Langsung ke konten utama

Kerja keras?

Menurut kalian kerja keras itu apa? Kerja yang ngebut-ngebutan? Yang setiap waktu hanya dibuat kerja? Gitu?
Kerja keras itu kerja yang juga bisa bagi waktu. Ada waktunya untuk istirahat, dan juga untuk beribadah. Sekarang untuk apa bekerja keras? Banting sana banting sini, tapi yang nentuin rezeki manusia hanya Allah SWT. Sedangkan kalian saja tidak pernah mengingat-Nya. Apa kerja keras kalian ada hasilnya? Oke jika memang ada. Tapi apa merasa puas? Tidak kan? Memang manusiawi, kita manusia diciptakan memiliki nafsu. Tapi setidaknya kita mengingat bahwa rezeki ditangan Allah yang maha segalanya, rezeki bisa saja diberi dan diambil kembali.
Memang aku masih remaja yang baru ingin memulai kesuksesan, belum tahu apa itu kerja keras, susahnya mencari uang untuk kebutuhan hidup. Tapi apa salahnya sejak sekarang, hal itu diimbangi dengan ibadah kepada Sang pemilik segalanya?

Oke, aku cuman mencoba merevisi kembali apa itu kerja keras, dan yang aku jelaskan tadi itu hanya menurutku. Karena aku baru saja terenyuh akan suatu kejadian, dimana seseorang bekerja keras pagi siang sore malam tanpa jeda. Tapi tidak memikirkan kesehatannya, hanya memikirkan mencari uang untuk keluarganya, untuk anak-anaknya. Dan sekarang, cobaan menimpanya. Kesehatannya memburuk dan drop seketika itu juga.

It's oke it's oke, aku hanya mengingatkan saja ya kawan. Tidak selamanya bekerja itu harus mempeng, beri sedikit waktu untuk beristirahat. Dan jangan pernah tinggalkan sholat ya kawan :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...