Kembali ku lihat momen-momen yang sengaja dia abadikan menjadi sebuah rangkuman singkat, dan ku melihat betapa bahagianya kamu ketika bersamanya, yang mungkin tidak pernah kamu dapatkan ketika bersamaku.
Sama-sama menjabat tangan, tertawa dibawah terik matahari, dan minum ice cream berdua. Mengingatkanku bahwa jalanmu bukan lagi menujuku, tapi menuju perempuan lain.
Kemarin aku melewati persimpangan, menatap tiap jalan yang pernah kulalui bersamamu. Ternyata itu sudah berlalu cukup lama, dan bisa saja kamu sudah lupa.
Salahku memang menawarkan kata teman, sedang aku sendiri belum sepenuhnya bisa menjadi temanmu. Masih ada harapan-harapan kecil yang kubuat.
Lalu aku memutuskan untuk tak lagi menghubungimu, setidaknya momen-momen yang dirangkum olehnya menjadi pengingatku. Lagian kamu pasti sudah terbiasa tanpaku, yang bukan menjadi hal penting lagi, yang hanya menjadi teman berbasa-basi.
Aku berjanji pada diriku untuk benar-benar berhenti, bila hari ini kamu tak memulai untuk menghubungiku. Banyak perbincangan yang kubuat untuk bisa terus berkabar denganmu, tapi aku baru sadar kamu tidak pernah memulainya. Kamu hanya menimpali ketika kubuat topik pembicaraan.
Dan jika kamu benar-benar masih punya perasaan padaku, masih ada sedikit ketulusan cinta itu, kamu akan memulai untuk menghubungiku. Tapi jika tidak, aku harus berusaha berhenti, meski itu susah.
Namun, kamu tiba-tiba datang dengan hal yang tak terduga. Hari ini. Apa ini artinya kamu masih punya perasaan itu? Masih ada ketulusan cinta itu, meski sedikit?
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu