Langsung ke konten utama

Pergi Sebelum Berjuang?

Dia baru berjuang segitu saja sudah nyerah? Bagaimana denganmu, dulu! Baru saja menanyakan kesanggupan namun sudah pergi entah kemana. Itu yang namanya berjuang? Haha.

Sebelum akhir yang indah, kita perlu tahu apa itu perjuangan, sakitnya pengorbanan. Dengan itu kita bisa tahu jalan sulit hanya untuk mendapatkan sesuatu hal yang kita inginkan. Jika kita mendapatkanya dengan mudah, dan dengan mudah juga kita akan melepaskannya.

Pergi sebelum berjuang?
Jiwa orang yang selalu melakukan semua hal harus dengan mudah. Bahkan dia tidak tahu setelah berjuang ada hal manis yang tak terlupakan. Rasa lega dimana perjuangan tak pernah sia-sia. Suatu pelajaran, tahap demi tahap dilewati dan akhirnya? Hal yang kita inginkan akan tergapai juga. Dan setelah itu untuk melepas? Kita akan memikirkannya seratus kali, karena untuk mendapatkan itu semua. Sungguh, sangat sulit langkahnya.
Dan untuk orang yang pergi sebelum berjuang, dia tidak akan tahu semanis apa hasilnya itu semua.
Yang dia rasakan hanya rasa yang sama sebelum-sebelumnya.

Hfftt ini bahas apasih, aku sendiri gatau nulis apa tadi. Iseng buat ngisi ini blog yang kosong blontong-_-
Fokus puasa, cari pahala.
Karna semua amal ibadah yang dikerjakan dibulan ramadhan, akan dilipat gandakan pahalanya. Subhanallah..

Yang perlu kalian tahu. "Kalau kita ingin hasil yang indah, kita perlu tahu apa itu berjuang". Seperti bulan ini.
30 hari kita berpuasa dari makan, minum, tidak berbuat maksiat dan lainnya. Kemudian hasilnya? Subhanallah indahnya, segala amal ibadah dilipat gandakan pahalanya. Sekarang nikmat Allah apa yang kita ragukan?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...