Aku berfikir kembali. Aku harus mengerti apa yang kau rasa. Kau tak mungkin mempunyai rasa sepertiku. Aku bukan siapa-siapamu, aku hanya wanita yang suka melihatmu dari kejauhan. Aku hanya takut melangkah terlalu jauh, sedangkan kau masih berdiri ditempat yang sama. Iya, dan aku tak pernah berani mengajakmu untuk mengikutiku melangkah.
Aku sakit melihat kenyataan yang memang menyadarkan posisiku, aku bukan siapa-siapa, aku bukan wanita penting yang entah terdaftar dimasa depanmu atau tidak. Entah.
Aku sadar, kita berbeda. Kau sudah mulai dikenal, sudah mulai banyak yang menyukai. Sedangkan aku? Aku hanya wanita yang berusaha mendapatkan senyummu secara diam-diam, mencoba mengabadikan setiap langkahmu meski itu kulakukan dari balik punggungmu.
Aku harus menyadari itu, dan seharusnya aku tak terlalu berharap.
Karena harapan itu hanya anganku, bukan anganmu.
Anganku yang berdiri sendiri, yang seharusnya rapuh sejak awal bukan sekokoh saat ini.
Seiring bertumbuhnya angan yang semakin kokoh meski tak terpupuk, aku mencoba mematikan angan itu. Namun setiap langkah, setiap tempat terbayang pernah aku lewatkan melihatmu. Bagaimana mungkin angan itu bisa rapuh, bahkan angan itu semakin menjulang tinggi sehingga tidak bisa aku gapai, yang dengan susah payah aku rengkuh namun apa daya. Aku wanita biasa yang tidak mempunyai keberanian menggapai angan itu. Angan yang sudah menjulang tinggi.
Dan kau angan itu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu