Langsung ke konten utama

Alasan senyummu yang hambar

Aku harus ingat bahwa; kita sudah tidak saling komitmen, artinya tidak ada lagi yang menahanmu untuk pergi dan mencari kebahagianmu diluar sana.
menyeretmu datang kembali dalam kehidupanku, dan berdamai dengan kata teman, seharusnya menjadi pertimbanganku matang-matang. Aku harus siap, apabila melihatmu berbahagia disana bersama perempuan lain, menceritakan tentangnya padaku.
Aku masih ingat betul pertemuan kita kemarin, banyak hal yang kita bicarakan, candaan yang telah lama kurindukan, ingatan-ingatan tentang masa lalu, dan rasaku yang masih jatuh padamu, kekagumanku oleh mata sendumu, senyuman indahmu, dan tawa renyahmu. Namun aku tidak pernah sadar bahwa semua itu sudah hambar. Kamu tidak lagi merasakan seperti apa yang rasakan.
Wajar, sepanjang waktu setelah kita memutuskan untuk tak saling berkomitmen, kita tidak lagi saling memberi kabar, bahkan takut untuk memulai percakapan meski itu hanya basa-basi. Jadi tidak ada salahnya kamu memulai hubungan dengan perempuan lain. 
Aku tidak akan kecewa, aku hanya sedikit terluka. Sampai sekarang aku masih memupuk harapan semoga apa yang kita mimpikan dulu benar-benar terjadi. Tapi ya sudahlah.
Kamu berhak untuk berbahagia dengan perempuan lain.

Dan sungguh beruntungnya perempuan itu bisa memilikimu, laki-laki yang selalu meneduhkan dan mencintai dengan tulus. Aku pernah ada diposisi itu, dan aku bahagia, meski itu sudah terlewatkan.
Tawamu sangat lebar ketika bersamanya, persis ketika kita bersama dulu.
Rangkulanmu padanya, seolah ingin selalu menjaga perempuan yang bersamamu saat ini.

Sekarang aku tau alasan kenapa senyummu hambar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...