Langsung ke konten utama

He is still distract (8)

-author pov-

Sudah beberapa minggu para anggota acara pra hut sekolah menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan untuk hari dimana sekolah mereka bertambah usianya. Dan beberapa hari lagi acara itu akan terlaksana. Semoga sukses...

Devan yang menjadi ketua panitia sekaligus sie perlengkapan begitu sibuk diantara anggota-anggota lainnya, meskipun begitu dia tidak terlihat kelelahan sama sekali. Memang dasarnya pekerja keras kali yaa.

Dan belakangan ini pula dia terlihat lebih murah senyum, tetapi hanya dengan nike. Jam-jam istirahat saja devan tidak segan-segan untuk mengajak nike makan dikantin. Devan terlihat begitu akrab dengan nike, padahal semua orang tahu bahwa devan tidak semanis itu terhadap gadis, apalagi gadis seperti nike yang notabennya hanya murid biasa yang tidak memiliki prestasi apapun.

"Devan..."
Panggil nike yang sejak tadi duduk disamping devan setelah selesai menghabiskan porsi besar seperti biasanya.

"Iyaa"
Jawab devan singkat dengan mengangkat dagunya kearah nike, namun matanya tetap terfokus kearah ponselnya. Dia terlihat serius memainkan game. Aah di kira devan orang yang hidupnya datar? Dia juga seperti teman cowok lainnya yang juga menyukai game online.

"Lu ngerasa gak? Kalok lagi diliatin banyak cewek"
Bisik nike ke devan dengan bahasa yang jauh dari formal. Sifat anehnya yang dulu diperlihatkan setiap berdekatan dengan devan kini berangsur-angsur hilang, kini dia lebih merasa nyaman setiap didekat devan sang manusia dingin itu.

"Udah biasa kali"
Ucap devan yang bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Iissh pede lu, gue baru nyadar aja. Lu gak ganteng-ganteng amat tapi yang merhatiin banyak banget"
Ucap nike yang berhasil membuat pandangan devan beralih.

"Apa? Gak ganteng-ganteng amat? Bilang aja kalok lu sirik"
Pandangannya kembali kearah ponsel.

"Ya kalee, gue iri sama cowok"

"Bilang aja kalok lu juga kayak mereka"
Ucap devan datar

"Apa?"

"Lu sebenernya juga diem-diem merhatiin gue kan?"
Ucapan devan benar-benar membuat nike kicep.

-Nike pov-

Mati daah.. Bagaimana dia bisa baca pikiranku. Jangan-jangan selama ini dia sudah tau kalau aku memperhatikannya secara diam-diam.

"Apaan sih lu.. narsis lu bisa diturunin dikit gak tingkatannya? Mana mungkin gue merhatiin lu diem-diem"

Yaak siip. Semoga dia tidak memperpanjang topik pembicaraan yang menyudutkan aku ini. Aku tidak bisa lagi kalau harus berbohong.

"Iya lah mana mungkin, kan lu merhatiin diem-diemnya ke kak rion"
Ucapnya datar yang spontan membuatku menganga.

Bagaimana dia bisa berpikiran aku memperhatikan kak rion secara diam-diam? Kalau bertemu saja begitu mudah dengannya.

"Kok ke kak rion segala? Ya gak perlu merhatiin diem-diem lah. Tinggal kerumahnya aja kalok pengen merhatiin"
Kini berganti dengan devan yang menganga, malah lebih lebar dariku tadi. Tingkahnya ini sering aku lihat belakangan ini sejak dekat dengan devan. Dekat? Mungkin hanya berteman.

Kulihat bibir si pemilik wajah datar itu kembali seperti semula, dan alisnya beradu. Seperti dia butuh kejelasan mengenai kata-kataku tadi. Aku mengangkat kedua bahuku, menandakan tidak ada yang perlu dijelaskan.

Helaan nafas kasar bisa aku dengar jelas dari devan.

"Bagaimana bisa kamu mengetahui rumah kak rion? Sedekat apa kalian?"
Ucapnya dengan bahasa sedikit formal seperti awal aku berbicara dengannya. Ada yang aneh...

"Dekat laah"
Memang, memang aku dekat dengan kak rion. Apa ada yang salah?

Hening...
Aku menoleh kearah suara yang tadi sedang mengajakku berbicara, namun tidak ada sautan lagi.

"Ada apasih? Ada yang aneh?"
Tanyaku memastikan.

"Kalian pacaran?"

"What? Huahahahaha..."

Mungkin suara tawaku yang secara tiba-tiba ini membuat semua manusia yang ada dikantin ini terkejut, dan memang benar. Semua melihat kearahku dengan wajah bingung. Dan segera ku kecilkan volume suaraku. Hfftt dasar nike, memalukan sekali. Tidak ada anggun-anggunnya didepan devan.

Bahkan saat aku menoleh kearah devan, dia terlihat memasang wajah dinginnya. Padahal aku tahu dia sangat malu.

"Maaf maaf" ucapku dengan suara yang sudah terkontrol.
"Kamu bilang apa tadi? Pacaran? Hahaha" tawaku lagi-lagi tidak bisa ku bendung.
Bagaimana devan bisa berfikiran kalau aku pacaran dengan kak rion. Mustahil banget kali.

Namun wajahnya tetap datar, oke. Dia kenapa?

Tet tet tet.
Bel 3x, artinya semua murid harus masuk kekelas, kembali mengikuti pelajaran. Karena waktu istirahat sudah habis. Yaelaaah, baru aja ngomong dikit sama devan udah buru-buru aja masuk. Hfftt.

"Kok udah masuk sih"
Gerutuku.

"Kelamaan makan"
Ucap devan dengan nada datar sedatar-datarnya. Kini dia sudah berdiri dan siap-siap untuk berjalan menjauh.

Aiissh si devan kenapa sih? Padahal biasanya balik kekelas bareng sama aku, ya walaupun kelasnya beda. Dia terpilih memasuki kelas unggulan, dimana murid-murid pintar berkumpul. Sedangkan aku dikelas reguler, aah tidak apa yang penting wajahku tidak semengerikan wajah penghuni kelas unggulan yang mungkin efek karena pelajarannya yang sedikit lebih sulit.

Tiba-tiba gadis yang selalu terlihat centil didepan devan kini sudah melingkarkan lengannya dilengan kekar milik manusia dingin itu, karin. Sejak kapan dia menggandeng devan. Aiissshh.. Sakit ini hati.

Aku yang masih duduk dibangku kantin segera menghampiri mereka dan berjalan dibelakangnya. Dan kulihat devan dengan wajah datarnya masih membiarkan karin bergelayut dilengannya, padahal yang aku lihat selama ini dia selalu berusaha menghindari karin setiap mencoba mendekatinya.

Aaaahhh sebeeeel, kenapa devan gak mikirin perasaanku sama sekali siih. Sakiit tau gak. Eeh tapi aku siapa devan mintak dingertiin perasaanya.  Aah devaaan. Pengen jitak itu kepala dari belakang.

Bersambung ke part IX

Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan komentar kamu

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...