Langsung ke konten utama

Jika kamu mencintainya, kenapa membuatku jatuh cinta?

Malam itu aku ingin menangis,
Menghindar dari pemilik dada bidang yang selalu menenggelamkanku dalam kenyamanan.
Aku tidak ingin kamu tau bahwa; semenyedihkan ini melihatmu bertengkar dengannya, yang itu karenaku.
Aku selalu memintamu untuk datang, selalu menahanmu untuk menetap, tanpa aku tau; setelah itu selalu terjadi pertengkaran hebat antara kamu dan dia.
Selama ini kamu selalu menjauh ketika mengangkat telpon darinya, dan kembali dengan wajah yang masam. Tapi sekarang aku tau apa alasannya.
Dalam perjalanan, dibalik riuhnya kendaraan, aku menangis.
Tiba-tiba dadaku rasanya sesak melihatmu menahan emosi karenanya, meminta maaf berulang kali, padahal ini sepenuhnya bukan kesalahanmu, aku juga lah yang membuatmu enggan pulang, aku lah yang membuatmu dituduh olehnya. Tapi kamu yang dihakimi sendirian.

Aku yang berharap diprioritaskan seperti dia, menjadi sadar bahwa; pantaskah aku meminta hal itu? Ketika aku lah yang ada diantara kamu dan dia. Aku lah yang datang terlambat.
Mengapa selama ini aku menjadi begitu egois dan tidak tau diri. Sedangkan bagaimana pun juga kamu tidak akan pernah bisa meninggalkannya untuk bersamaku. Bahkan dengan sikapnya seperti sekarang, kamu masih mau menerimanya.
Kamu mencintainya, hanya saja kamu tidak suka dengan sikapnya yang over protektif, dan keras kepala. Sedangkan untukku? entahlah, aku menjadi ragu, apakah kamu juga mencintaiku sama halnya kamu mencintainya. Atau aku hanya menjadi persinggahanmu untuk beristirahat, dan pergi ketika sudah melepas penat.
Aku tidak tau kenapa kamu membuka pintu dan mempersilahkanku masuk, jika kamu tak mengajakku untuk terus menetap. 
Aku tidak tau kenapa kamu mau merentangkan tangan dan memelukku, jika akhirnya kamu lepaskan.
Jika kamu mencintainya, kenapa membuatku jatuh cinta?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...