Aku tidak pernah membayangkan bisa lebih lama didekatnya dan menatap mata coklat milik devan. Bahkan aku bisa berbincang dengannya tanpa merasa aneh.
***
Aku menutup buku diaryku dan meletakkannya dikotak kecil berukuran segipanjang. Buku diary yang selalu aku isi tentang devan. Tentang pertemuan kilatku dengannya, tentang hal-hal aneh yang selalu aku lakukan saat bertemu dengannya.
Kini aku sudah berada dikamarku sendiri setelah beberapa waktu lalu masih didepan rumah, melihat punggung tegap itu menaiki taksi untuk kembali kesekolah. Aku tidak menyangka meskipun dingin dan menyebalkan, dia ternyata baik, dan bahkan menghawatirkan keadaanku.
Tok tok tok.
Suara pintu terdengar dengan pelan diketuk oleh seseorang diluar kamar.
"Masuk kak, gak dikunci"
Aku tahu pasti kak inka yang malam-malam gini selalu bertamu dikamarku. Dia pasti sedang penasaran dengan devan.
Senyum mengembang dari bibir mungil milik kak inka, setelah membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Ada apa kak?"
Dia masih cengengesan dengan menghampiriku dan sudah duduk dikasur empukku.
"Itu tadi siapa?"
"Temen kak, kenapa?"
"Serius cuman temen? Itu tadi devan kan?"
Kini kak inka semakin mendekat kearahku yang sedang duduk dikursi belajar. Dan menatapku dengan pandangan sangat mengintimidasi.
"Iii..iiya"
Jawabku dengan tersendat sendat.
Tiba-tiba kak inka tertawa terbahak-bahak. Beberapa hari yang lalu aku menceritakan tentang devan ke kak inka, menceritakan wajah dinginnya dan aku jujur menyukainya.
"Tuuhkan bener. Udah pasti adik kak inka ini mudah dapetinnya"
Ucapnya dengan menyedekapkan tangannya dibawah dada.
"Haa? Maksudnya kak? Heei. Aku gak ada apa-apa sama dia kak. Dia cumak nganterin aku karna aku tadi hampir nabrak dia"
"Apaaa? Nabrak? Pakek motor aku?"
Kini dengan nada keras kak inka berbicara, dan membuatku tersenyum ngeri. Aku tau sekali kak inka sangat menyayangi motor satu-satunya itu. Bagaiman kalau aku sudah menabrakkannya beneran, bisa-bisa aku yang dipecel. Huu dasar kakak lebih sayang sama motornya ketimbang adiknya.
"Hampir kak hampir. Yaallah"
"Hiisss awas aja kalok kamu beneran nabrakin motor kakak"
"Iissh bukannya adiknya yang dikawatirin malah motornya"
Kini aku cemberut dan menyedekapkan tangan dibawah dada tanda sedang marah.
"Hehehe. Ya kawatir juga sama adik cantik kakak dong. Tapi ya juga kawatir sama motornya"
Ucap kak inka dengan menepuk lembut kepalaku.
"Eeh iya, kamu belum cerita devan tadi. Gimana gimana? Katanya dia dingin tapi kok gampang banget bisa deket"
Penasaran kak inka ini masih saja.
"Gampang apaan? Susah kak suuusaah. Muka dinginnya itu nyebelin ternyata. Eeeh tapi malah makin ganteng"
Jawabku dengan mengingat-ingat wajah dingin devan sembari senyum-senyum sendiri.
"Baru deket gitu aja aku udah salah tingkah banget kak"
Tambahku yang tiba-tiba berubah raut wajah menjadi cemberut.
"Kak inka juga pernah gitu, tapi cowoknya gak seganteng devan sih. Makanya mudah deketnya."
Hfftt. Susah kali ya bisa lebih dekat dengan devan. Mungkin memang takdirku cuma untuk mengaguminya.
***
-Devan pov-
Gadis itu begitu cantik, kini dia sedang mengajakku kesebuah taman yang dikelilingi oleh bunga-bunga segar. Gadis itu dengan ceria mengajakku berlari mengelilingi taman bunga indah itu.
Gadis dengan rangkaian bunga diatas rambut hitam ikalnya, memakai gaun putih selutut yang sangat anggun ia pakai. Dan tanpa henti ia memegang tanganku. Gadis yang manis, tapi ditengah-tengah taman gadis itu menghilang, menghilang dengan senyum sedihnya, aku melihat tanganku yang sedari tadi dia pegang tanpa dia lepas. Tapi tangan itu menghilang seperti tubuhnya yang sekarang tak kulihat lagi didepan maupun sekelilingku. Dia menghilang seperti ditiup angin, tanpa jejak, tanpa kata. Hanya senyuman kesedihan.
Aku terbangun dari mimpiku.
Mimpi yang sangat aneh, aku bahkan tidak pernah bermimpi seperti ini. Gadis cantik, taman bunga, gaun putih selutut, rambut hitam ikal, pegangan tangannya, dan senyumnya. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi aku yakin dia begitu cantik terlihat dari senyum manisnya. Yang ku ingat hanya senyummya, senyum yang pernah aku lihat sebelumnya dialam nyata. Namun siapa?
Dengan gusar aku mengingat pemilik senyum itu, namun aku benar-benar tidak mengingatnya.
Hfftt. Kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah 6. Pagi-pagi seperti ini energiku sudah terkuras karena mimpi aneh itu, mimpi yang entah disebut mimpi buruk atau indah. Ditambah aku harus mengingat gadis pemilik senyum itu.
Kini aku mulai beranjak kekamar mandi, mungkin dikamar mandi aku bisa mengingat senyum itu. Haha mustahil, yang ada malah keingat pasta dan sikat giginya.
***
Seperti biasanya, aku menuruni mobil ditempat parkir pagi-pagi seperti ini sudah disambut dengan tatapan-tatapan gadis penghuni sekolah.
Kenapa kerjaan mereka pagi-pagi selalu seperti ini? Apa tidak ada kerjaan lain? Piket atau mengerjakan tugas kek. Dan hal yang paling menyebalkan adalah ketika aku sidah melihat gadis centil ini berlarian menghampiriku, karin. Padahal aku sudah bersikap sangat dingin dengannya.
"Haaii pagi devan my sweety"
Aiiisssh. Panggilan apaan itu. Menjijikan. Sejak kapan dia memberi embel-embel namaku dengan sebutan itu.
Tapi tiba-tiba aku teringat dengan mimpiku, aku sangat penasaran dengan gadis yang tiba-tiba menghilang itu. Apa karin pemilik senyum itu? Aah tidak mungkin sepertinya. Meskipun dia cantik, tapi tubuhnya terlalu tinggi untuk ukuran gadis dalan mimpiku. Tapi apa salahnya aku mencoba mengeceknya.
Aku menoleh dengan cepat kearahnya, yang membuatnya tersentak kaget. Kemudia beberapa lama kmudian dia menyunggingkan senyumnya.
Benarkan. Senyum itu bukan milik karin. Syukurlah.
Aku kembali menoleh kearah depan dengan tatapan datar, ini hal satu-satunya agar dia bosan melihatku. Dan akhirnya dia pergi setelah suara temannya memanggilnya dengan keras.
"Hiissh apaan sih tuh anak"
Sungutnya.
"Bentar ya devan, aku pergi dulu"
Sudaah pergi sana. Siapa juga yang mau kamu disini. Aku mempercepat langkahku untuk menuju kelas, agar dia tidak kembali lagi menghampiriku.
Braakkk
Tubuh kecil yang sangat aku kenali, yang menjadi langganan tubuhku ditabraknya. Nike.
Entah, namun setiap dia tabrak ada hal aneh yang lucu yang membuatku ingin tertawa. Bagaimana tidak? Kenapa anak ini selalu menabrak, dan yang menjadi objek tabrakannya adalah aku. Padahal tubuhnya tidak pendek-pendek sekali, malah lebih ketubuh ideal.
Kini dia mendongakkan kepalanya, aku harus bisa mengatur bibirku agar tidak tertawa dan harus memasang muka dingin didepannya. Hal yang selalu membuatnya ketakutan. Dan setelah ini aku harus bersiap-siap untuk menahan tawa karena melihat wajahnya yang konyol.
"Maaa...aaf"
Selalu, aku sampai hafal kalimat itu. Dasar nike.
Aku harus tetap terlihat dingin didepannya. Tanpa menghiraukan wajah melongonya nike aku berjalan menjauh darinya. Dan aku masih bisa merasakan walaupun tak melihatnya, nike masih berdiri ditempat yang sama dengan melihat kearahku.
-Nike pov-
Lagi lagi, kenapa aku selalu ceroboh seperti ini. Dan lagi-lagi wajah terburukku yang aku tunjukkan.
Hffftt. Aku harus berlari sepertinya, aku harus memaki diriku lagi.
"Nikee.."
Suara berat tiba-tiba terdengar saat aaku siap-siap untuk berlari. Suara dari balik badanku. Aku menoleh dengan cepat kearah suara itu, dan kulihat tubuh tegap itu sudah berdiri dibelakang dengan wajah datarnya.
Dia kembali menghampiriku, kini berjalan lebih dekat kearahku. Yaampun.
"Jangan lupa nanti rapat lagi setelah pulang sekolah"
Kini badan itu berbalik lagi memunggungiku. Aku hanya tertegub melihat punggung yang berjalan semakin menjauh dariku.
Manusia dingin yang sangat aku kagumi, yang menjadikanku aneh setiap didekatnya. Aku masih mengingat saat kemarin dia mengantarku pulang, sikapnya tidak sedingin yang aku lihat sebelumnya. Bahkan dia sangat baik. Namun sekarang dia kembali dingin sedingin es. Tapi aku sekarang mengerti yang membuatnya seperti ini, gadis-gadis cantik yang menghampirinya, yang mencoba menggodanya, yang mencoba merebut hati cowok tampan itu.
Dan aku baru tersadar, banyak mata tajam yang sekarang sedang memperhatikanku. Mata gadis-gadis yang baru saja aku sebut. Mereka memandangku speerti makanan yang sangat lezat untuk disantap.
Aku harus segera berlari dan menghindar dari mata-mata tajam itu.
***
Hffftt tugas lagi tugas lagi, tugas menumpuk. Aku harus cepat-cepat pulang dan mengerjakan semua tugas tugas ini. Aku juga harus makan untuk kembali mengisi energi yang terkuras karena ulangan harian matematika tadi. Hfftt.
Aku berjalan kearah depan gerbang sekolah, menunggu echa yang sedang mengambil motornya ditempat parkir.
Tin tin tin tin.
"Aiisssh... Echa lu apaan sih. Hampir aja gua jantungan"
Echa sahabat yang paling jail diantara sahabat-sahabat lainku. Dia juga yang selalu mengantarku pulang, meskipun jarak rumah kita jauh dan dia harus kembali berbelok untuk menuju rumahnya. Tapi dia tidak sama sekali mengeluh, bahkan sering dia main terlebih dahulu setelah mengantarku.
Echa tertawa terbahak-bahak melihat wajah konyolku yang terkejut.
"Lagian lu ngapain lemes gitu sih"
"Tugas cha tugas.. Kayak lu gak aja"
Gerutuku sembari memakai helm yang diberikan echa.
"Yaelaah tugas. Lagian lu lemes banget kayak orang sakit. Lu sakit?"
Tanyanya dengan meletakkan tangannya dipipi kananku.
"Apaan sih. Kagak lah. Gua naik niih"
Ku elak tangan echa yang sudah memegang pipiku. Dan segera menaiki motor matic milik echa.
Tapi saat kaki kananku mulai menaiki motor, suara berat yang belakang ini sangat familiar ditelingaku terdengar.
"Nikee"
Aku turunkan kembali kakiku. Seperti aku, echa juga menoleh kearah suara yang menghentikan ku untuk beranjak pulang.
Devan sudah berdiri dengan kedua tangannya diselipkan kesaku celananya. Waah pemandangan yang sangat kereen.
"Kamu lupa kata saya tadi"
Suara itu kembali terdengar yang berhasil menggugah lamunanku dan echa.
"Haaa? Apa?"
Katanya apa? Dia tidak berkata apa-apa. Baru saja dia datang sudah menyuruhku mengingat katanya.
"Saat dilorong sekolah"
Aku mencoba mengingatnya.
Aku mengingat pertemuan konyol tadi, wajah anehku yang memandangnya dan devan dengan dingin meninggalkanku berdiri dengan wajah aneh sperti biasanya.
"Ssttss. Lama banget ngingetnya. Inget gak lu?"
Bisik echa padaku yang masih dengan posisi menaiki motornya.
Bersambung ke part V
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu