"Sudah belum makannya?"
Sudah setengah jam aku menunggu nike menghabiskan makanan sebanyak ini, sedangkan aku? Hanya disuguhi es teh saja. Dasar gadis aneh, juga rakus.
"Bentar, nih tinggal tahu crispy-nya"
Jawabnya dengan menunjukan piring kecil berisi tahu yang sudah dipotong kecil-kecil dan ditaburi bumbu crispy.
Aku menghela nafas kasar, yang membuatnya melirik kearahku. Kemudian meringis dengan wajah innocent-nya. Hfftt. Wajah itu, selain tingkah anehnya, aku baru tau dia selalu mengeluarkan jurus wajah innocentnya ketika menghadapi orang dingin macam aku.
"Selesaii"
Teriaknya yang membuatku tersentak, kini aku bisa melihat 4 piring yang tadi penuh dengan makanan, sekarang sudah kosong dan tak tersisa sama sekali.
Anak ini seberapa besar perutnya sih, yang aku tahu dia tidak gemuk bahkan terlihat kurusan. Em lebih tepatnya langsing dan ideal untuk ukuran tingginya.
Apa dia tidak memikirkan orang disampingnya? Tidak ada tawaran makanan yang dia santap sedikitpun. Dasar rakus.
Dengan cepat aku berdiri dan berjalan meninggalkan kantin, nike yang masih meminum es-nya segera bergegas mengikuti langkahku.
"Kenyang?"
Tanyaku penasaran dengan kondisi perut gadis ini.
"Sebenarnya masih mau nambah gado-gado sih. Tapi berhubung lagi sama kamu, gak jadi deh"
Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar, aku tau dia pasti sedang membayangkan makanan itu.
Karena melihat jawabannya yang mustahil untuk seorang gadis memakan makanan sebanyak itu, aku melongo melihat kearahnya.
Dan... Wajahku yang sangat jarang aku tampakkan itu berhasil dilihatnya. Pasti aneh banget rasanya.
Dan benar dugaanku, dia tertawa terbahak-bahak setelah melihat muka konyolku itu.
"Yaampun, yaampuun. Ternyata wajah datarmu itu bisa bikin wajah konyol gitu juga yaa? Haha. Yaampun. Gak nyangka sumpah. Ternyata.. Haha..."
Suara dehemanku yang keras pun akhirnya bisa membuat bibir kecilnya itu berhenti berkicau, meskipun tawanya masih terdengar. Namun segera dia bungkam dengan kedua tangan mungilnya.
"Maaf maaf"
Suaranya terdengar sudah terkontrol kali ini.
"Ini semua gara-gara kamu"
Iya, aku harus menyalahkannya. Tidak ada gadis manapun yang pernah melihat wajah konyolku tadi, apalagi belakangan ini dia gadis pertama, eem mungkin kedua yang berlama-lamaan denganku, dan bahkan berbincang seperti kemarin aku mengantarkannya pulang.
Iya, nike gadis yang kedua. Yang pertama adalah diana, gadis spesialku sampai saat ini. Mungkin ini juga alasanku selalu bersikap dingin kesetiap gadis. Kesalahan masa lalu yang membuatku takut, mungkin sebagai seorang cowok aku adalah cowok yang cemen, takut dengan cinta, takut berdekatan dengan gadis. Namun aku sudah mematahkan hati gadis itu, aku menyayanginya. Namun karena mataku tergiur oleh gadis lain yang bahkan hanya menginginkan ketampanannku dan kekayaanku saja. Aku sudah menyakiti gadis yang bahkan sudah tulus menyayangiku, menomor satu kan aku. Dan aku tidak berhasil untuk membujuknya kembali kesisiku, dia malah lebih memilih meninggalkanku, melupakanku dengan pergi ke luar negeri, meneruskan pendidikannya disana.
Aku menyesal telah membuatnya sakit, aku takut ketika aku mulai menyayangi gadis lain. Aku kembali menyakitinya lagi speerti yang aku lakukan pada diana.
"Devan..."
Suara kecil itu membubarkan lamunanku tentang masa lalu yang penuh dengan penyesalan.
"Iya?"
Jawabku sekenanya.
"Kamu melamun?"
Suara itu melembut, kini aku melihat matanya yang lentik sedang memandangiku.
"Tidak"
Jawabku meyakinkannya dengan senyum yang kubuat semanis-manisnya.
Dan dia ikut tersenyum manis, sangat manis.
Sebentar, aku pernah melihat senyum itu sebelumnya. Senyum yang meneduhkan, senyum yang membuatku nyaman.
Senyum itu...
Itu senyum gadis yang dimimpiku, yaaa. Aku ingat sekarang, gadis pemilik senyum manis itu adalah nike. Tapi kenapa nike ada dimimpiku? Kenapa dia menghilang?
Braakk..
Sigh, benda apa yang berdiri didepanku. Aku tidak sadar menabrak sesuatu didepanku karena melihat senyum gadis mimpiku ini.
Dan suara tawa yang tadi terdengar, kembali terdengar. Dan aku melihat senyum itu menjadi tawa, bulan sabit yang berubah menjadi setengah lingkaran dan memperlihatkan gigi putih berjejer.
"Kalok terpesona ngeliat aku, tembok-tembok jangan ditabrak juga kali"
Suara tawa kembali terdengar, kini aku mengalihkan pandanganku kearah depan yang ternyata tembok tinggi penyekat lorong kelas berhasil membuatku malu untuk kedua kalinya didepan nike.
"Belok kesini devan"
Ucapnya dengan memegang tanganku dan menarikku kearah samping kiri.
Hfftt. Aku sudah cukup malu kali ini.
Dengan cepat aku mendahului langkah nike yang sekarang sudah dibelakangku. Kembali aku memasang wajah datar dan dinginku. Kurasakan kelas disekelilingku sudah tidak berpenghuni, semua murid sudah pulang. Aku harus cepat bergegas keruang rapat. Aku tidak bisa terus-terusan disamping gadis aneh, rakus, dan gadis yang mempunyai senyum manis dimimpiku.
Bersambung part VII
*Kok males nulis cerita diblog ya-_- mending pindah di waty aja, lagi asyik baca cerita diwaty juga sih. Eem tapi harus nyelesaiin cerita ini kayaknya. Hfft. Labil*
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu