Sejatinya hati perempuan, tak luput dari keragu-raguan.
Sebagai yang masih menempati persembunyian, diam adalah hal paling menyakitkan.
Lalu apa yang dapat dilakukan? Ketika perempuan ini ingin tau kabar dan keadaan, namun takut kamu mendapat kecaman.
Lalu tidak lama, waktu menggiringmu untuk datang pada perempuan; yang telah menunggumu hingga lupa arah pulang.
Persilahkan aku untuk berbicara,
Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan tentang hati yang rapuh berantakan.
Akhirnya, setelah kamu persilahkan,
Satu demi satu racauan dapat kukatakan.
Dan semua jawaban logismu dapat kuterima dan tidak dapat disalahkan.
Okee. Harusnya selesai.
Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi?
Tapi kenapa perempuan ini masih belum puas.
Hatinya masih sakit, seperti diombang-ambing oleh tuas.
Dari kebimbangan itu, kamu malah marah.
Wajar.
Ketika masalahnya dibilang selesai, tapi perempuan ini masih berkutat untuk berkilah, dan memojokkanmu hingga lelah.
Akhirnya aku sadar.
Aku sedang iri pada dia, perempuan yang kamu tunjukkan pada dunia.
Melihatnya bahagia, membuatku ingin ada diposisinya.
Berada diantara teman-temanmu,
Menjadi bagian dari keluarga besarmu,
Menyusuri jalan berdua dengan bergandengan tangan,
Dan tak sedikitpun ada rasa takut ketahuan,
Seperti yang aku rasakan.
Mencintaimu ternyata begitu menyakitkan dan melelahkan,
Hingga sampai sekarang aku tidak dapat mengendalikan hatiku, untuk terbiasa sebagai yang disembunyikan.
Apakah selamanya aku tidak bisa menjadi perempuan yang kamu prioritaskan?
Yang selalu melihatmu datang, tapi tak pernah menjadikanku tujuan.
Yang menjadi persinggahan, ketika kamu meluapkan keresahan.
Apakah selamanya aku tidak bisa masuk kedalam rumahmu?
Menyakitkan untuk terus kujalani,
Tapi genggamanmu yang selalu melumpuhkan langkahku untuk beranjak pergi,
Pelukanmu menahanku untuk mengucap selamat tinggal.
Mengapa kamu melakukannya?
Sembari mengusap buih mata yang tanpa sadar membasahi pipi, aku tersenyum meski perih.
Maaf.
Sebagai perempuan yang disembunyikan, aku hanya orang asing dimata banyak orang.
Sama halnya dengan hubungan ini, aku tidak berhak meminta apapun, karena memang tidak ada porsi untukku dalam kehidupanmu.
Bodoh jika aku iri pada posisinya sekarang sebagai kekasihmu.
Terlalu tinggi aku berharap, tanpa menyadari bahwa aku tak punya sayap, untuk mendekap.
Walaupun begitu, harap itu tetap kurapal. Meski kutau, itu mustahil.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu