Langsung ke konten utama

Sang Angan

Aku berfikir kembali. Aku harus mengerti apa yang kau rasa. Kau tak mungkin mempunyai rasa sepertiku. Aku bukan siapa-siapamu, aku hanya wanita yang suka melihatmu dari kejauhan. Aku hanya takut melangkah terlalu jauh, sedangkan kau masih berdiri ditempat yang sama. Iya, dan aku tak pernah berani mengajakmu untuk mengikutiku melangkah.
Aku sakit melihat kenyataan yang memang menyadarkan posisiku, aku bukan siapa-siapa, aku bukan wanita penting yang entah terdaftar dimasa depanmu atau tidak. Entah.
Aku sadar, kita berbeda. Kau sudah mulai dikenal, sudah mulai banyak yang menyukai. Sedangkan aku? Aku hanya wanita yang berusaha mendapatkan senyummu secara diam-diam, mencoba mengabadikan setiap langkahmu meski itu kulakukan dari balik punggungmu.

Aku harus menyadari itu, dan seharusnya aku tak terlalu berharap.
Karena harapan itu hanya anganku, bukan anganmu.
Anganku yang berdiri sendiri, yang seharusnya rapuh sejak awal bukan sekokoh saat ini.
Seiring bertumbuhnya angan yang semakin kokoh meski tak terpupuk, aku mencoba mematikan angan itu. Namun setiap langkah, setiap tempat terbayang pernah aku lewatkan melihatmu. Bagaimana mungkin angan itu bisa rapuh, bahkan angan itu semakin menjulang tinggi sehingga tidak bisa aku gapai, yang dengan susah payah aku rengkuh namun apa daya. Aku wanita biasa yang tidak mempunyai keberanian menggapai angan itu. Angan yang sudah menjulang tinggi.
Dan kau angan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...