-Nike pov-
Hffttt. Akhirnya selesai juga saat-saat melelahkan ini. Serasa makanan yang habis kulahap tadi sangat cepat tercerna, sampai-sampai sekarang sudah lapar kembali. Huu dasar nike, emang dari sananya kali, setiap jam selalu makan..
Sekarang aku sudah dipos satpam sekolah, dan yang harus kufikirkan apa aku pulang sendirian naik angkot? Ini sudah malam. Apalagi sekarang banyak isu kalau diangkot itu.... Hii serem bayanginnya.
Oke, daripada mikir aneh-aneh gak jelas mending telfon kak inka buat jemput. Ide cemerlang bukan?
Tut tuut..
"Halo ada apa ke?"
Cepat sekali kak inka ngangkat telfonnya.
"Kak jemput doong, aku disekolah nih ada rapat kayak kemaren"
"Duuh ke, mintak anter temenmu yaa. Kak inka lagi tugas praktek di klinik niih"
"Yaelah kak, aku gak segitu akrab sama manusia-manusia ini. Yaudah yaudah, aku naik angkot aja kalok gitu"
Tut tut tut.
Segera aku matikan handphone buluk kesayanganku ini. Dengan terpaksa aku harus mencari angkot, hfft. Semoga aku baik-baik saja sampai rumah.
"Kamu ngapain disini?"
Suara berat yang sudah cukup kukenal mengejutkanku. Aku segera menoleh kesumber suara itu, dan bisa kutebak dia devan.
Ooh sebentar
Bukan devan bukan.
Kak rion?
Apa semirip itu suaranya dengan devan? Sampai-sampai aku mengiranya devan. Aah nike, kamu terlalu berharap yang menyapamu tadi devan.
Bibirku mengembang dengan sendirinya, entah setiap berhadapan dengan kak rion aku lebih mudah senyum.
"Selesai rapat buat pra hut sekolah kak. Kak rion ngapain disekolah malem-malem gino? Eeh, atau jangan-jangan kak riooonnn...."
"Jangan bilang pikiranmu yang aneh-aneh"
Kini wajah masam kak rion akhirnya nampak juga, aku suka melihatnya seperti ini. Karena memang kak rion selalu murah senyum, dan bahkan semua cewek yang mengaguminya sudah mendapat senyum manisnya itu. Eeh kak rion udah kayak tebar pesona aja.
"Siapa sih yang pikiran aneh-aneh, orang aku mau bilang jangan-jangan ada barang yang ketinggalan kok, iissh.. Suudzon aja siih"
Aku kembali mengeluarkan cengengesan yang menurutku sangat manis, bahkan devan saja suka melihat cengengesanku. Aah gilak, mana mungkin.
"Dasar pikiranmu kak yang aneh-aneh"
Tambahku lagi, aku sangat suka jika membuat wajah sok tebar pesona itu berubah menjadi masam.
Aku dan kak rion memang cukup akrab, entah darimana aku bisa berkenalan dengan cowok macam ini. Dia tampan sih, tapi masih kalah sama devan loh ya, devan mah nomor satu. Tapi kak rion lebih mudah nampakin senyumnya, jauh berbeda dengan devan yang irit senyum.
Helaan nafas keras terdengar dari hidung mancung milik kak rion.
"Terserah!"
Ucapnya yang seketika membuatku tertawa geli.
"Padahal aku mau ajak pulang bareng, tapi gara-gara dibully kayaknya gak jadi deh"
Dan ucapannya berhasil membuatku berhenti tertawa.
"Loh kak.. Aku ikut pulang bareng doong"
Rengekku pada manusia tegap didepanku yang tinggiku hanya sedadanya, badannya ternyata lebih bidang dibandingkan devan. Sebentar Apa maksudnya aku membandingkan mereka berdua?
"Tidak mau, sebelum kamu cabut itu omongan"
Jawabnya dengan memalingkan wajahnya dan menyedekapkan kadua tangannya diatas dada bidangnya. Aiish kenapa nih kakak-kakak jadi sensitif gini? Apa dia belun minum obat PMS? Sebentar sebentar, dia cowok nikee.
"It's oke it's oke, no problem. Aku cabut"
Dengan nada keras sambil berjinjit aku mengatakan kalimat itu tepat ditelinganya.
-Devan pov-
Kini aku sudah berada dikamar, dan masih teringat dengan senyum gadis dimimpiku yang belakangan ini sangat mengganggu fikiranku. Apalagi sekarang yang aku tahu senyum itu milik nike, gadis aneh yang menyebalkan karena wajah innocentnya. Apa maksud ini semua? Ada apa nike denganku? Kenapa dia kini memenuhi setiap fikiranku, bahkan aku bisa tidak bersikap dingin didepannya. Dia merubah diriku setiap bersamanya.
Haaaass.. Apa yang aku fikirkan sekarang, kenapa nike lagi yang ada difikiranku.
Oh ya, bagaimana kabar nike sekarang. Apa dia sudah pulang?
Sebentar, bagaimana caranya dia pulang? Apa dia naik angkot malam-malam seperti ini? Atau dia sudah dijemput? Kenapa aku tidak berfikiran mengantarnya tadi.
Dan tidak bisa dipungkiri, tiba-tiba rasa khawatir sudah benar-benar menghantui perasaanku. Akhirnya aku mempunyai inisiatif untuk menghubunginya. Nomor telfon yang dulu aku simpan hanya untuk kepentingan rapat, sekarang aku hubungi untuk mencari tahu tentang keadaannya. Keadaan gadis pemilik senyum dimimpiku.
Tut tut...
Tidak ada jawaban sama sekali.
Tut tut...
"Halo... Devan ada apa?"
Suara ceria bisa aku dengar sekarang, kini aku sedikit lega mendengar suara yang sepertinya tidak terjadi apa-apa itu.
"Emm.. Kamu sudah pulang?"
Tanyaku menahan malu, bagaimana tidak. Aku yang terlihat dingin, kini malah menanyakan kabar ke seorang gadis.
"Sudah kok tadi diantar sama kak rion"
Jawaban yang membuat detak jantung tiba-tiba berhenti sejenak, kali ini aku rasakan wajahku terasa panas. Kenapa kak rion? Bagaimana dia bisa kenal dengan cowok tampan itu? Yang setahu aku dia sangat murah senyum, apa nike menyukainya? Sedangkan dibandingkan denganku yang dingin, aku tidak ada apa-apanya dengan kak rion.
"Devan? Masih idup kan?"
Suara cempreng itu terdengar sedikit dikeraskan.
"Masih"
Jawabku seadanya, ada perasaan sedikit kecewa. Kenapa harus kak rion yang mengantarkan nike pulang, cowok tampan itu bisa saja mendapatkan hati nike dengan mudah.
"Emm. Yasudah dev aku mau ngerjain tugas dulu ya"
"Iya, maaf ganggu"
"Iya, eeh kenapa telfon aku? Nanyak udah pulang belum lagi. Haha.. Kawatir ya sama aku. Ngaku deh"
Suara itu lebih terdengar sangat panjang berkata.
"Jangan banyak bicara, matikan telfonnya dan belajar"
Sebenarnya memang aku menghawatirkan keadaanmu nikee.. Tapi bagaimana aku mengatakannya, aku takut malah kau tertawakan. Hfftt.
"Iissh yasudah iyaa"
Tut tut tut..
Apa nike marah? Dia matikan telfonnya begitu saja, tanpa meminta ijin dariku. Emm, tapi yang menyuruh mematikan telfonnya kan memang aku. Haass, dasar devan. Kenapa juga aku harus memikirkan gadis aneh itu.
Bersambung part VIII
*gak konsen banget kali ini, entahlah cerita tadi nyambung atau gak, sama yang sebelumnya.
Berharap yang nganterin nike itu devan, eeh malah kak rion. Aah terserahlah yaa. Suka-suka aku juga.*
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu