Langsung ke konten utama

Berharap secuil diistimewakan

Baca sebelumnya : Kenapa harus aku yang disembunyikan?

Untuk marah, aku siapa? Seseorang yang hanya kamu butuhkan ketika sedang terluka, lalu kamu hempaskan ketika bahagia.
Tapi, kamu tak pernah akui itu. Ucapmu aku berarti dihidupmu, memiliki tempat sendiri dihatimu.
Kalau boleh tau, dimana tempatku dihatimu?
Ketika yang kamu perkenalkan pada khalayak adalah dia, perempuan yang telah kamu lingkarkan cincin di jari manisnya.
Ketika kamu membangun masa depan bersamanya, perempuan yang selalu mengkhawatirkan dan memintamu untuk cepat pulang.
Ketika kamu bekerja keras untuknya, perempuan yang ingin kamu bahagiakan bersama keluarga kecilnya.
Lalu sekarang aku ingin bertanya, ketika apa kamu melakukan suatu hal, yang itu untukku?

Aku diam. Aku memilih untuk selalu mengerti keadaanmu. Asal kamu tau dan ingat, selama ini aku selalu ada untukmu, mengalah untuk kamu yang keras kepala, menghibur untuk kamu yang emosi karenanya, memelukmu ketika kamu butuh kehangatan, mencumbumu ketika kamu meminta.
Aku tak lebih hanya ingin kamu mengerti satu hal; kamu yang selalu kuprioritaskan. Entah kamu mau peduli, atau hanya sekedar tau.

Terkadang kamu menuntunku kedalam kebahagiaan, tapi hanya sebentar karena kamu buru-buru membawaku keluar. Dan itu ketika kamu pamit pulang, untuk kembali ke dia, kekasihmu yang sesungguhnya. Dan apa yang bisa ku lakukan? Aku hanya bisa menatap punggungmu menjauh dengan cepat, sembari berucap "Selamat tinggal, ku tunggu pertemuan ini lagi". Sudah seperti mantra yang kurapal setiap hari, ketika kamu mulai pergi untuk pulang. Harapku selalu sama, memintamu untuk datang, lagi dan lagi. Hingga membuatku merasa seperti perempuan murahan yang kalah oleh rindu.

Esok, untuk beberapa minggu kedepan kita tidak bisa bertemu, dan kita tidak punya alasan untuk menguarkan rindu. Karena sebagai perempuan yang disembunyikan, tidak ada alasan untuk memintamu datang di hari libur. Jadi, malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, meski sebentar saja, karena ku tau kamu sedang sibuk dengan acara yang kamu buat. Setidaknya aku bisa menatapmu sebentar, memandangmu sejenak, agar bisa kusimpan dalam memoriku, dan kuingat untuk beberapa minggu kedepan.

Namun hingga jam menunjukkan pukul 9, kamu tak kunjung datang juga. Pesan, telfon entah sudah berapa puluh kali. Tapi tidak ada satupun yang dibalas, bahkan pesanku yang bilang sudah sampai di cafe langganan kita pun tidak dibaca.
Sesibuk itu kah? Ingin rasanya marah, tapi kenapa? Aku yang memutuskan sendiri untuk menunggu disini, tanpa persetujuanmu. Baiklah, ini salahku.
Kembali kukirim pesan untuk pamit pulang. Aku takut saat sudah diperjalanan, kamu baru membacanya dan pergi ke cafe untuk menemuiku.

Akhirnya sampai rumah. Setelah bersih-bersih diri, aku membaringkan tubuh diranjang dan menatap langit-langit atap, disana mereka seolah menertawai kebodohanku. Dan aku meringis sembari mengecek ponsel, ingin tau apakah sudah ada respon darimu. Tapi nihil. Tidak ada satupun.

Jam dinding di kamarku pun sudah menunjukkan pukul 1 pagi lebih. Dan aku masih bertahan untuk menunggumu. Sesekali menguap, aku masih bertahan untuk tak tertidur.
Setiap jam, menit, detik, aku selalu menunggu kabarmu, setidaknya hanya dibaca aku sudah lega.
Tapi, kantukku mengalahkan pertahananku. Mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi untuk menunggumu. Dan, akhirnya aku harus menelan ludah, karena harapanku untuk bertemu terakhir kali sebelum libur panjang; gagal.

Hari pun telah berganti, jam pun berputar cukup cepat. Aku terbangun karena ponsel yang masih dalam genggamanku bergetar. Dengan mata yang masih buram, kupaksa untuk melihat ponsel. Dan ada tiga pesan darimu, yang telah kutunggu.

"Aku pulang dulu" pesan itu menunjukkan pukul 2 pagi.

"Habis ini aku mau pergi ke dia. Dia minta anter ke seminar pranikah" pesan berikutnya pukul 7 pagi, tepat saat aku terbangun.

"Jangan dibalas ya." Ucapmu seperti biasa saat hendak bertemu dengannya, kekasihmu. Seolah aku momok yang membahayakanmu.

Aku meringis. Sebenarnya aku apa? Terkadang aku merasa kamu sangat mencintaiku, dan melarangku untuk pergi. Tapi terkadang, aku dianggap sebagai orang asing yang saling tak peduli.

Lalu mana balasanmu ketika aku bilang sedang menunggumu di cafe? Menunggu kabarmu hingga menjelang pagi buta.
Tidak dianggap boleh, tapi hargai aku. Hanya itu yang kuharapkan.
Aku tau siapa, apa dan bagaimana posisiku. Tapi kenapa hatiku tidak bisa membenci ketika disakiti olehmu?
Kenapa cinta ini masih menang. Saat jarak, waktu, keadaan tak membuatmu datang.

Sebagai perempuan yang disembunyikan, berharap secuil diistimewakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...