Langsung ke konten utama

Different

Menulis tentangmu itu hobiku.
Banyak hal dalam otakku tentangmu yang selalu membuat jemari kecil ini tak ada hentinya mengungkapkan semua tentangmu. Tidak semuanya, hanya sebagian, sebagian yang aku ketahui tentang hidupmu.

Kini setengah lembar sudah april menulis tentangnya, tentang sosok yang sekarang sedang bersama april, yang selalu mengisi hari-hari april dengan keceriaan. Setiap lembar sudah pasti tak pernah absen dari namanya, kevin . kevin yang selalu membuatnya tersenyum ketika berjalan berdampingan kearah kantin yang hanya untuk bergurau tapi tak memesan makanan apapun. Itu yang membuat banyak orang iri ketika melihat mereka.
Tapi april tiba-tiba berhenti menulis, bukan karena dia mulai lelah menulis tentang kevin namun dia mulai tersadar akan apa yang sebenarnya. Kenyataan yang sangat menyakitkan jika harus diteruskan. Akan banyak orang yang memandang hubungannya sebelah mata. Akan butuh banyak airmata yang tumpah jika semua terus berlanjut.
Mereka berbeda keyakinan. April muslim namun kevin kristen.
Selama ini april tidak begitu memikirkan hal itu, dia tidak sadar bahwa hubungannya akan ditentang oleh banyak orang. Akan banyak cacian dan makian yang menerjamg hubungan mereka. Bagaimana dengan kevin? Apa dia juga mengkhawatirkan hal yang sama. Apa dia juga ketakutan akan semua hal itu. Atau dia hanya menjadikan hubungan ini sebagai main-main saja. Entahlah, itu yang sekarang menjadi kebimbangan april. Bagaimana cara menanyakan hal itu pada kevin, bagaimana dia menjelaskan pada seluruh orang bahwa yang sedang bersamanya sekarang adalah orang beda agama dengannya. Dia belum siap untuk semua itu, dia begitu takut akan kesanggupan sabar dan kuat menghadapi kenyataan itu.

"Vin, aku mau tanya sesuatu"
Disela-sela kebersamaan mereka, april mulai memberanikan bertanya tentang apa yang membuatnya selama ini ketakutan dan bimbang.

"Apa? Silahkan. Gausah takut gitu ah mukanya"
Jawab enteng kevin

"Karena ini penting"
Ucap april dengan muka serius. Kali ini kevin mulai menatap dalam-dalam mata april, wajah kevin berubah menjadi serius pula.

"Aku tau apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan"
Kevin mulai menerka-nerka. April hanya bisa tertunduk.

"Masalah keyakinan kita kan?"
Tanya kevin dengan mendongakkan wajah april, menuntunnya untuk melihat mata kevin.

"Iya kan?"
Tanya kembali kevin.
April mengangguk pelan.

"Ini yang aku khawatirkan pula selama ini. Pasti akan banyak rintangan dihubungan kita, tidak sekarang. Tapi nanti ketika semua orang tau kalok kita beda keyakinan, pasti akan banyak makian"
Kevin mulai berbicara.
Ternyata kevin sudah memikirkan semuanya sejak dulu sebelum april sadar akan hubungannya.

"Kita pasti bisa jalani semua kok, kamu tau kan kita selama ini selalu bisa ngehadapin masalah"
Ucap kevin meyakinkan.

"Tidak vin, sekarang bukan masalah biasa. Ini masalah keyakinan, semua orang bahkan keluarga kita pasti akan menolak hubungan kita."
Elak april yang membuat airmatanya menetes deras membasahi pipinya. Sedangkan kevin segera menyeka airmata itu, dia tidak mungkin tega melihat orang yang disayangi menangis seperti saat ini.

"Apa kamu bisa menjadi muallaf?"
Tanya april dengan mata yang penuh harapan.

"Maksud kamu aku menjadi seorang muslim?"
Tanya kevin. April mengangguk, meyakinkan ucapannya tadi.

"Tidak mungkin pril, orangtuaku pasti sangat marah kalok anak satu-satunya menyakiti hatinya dengan berpindah agama. Tidak mungkin aku melakukan itu"
Jawab kevin dengan nada sedikit keras. Yang semakin membuat airmata april deras menyucur.

"Maaf pril, tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Maaf"
Ucap kevin mulai menrunkan nada suaranya. kali ini dia tidak menyeka airmata april lagi tapi menundukan kepalanya.

"Baiklah. Berarti hubungan kita hanya sampai sini vin. Bukannya aku tidak peduli dan menghargai hubungan ini. Tapi kamu tau, nanti kita akan sangat ditentang oleh banyak orang. Sebelum semuanya terlanjur. Kita akhiri semua ini sekarang"
Dengan nada terisak april memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Semua kebahagiaan yang pernah mereka lewati berdua.

Tetapi kevin tidak pernah ingin memutus hubungan pertemanan dengan april, Begitupun april. Mereka masih berteman, tapi tidak bisa dipungkiri dihati mereka masing-masing masih memiliki perasaan yang tidak bisa dihilangkan rasanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...