Malam itu aku ingin menangis,
Menghindar dari pemilik dada bidang yang selalu menenggelamkanku dalam kenyamanan.
Aku tidak ingin kamu tau bahwa; semenyedihkan ini melihatmu bertengkar dengannya, yang itu karenaku.
Aku selalu memintamu untuk datang, selalu menahanmu untuk menetap, tanpa aku tau; setelah itu selalu terjadi pertengkaran hebat antara kamu dan dia.
Selama ini kamu selalu menjauh ketika mengangkat telpon darinya, dan kembali dengan wajah yang masam. Tapi sekarang aku tau apa alasannya.
Dalam perjalanan, dibalik riuhnya kendaraan, aku menangis.
Tiba-tiba dadaku rasanya sesak melihatmu menahan emosi karenanya, meminta maaf berulang kali, padahal ini sepenuhnya bukan kesalahanmu, aku juga lah yang membuatmu enggan pulang, aku lah yang membuatmu dituduh olehnya. Tapi kamu yang dihakimi sendirian.
Aku yang berharap diprioritaskan seperti dia, menjadi sadar bahwa; pantaskah aku meminta hal itu? Ketika aku lah yang ada diantara kamu dan dia. Aku lah yang datang terlambat.
Mengapa selama ini aku menjadi begitu egois dan tidak tau diri. Sedangkan bagaimana pun juga kamu tidak akan pernah bisa meninggalkannya untuk bersamaku. Bahkan dengan sikapnya seperti sekarang, kamu masih mau menerimanya.
Kamu mencintainya, hanya saja kamu tidak suka dengan sikapnya yang over protektif, dan keras kepala. Sedangkan untukku? entahlah, aku menjadi ragu, apakah kamu juga mencintaiku sama halnya kamu mencintainya. Atau aku hanya menjadi persinggahanmu untuk beristirahat, dan pergi ketika sudah melepas penat.
Aku tidak tau kenapa kamu membuka pintu dan mempersilahkanku masuk, jika kamu tak mengajakku untuk terus menetap.
Aku tidak tau kenapa kamu mau merentangkan tangan dan memelukku, jika akhirnya kamu lepaskan.
Jika kamu mencintainya, kenapa membuatku jatuh cinta?
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu