Langsung ke konten utama

He was in my dreams, Van.

Mimpi yang sungguh aneh. Wajah yang begitu jelas aku lihat, namun tak kukenali. Dia berusaha menghampiriku, mengajak berkeliling kedunia mimpi yang sungguh indah. Aku terhanyut dengan kebaikan dan ketampanannya.

Siapa dia?
Ohhani segera terbangun. Iya, itu hanya mimpi. Mimpi yang sangat nyata, pria yang tampan dan baik sedang mengajaknya berjalan. Dia tak mengenali siapa pria itu, bertemu pun tak pernah. Bagaimana dia bisa bermimpi tentang pria itu.
Setelah lama melamun memikirkan mimpi anehnya itu, ohhani segera beranjak keluar karena suara ibunya sudah memanggil.
Setelah selesai siap-siap berangkat sekolah, ohhani dengan diantar ayahnya berangkat masih memikirkan mimpi itu. Mimpi aneh yang serasa begitu nyata. Hingga ketika sampai disekolah ayahnya dengan nada keras mengagetkan ohhani karena sedari tadi ayahnya berbicara tidak dihiraukan.

Ohhani dengan membawa setumpukan buku berlari menghampiri sahabat-sahabatnya yang sudah menunggunya, emm maksudnya menunggu bukunya sih. Buku tugas yang harus dikumpulkan oleh mereka, tetapi tiba-tiba ada seseorang dari arah samping sedang berjalan karena dengan kecepatan super ohhani berlari maka dia tidak bisa menghindari menabrak sesorang itu dan semua buku berserakan terjatuh keatas lantai. Tanpa melihat dan meminta maaf kepada orang yang ditabraknya, ohhani segera memunguti dan kembali berlari menuju para sahabatnya.

"Kamu lama banget sih?"
Tanya ami kesal

"Telat nih, kesiangan tauk"
Jawab ohhani dengan suara yang masih tersengal-sengal karena habis lari.

"Niih buku kalian, ami. Rumi. Ridah."
Ucap ohhani sembari memberikan buku sahabatnya masing-masing.

"Lah bukumu mana?"
Tanya ridah.
Ohhani yang sedari tadi tidak sadar kalau bukunya tidak ada begitu terkejut

"Eeh iya, mana bukuku"
Ucap ohhani dengan kelabakannya mencari buku ditasnya dan disegala tempat.

"Mungkin ketinggalan kali"
Tebak rumi tenang

"Kagak mungkin, orang tadi aku pegang 4 buku."
Jawab ohhani ketakutan.
"Masak iya gara-gara tabrakan sama cowok tadi"
Fikir ohhani dalam hati.

"Duuh pelajarannya bu ani lagi, jadi apa kamu nanti duuh"
Teman-trmannya mulai ikut khawatir, karena tugas itu dari guru paling killer disekolah mereka. Sedangkan ohhani masih mencari bukunya, dengan wajah merah ketakutan ohhani menyusuri jalan yang tadi dia lewati.
Tiba-tiba dia melihat buku yang mitip dengan bukunya sedang dipegang oleh seorang pria yang sedang duduk dikursi depan kelas.

Ohhani segera menghampiri pria yang sedang tertunduk melihat buku tersebut. Di saat pria itu membuka buku ada nilai 30, ohhani sangat yakin bahwa itu benar bukunya.

"Maaf bisa lihat buku itu"
Ucap ohhani ragu. Pria itu segera mendongakkan kepalanya dan melihat kearah ohhani berdiri.

Astaga pria itu. Dia yang ada dalam mimpinya tadi malam. Iya wajahnya begitu jelas nyata dan persis. Pria yang berkulit tak begitu putih, tinggi, dan memiliki lesung pipi itu tersenyum kepada ohhani.

"Ini bukumu yaa"
Ucapnya dengan suara yang begitu mirip dimimpinya. Ohhani hanya melongo memperhatikan pria itu.

"Oh iya, kamu pasti heran liat aku?"
Tanya pria itu sembari berdiri mengimbangi ohhani.

"Kenalin aku vano. Aku baru pindah kesekolah ini. Pasti kamu heran gak pernah liat aku"
Jelas pria itu yang mengaku sebagai vano.
Ohhani terdiam bukan karena tidak pernah melihatnya disekolah. Tetapi orang yang dimimpinya begitu persis dengan orang yang sedang berada didepannya saat ini.

"Kenapa sih heei?"
Vano sekali lagi berbicara, karena ohhani masih terdiam memandanginya. Seperti rasa tak menyangka.

"Eeeh. Tidak apa-apa. Iya itu bukuku. Terimakasih ya"
Ucap ohhani dengan gugup dan segera mengambil bukunya lalu beranjak pergi. Namun ohhani berhenti setelah dua kali melangkah.

"Maaf ya tadi sudah nabrak kamu"
Ucap ohhani dengan salah tingkahnya kemudian melanjutkan berjalan, sedangkan vano hanya tersenyum geli melihat tingkah laku ohhani.

Disetiap langkahnya ohhani masih memikirkan semua hal yang tidak masuk akal itu. Bagaimana dia bisa mimpi orang yang belum pernah ia kenal namun tiba-tiba didunia nyata dia bertemu dengan orang tersebut.
Dan mengapa saat pertemuan itu, vano sudah melihat nilai paling jeleknnya ohhani. Aaaah

Setelah itu ohhani begitu mengagumi dan menyukai vano. Tetapi dia hanya bisa memendam, dan tidak berani menungkapkan. Disetiap mimpinya juga sering terlihat vano muncul namun hanya sekelebat saja.

"Akan tetap kubiarkan kau menghampiriku hanya dalam mimpi"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...