudut manapun. Dan, entah kenapa perasaan takutku yang dulu mencuat kembali. Aku takut kehilanganmu lagi.

Dia menarikku untuk duduk di tikar yang sengaja sudah di tatanya bersama yang lain, hari ini aku berlibur dengannya dan teman-temanku untuk mengisi waktu libur. Disaat seperti ini, kenapa pikiranku masih ada di kamu yang entah sedang apa, dan bagaimana kabarnya. Rasa khawatirku tak kunjung reda meski tangannya terus menggandengku. Dia memberiku perhatian lebih, dan aku bisa melihat itu dimatanya. Ada cinta yang luar biasa, namun aku belum seutuhnya bisa membalas. Karena, perempuan yang aku mau ada diluar sana, menghilang begitu saja tanpa kabar dan ucapan selamat tinggal.

Hingga dimalam hari, aku baru ingat, saat-saat seperti ini kita sering sekali main game online sembari mengaktifkan voice notenya. Dan benar, kamu terlihat online. Ada rasa takut untuk memulai, karena aku baru sadar selama ini yang memulai percakapan adalah kamu. Kenapa bukan aku?
Dan dengan memberanikan diri aku mulai mengirim pesan dalam game tersebut, dan mengundang mu untuk bermain. Lalu tanpa basa-basi kamu langsung bergabung. Sebuah hal kecil yang membuatku bahagia.

Kenapa aku masih merasakan takut kehilanganmu, perempuan yang sudah kuhilangkan dari hatiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...