Aku kembali mendapatkan sikapmu ini lagi, setelah beberapa tahun belakangan kita berpisah. Kamu bersikap seperti ini ketika dulu aku memutuskan untuk tak lagi berkomitmen dan membebaskanmu. Merelakanmu untuk sebuah restu.
Jika kamu tau, aku merasa adalah laki-laki yang payah kala itu. Melepaskanmu dengan alasan materi. Sedangkan kutau, kamu tak pernah mempermasalahkan hal itu, asal kita bersama.
Semua itu sudah berlalu, bersama kabarmu yang tak lagi kudengar, dan hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan. Hingga sebuah tangan menghentak pundakku, dan dia hadir merubah keadaan. Dia yang berusaha mengulurkan tangan untuk ku kembali bangkit, meski dia tau hatiku tidak semudah itu bisa berpaling. Ujarannya seolah menguatkanku, dan memberi tau bahwa ada seseorang yang bisa membuatku bahagia selain kamu. Sedangkan selama ini kamu yang hadir untuk buatku bahagia, sekalipun kamu pernah menyakitiku.
Dia menarikku keluar dari zona ini, dimana aku yang masih memperhatikanmu dari kejauhan. Dia menunjukkan keindahan lain yang bisa kunikmati dari senyumnya. Tangannya melingkar dilenganku, dan bersandar dipundak untuk memberi tau bahwa ada kenyamanan yang bisa aku rasakan ketika bersamanya.
Seolah membuatku sadar, bahwa semua yang aku suka darimu, bisa kunikmati padanya. Hingga waktu semakin menuntunku untuk semakin menyukainya. Cara bicaranya memang berbeda darimu, ku masih ingat betapa absurdnya kamu jika sudah banyak bicara. Sedangkan dia, lebih nyambung jika diajak bicara.
Maaf aku jadi membandingkan mu dengannya.
Namun tanpa bisa ku tolak, kamu datang begitu saja menawarkan kata teman. Menjadi seperti awal saling mengenal, kamu yang seperti tidak ada apa-apa membuatku semakin yakin bahwa kamu sudah melupakan semuanya tentang kita, benar yang dia katakan padaku.
Kamu sudah bahagia disana bersama seseorang yang dipilihkan. Tapi kenapa seolah aku masih belum terima.
Masih berharap semuanya berubah seperti yang kita mau.
Sedangkan jemariku terasa digenggam, dan aku melihat dia didepanku menatap dengan mata yang berbinar. Meyakinkanku sekali lagi, bahwa dengannya aku juga bisa bahagia, tanpa harus merelakan satu sama lain lagi. Dia menjanjikan dirinya akan berjuang bersamaku nanti.
Kenapa aku membuat perempuan meminta seperti ini? Ya, aku berhak bahagia seperti yang dikatakan olehnya. Dan mungkin bisa kudapatkan dengan memulai hubungan itu bersamanya.
Dia membawaku ke bibir pantai, menunjukkan keindahan senja yang bisa kunikmati dengan mata telanjang. Dan aku mengingatmu tiba-tiba. Kamu suka sekali memanggilku dengan sebutan Monster Senja. Matamu selalu berbinar setiap menceritakan bagaimana bisa aku disebut seperti itu. Genggaman erat dijemariku membuatku sadar atas ingatan yang sudah terjadi setahun lalu. Semuanya sudah berlalu cukup lama.
Genggaman itu semakin erat, dan aku beralih melihatnya, lalu kembali melihat genggamannya lagi. Aku ingat betul ketika kita jalan, tidak sedikitpun aku berani menyentuhmu seperti ini, meski hanya dengan sebuah genggaman. Kamu perempuan yang selalu kujaga dan kuhargai.
Dan jika aku membuatnya menjadi perempuan sepertimu, aku juga harus menjaga dan menghargaimu. Genggamannya ku lepas, dan dia terhenyak kemudian menunjukkan wajah kecewa. Tapi selang beberapa waktu, dia bertanya bagaimana kamu dalam hidupku, hingga membuatku sejatuh cinta itu, dan dia ingin belajar agar bisa diterima dengan ikhlas olehku.
Aku melihat ketulusan dalam hati perempuan itu, dan bagaimana bisa aku menyakitinya.
Hingga kamu akhirnya tau hubungan kita, berujar seolah ikut bahagia. Namun sikapmu berubah menjadi sangat dingin, sama dengan ketika aku memilih berhenti berkomitmen. Sebagai teman, katamu, banyak percakapan belakangan ini antara kita. Basa-basi yang absurd darimu. Tapi kenapa aku masih menyukainya. Tapi tidak untuk saat ini, kenyataan yang kamu ucapkan dengan sangat jujur membuka mataku, bahwa kamu tidak sebahagia yang aku kira. Bahkan bebanmu jauh lebih berat dariku. Bukan hanya tentang hatimu, tapi juga orang sekitarmu. Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana menjadi kamu.
Tapi sikapmu semakin dingin, hingga percakapanpun kamu akhiri. Aku tidak tau mengapa kamu berubah. Lebih baik menjadi temanmu, daripada harus kehilanganmu lagi.
Aku masih menjadi Monster Senjamu. Percayalah.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu