Langsung ke konten utama

He is still distract (9)

*oke semuanya, jujur ini akan menjadi cerita yang memanjang. Panjaang banget, masih ada beberapa part lagi, belum nanti ada konflik yang bakalan dihadapi devan dan nike. Tapi sepertinya tidak aku lanjut diblog ini, dan akan aku lanjut ke wattpad aja. Cerita ini mungkin sampek 10 part saja. Kalok mau tau kelanjutan cerita devan sama nike, mending baca di wattpad aja*

-Devan pov-

Ada sesuatu yang menusuk hati ketika dengan enteng nike membenarkan pertanyaanku yang memang dia dan kak rion sedang dekat. Sakit ini sama dengan sakit yang aku rasakan ketika membuat diana menangis karena penghianatanku. Apa aku sudah mulai melupakan diana? Apa aku mulai menyukai nike? Tidak tidak. Diana dan nike sangatlah berbeda, nike tidak sekalem diana, meskipun mereka sama-sama cantik.

Dengan gusar aku mengacak-acak rambutku dengan kedua lengan bertumpu pada kaki yang kubuat duduk dikursi depan ruang guru. Aku sedang menunggu guru yang juga ikut mengurus acara hut sekolah. Bisa-bisanya saat repot seperti ini, aku memikirkan nike yang tidak penting.

"Devan.."
Suara kecil tiba-tiba terdengar dari samping kiriku. Aku sangat kenal suara itu, dengan sigap aku menoleh kearahnya.

"Ngapain disini? Keliatan kusut banget"
Yaa, aku baru sadar rambutku sudah tidak beraturan dengan muka yang cemberut.

Aku segera merapikan rambutku seadanya dengan tangan.
"Nunggu pak mukhlis buat ngurus acara besok"

"Ooh, mau aku temenin?"
Aku terlonjak mendengar suara lembut itu sedang mengucap sesuatu.

"Apa?"

"Mau aku temenin gak?"
Suaranya agak diperkeras.

"Boleh, kalau gak keberatan"

"Gak keberatan dong tentunya"
Kini senyumnya mengembang dengan sempurna, senyum yang kembali mengingatkanku dengan mimpi beberapa minggu yang lalu. Mimpi yang masih menjadi teka-teki ku.

Kenapa nike harus hadir dalam mimpiku? Mimpi yang entah disebut mimpi buruk atau mimpi indah. Tapi seakan mimpi itu nyata, meskipun aku hanya bermimpi sekali itu saja. Namun terasa sangat jelas, ketika gadis itu memegang tanganku dengan erat, dan tubuhnya yang tiba-tiba menghilang. Mengapa begitu sangat sangat mengganggu fikiranku.

"Udah aku bilang berapa kali, kalok terpesona sama aku jangan terang-terangan gitu. Kan ketara banget"
Ujarnya yang membangunkan lamunanku yang sedari tadi memperhatikannya, emm lebih tepat senyumnya.

Siaal, aku ketahuan lagi.
Aku segera membalik kearah depan, mencoba menyembunyikan rasa malu. Dan kini ku dengar tawa nya yang sedikit dia sembuyikan. Cerdas, dia sekarang tahu malu ternyata.

"Devan sudah?"
Suara berat mengejutkanku dan nike. Aku segera berdiri setelah mengetahui pak muklis sedang berdiri disampingku, beliau tersenyum. Ya, dia guru paling menyenangkan diantara guru-guru lainnya, meski dapat mudah bergaul dengan muridnya, beliau masih disegani bahkan disanjung. Waah salut memang sama guru satu ini.

"Sudah pak, ini laporan-laporan yang sudah selesai. Ada beberapa juga yang perlu bapak tanda tangani"

"Oh iya dev nanti bapak tanda tangani, apa semua persiapannya sudah selesai?"

"Alhamdulillah sudah pak"

"Hebat kamu dev"
Ucap pak mukhlis dengan menepuk-nepuk pundakku.

"Ini juga kerjasama dari nike dan teman-teman pak"
Ujarku dengan mengulum senyum kearah nike disampingku. Dan kulihat dia juga tersenyum bangga.

