Langsung ke konten utama

He is still distract (6)

"Sudah belum makannya?"
Sudah setengah jam aku menunggu nike menghabiskan makanan sebanyak ini, sedangkan aku? Hanya disuguhi es teh saja. Dasar gadis aneh, juga rakus.

"Bentar, nih tinggal tahu crispy-nya"
Jawabnya dengan menunjukan piring kecil berisi tahu yang sudah dipotong kecil-kecil dan ditaburi bumbu crispy.

Aku menghela nafas kasar, yang membuatnya melirik kearahku. Kemudian meringis dengan wajah innocent-nya. Hfftt. Wajah itu, selain tingkah anehnya, aku baru tau dia selalu mengeluarkan jurus wajah innocentnya ketika menghadapi orang dingin macam aku.

"Selesaii"
Teriaknya yang membuatku tersentak, kini aku bisa melihat 4 piring yang tadi penuh dengan makanan, sekarang sudah kosong dan tak tersisa sama sekali.

Anak ini seberapa besar perutnya sih, yang aku tahu dia tidak gemuk bahkan terlihat kurusan. Em lebih tepatnya langsing dan ideal untuk ukuran tingginya.
Apa dia tidak memikirkan orang disampingnya? Tidak ada tawaran makanan yang dia santap sedikitpun. Dasar rakus.

Dengan cepat aku berdiri dan berjalan meninggalkan kantin, nike yang masih meminum es-nya segera bergegas mengikuti langkahku.

"Kenyang?"
Tanyaku penasaran dengan kondisi perut gadis ini.

"Sebenarnya masih mau nambah gado-gado sih. Tapi berhubung lagi sama kamu, gak jadi deh"
Ucapnya dengan mata yang berbinar-binar, aku tau dia pasti sedang membayangkan makanan itu.
Karena melihat jawabannya yang mustahil untuk seorang gadis memakan makanan sebanyak itu, aku melongo melihat kearahnya.

Dan... Wajahku yang sangat jarang aku tampakkan itu berhasil dilihatnya. Pasti aneh banget rasanya.
Dan benar dugaanku, dia tertawa terbahak-bahak setelah melihat muka konyolku itu.

"Yaampun, yaampuun. Ternyata wajah datarmu itu bisa bikin wajah konyol gitu juga yaa? Haha. Yaampun. Gak nyangka sumpah. Ternyata.. Haha..."

Suara dehemanku yang keras pun akhirnya bisa membuat bibir kecilnya itu berhenti berkicau, meskipun tawanya masih terdengar. Namun segera dia bungkam dengan kedua tangan mungilnya.

"Maaf maaf"
Suaranya terdengar sudah terkontrol kali ini.

"Ini semua gara-gara kamu"
Iya, aku harus menyalahkannya. Tidak ada gadis manapun yang pernah melihat wajah konyolku tadi, apalagi belakangan ini dia gadis pertama, eem mungkin kedua yang berlama-lamaan denganku, dan bahkan berbincang seperti kemarin aku mengantarkannya pulang.

Iya, nike gadis yang kedua. Yang pertama adalah diana, gadis spesialku sampai saat ini. Mungkin ini juga alasanku selalu bersikap dingin kesetiap gadis. Kesalahan masa lalu yang membuatku takut, mungkin sebagai seorang cowok aku adalah cowok yang cemen, takut dengan cinta, takut berdekatan dengan gadis. Namun aku sudah mematahkan hati gadis itu, aku menyayanginya. Namun karena mataku tergiur oleh gadis lain yang bahkan hanya menginginkan ketampanannku dan kekayaanku saja. Aku sudah menyakiti gadis yang bahkan sudah tulus menyayangiku, menomor satu kan aku. Dan aku tidak berhasil untuk membujuknya kembali kesisiku, dia malah lebih memilih meninggalkanku, melupakanku dengan pergi ke luar negeri, meneruskan pendidikannya disana.

Aku menyesal telah membuatnya sakit, aku takut ketika aku mulai menyayangi gadis lain. Aku kembali menyakitinya lagi speerti yang aku lakukan pada diana.

"Devan..."
Suara kecil itu membubarkan lamunanku tentang masa lalu yang penuh dengan penyesalan.

"Iya?"
Jawabku sekenanya.

"Kamu melamun?"
Suara itu melembut, kini aku melihat matanya yang lentik sedang memandangiku.

"Tidak"
Jawabku meyakinkannya dengan senyum yang kubuat semanis-manisnya.
Dan dia ikut tersenyum manis, sangat manis.
Sebentar, aku pernah melihat senyum itu sebelumnya. Senyum yang meneduhkan, senyum yang membuatku nyaman.
Senyum itu...
Itu senyum gadis yang dimimpiku, yaaa. Aku ingat sekarang, gadis pemilik senyum manis itu adalah nike. Tapi kenapa nike ada dimimpiku? Kenapa dia menghilang?

Braakk..
Sigh, benda apa yang berdiri didepanku. Aku tidak sadar menabrak sesuatu didepanku karena melihat senyum gadis mimpiku ini.

Dan suara tawa yang tadi terdengar, kembali terdengar. Dan aku melihat senyum itu menjadi tawa, bulan sabit yang berubah menjadi setengah lingkaran dan memperlihatkan gigi putih berjejer.

"Kalok terpesona ngeliat aku, tembok-tembok jangan ditabrak juga kali"
Suara tawa kembali terdengar, kini aku mengalihkan pandanganku kearah depan yang ternyata tembok tinggi penyekat lorong kelas berhasil membuatku malu untuk kedua kalinya didepan nike.

"Belok kesini devan"
Ucapnya dengan memegang tanganku dan menarikku kearah samping kiri.

Hfftt. Aku sudah cukup malu kali ini.
Dengan cepat aku mendahului langkah nike yang sekarang sudah dibelakangku. Kembali aku memasang wajah datar dan dinginku. Kurasakan kelas disekelilingku sudah tidak berpenghuni, semua murid sudah pulang. Aku harus cepat bergegas keruang rapat. Aku tidak bisa terus-terusan disamping gadis aneh, rakus, dan gadis yang mempunyai senyum manis dimimpiku.

Bersambung part VII

*Kok males nulis cerita diblog ya-_- mending pindah di waty aja, lagi asyik baca cerita diwaty juga sih. Eem tapi harus nyelesaiin cerita ini kayaknya. Hfft. Labil*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...