Sudah kuduga, sejak awal semuanya hanya aku yang memakai hati. Tidak dia, tidak sama sekali. Dan bodohnya aku yang masih terus melanjutkan rasa itu. Sekarang? Nyatanya? Buktinya?
Sesak, sesak, sesak. Dengan mudah bilang hal yang membuat mata menjalar panas ketika harus membaca kalimat itu. Kalimat yang selama ini aku takuti.
Seharusnya aku sudah menyadari itu, bahkan pertemuan itu? Dia sudah tidak lagi punya rasa, dan bahkan aku tidak mengetahui semua itu. Senyum palsu itu, aku bahkan tidak bisa melihat kepalsuan itu.
Aku tidak mengerti pikirannya! Tidak!
Aku sudah mencoba mengalah deminya. Mereda egoisku deminya. Tapi balasannya? Haha sukses ya sudah pintar sekali buat sakit! Sukses.
Sangat sangat sangat kecewa!
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
kata katanya keren
BalasHapusterimakasih 😌
BalasHapus