Aku harus ingat bahwa; kita sudah tidak saling komitmen, artinya tidak ada lagi yang menahanmu untuk pergi dan mencari kebahagianmu diluar sana.
menyeretmu datang kembali dalam kehidupanku, dan berdamai dengan kata teman, seharusnya menjadi pertimbanganku matang-matang. Aku harus siap, apabila melihatmu berbahagia disana bersama perempuan lain, menceritakan tentangnya padaku.
Aku masih ingat betul pertemuan kita kemarin, banyak hal yang kita bicarakan, candaan yang telah lama kurindukan, ingatan-ingatan tentang masa lalu, dan rasaku yang masih jatuh padamu, kekagumanku oleh mata sendumu, senyuman indahmu, dan tawa renyahmu. Namun aku tidak pernah sadar bahwa semua itu sudah hambar. Kamu tidak lagi merasakan seperti apa yang rasakan.
Wajar, sepanjang waktu setelah kita memutuskan untuk tak saling berkomitmen, kita tidak lagi saling memberi kabar, bahkan takut untuk memulai percakapan meski itu hanya basa-basi. Jadi tidak ada salahnya kamu memulai hubungan dengan perempuan lain.
Aku tidak akan kecewa, aku hanya sedikit terluka. Sampai sekarang aku masih memupuk harapan semoga apa yang kita mimpikan dulu benar-benar terjadi. Tapi ya sudahlah.
Kamu berhak untuk berbahagia dengan perempuan lain.
Dan sungguh beruntungnya perempuan itu bisa memilikimu, laki-laki yang selalu meneduhkan dan mencintai dengan tulus. Aku pernah ada diposisi itu, dan aku bahagia, meski itu sudah terlewatkan.
Tawamu sangat lebar ketika bersamanya, persis ketika kita bersama dulu.
Rangkulanmu padanya, seolah ingin selalu menjaga perempuan yang bersamamu saat ini.
Sekarang aku tau alasan kenapa senyummu hambar.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu