Dia sangat mahir menghempaskanmu dalam luka yang menurut dia sangat menyenangkan jika dilihat dari sisinya, melihatmu terluka tentunya. Apa dia tidak memikirkan sakitnya menjadi dirimu? Yang sekarang mencoba menyembuhkan luka itu secara perlahan, dan sendirian. Sepertinya tidak, yang aku tahu dia sekarang sedang bersenang-senang. Bahkan dia sedang menikmati hal barunya itu. Terus sekarang apa kau masih belum juga sadar? Dia tidak pernah memiliki rasa apapun untukmu!
Coba kau fikirkan, selama ini siapa yang berjuang? Kau, kau dan kau! Apa kau masih belum juga sadar? Bahkan kalimat yang menjadi bukti dia serius denganmu apa ada? Tidak kan?.
Apa kau masih belum sadar juga?
Sudahlah berhenti berharap seseorang yang bahkan tidak mengharapkanmu sekalipun. Jangan menyakiti hatimu sendiri.
Karena memang pada dasarnya, pria mencintai dari angka seratus ke nol. Sedangkan wanita mencintai dari angka nol ke seratus
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu