Siapa aku? Yang hanya diam ketika melihatmu, yang hanya menatap punggung indahmu berlalu.
Yang selalu rindu mengetahui setiap harimu.
Jangan tanya rasaku, aku hanya ingin pendam rasa ini tanpa kau tahu. Aku lebih suka melihatmu jauh tanpa kau mendekat. Aku lebih suka berjalan dibelakangmu, melihat setiap langkah kakimu yang indah. Bukan berjalan disampingmu dan saling bertumpu tangan.
Jangan pernah mendekat meski kau lambat laun akan tahu rasaku yang sesungguhnya. Sungguh, jangan lakukan itu. Biarlah bersikap seperti saat kau masih belum tahu apa-apa tentang perasaanku.
Aku hanya ingin menyimpan rasa ini sendiri, sendiri! Jangan pernah mendekat hanya karena iba-mu. Hanya karena kau takut menyakiti hati yang diam-diam selalu memperhatikanmu.
Aku yakin, lelaki mudah menyayangi namun juga akan lebih mudah melebur rasa sayang itu. Apalagi dengan bermodal rasa iba.
Aku hanya ingin rasa ini tetap. Aku tak mau rasa ini bertambah berlebihan melebihi rasa cintaku kepada ya Rabb.
Jika diperbolehkan, aku lebih memilih melebur rasa ini ya Allah.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu