Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Tentang caranya

 Ditengah perjalananku menuju sebuah kilau, bintang dengan sinarnya menghentikanku. Ia mengatakan bahwa sudah saatnya aku menepi, sudah saatnya aku membuka ruang untuk seseorang yang kusebutnya bintang. Terdengar begitu singkat dan cepat, namun ia membuatku yakin bahwa tidak ada yang bercanda dalam usahanya, tidak ada yang main-main ditiap katanya. Meski terkadang ketakutan itu masih menghantui, namun perlahan aku bisa membuka ruang untuknya. Ia begitu pandai dalam membuatku hanyut akan rasa nyaman. Tentang caranya; aku tidak dapat mendeskripsikan, yang aku tau banyak kejutan hingga terkadang aku sendiri merasa aneh; kenapa ia bisa berfikir seperti ini, melakukan hal ini, dan menentukan tentang ini. Satu hal saja masih belum sempat selesai aku terka, namuun hal lain lagi-lagi membuatku merasa meleleh. Ah ayolah, aku bisa benar-benar jatuh nantinya. Tanpa terelakkan, aku masih berhati-hati. Ada rasa takut yang lagi-lagi aku tidak dapat mengartikannya. Entah itu karena dari perasaank...

Hari ke-14 : Kukira Kamu Seperti Senja

Ku kira senja berubah rasanya ketika kamu telah pergi, Tapi sore ini dia nampak masih memukau dan tetap hangat meski tuannya telah lama pergi bersama pagi. Tuan, lihat lah. Senja tak sepertimu, yang pergi saat bahagia dan datang saat lelah. Aku tak menyalahkanmu, tentang luka, pengorbanan, dan air mata. Tidak pernah kutau, bagaimana sesungguhnya dirimu ketika aku masih berjalan menuju arahmu. Mungkin saja kamu lebih terluka dariku, Mungkin saja kamu lebih tertatih dariku, Mungkin saja kamu lebih berdarah-darah dariku, Mungkin saja. Saat itu aku sibuk berjalan kearahmu, dengan pengorbananku. Sehingga aku tidak tau bagaimana keadaanmu. Yang kutau sekarang, kamu sudah tak mau lagi berjuang. Pengorbananku selama ini, menjadi sia-sia terbuang. Tapi tak mengapa. Kamu mengajariku, meski kamu telah pergi, namun orang-orang baik masih bersamaku. Merangkulku, dan menjadi tamengku yang sebenarnya kuharap adalah kamu.

Hari ke-13 : Menitik Hentikan

Selamat malam, Tuan. Apakah aku masih boleh berharap akan kita yang bisa bersama lagi?  Atau memang sudah seharusnya aku menitik hentikan kejenuhan ini ditengah jalan, dan berjalan menuju ujung dengan rasa yang hambar. Aku masih berharap, tapi aku juga sedang berjuang melupakanmu. Jadi sebaiknya aku harus seperti apa? Kamu sudah tau tentangku, Tentang seperti apa dan bagaimana kehidupanku, Dan karena itu, kamu hanya meletakkanku pada barisan orang yang menjadi cadangan, bukan pilihan. Sedangkan bagiku? Bagiku kamu seseorang yang penuh dengan kesempurnaan, hingga tidak sadar bahwa perasaanku telah jauh mengharapkan.  Aku tau, hati ini nantinya tetap akan patah. Tapi aku masih saja keras kepala memperjuangkanmu hingga terluka. Tuan, selamat malam. Setidaknya kamu tau bahwa aku masih ada diambang antara; bertahan atau melepaskan.

Hari ke-12 : Hari spesial bagimu

Aku ingat hari ini, Hari spesial tiap tahunnya bagimu, Beberapa tahun lalu aku masih sering memberi kejutan, dari hal yang tak terduga sampai yang bisa kamu tebak.  Aku kira hari ini akan sama seperti sebelum-sebelumnya, tapi ternyata tidak ya Tuan. Hari ini akan berlalu, seperti kamu yang sudah tidak ada kabar. Meski sebenarnya kamu masih ada, tapi rasanya sudah hambar. Hari dimana, sebelum aku benar-benar kehilanganmu. Berusaha membuat hari itu menjadi sangat spesial bagimu, hingga kamu akan selalu teringat bahwa pernah ada aku yang mengisi hatimu, meski tidak sepenuhnya. Hari dimana, aku masih berusaha mengikhlaskanmu. Ketika aku sudah tau, bahwa kita akan berpisah cepat atau lambat. Hari dimana, kamu masih menetap dan rela kutahan sebelum kembali kerumahmu yang sesungguhnya. Mengisi hari itu menjadi menakjubkan dan penuh hikmat, bersama lilin-lilin kecil dan kue ala kadarnya. Hari dimana, terakhir kali kamu mendekapku, dan membisikkan kata cinta, yang kutau bukan seutuhnya untu...

Takdir tidak pernah mengakhiriku

Entah mulai sejak kapan, hal yang menurutku sulit untuk dilakukan, ternyata lambat laun bisa kujalani, yaitu; mengikhlaskanmu. Bait demi bait seluruhnya tergores karenamu, sempat aku takut bagaimana jika kepergianmu membuatku kehilangan rasa percaya diri untuk bercerita. Tapi setelah berjalan cukup jauh, dan tanpa disengaja bukan kamu lagi yang menjadi alasanku menggoreskan pena, bukan sosokmu yang menjadi acuanku mengenang, bukan.  Ternyata aku bisa berdiri sendiri. Cerita tentangmu telah usai seperti usia hubungan yang tak pernah dimulai ini. Kita kembali pada satu hubungan pada umumnya; teman. Dan aku jauh lebih menyukainya, daripada berada dalam persembunyian. Sempat hancur berkeping-keping, ternyata bukan alasanku juga untuk bisa membencimu. Meskipun sedikit menyedihkan, tapi tidak ada yang disesalkan. Aku yang dulu pernah mencintaimu, akan tetap percaya rasa itu. Dan aku yang sekarang mengikhlaskanmu, sangat percaya bahwa takdir tidak pernah mengakhiriku.

Hari ke-11 : Apa alasan seseorang kembali?

Apa alasan seseorang kembali, ketika mengaku pergi karena dikecewakan? Bahkan, saat itu. Seolah telah melakukan kesalahan besar hingga dihakimi dan tidak ditempatkan pada sudut manapun dalam hatinya. Sedangkan saat itu, aku hanya berkata jujur. Dan berharap bisa diterimanya. Satu hal yang membuatku tercengang dan terpuruk, namun lambat laun berusaha kumaklumi. Memang tidak mudah menerima kejujuranku, ya. Pada akhirnya, hal-hal itu terjadi berulang kali, pada orang yang berbeda. Dan sekarang, aku mulai terbiasa, mulai bisa berdamai dengan keadaan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa dia kembali setelah merasa dikecewakan oleh orang jahat sepertiku?  Kenapa dia ikut barisan orang-orang yang mengantri bertamu, sedangkan kenyataan itu sudah didengarnya.

Hari ke-10 : Sedang kenyataan perlu dijalani

 Perihal pasangan, akan banyak kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang ketika dia ingin bersama dengan kita. betul kan? tidak berharap, tapi lebih ke memaksa agar seseorang yang mendekat harus sesuai dengan bayangan kita. Tapi naasnya, tidak semua sempurna seperti cerita yang kita baca, atau drama korea yang kita tonton, sosok pemain laki-laki yang akhirnya menjadi patokan dalam memilih pasangan. "Akh, dia tidak bisa seperti Harist, didalam cerita Persimpangan Jalan" atau "Akh kenapa dia tidak setampan Ji Chang Wook". Secara tidak sadar, kita meminta karakter, sikap, tampang, bahkan alur cerita yang sama dengan impian kita. Namun, kita lupa. Adakah sosok seperti Ji Chang Wook, yang mau dengan kita? perempuan yang suka ngemper dipinggir jalan, kesulitan bagaimana cara table manner, atau setelah makan yang berkumur dengan air akhirnya ditelan juga. Mana ada? Sebenarnya kita pantas memilah-milih, terlepas dari sepakem apa kriteria kita. Tapi setidaknya, kita mulai ...

Kutipan kata di cerita "Persimpangan Jalan" PART 1

  Merelakan sesuatu memang bukanlah hal yang mudah, bahkan Rasulullah saja pernah jatuh dan patah hati sekaligus pada putri keempat pamannya, Abu Tholib yaitu Umm Hani’. Rasulullah begitu yakin bahwa cintanya tidak main-main dan begitu besar, namun takdir menuliskan hal yang berbeda, Umm Hani’ telah bersanding dengan Hubayroh; pria yang ketika itu terlihat lebih baik dimata keluarga pamannya. Dengan usia yang sudah seperempat abad, tidak dapat dipungkiri bahwa jatuh dan patah hati telah berkali-kali mampir, namun selayaknya orang yang ingin hidup bahagia, alur itu harus dilalui untuk menemukan yang benar-benar mendukung dalam hal “saling”. Kali ini, mungkin memang bagiannya untuk patah hati lagi. Namun, tidak menutup kemungkinan akan terbuka cinta baru, meski tidak semudah yang dikatakan. Akan ada bagian-bagian dari patah hati yang masih menyelinap, menghalangi bagian baru untuk memulai. Yah, serumit itu untuk mencari “saling”. Kenapa lama menulis di blog ini?  Sebenarnya ...

Hari ke-9 : Persoalan yang masih rumit

Hubungan jarak jauh atau bahasa lainnya LDR, menjadi persoalan yang masih rumit, dimana pada akhirnya dua orang memilih menyerah dan berakhir dengan kisah indah yang hanya melalui pesan. Tapi tidak semua yang LDR mengalami hal serupa, ada yang sampai kejenjang lebih serius hingga menikah. Ada. Tidak banyak. Hubungan yang membuat seseorang menjadi over thinking, over protektif, over sensitif, dan over over lainnya.. Berburuk sangka menjadi hal wajib, dan percaya menjadi sangat tabu bagi sepasang hubungan LDR.  Dulu sempat menggenggam dengan begitu eratnya, berharap setidaknya apa yang telah diperjuangkan tidak sia-sia. Tapi dengan tidaknya bersamamu, apa yang bisa meyakinkanku bahwa ini benar-benar cinta? Apa sekelumit perasaan itu hanya untukku? Apa tidak dibagi dengan seseorang yang ada disana, yang sangat dekat denganmu dan punya banyak waktu untukmu? Kini bukannya aku melepas genggaman itu, aku hanya sedang merenggangkan, memberi celah. Setidaknya, jika nanti kamu memilih seseor...

Hari ke-8 : Orang asing yang pernah berbagi cerita

Mungkin saja ini bukanlah daily update, tapi aku ingin meneruskan perjalanan 30 hari bersama coretanku. Waktu bergulir, membawa air hujan membasahi tanah, yang kemudian mengering kembali. Entah sudah berapa fase terjadi, dan sejak itu tidak lagi ada kabarmu. Aku tidak menunggu, aku hanya masih memikirkan alibimu setiap kembali dari menghilang. "Aku kemarin sibuk, jadi nggak kebalas pesannya.", "Pesanmu ketimbun sama grup", "Kamu kenapa nggak coba mengirim pesan lagi?" Apa mungkin kamu sedang ikut trend akhir-akhir ini; ghosting umpamanya. Sedikit terdengar keren bukan untuk sikapmu ini. Mungkin menurutmu aku keras kepala, hingga membuatmu malas dan jengah. Tapi dengar ya, aku seperti ini agar tidak ada aku lagi yang dulu. Yang selalu luluh dan percaya, kemudian dijarah. Mungkin bagimu aku kaku, hingga kamu menganggapku gagu dan batu. Tapi harusnya kamu mengerti, hal-hal yang semestinya disembunyikan tidak pantas untuk diutarakan ketika kita belum siapa-sia...

Hari ke-7 : Tanpa meminta orang lain mencintaiku

Rasanya lelah untuk mengulang lagi bercerita hal yang sama, dan lebih melelahkan ketika harus menyiapkan hati untuk kembali terluka atas respon mereka.  Tidak ada yang menyuruhku jujur, tidak ada yang memintaku untuk terus merangkai cerita agar mereka tau dan mengerti. Tapi, jujur adalah awal dari kata memulai yang sesungguhnya. Semua tidak akan berjalan baik-baik saja, jika ada setitik kebohongan.  Ini tidak seberapa, aku harusnya sudah mulai terbiasa, dan sebaiknya aku mencari kosakata yang lebih baik agar mereka mengerti tanpa aku menjelaskan lebih detail, atau mungkin lebih baik aku tidak membuka pintu saja? Tidak menerima tamu satupun, sepertinya lebih baik untuk mentalku ya? Ternyata aku masih belum siap untuk apa-apa yang akan menyakiti hatiku, aku masih ingin menikmati perjalanan ini meski tidak pernah tau akan berujung dimana. Aku masih ingin mencintai diriku sendiri, tanpa meminta orang lain mencintaiku. Berbahagialah, untuk mereka yang berbalik setelah mendengar cer...

Hari ke-6 : Dia cinta monyetku

Cinta monyet. Pasalnya cinta itu sering terjadi dimasa SMP-SMA. Hmm benar.  Dan cinta monyetku pertama kali di SMA, ya!  Aku tipikal orang yang  harus kenal dulu baru ketemu, yang harus  nyaman dulu baru jadian. Jadi intinya balik lagi ke nyaman ya.  Nah, sewaktu itu, cukup beberapa kali terjadi kenal dan jadian yang tidak bertahan lama, akhirnya di kelas 1 SMA aku mulai mengenalnya. Seseorang yang biasa saja, tapi menurutku sangat menarik, dan saat itu aku sedang berada difase bucin kebangetan. Dia orang pertama yang membuatku merasa nyaman dan nyambung saat ngobrol, yaa meskipun sering kali dia mengataiku absurd. Tapi setidaknya, aku menyukai dia yang selalu bisa mengimbangiku. Waktu berjalan cukup lama untuk umur "pacaran" dengannya, bagiku. Sampai pada akhirnya, kita sudah berada diujung yang bingung harus kemana. Maju atau berhenti. Kita berkompromi setelah beberapa hal terjadi dalam dua tahun, setelah putus-nyambung yang tidak ada hentinya.  Kita memu...

Hari ke-5 : Ada yang memilih berhenti sebelum berjalan

Ada yang memilih berhenti sebelum berjalan, bukan berbalik, ia hanya enggan untuk melangkah. Sesuatu yang dimulai, tidak selalu perlu diselesaikan. Adakalanya semua itu hanya untuk dihentikan jika sudah tidak semestinya. Membuka pintu baru bukan berarti mempersilahkan seluruh orang untuk masuk, terutama seseorang yang hanya menawarkan diri bersama dalam masa depan, dan enggan menerima sesuatu dimasa lalu. DIA TIDAK PANTAS masuk dalam kamus berjuang. Semua orang berhak memilih, bahkan orang itu. Kamu yang hanya perlu menerima bahwa tidak semua orang bisa menatap baik padamu, bahkan orang yang menyukaimu saja akan membencimu ketika kamu melakukan salah. Apalagi orang yang masih belum mengenalmu dan ingin tahu mengenaimu.

Hari ke-4 : Apa kamu merindukanku?

Aku membuka pintu, dan mendapatkan kamu sudah berdiri disana, sembari menatapku kamu mengulas senyum indah. Sapaan yang kuharap tiap pagi bisa kunikmati. Tapi pada kenyataannya, kamu bukanlah sebuah harapan. Bukannya aku menanyakan ada apa atau sedang apa kamu berada dirumahku, aku malah melontarkan pertanyaan "Apa kamu merindukanku?" seolah hanya jarak yang memisahkan kita, sedangkan sebenarnya seluruh hal didunia ini telah memisahkan. Dan masih dengan senyum itu, kamu menjawabnya dengan lugas, "Ya!" kemudian sepersekian detik sesuatu yang hangat merengkuhku. Dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukanmu. Seperti seluruh rindu itu lebur dalam satu dekapan. Aku segera menarik diri, menahan agar tak lagi jatuh pada kehangatan yang malah membuatku semakin sakit. "Kenapa? apa kamu tidak merindukanku juga?" pertanyaan itu seketika kubantah dalam hati. Siapa yang tidak merindukanmu? seseorang yang sampai hari ini masih membuatku berat membuka pintu baru, seseo...

Hari ke-3 : Berjuang

Berjuang ada banyak dalam segala hal, dan untuk para melankolis sepertiku, berjuang lebih kepada pengorbanan untuk mencapai keadaan dimana aku dan kamu bisa bersatu, menciptakan "kita". Tapi tidak hanya itu sebenarnya, perjuangan yang cukup berarti bagiku adalah menurunkan berat badan. Yah! Dimasa-masa SMA mungkin saja gemuk adalah impian, segala macam makanan disantap seolah aku bisa berhasil gemuk, tapi naasnya tidak. Berat badanku masih sekitar 45 kg, tidak ideal. Seperti awkward moment, impian aku di masa itu ternyata terjadi di 2 tahun belakangan ini. Tapi sebagai manusia, yang tidak pernah puas dengan doanya sendiri, aku menyesalkan kenapa pernah berdoa untuk menjadi gemuk.  Waktu itu beratku sudah tidak ideal lagi. Diawal tahun lalu, beratku hampir mencapai 65 kg. Baju tidak ada yang muat, ukuran normalku biasanya L, berubah menjadi XL bahkan bisa XXL. Mengalami itu, tekadku untuk gemuk seketika berbalik.  Lagi-lagi sebagai manusia, selalu merasa tidak puas.  Akhir...

Hari ke-2 : Berjalan untuk mengerti

Sebelumnya, 30 hari ini akan ada banyak cerita yang tertuang, yang mungkin saja terjadi juga pada orang lain. Perihal merelakan tanpa sempat memiliki, Ada sebagian bab yang tidak perlu dibahas, selagi itu hanya menjadi sia-sia. Sama seperti, sesuatu yang pergi sebelum dicintai.  Tidak perlu menanam, menunggu tumbuh, dan merawat sebuah perasaan, jika akhirnya pun harus ditebas. Jadi sebelum ia ingin melangkah ke dalam "rumah", ada peringatan yang harus ia ketahui. Ada hal-hal yang perlu ia mengerti, dan semuanya kembali menjadi bagian dari keputusannya. Tidak semua orang dapat mengerti, dan menerima. Dan sudah semestinya kita menjadi orang yang legowo.

Hari ke-1 : Jarak yang kusebut harapan.

Jarak yang kusebut harapan itu, menjadi bentangan jika dihitung. Ada banyak harapan, dan salah satunya bisa bersamamu, meski mustahil. Ya, bersamamu ternyata masih menjadi topik dalam rapalan doa sepertiga malamku. Meski kita terlihat begitu dekat, nyatanya banyak perbedaan yang seketika langsung memisahkan. Menjadi hamparan duka dari harapan. Tapi tak mengapa, aku masih bersikeras mengatakan ketidakmungkinan itu akan berubah. Aku percaya hal-hal yang mematahkan, juga bisa menumbuhkan. Aku percaya bahwa segalanya tidak ada yang mustahil. Jadi, aku masih bersikeras, meski aku tau bukan hal mudah untuk terus menetap dalam keadaan terluka. Selamat malam, bagi siapapun yang masih berjuang untuk bersamanya. Ingatlah tidak ada yang patah, jika bukan untuk tumbuh.

Hai, 2021!

Selamat datang tahun 2021, Terlambat ya? Sudah mau ganti bulan baru ngucapin selamat tahun baru.  Seperti tahun yang sudah-sudah, aku tidak terlalu excited, toh tidak ada yang berubah, karena doa untuk menjadi lebih baik lagi juga selalu dipanjatkan tiap hari, tidak hanya di tahun baru saja. Tapi aku baru ingat, mengkaji ulang kilas balik di tahun lalu. Seperti bermain roller coaster. Ada saatnya aku berada diatas, melangit, kemudian langsung jatuh bahkan sampai ke palung laut, kemudian terangkat oleh ombak dan terombang-ambing, sampai akhirnya aku berada di tepi pantai. Suasana yang seketika membuatku nyaman dan berhenti dari permainan. Ternyata tahun lalu, benar-benar menjadi tahun paling bermakna dari sebelum-sebelumnya. Andai jika cobaan dan nikmat itu terjadi lagi, semoga aku bukan lagi orang yang mengeluh dan lupa padaMu. Semoga aku dapat melewatinya tanpa menghilangkan namaMu, tanpa lari dari sajadah tempatku bersujud. Allah begitu baik, menempatkan aku pada keluarga yang ma...

Tempat bersemayamnya cerita sendu

Luka itu menyamar jadi filantropi, kemudian mengubahnya perlahan menjadi semakin rumit. Ada bab dimana sulit membedakan mana yang dari hati, dan mana yang hanya berkelakar. Semuanya kamu bungkus dengan begitu sempurna. Berbaik karena harap diberi, mampu kamu jalankan dengan drama yang apik. Hingga lupa, pada saat itu tempatmu kembali ada diseberang jalan. Bukan disini, bukan dirumahku, bukan disampingku, bukan dihatiku.  Dan sebagai rumah yang kamu singgahi, aku masih membuka pintu, membawamu terus menjelajah hingga ke inti paling dalam, yaitu relung. Dimana tempat itu bersemayam cerita sendu yang akan sulit diurai, ketika kamu mulai memasukinya. Dan naasnya, kamu masuk kesana. Menggoreskan sedikit demi sedikit sebuah cerita, hingga menganak ruah.  Tak hanya itu, kamu juga menanam sebuah biji dengan segala macam cinta disana. Dengan cepat, kamu membentuk rumah sendiri direlung yang ada di hatiku.

Terimakasih untuk secuil bahagia, yang banyak dukanya

Kali ini, seluruh hal tentangmu menjadi sangat menyebalkan- Tapi setitik manis membuatmu sangat mengesankan. Terimakasih untuk secuil bahagia, yang banyak dukanya. Tidak ada yang baik-baik saja setelah ini, setelah kamu kembali ke rumah. Tapi, aku menjadi penyabar untuk menanti pertemuan itu lagi. Yang kutau, akan mengucurkan banyak cuka diatas luka, namun aku seperti acuh dan kebal. Kamu yang dalam sekali waktu mampu membuatku bersedih sekaligus bahagia. Yang tadinya menangis karnamu, menjadi tertawa karnamu juga. Aku sampai merasa seperti bayi yang lelap dalam tidurnya. Entah sampai kapan ini semua. Yang kutau, kamu terus berjanji, hingga dinding yang kubuat menghitung sudah roboh oleh banyaknya goresan. Seolah hal biasa bagimu mengucap janji, untuk diingkari.  Rangkullah aku sejenak malam ini, kuarkan rindu yang membuatmu terlihat sangat menyebalkan. Aku membencimu, tapi untuk melakukannya aku tidak bisa. Aku masih meraih tanganmu untuk melangkah,  Aku masih menyambut peluk...

Definisi "berdua"

Sempat mengira segala yang disemogakan olehmu adalah aku. Sempat menarik senyum mendengarmu berkhayal indahnya hidup berdua ditengah desa, yang setiap pagi membuka jendela dan menghirup udara segar, dan memandang hijaunya padi dengan sebulir air, bekas hujan semalam. Yang tidak kusadar adalah kata "berdua", yang memiliki arti berbeda bagiku dan bagimu. Setelah semuanya berlalu, wajar aku menyebut kata "berdua" adalah aku dan kamu. Tapi, bisa saja "berdua" menurutmu bukanlah aku dan kamu, melainkan kamu dengannya. Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah, telah mengartikan semuanya berkesan, padahal sebenarnya hal biasa bagimu. Tak mengapa kamu pergi dan datang, asal beri pelakat bahwa yang kamu lakukan hanyalah hal biasa, bukan istimewa seperti yang ku kira.

Jika kamu datang sebagai api

Datanglah untuk sebuah hal pasti, jangan hanya untuk menepi lalu pergi lagi. Terkadang ada takut untuk mengulang sesuatu yang pernah hilang.  Menerima dengan segala kemungkinan yang dulu terjadi lagi? Akh rasanya melelahkan bukan? Sepertinya perlu ada waktu tersendiri untuk healing, memperbaiki semuanya sendiri, sampai benar-benar tidak ada setitik celah luka, dan kamu tidak bisa mencungkilnya lagi. Dan jika bukan aku, berjanjilah; untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Persinggahan bukanlah sebuah pilihan. Karena semuanya tercipta dalam bayang semu. Menggenggam namun tak sepenuhnya memiliki. Menyakitkan bukan? Iyaa, jadi berhentilah. Dan datang jika niatmu sudah benar.  Tidak ada yang mau menjadi es, jika kamu datang sebagai api.