Langsung ke konten utama

Harap itu tetap kurapal

Sejatinya hati perempuan, tak luput dari keragu-raguan.
Sebagai yang masih menempati persembunyian, diam adalah hal paling menyakitkan.
Lalu apa yang dapat dilakukan? Ketika perempuan ini ingin tau kabar dan keadaan, namun takut kamu mendapat kecaman.
Lalu tidak lama, waktu menggiringmu untuk datang pada perempuan; yang telah menunggumu hingga lupa arah pulang.

Persilahkan aku untuk berbicara,
Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan tentang hati yang rapuh berantakan.
Akhirnya, setelah kamu persilahkan,
Satu demi satu racauan dapat kukatakan.
Dan semua jawaban logismu dapat kuterima dan tidak dapat disalahkan.

Okee. Harusnya selesai.
Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi?
Tapi kenapa perempuan ini masih belum puas.
Hatinya masih sakit, seperti diombang-ambing oleh tuas.

Dari kebimbangan itu, kamu malah marah.
Wajar.
Ketika masalahnya dibilang selesai, tapi perempuan ini masih berkutat untuk berkilah, dan memojokkanmu hingga lelah.

Akhirnya aku sadar.
Aku sedang iri pada dia, perempuan yang kamu tunjukkan pada dunia.
Melihatnya bahagia, membuatku ingin ada diposisinya.
Berada diantara teman-temanmu,
Menjadi bagian dari keluarga besarmu,
Menyusuri jalan berdua dengan bergandengan tangan,
Dan tak sedikitpun ada rasa takut ketahuan,
Seperti yang aku rasakan.

Mencintaimu ternyata begitu menyakitkan dan melelahkan,
Hingga sampai sekarang aku tidak dapat mengendalikan hatiku, untuk terbiasa sebagai yang disembunyikan.
Apakah selamanya aku tidak bisa menjadi perempuan yang kamu prioritaskan?
Yang selalu melihatmu datang, tapi tak pernah menjadikanku tujuan.
Yang menjadi persinggahan, ketika kamu meluapkan keresahan.
Apakah selamanya aku tidak bisa masuk kedalam rumahmu?

Menyakitkan untuk terus kujalani,
Tapi genggamanmu yang selalu melumpuhkan langkahku untuk beranjak pergi,
Pelukanmu menahanku untuk mengucap selamat tinggal.
Mengapa kamu melakukannya?

Sembari mengusap buih mata yang tanpa sadar membasahi pipi, aku tersenyum meski perih.

Maaf.
Sebagai perempuan yang disembunyikan, aku hanya orang asing dimata banyak orang.
Sama halnya dengan hubungan ini, aku tidak berhak meminta apapun, karena memang tidak ada porsi untukku dalam kehidupanmu.
Bodoh jika aku iri pada posisinya sekarang sebagai kekasihmu.
Terlalu tinggi aku berharap, tanpa menyadari bahwa aku tak punya sayap, untuk mendekap.

Walaupun begitu, harap itu tetap kurapal. Meski kutau, itu mustahil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...