Langsung ke konten utama

He was in my dreams, Van (2)

Melihatmu saja aku sudah salah tingkah.

Ohhani dengan cepat memakai sepatu tanpa menalinya karena sudah tertinggal jauh oleh para sahabatnya, setelah sepatu terpasang sudah dengan kilat dia menghampiri ketiga sahabatnya dengan nafas tersengal-sengal.

"Kalian gak setia kawan aah, ninggalin temennya gitu aja"
Gerutu ohhani dibelakang rumi, ridah dan ami sambil memegangi dadanya dengan nafas tersengal-sengal.

"Lah kamu lama"
Jawab ridah mengejek

"Aah kurang ajar"
Ucap ohhani yang sekarang sudah berada disamping rumi.

Ketika asyik berjalan dengan sahabatnya hanya untuk mengelilingi sekolah. Iya itu kebiasaan keempat sahabat ini. Tiba-tiba ohhani menjadi mundur dan berhenti, yang kemudian membuat rumi ikut berhenti.

"Weeh kalok berenti bilang-bilang dong. Ada apa sih?"
Tanya rumi yang kaget tangannya tertarik kebelakang mengikuti langkah ohhani yang mundur.
Sedangkan ami dan ridah belum menyadari temannya berhenti, mereka masih melangkah dengan gurauan yang membuat telinga orang yang mendengarkannya menjadi sakit.

"Duuh rum, didepan ada vano"
Ucap ohhani dengan sorotan mata yang tertuju pada sosok laki-laki yang sedang bergurau dengan temannya.
Sudah 2 minggu vano menjadi murid baru disekolahan itu, namun dia sudah mempunyai banyak teman, terlihat sekali dia orang yang begitu ramah dan mudah bergaul.

"Loh iyaaa"
Jawab rumi dengan senyum jahat, seperti ada suatu rencana yang muncul diotaknya.

"Ridah ami weeey sini"
Teriak rumi kepada sahabatnya yang sudah berjalan jauh meninggalkan mereka.

"Hee rumi kamu mau ngapain"
Ucap ohhani yang mendelikkan badannya dibelakang rumi, karena suara rumi yang nyaring seketika membuat vano dan teman-temannya melihat kearah rumi.
Sedangkan ridah dan ami yang baru menyadari tinggal mereka berdua saja yang berjalan, segera berlari menuju kedua sahabatnya.
Mereka begitu heran melihat ohhani yang aneh, yang mendelikkan badanya dibelakang rumi.

"Issh kamu ngapain ngumpet-ngumpet dibelakang rumi"
Ucap ami heran

"Lagian masih keliatan lah tuh badan, orang segede gentong sembunyi dibelakang rumi"
Ejek ridah

"Iih kurang ajar banget sih, gak sopan sama orang tua"
Gerutu ohhani yang masih bersembunyi

"Liat tuuh"
Ucap rumi dengan mata melirik kearah sekkumpulan cowok yang sedang bergurau dengan memasang wajah penuh arti.

"Ooh hahaha. Jadi ituu masalahnya"
Ucap ami dengan diikuti mata yang penuh dengan rencana

Dengan tiba-tiba ohhani ditarik oleh mereka berdua, sedangkan ridah begitu kaget dan kebingungan ketika kedua sahabatnya itu mulai beraksi. Dengan seadanya, dia mendorong ohhani dari belakang

"Duuuh hee kalian. Aah sudah gue tebak bakalan kayak gini"
Ucap ohhani dengan sekuat tenaga memberontak.
"Lepasin lepasin lepasiiin"
Teriak ohhani. Sedangkan ketiga sahabatnya dengan tertawa puas masih menarik ohhani menuju vano.
Tetapi dengan sekuat tenaga ohhani dapat melepaskan tarikan dari ami dan rumi dan dapat menghindar dari dorongan ridah. Dia segera berlari menjauh dari mereka.
Tetapi tiba-tiba suara besar dengan serak-serak basah memanggilnya

"Ohhani"
Panggil seseirang itu yang mengaharuskan ohhani berbalik.

"Hai"
Sapanya

"Vanoo"
Ucap ami ridah rumi secara bersamaan ketika melihat vano sudah dibelakang mereka.

"Ii...iyaa"
Jawab ohhani dengan jantung yang berdebar-debar, darah yang begitu cepat mengalir.
Vano menghampirinya.

"Aa..ada a..apa"
Ucap ohhani menunduk, malu dan gugup berhadapan dengan vano.

"Lama gak ketemu yaa, apa kabar?"
Ucap vano dengan sangat ramah.

"Eee... Iya"
Jawab ohhani masih menunduk

"Liat aku dong, yang ngajak ngomongkan aku bukan sepatu"
Ucap vano yang membuat ohhani segera mendongakkan wajahnya dan melihat vano. Oh my god, begitu dekat ohhani bisa melihatnya. Melihat orang yang sangat dia kagumi walaupun dalam diam

"Masih inget aku?"
Tanya ohhani yang masih bingung bagaimana vano masih mengingat namanya.

"Iyalah, kamu orang pertama yang aku kenal disekolah ini. Mana mungkin aku lupa"
Jawab vano yang lagi-lagi menampakkan senyumnya, yang harus membuat ohhani meleleh.

"Hehehe"
Ohhani tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia begitu gugup. Sangat gugup.

"Makan yuk, kamu sudah makan?"
Ajak vano, yang membuat ohhani berfikir. Kapan dia terbebas dari kegugupan ini, kenapa vano malah menawarkan untuk mereka bisa berdua yang malah membuatnya semakin tak karuan.

"Belum tuuh, ohhani belum makan"
Teriak rumi yang sontak membuat ohhani terperangah.

"Yasudah kalok gitu makan yuk"
Ajak vano

"Yaudah sana gih. Kita udah makan"
Kata ami.
Pikir ohhani mereka sangat ahli bikin temannya kayak gini.
Dan dengan terpaksa dan masih gugup ohhani mengikuti langkah vano.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...