Langsung ke konten utama

Percuma saja

Kau begitu mahir menghempaskanku dalam luka.

Rani masih menangis dipelukan sahabatnya gina, dia masih terus meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada apa-apa dengan hubungannya bersama vino. Iya, vino orang sekarang sedang dia perjuangkan mati-matian namun tidak ada balasan malah sebaliknya, acuh dan tak ingin tau.
Rani masih berusaha menghubungi vino, berkali-kali, beratus kali bahkan tak terhitung. Namun tidak ada balasan sama sekali, Tidaak.
Dan hal yang masih menjadi pertanyaan dihati dan otaknya adalah kenapa dia berubah.
Rani tidak pernah melakukan hal yang menyakitinya, bahkan dia rela menjauh dari teman laki-lakinya yang membuat vino cemburu. Lalu dimana letak kesalahannya? Dimana hal yang membuatnya begitu benci pada rani? Rani yang masih menjadi kekasihnya, rani yang masih ada setiap hari untuk menghubunginya meski tidak pernah dihiraukan.

"Sudahlah ran, kamu masih mau bertahan kalok sudah kayak gini? Dia tidak peduli sama sekali denganmu. Bahkan dengan kondisimu yang sakit sperti ini"
Ucap gina pada rani yang sekarang memang sedang kesakitan karena asam lambungnya kambuh, ttapi dia masih saja sibuk mantengin hpnya mencoba menelfon vino terus menerus.

"Raniii udaah" sentak gina kesal melihat sahabatnya yang masih memaksakan keadaannya.

"Apasih naa" sentak balik rani dengan nada tersedu-sedu. Iya dia tidak berhenti menangis, untung saja orangtuanya sedang keluar kota sehingga tidak ada yang tau kondisinya sekarang seperti apa.

"Kamu harus minum obat dulu. Nanti kalok tambah drop, apa dia peduli sama kamu haa?" ucap gina menyadarkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba rani diam.

"Ayok anterin aku naa" ucap rani berdiri dan menarik tangan gina keluar kamarnya setelah terdiam lama.

"Eeh mau kemana? Udah aku bilang minum obat dulu" elak gina sembari menahan dirinya agar tetap berdiri dan tidak mengikuti rani berjalan. Ranipun ikut berhenti.

"Kita kerumah vino sekarang"
Ucap rani yang kemudian dengan sekuat tenaganya menarik tangan gina keluar.
Gina tidak bisa menolak, dia tau betul sifat sahabatnya itu. Gina terpaksa menuruti kemauan rani.
Saat dibonceng, setengah perjalanan mendung dan gemuruh petir sudah menghiasi langit malam ini.

"Kita balik aja ya, mau ujan nih. Jangan kayak disinetron nunggu didepan rumah sambil ujan-ujanan"
Ucap gina.

"Siapa sih yang niru sinetron" sentak rani sembari masih memegangi perutnya. Dia tidak pernah sekuat ini, asam lambung yang dideritanya selalu mengalahkan semangat rani. Tapi tidak untuk sekarang. Entah cowok seperti apa yang sekarang sedang dia perjuangkan, masih layakkah dia diperjuangkan?

Setelah sampai didepan rumah vino tiba-tiba hujan turun begitu deras, sederas air mata yang mengalir dipipinya kini bukan meniru sinetron, namun memang begitu sakit harus menjadi rani. Mencintai namun tidak tau apa yang harus dilakukan ketika orang yang dicintainya tidak lagi peduli. Apakah harus tetap bertahan? Dan pergi meninggalkannya bersama hujan? Rani masih tetap berdiri didepan rumah vino dengan sesekali memanggil namanya.

"Vinoo.. Plis keluar. Aku mau ngomong"
Kata yang selalu diucapkan rani erus menerus. Gina yang berada disampingnya, hanya bisa mengelus-elus pundaknya dan memaksanya untuk pulang tapi sia-sia.

Tiba-tiba pintu terbuka, sosok yang selama ini dia harapkan muncul didepannya akhirnya keluar menghampirinya, tidak bisa dipungkiri senyum rani segera terbentuk dari bibirnya. Entah sekarang dia masih menangis atau tidak, tertutup oleh hujan yang bwgitu deras.
Vino dari dalam rumah membawa payung dan obat. Vino segera menghampirinya. Dan memayungkan diatas kepala rani dan gina, gina mundur untuk memberi mereka kesempatan untuk berbicara.

"Viiinn.." ucap rani dengan wajah berbinar-binar penuh arti. Dia menginginkan penjelasan apa yang terjadi dengan vino selama ini.

"Ini obat" ucap vino memberikan obat dan payung ditangan rani.
"Kamu pulang sekarang" ucapnya dengan berbalik badan menuju dalam rumahnya lagi.

"Vinoo. Kamu belum jelasin apa-apa" ucap rani kembali menangis, tak menyangka vino hanya menghampirinya untuk memberi obat dan payung saja. Dia sama sekali tidak menanyakan keadaan rani, ataupin menjelaskan apa yang sedang terjadi.

"Vinooo" teriak gina yang semakin kesal melihat perlakuan vino terhadap sahabatnya. Namun dia tidak bisa apa-apa, masalahnyapun tidak jelas.

Akhirnya rani memutuskan untuk mengajak gina pulang. Sia-sia perjuangannya saat ini. Tidak ada yang bisa merubah sikapnya kali ini. Tidak, tidak ada.
Sekarang rani hanya mengikuti apa maunya vino, dia sudah lelah. Tetapi rani tetap akan mempertahankan cintanya. Mempertahankan orang yang berarti dihidupnya saat ini, walaupun sekarang sedang disia-siakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...