Langsung ke konten utama

The first time you say hello, Rajab

Masih terduduk ditempat yang sama, tempat dimana selalu bisa memperhatikannya berjalan dengan gagahnya walaupun hanya sekelebat.

Itu yang selalu dilakukan ridah bersama sahabat-sahabatnya disekolah setelah bel istirahat dibunyikan. Mencari kesenangan bersama mereka, tapi juga ingin melihat sosok yang ia kagumi sedang berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat dhuha.
Entah, cowok macam apa yang sekarang dia bangga-banggakan namanya didepan sahabatnya. Cowok yang cuek, jutek dan tak peduli ketika bertemu dengannya. Tetapi dia begitu megagumi sosoknya, seorang yang religius namun begitu keren ketika bersama teman-temannya.

Kali ini sosok yang dia tunggu-tunggu tak kunjung lewat sampai bel berakhirnya istirahat berbunyi, tidak seperti biasanya. Rasa khawatirpun mulai muncul dibenak ridah, sahabat-sahabatnya juga begitu heran kenapa orang yang sedang ditunggu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Sampai keesokannya, sosok itu belum juga muncul. Ridah begitu khawatir, dia ingin mencari tahu, tapi kepada siapa? Teman-temannya? Itu tidak mungkin, pasti mereka begitu bingung ketika ridah menanyakan keadaan temannya sekarang.

"Besok 1 rajab, jadi inget dia"
dengan wajah murung ridah mulai berbicara tentangnya kepada sahabat-sahabatnya. Rajab? Iya besok adalah bulan rajab. Ada yang aneh? Tidak.
Rajab adalah nama sosok yang selama ini ridah kagumi, yang selama ini selalu dia tunggu-tunggu sosoknya ketika berangkat kemasjid sekolah untuk melaksanakan sholat dhuha, yang selama ini dia harapkan menyapanya, tersenyum kepadanya. Zaldi rajab. Itu namanya.

"Kemana ya dia? Kok 2 hari ini gak keliatan"
Ucap ami. Sahabatnya

"Apa dia sakit"
Tebak hanifah.

"Atau pindah?"
Tebak rumi.

"Atau gak mau liat wajahmu?"
Tebak ami.

"Kalian itu apaan sih, pada ngaco semua"
Gerutu ridah

"Hehehe udah aah jangan galau makanya"

Tet tet tet. Bel masuk berbunyi
Dan sekali lagi mereka tak melihat zaldi pergi kemasjid.

Dirumah ridah gelisah dan risih, dia kepikiran keadaan zaldi, tidak seperti biasanya dia seperti ini.

"Besok udah 1 rajab, puasa aah"
Ucap ridah menyenangkan hatinya dan berusaha melupakan kegelisahannya. Dengan menarik selimutnya dia membaca doa sebelum tidur.

Keesokannya, bel istirahat berbunyi.
Ridah masih penasaran dengan keadaan zaldi yang sebenarnya, apa yang terjadi dengannya sekarang. Apa  sekarang zaldi sudah melupakan kebiasaanya sholat dhuha dimasjid? Atau dia risih melihat ridah duduk menunggunya.

Kali ini ridah duduk sendirian ditempat biasanya, sahabatnya masih sibuk dikelas mengerjakan soal dari guru. Tetapi tiba-tiba sosok itu muncul dari koridor koridor kelas dengan wajah yang sumringah, wajah yang tak seperti biasanya, wajah yang begitu bahagia.

"Permisi.. Mari sholat dhuha"
Ajak zaldi. Ridah begitu heran, dia terdiam begitu lama. Mengetahui dirinya disapa oleh zaldi. Iya, mereka sebenarnya sudah mengenal sejak lama tetapi zaldi mulai cuek dan menjauh ketika tahu ridah menyukainya.

"Puasa rajab kan?"
Tanya kembali zaldi yang membangunkan lamunannya.

"Eeh ooh iya"
Jawab ridah terbata-bata, begitu groginya dia ketika disapa oleh orang yang entah apa namanya didalam hidupnya sekarang.

"Mari sholat dhuha, aku imami"
Ajak kembali zaldi

"Eehm iya sebentar, aku ambil mukenah dulu dikelas"
Ridah segera bergegas kedalam kelas, sedangkan zaldi masih bersiri ditempat yang sama menunggu ridah kembali.
Ridah memasuki kelasnya dengan begitu sumringah, bibirnya tak ada habis-habisnya untuk menunjukan kebahagiaan yang sekarang dia rasakan. Sahabatnya pun begitu heran melihat tingkah sahabatnya setelah dua hari murung. Dan ridah pun bercerita kebahagiaan yang sedang dia rasakan kemudian bergegas kembali ketempat zaldi menunggu.

Mereka berdua berjalan kemasjid sekolah untuk melaksanakan sholat dhuha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...