Langsung ke konten utama

Perempuan yang selalu kujaga dan kuhargai

Aku kembali mendapatkan sikapmu ini lagi, setelah beberapa tahun belakangan kita berpisah. Kamu bersikap seperti ini ketika dulu aku memutuskan untuk tak lagi berkomitmen dan membebaskanmu. Merelakanmu untuk sebuah restu.
Jika kamu tau, aku merasa adalah laki-laki yang payah kala itu. Melepaskanmu dengan alasan materi. Sedangkan kutau, kamu tak pernah mempermasalahkan hal itu, asal kita bersama.
Semua itu sudah berlalu, bersama kabarmu yang tak lagi kudengar, dan hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan. Hingga sebuah tangan menghentak pundakku, dan dia hadir merubah keadaan. Dia yang berusaha mengulurkan tangan untuk ku kembali bangkit, meski dia tau hatiku tidak semudah itu bisa berpaling. Ujarannya seolah menguatkanku, dan memberi tau bahwa ada seseorang yang bisa membuatku bahagia selain kamu. Sedangkan selama ini kamu yang hadir untuk buatku bahagia, sekalipun kamu pernah menyakitiku.

Dia menarikku keluar dari zona ini, dimana aku yang masih memperhatikanmu dari kejauhan. Dia menunjukkan keindahan lain yang bisa kunikmati dari senyumnya. Tangannya melingkar dilenganku, dan bersandar dipundak untuk memberi tau bahwa ada kenyamanan yang bisa aku rasakan ketika bersamanya.

Seolah membuatku sadar, bahwa semua yang aku suka darimu, bisa kunikmati padanya. Hingga waktu semakin menuntunku untuk semakin menyukainya. Cara bicaranya memang berbeda darimu, ku masih ingat betapa absurdnya kamu jika sudah banyak bicara. Sedangkan dia, lebih nyambung jika diajak bicara.

Maaf aku jadi membandingkan mu dengannya.

Namun tanpa bisa ku tolak, kamu datang begitu saja menawarkan kata teman. Menjadi seperti awal saling mengenal, kamu yang seperti tidak ada apa-apa membuatku semakin yakin bahwa kamu sudah melupakan semuanya tentang kita, benar yang dia katakan padaku.
Kamu sudah bahagia disana bersama seseorang yang dipilihkan. Tapi kenapa seolah aku masih belum terima.
Masih berharap semuanya berubah seperti yang kita mau.

Sedangkan jemariku terasa digenggam, dan aku melihat dia didepanku menatap dengan mata yang berbinar. Meyakinkanku sekali lagi, bahwa dengannya aku juga bisa bahagia, tanpa harus merelakan satu sama lain lagi. Dia menjanjikan dirinya akan berjuang bersamaku nanti.
Kenapa aku membuat perempuan meminta seperti ini? Ya, aku berhak bahagia seperti yang dikatakan olehnya. Dan mungkin bisa kudapatkan dengan memulai hubungan itu bersamanya.

Dia membawaku ke bibir pantai, menunjukkan keindahan senja yang bisa kunikmati dengan mata telanjang. Dan aku mengingatmu tiba-tiba. Kamu suka sekali memanggilku dengan sebutan Monster Senja. Matamu selalu berbinar setiap menceritakan bagaimana bisa aku disebut seperti itu. Genggaman erat dijemariku membuatku sadar atas ingatan yang sudah terjadi setahun lalu. Semuanya sudah berlalu cukup lama.
Genggaman itu semakin erat, dan aku beralih melihatnya, lalu kembali melihat genggamannya lagi. Aku ingat betul ketika kita jalan, tidak sedikitpun aku berani menyentuhmu seperti ini, meski hanya dengan sebuah genggaman. Kamu perempuan yang selalu kujaga dan kuhargai.

Dan jika aku membuatnya menjadi perempuan sepertimu, aku juga harus menjaga dan menghargaimu. Genggamannya ku lepas, dan dia terhenyak kemudian menunjukkan wajah kecewa. Tapi selang beberapa waktu, dia bertanya bagaimana kamu dalam hidupku, hingga membuatku sejatuh cinta itu, dan dia ingin belajar agar bisa diterima dengan ikhlas olehku.

Aku melihat ketulusan dalam hati perempuan itu, dan bagaimana bisa aku menyakitinya.

Hingga kamu akhirnya tau hubungan kita, berujar seolah ikut bahagia. Namun sikapmu berubah menjadi sangat dingin, sama dengan ketika aku memilih berhenti berkomitmen. Sebagai teman, katamu, banyak percakapan belakangan ini antara kita. Basa-basi yang absurd darimu. Tapi kenapa aku masih menyukainya. Tapi tidak untuk saat ini, kenyataan yang kamu ucapkan dengan sangat jujur membuka mataku, bahwa kamu tidak sebahagia yang aku kira. Bahkan bebanmu jauh lebih berat dariku. Bukan hanya tentang hatimu, tapi juga orang sekitarmu. Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana menjadi kamu.

Tapi sikapmu semakin dingin, hingga percakapanpun kamu akhiri. Aku tidak tau mengapa kamu berubah. Lebih baik menjadi temanmu, daripada harus kehilanganmu lagi.

Aku masih menjadi Monster Senjamu. Percayalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...