"Iya, kamu juga hebat nike. Emm bapak keruang kepala sekolah dulu ya" setelah mengurai senyumnya ke nike juga, pak mukhlis berpamitan keruang kepsek. Sepertinya beliau sedang sibuk.

"Oh iya pak"
Jawabku dengan nike yang hampir bersamaan. Sedangkan pak mukhlis tersenyum melihat tingkahku dan nike. Dan kemudian berlalu meninggalkan kita berdua.

"Oke, sekarang kita kemana lagi?"
Suara cempreng itu terdengar sangat semangat.

"Pulang"
Jawabku dengan berbalik menuju tempat parkir.

"Apa?"
Ucap nike dengan masih berdiri ditempat yang sama. Namun kemudian berlari menyamai langkahku.

"Aku kira kamu bakalan repot hari ini, makanya aku mau nemenin. Tapi sekarang sudah pulang?"
Ucapnya memprotes dengan suara yang sedikit diperkeras.

"Siapa yang suruh nemenin?"

"Yaaa tapi kan.."

"Lagian semuanya sudah selesai, tinggal nyerahin laporan ke pak mukhlis doang"

"Tapi..."

"Kamu gak nanyak"

"Haaass.. Aku kira kamu masih sibuk. Liat muka kusutmu tadi jadi aku punya inisiatif buat nemenin kamu. kalok gini jadinya pulang sama echa aja deh tadi"

"Oh jadi gak ikhlas?"
Kini aku memasang wajah datar dnegan tatapan tajam yang langsung menusuk matanya.

"Ikhlas kok ikhlas"
Kini suara terdengar lembek dan kepalanya menunduk. Haha lucu seklai melihatnya bertingkah seperti ini.

"Aku anterin pulang tenang aja"

-Nike pov-

Tiba-tiba benda hangat menyentuh tanganku dan sedikit diperkuat. Aku tersadar bahwa itu adalah tangan devan yang sedang memegang erat tanganku, Setelah bebrapa detik lalu berkata bahwa dia akan mengantarkanku pulang.

Aku masih terpaku ditempat, tidak bisa berkata apapun. Hanya bisa melihat tanganku yang masih dipegangnya, aku benar-benar tidak bisa mengangkat kepalaku walaupun untuk melihatnya sekilas.

Dan kurasakan tangan itu sedikit bergetar.. Oh sebentar, bukan hanya tangannya namun lengan dan pundaknya juga. Dan aku yakin dia....
Dengan hati-hati aku memperhatikan wajahnya, dan kulihat wajahnya memerah dan pipi yang mengembung.

Haass.. Dia menertawakanku. Dengan cepat aku melepas tangannya yang masih memegang erat tanganku.

"Kenapa?"
Tanyanya. Dan aku tahu dia masih  menertawakanku.

"Bukan muhrim"
Jawabku singkat dan langsung berjalan lurus kedepan.

"Nikee."
Tidak tidak aku harus cepat. Pasti dia menertawakan wajahku yang sangat sangat aneh tadi.

"Nikee.."
Kenapa sih dia panggil-panggil, mau mengolok-olokku lagi? Haass devan.

"Nikee..."
Aku sedang jalan nih dev, bisa langsung nyamperin gak. Gak perlu teriak-teriak gitu.

"Nike berenti gak?"
It's oke it's oke. Aku berhenti!
Dan kubalikkan badanku menghadapnya yang masih berdiri dengan tegap. Duuh dia terlihat sangat keren kali ini.

"Apa sih?"

"Tempat parkirnya disana" ucap devan dengan menunjuk kearah sampingnya yang menunjuk kearah lorong dan disebrangnya ada tempat parkir yang dia maksud.
"Kamu mau kekantin lagi?" ucapnya kembali.
Yaaa sial. Aku tadi berjalan lurus tanpa melihat kearah mana aku berjalan. Ini semua gara-gara devan. Aku malu lagi. Aissshh.

Dengan wajah yang kutekuk kebawah, melihat kakiku melangkah. Semoga tidak salah jalan lagi. Hfftt. Aku tidak berani melihat kearah devan, sudah pasti dia sedang menertawakanku. Menertawakanku habis-habisan. Hfftt.

Bersambung part X

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...