Langsung ke konten utama

Apa masih ada ketulusan itu meski sedikit?

Kembali ku lihat momen-momen yang sengaja dia abadikan menjadi sebuah rangkuman singkat, dan ku melihat betapa bahagianya kamu ketika bersamanya, yang mungkin tidak pernah kamu dapatkan ketika bersamaku.
Sama-sama menjabat tangan, tertawa dibawah terik matahari, dan minum ice cream berdua. Mengingatkanku bahwa jalanmu bukan lagi menujuku, tapi menuju perempuan lain.
Kemarin aku melewati persimpangan, menatap tiap jalan yang pernah kulalui bersamamu. Ternyata itu sudah berlalu cukup lama, dan bisa saja kamu sudah lupa.
Salahku memang menawarkan kata teman, sedang aku sendiri belum sepenuhnya bisa menjadi temanmu. Masih ada harapan-harapan kecil yang kubuat.
Lalu aku memutuskan untuk tak lagi menghubungimu, setidaknya momen-momen yang dirangkum olehnya menjadi pengingatku. Lagian kamu pasti sudah terbiasa tanpaku, yang bukan menjadi hal penting lagi, yang hanya menjadi teman berbasa-basi.
Aku berjanji pada diriku untuk benar-benar berhenti, bila hari ini kamu tak memulai untuk menghubungiku. Banyak perbincangan yang kubuat untuk bisa terus berkabar denganmu, tapi aku baru sadar kamu tidak pernah memulainya. Kamu hanya menimpali ketika kubuat topik pembicaraan.
Dan jika kamu benar-benar masih punya perasaan padaku, masih ada sedikit ketulusan cinta itu, kamu akan memulai untuk menghubungiku. Tapi jika tidak, aku harus berusaha berhenti, meski itu susah.
Namun, kamu tiba-tiba datang dengan hal yang tak terduga. Hari ini. Apa ini artinya kamu masih punya perasaan itu? Masih ada ketulusan cinta itu, meski sedikit?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...