Dengan menjadi perempuan sok kuat, akhirnya aku runtuh juga. Menutup mata, ternyata tak membuatku lupa akan semua kenangan kita dulu. Berjajar rapi, dan tidak ada satupun yang tau, bahkan kamu sekalipun bahwa; aku masih mencintaimu hingga kini.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain merelakanmu pergi bersama perempuan lain. Yah, kamu sudah bebas sekarang, lukamu sudah sembuh sempurna hingga meluruhkan seluruh cintamu yang dulu.
Mungkin aku bisa belajar darimu, dari cinta tulusmu. Bagaimana harus merelakan seseorang yang dicinta untuk mencari kebahagiaannya. Sungguh, seseorang yang sedang bersama denganmu sekarang sangat beruntung, hingga mampu mengambil ketulusan cintamu.
Aku tidak pernah lupa, Monster Senjaku.
Bagaimana tahun belakangan ini kita tak saling berkabar, dan harusnya aku tau juga bahwa pasti ada perempuan lain yang ingin memulai hubungan denganmu, meluluhkan hatimu. Kamu tidak akan selamanya membuka lebar rentangan tanganmu untuk terus menyambutku. Aku mengerti bagaimana lelahnya menjadi kamu.
Dan aku yang tidak tau diri, hadir menawarkan kata teman.
Lalu memintamu jatuh cinta kembali padaku.
Tidak, maafkan pikiran bodohku itu. Aku tidak mau lagi menjadi perempuan egois yang seenaknya sendiri padamu.
Cukup untuk menawarkan diri sebagai teman, tapi tidak untuk seseorang yang mengisi hatimu lagi, meski sebenarnya kamu masih menjadi seseorang yang paling mengisi hatiku.
Setelah sekian lama, akhirnya aku melihat senyum bahagia itu tercipta dibibirmu. Dan sumbernya ada pada perempuan yang berada dalam rangkulanmu kali ini. Perempuan itu nampak sama bahagianya sepertimu.
Jujur aku iri, Monster Senjaku.
Selama ini aku lah yang menjadi alasanmu untuk tertawa bahagia. Tapi sekarang sudah berganti pada perempuan lain.
Malam ini, aku melihatmu membawa perempuan itu datang ke rumah untuk bertemu dengan ibu yang selalu kamu sebut kanjeng ratu. Aku tersenyum miris. Kita pernah merencanakan ini, iya kan? Datang ke rumahmu dan berkenalan dengan kanjeng ratu. Mengambil hati wanita pertama dalam hidupmu tersebut. Tapi ternyata, aku kalah sebelum dimulai, aku mundur sebelum berproses.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu