Tuan Petrikor,
Kenapa ku sebut kamu seperti itu?
Karena kamu bak aroma hujan, yang mengundang candu,
Membuatku terus berjalan, meski petir bersautan menderu.
Terkadang kamu bak arunika, terkadang pula kamu bak swastamita.
Kedatanganmu dan kepergianmu,
Begitu saja, silih berganti seperti matahari.
Dia nirmala, sedang aku hanya candala,
Yang tuan temui ketika jengah.
Mengapa?
Apakah menjadi candala adalah karsa yang kuasa?
Sedang, seorang bayi datang keperadaban suci tanpa dosa.
Terbiasa dipenjara oleh rasa,
Aku rela menjadi tahanan untuk menunggumu datang membawa karsa,
Tapi lagi-lagi kamu datang hanya membawa asa yang tak kuasa.
Apa definisi "Aku" dalam hidupmu?
Meminta cinta dan raga,
Tapi tak ada doa samawa,
Memohon suka,
Tapi yang ada duka.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu