Langsung ke konten utama

ENAM

Enam, angka enam. Iya, sebelumnya aku tak pernah menulis yang pertama, kedua, sampai yang kelima. Namun kali ini aku begitu ingin menulis tentang angka enam, tentang harapan-harapan didalamnya.
Delapanbelas yang ke-enam.
"Dia" yang selama ini aku sebut dan selalu menjadi hal yang sangat aku favoritkan dalam tulisan adalah harapanku. "Dia" yang selalu menjadi alasanku masih berdiri menemani setiap langkahnya. Dia itu kau.
Harapanku tetap sama dari awal, meski dengan angka yang masih kecil tumbuh ini aku ingin semampumu bertahan denganku. Aku tidak menjanjikan apapun, karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk aku janjikan, namun aku mohon tetaplah singgah. Izinkan aku untuk tetap berusaha membuat lingkar senyum dibibir kecilmu. Karena hanya itu yang aku bisa. Dan aku mohon katakan pada jantungmu agar tetap berdegup cepat ketika melihat senyum kecilku.

Sudah kubilang aku bukan wanita yang menarik yang tak jarang selalu kau nasehati karena tingkah lakuku yang menyebalkan dan memalukan. aku juga tak pintar, yang bahkan harus membuatmu berbicara berulang-ulang agar aku mengerti. Aku juga bukan wanita yang peka, yang sering membuatmu kesal, yang seharusnya tanpa kau kasih tau aku sudah mengetahui apa yang kau mau. Mungkin nanti akan banyak wanita yang mengalihkan perhatianmu, yang sangat menarik untuk kau perhatikan. Namun aku mohon itu hanya rasa ketertarikan semata, dihatimu masih tetap ada aku, aku, aku dan aku. aku hanya ingin tetap bersamamu, dan kau tetap bersabar menjalani hari-hari bersama wanita yang begitu mengharapkanmu ini.

Selamat harijadi yang ke-enam. Tetaplah menjadikanku satu-satunya, yang selalu menjadi alasan senyum kecil dibibirmu. Jadilah angan yang selalu aku genggam, dan jangan pernah minta untuk aku lepaskan.

Aku rindu tangan halusmu yang setiap kali berjalan selalu menggandeng tangan kecil ini, yang selalu menyuruhku berjalan disampingmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...