Langsung ke konten utama

Bintang besar

 setiap bertemu dengan mata bulatmu aku tak merasakan apapun, hanya merasa kau bintang besar yang tak akan pernah bisa aku gapai, susah, sulit. dan itu hanya membuat dadaku merasa sesak.
sangat sulit untuk medapat senyum dari bibir mungilmu, terkadang aku sangat berharap. tapi kosong! itu hanya angan yang tak pernah tersampaikan. sang bintang besar berbaik hati memberikan senyumnya untuk debu siang sepertiku? angan yang berlebihan untuk bintang besar sepertimu. kau hanya pantas dikelilingi oleh bintang-bintang kecil yang bersinar. dan menutupi diriku dengan sinar mereka, sinar yang menyilaukan sehingga kau sangat sulit untuk melihatku. aku tak apa, aku sadar aku siapa. aku bukan siapa-siapa. dan aku tak pantas untuk mendapatkan secuil senyumpun dari bibirmu. maafkan aku yang terus berharap, yang terus menginginkan semua anganku terjadi. tapi nyatanya tidak akan pernah! tidak!
dan akan aku yakinkan dengan diriku sendiri bahwa ini hanya rasa kagum, bukan rasa ingin memiliki. dan tetap aku yakin kan bahwa ini hanya rasa kagum bukan rasa ingin memiliki. paham!
dan setiap kali aku melihatmu tuan bintang besar, kata-kata yang sudah aku rangkai dan rekatkan dihati dan fikiranku itu musnah kembali.musnah bersama langkahmu melewatkanku tanpa senyum ataupun sapaan darimu, tanpa sama sekali. dan aku harus merangkai kata-kata itu lagi, merekatkan kata-kata itu lagi. meskipun susah, akan tetap aku lakukan. karena tidak ada alasan untuk menjauhimu, melangkah pergi darimu. karena setiap itu aku lakukan, tuhan selalu mempertemukan kita. kita, bintang besar dan debu siang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...