Langsung ke konten utama

He is still distract (5)


Aku masih mencoba berfikir tentang hal yang dikatakan oleh devan dilorong tadi pagi, tapi aku tidak mengingatnya.

Oh ya aku ingat, devan mengatakan sesuatu saat dia memanggilku dan kemudian berbalik lagi meninggalkanku. Namun aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas larena sedang asyik melihat wajah tampannya yang sedang berjalan mendekat kearahku.

"Hehe aku tidak ingat"
Kini aku menyerah.

Nada helaan nafas terdengar nyata dari dua orang, yang pertama orang disampingku yang masih memakai helm dikepalanya dan yang kedua cowok tampan didepanku yang selalu memperlihatkan wajah dinginnya.

"Lu bisa nggak, gak keliatan bego didepan devan"
Suara bisikan yang membuat telinga panas. Hfftt ini anak emang paling bisa bikin orang ngejleb.

"Setelah pulang sekolah kita rapat"
Suara berat itu akhirnya terdengar juga, dan aku baru mengetahui hal penting yang seharusnya aku lakukan setelah pulang sekolah.

Kembali senyum meringis innocent ku keluar, muka wajah tanpa dosa aku perlihatkan didepan wajah tampan dingin itu.

"Ayok"
Kini aku dengar kembali suaranya mulai menjauh dariku. Iya, tubuhnya sudah berbalik dan berjalan krmbali kedalam sekolah.

"Cha, gue gak jadi pulang bareng kalok gitu. Nanti gue naik angkot aja"
Helm yang menempel dikepala dengan cepat aku lepas dan letakkan dikaca spion motor milik echa yang sedari tadi melongo melihat tingkahku.

Aku berlari menghampiri manusia dingin itu dan menyamai langkahnya. Diam, dalam langkah gontai itu, tidak ada suara yang terdengar dari kita. Hanya suara sebagian murid cewek yang masih belum pulang, dan mencoba mencibir diriku yang berani-beraninya berjalan disamping lelaki yang mereka kagumi.

Kruyuk kruyuk.

Aiiissh perut tidak bisa diajak kompromi, disamping manusia dingin ini bisa-bisanya kamu berbunyi sekeras ini. Hhfftt.
Tapi memang aku sangat lapar, bagaimana tidak? Aku tadi sudah lemas berharap pulang dan mendapat asumsi makan untuk mengembalikan energiku. Tapi kini aku harus berjalan kedalam sekolah lagi dan harus beraktifitas yang melelahkan lagi.

"Lapar?"
Suara yang lembut bisa aku dengar disamping kananku.
Aku mengangguk dengan memegangi perut yang srkarang terasa melilit sekali.

"Yaudah ikut gua"

Gua? Berasa lucu sekali mendengar devan, manusia dingin berbicara dengan kata yang cukup bersahabat itu.

Kini dia berbalik kearah kantin, dimana terletak banyak makanan yang siap aku santap. Wah wah. Manusia dingin ini tidak terlalu menakutkan ternyata, selain baik dia juga peka. Aah makin suka deh.

"Pesan makanan sesukamu"

"Beneran? Kamu bayarin?"
Aah bukan hanya peka saja, dia juga super super baik. Aah devan meleleh sumpaah.

"Ya enggaklah, bayar sendiri"
Ucapnya dengan sinis sembari duduk dibangku pojok kantin, aku mengikutinya duduk. Kini aku bisa melihat sedikit demi sedikit murid keluar dari kantin untuk beranjak pulang.

"Ngapain disini? Udah pesen sana"
Suara berat itu terdengar lagi namun begitu dekat. Dan benar, kini aku bisa melihat mata coklatnya lebih jelas. Alis tebalnya dan rahangnya yang kokoh dengan jarah yang begitu dekat. Seketika aku terhipnotis oleh pemandangan yang menakjubkan kali ini.

"Nikeee. Plis jangan mulai anehnya"
Tangan besar itu tiba-tiba memegang dan mendorong pipiku untuk menghadapkan pandanganku kedepan. Suara lembutnya terdengar sangat asing.

Kruyuk kruyuk. Hfftt perut sudah tidak bisa diajak kompromi, sudah benar-benar melilit. Dengan cepat aku menuju salah satu kantin yang menjual nasi. Kemudian ke stan yang menjual somay, tahu crispy, dan gorengan.

-devan pov-

"Devan tolongin doong"
Suara kecil yang ternyata cempremg itu terdengar nyaring terdengar dipenjuru lokasi kantin. Aku yang sedari tadi menundukkan kepala melihat ponsel secara refleks mendongakkan kepala mencari sumber suara yang memanggilku.

Dan kulihat gadis yang tidak terlalu tinggi itu sedang membawa 2 piring dan disamping ada meja yang diatasnya berada 2 piring dan 2 gelas es teh.

"Sini dev, bantuin"
Suara itu kembali terdengar, dan bisa kulihat wajahnya yang ceria. Mana mungkin dia membeli makanan sebanyak itu?
Aku segera menghampirinya, namun tanpa berlari. Dan kulihat dia sangat menunggu kedatanganku.

"Yaelah devan lama banget sih, lari kek"
Suara itu kembali terdengar, seperti tidak sabar untuk menyantap makanan sebanyak itu.
Dan beberapa waktu kemudian, kita sudah berada dibangku awal aku duduk.

Bisa dilihat dari wajahnya nike sangat kelaparan, matanya terlihat berbinar-berbinar dan tak henti-hentinya menatap makanan.

"Kamu yakin akan menghabiskan semua?"
Tanyaku ragu pada nike.
Pandangannya yang sedari tadi melihat kearah makanan sekarang sudah berbalik menatapku.

"Yakin... Eeh itu es tehmu. Maaf ya aku gak mesenin makanan apa-apa. Ini semua buat aku"
Dan dengan lahap dia mulai memakan nasi yang pertama dia pesan.

"Perutmu tidak terlalu besar untuk ukuran makanan sebanyak itu"
Ucapku ragu yang masih memandangi nike makan dengan lahapnya.
Dia tidak menghiraukan sama sekali pernyataanku tadi.

"Apa kamu yakin akan menghabiskan semuanya?"
Tanyaku kembali.

"Kamu bisa diam gak? Nih aku kasih gorengan satu. Ambiil"
Dengan masih asyik makan dan tanpa melihatku, dia menyodorkan piring yang berisi gorengan.

"Satu aja yaa"
Ucapnya kembali.

"Gak perlu, saya gak lapar"
Aku memasang wajah dinginku untuk mengalihkan pandangannya. Dan berhasil, kini dia menoleh kearahku yang sedang menatap kearah depan.

"Katanya kalok sama aku gak pakek ngomong saya"
Gerutuannya mulai terdengar, dan bisa kulihat meskipun dengan cara meliriknya, dia berhenti makan dan meminum estehnya.

"Sudah jangan banyak omong, habiskan makananmu."
Dan bisa kudengar hentakan kecil kakinya, dia mulai memakan makanannya lagi. Yaampun, dia bahkan masih melanjutkan makannya.

Bersambung part VI

Maafkan kata-katanya aneh. Lagi males nulis, mood jelek banget.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...