Langsung ke konten utama

Kalah sebelum dimulai, mundur sebelum berproses

Dengan menjadi perempuan sok kuat, akhirnya aku runtuh juga. Menutup mata, ternyata tak membuatku lupa akan semua kenangan kita dulu. Berjajar rapi, dan tidak ada satupun yang tau, bahkan kamu sekalipun bahwa; aku masih mencintaimu hingga kini.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain merelakanmu pergi bersama perempuan lain. Yah, kamu sudah bebas sekarang, lukamu sudah sembuh sempurna hingga meluruhkan seluruh cintamu yang dulu.
Mungkin aku bisa belajar darimu, dari cinta tulusmu. Bagaimana harus merelakan seseorang yang dicinta untuk mencari kebahagiaannya. Sungguh, seseorang yang sedang bersama denganmu sekarang sangat beruntung, hingga mampu mengambil ketulusan cintamu.

Aku tidak pernah lupa, Monster Senjaku.
Bagaimana tahun belakangan ini kita tak saling berkabar, dan harusnya aku tau juga bahwa pasti ada perempuan lain yang ingin memulai hubungan denganmu, meluluhkan hatimu. Kamu tidak akan selamanya membuka lebar rentangan tanganmu untuk terus menyambutku. Aku mengerti bagaimana lelahnya menjadi kamu.

Dan aku yang tidak tau diri, hadir menawarkan kata teman.
Lalu memintamu jatuh cinta kembali padaku.
Tidak, maafkan pikiran bodohku itu. Aku tidak mau lagi menjadi perempuan egois yang seenaknya sendiri padamu.
Cukup untuk menawarkan diri sebagai teman, tapi tidak untuk seseorang yang mengisi hatimu lagi, meski sebenarnya kamu masih menjadi seseorang yang paling mengisi hatiku.

Setelah sekian lama, akhirnya aku melihat senyum bahagia itu tercipta dibibirmu. Dan sumbernya ada pada perempuan yang berada dalam rangkulanmu kali ini. Perempuan itu nampak sama bahagianya sepertimu.

Jujur aku iri, Monster Senjaku.
Selama ini aku lah yang menjadi alasanmu untuk tertawa bahagia. Tapi sekarang sudah berganti pada perempuan lain.

Malam ini, aku melihatmu membawa perempuan itu datang ke rumah untuk bertemu dengan ibu yang selalu kamu sebut kanjeng ratu. Aku tersenyum miris. Kita pernah merencanakan ini, iya kan? Datang ke rumahmu dan berkenalan dengan kanjeng ratu. Mengambil hati wanita pertama dalam hidupmu tersebut. Tapi ternyata, aku kalah sebelum dimulai, aku mundur sebelum berproses.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...