Langsung ke konten utama

He is still distract (10)

-Nike pov-

Hari ini akan menjadi hari paling meriah disekolah, semua warga sekolah akan ikut bahagia merayakan ulang tahun sekolahnya, semoga semua kerja kerasku dan teman-teman memuaskan.

Pagi-pagi sekali aku sudah bergegas berangkat ke sekolah, akan menjadi satu-satunya anak yang ada disekolah pagi-pagi ini. Eeh sepertinya tidak, mungkin akan menjadi anggota pra acara hut paling telat sendiri. Hfft, aku tidak biasa berangkat sepagi ini. Pukul 03.30
Mau sekolah apa nyayur neng...

***

Tuhkan benar, semua anak sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya, sedangkan aku masih berjalan gontai menuju mereka.
Dan dengan cepat aku temukan mata tajam diantara mereka, mata itu serasa menusuk.

"Darimana aja ke?"
Tanya Gadis cantik yang sedang membersihkan meja-meja untuk tamu dari sekolah lain, chika.

"Ngaret"
Saut gadis lain disampingnya, siapa lagi kalau bukan karin. Hfft menyebalkan, satu kata tapi ngejleb banget.

"Telat, maaf yaa"
Ucapku sembari masih memandang mata tajam yang sedari tadi memperhatikanku, haass seperti mata elang yang menemukan mangsa untuk disantap. Gilaa.. Bisa mati berdiri kalau aku tetap melihatnya.

Oke, aku segera membantu mereka mempersiapkan semuanya.

***

Cukup melelahkan.
Tapi menyenangkan.
Semua puas.
Yaa, itu semua yang ada difikiranku. Aku begitu bangga bisa bergabung dengan anak-anak cerdas dan giat ini, dan bisa membuat semua warga sekolah merasa puas.

Acara selesai tepat pukul 4 sore, dan segera membersihkan semuanya. Mungkin pukul 8 aku sudah bisa pulang dengan tenang. Emm maksudnya pulang kerumah.

Oke, aku lebih memilih pulang naik angkot. Daripada menunggu jemputan, sudah pasti kak inka gak bisa jemput. Aah tak apalah..
Lagian aku harus pulang cepat-cepat untuk belajar ujian kenaikan kelas beberapa hari lagi. Haha giat ya? Enggak juga sih. Kalau ada gini aja belajarnya giat.

"Tumbenan angkot jam segini udah gak ada"
Aku menghela nafas panjang, serasa badan berat sekali. Aku sudah sngat lelah, aku ingin rebahan dikasur. Sepertinya jadwal awalku akan ku ubah. Setelah ini akan aku habiskan untuk tidur panjang, belajarnya nanti sajalaah hehe..

Tiba-tiba lampu mobil menyala dari arah kanan. Yaak, akhirnya angkot datang jugaa.

Eeh sebentar, bukan angkot sepertinya. Seperti mobil mewah, tapi kenapa berenti didepanku. Jangan jangan mau menculik aku. Tidak tidak ini menakutkan.

Kaca mobil itu terbuka, dan kulihat wajah dingin, datar. Aah siapa lagi kalau bukan devan. Kenapa dia belum pulang, emm tapi kenapa dia dari arah samping kanan, kalau belum pulang pasti mobilnya keluar dari dalam sekolah.
Terserahlah..

Wajah itu benar-benar tanpa ekspresi, diam dan memperhatikanku. Hfft maksudnya apasih? Nawarin pulang kek. Bukan diem kayak gitu.

Tapi tiba-tiba senyum manis tersungging dibibirnya begitu saja.

"Naik"
Naik? Dia nawarin nih ke. Oke, langsung masuk.
Dengan lesu aku memasuki mobil mewah itu.

***
Hening..
Hening..

"Kamu ada apa dengan kak rion?"

"Haa maksudnya?"

"Kalian pacaran?"
Haa? Apa-apaan devan, kenapa dia menanyakan ini lagi.

"Dulu emang aku sempat suka dengan kak rion, orangnya baik, murah senyum lagi"

Hening...
Nih orang, habis nanyak malah diem. Aku memandangnya, tapi yang kulihat wajahnya datar dengan masih fokus menyetir.

"Ada apa sih?"

"Kalian deket?"
Tanyanya dengan berbisik. Tidak berbisik sebenarnya sih, tapi dipelankan.

"Iyalah deket, orang kita tetanggaan. Mamanya baik banget, mungkin kak rion nurun dari mamanya kali yaa"

Wajah yang tadi dingin, kini sedikit aneh.

"Tapi kak rion bukan tipeku, dia terlalu ramah kesemua cewek. Hfftt. Aku kan suka yang dingin-dingin"

Wajah itu semakin aneh, malah sekarang memandangku dengan wajah yang butuh penjelasan. Ada apasih? Sudah dijelaskan bukan.

Aku mengedikkan pundakku dan menatap lurus ke depan, aku rasa yang aku bicarakan tidak butuh penjelasan, karena sudah jelas bukan.

"Dingin?"
Tiba-tiba suara itu terdengar, kini dengan wajah yang penasaran.

"Apanya?"

"Kamu tadi bilang kalau suka yang dingin-dingin"

Apa? Apa bener! Mampus, kapan aku bilang kayak gitu.. Gilaa masak iya aku ketahuan sekarang.

Cari, cari, cari alesan nikee. Jangan terlihat kacau gini dong.
Dan kulihat devan masih memandangku. Memandang dengan tatapan yang menunggu sebuah penjelasan.

"Nikee?"
Suaranya kembali terdengar.

"Yang dingin-dingin kayak gimana maksudnya?"
Tanyanya lagi.

Kamu, kamu devan. Aah gak peka banget sih. Eeh jangan peka dev plis, pura-pura gak tau aja deeh.
Lagian rumah berasa jauh amat, gak nyampek-nyampek.

Kemudian dia menyunggingkan senyumnya, senyum yang tidak pernah aku lihat. Senyum yang memberi arti lain.

"Kenapa senyum-senyum"
Aku mengalihkan pandanganku kembali kedepan, aku tidak mungkin memeprhatikannya senyum seprti itu, bisa-bisa aku meleleh dimobil ini.

"Aku juga suka yang aneh dan rakus"
Haa? Apa? Dia tadi bilang apa? Suka aneh dan rakus?

Aku kembali melihatnya dan dengan genit dia mengedipkan sebelah matanya. O M G.. Ini apa bener devan? Kok jadi genit kayak gini.
Aah terserah, yang jelas aku tadi mendengarnya berkata menyukai yang aneh dan rakus. Maksudnya apa?.

Oke TAMAT guys.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...