Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Kejutan dari Tuhan

"Bilang saja kalau lo sudah nggak percaya lagi sama gue? Atau sebenarnya sudah ada cowok lain, dan nggak mau lagi pacaran hanya alasan belaka lo kan? Gue tau sifat cewek kayak lo." Ucap laki-laki yang sedang berdiri didepan gadis, yang sama-sama memakai seragam SMA. Gadis itu terisak mendengar semua luapan amarah laki-laki didepannya. "Aku harus bilang apa lagi sama kamu, aku percaya sama kamu, dan anggapan ada cowok lain itu sangat salah. Tapi aku sadar, selama ini kita sudah menanggung dosa, kedekatan kita, panggilan sayang kita, pesan-pesan kita. Itu semua seharusnya dilakukan bagi orang yang sudah bermahram Andi, aku merasa sangat berdosa, maafkan aku kalau perpisahan ini membuatmu kecewa, tapi sebaiknya ini memang harus diakhiri. Aku berharap setelah kejadian ini, kita bisa menjadi teman." Jelas gadis dengan nama Alifah yang tertera di tagnamenya. "Teman? Kamu kira ini mudah? Aku tidak jamin itu." Jawab Andi yang langsung pergi meninggalkan Alifa...

Tuan Hujan

Kamu, tetap kamu. Dan kamu tetap kamu, coba saja kamu berubah menjadi dia, atau aku? Dia atau aku yang mempunyai hati rapuh tak sekuat karang . Baiklah, aku tidak tahu dia, aku tidak mengenal dia, dia yang berhasil mengambil simpati dan hatimu, cantik dan mungkin saja dia lebih kuat dariku, aku bersyukur kalau begitu, dengan itu dia tidak akan merasakan rasanya sakit saat melihatmu seperti ini. Tuan hujan, kamu selalu meneduhkan hatiku, selalu, bahkan sampai saat ini. Tapi kenapa kamu datang selalu dengan petir. Selalu saja, ada yang berhasil menyakitiku. Kamu kembali datang dengan rasa rindu untuk kesekian kalinya, dan dengan bodohnya aku yang selalu terjatuh didalam rasa itu, kembali mengenyam rasa sakit yang dulu berusaha aku hilangkan sejauh-jauhnya. Tapi kali ini, aku belajar secerdas dari kebodohanku, aku tidak akan membiarkanmu kembali pergi dengan rasa rindu yang terobati. Karena sampai kapanpun, aku hanya tempatmu pulang, tapi tidak untuk tempatmu menetap. Carilah seseorang ...

KAMU

Benar kata orang, apa yang dikatakan kadang tidak sejalan dengan apa yang dirasakan, seperti itu yang aku katakan dan rasakan tentang KAMU. Kamu dalam kataku sudah hilang sejak dulu, tapi dalam rasaku, bayangmu tetap saja menilik setiap inci ingatanku. Kamu dalam kataku sudah kurelakan, tapi dalam rasaku, rasa rela itu tidak berbanding dengan keinginanku yang selalu ingin terus mencari tahu tentang keadaanmu. Kamu dalam kataku sudah membuatku sakit, tapi dalam rasaku, sakit itu berawal dari rasa bahagia yang jauh lebih banyak aku rasakan dari sakitnya. Kamu bukan laki-laki yang mudah kutebak. Seperti kali ini, kehadiranmu yang sekilas benar-benar membuatku terbawa perasaan, hanya sekilas, karena kenyataan itu akhirnya datang dan kembali menyadarkanku, saat wajah gadis lain, dengan bahagianya kamu perlihatkan dan pamerkan. Hahaha, aku layak ditertawakan, dengan rasa baperku yang terlalu tinggi. Seharusnya aku sadar, aku yang memulainya, memulai semuanya dengan rasa yang asing. Tida...

Nyatanya

Tiba-tiba muncul, dan sudah sangat sangat berhasil memporak porandakan hatiku lagi, ada satu yang masih dapat aku cerna, Rindu. Ya Allah ampuni jika aku merindukan ciptaan-Mu, yang bahkan sudah tak terjamah lagi oleh ingatanku. Aku lupa dulu, tapi aku tidak pernah lupa dengan kata rindu. Ternyata kebahagian dulu hanya sekilas dan sudah tak berbekas, bahkan aku lupa darimana cara mengingatnya. Tapi ada hal dimana ingatan kebahagian akan kalah dengan ingatan yang menyakitkan. Ah sudah lupakan hal itu. Aku baru tersadar kalau sudah melewatkamu tadi, tepatnya satu jam yang lalu. Dan itu berhasil mengusik ketenangan hatiku lagi. Yang terlewatkan tadi, tidak kubiarkan begitu saja. Aku masih bisa mencarimu, meski itu hanya lewat jejaring sosial, yaa dan itu tempatku melewatkanmu. Ternyata sudah lama aku tak melihat postingan-postingan barumu, dan itu menyenangkan, apalagi jika melihat gadis kecil yang selalu kau ceritakan. Selucu itu aku merindukan gadis kecil yang belum pernah aku temui l...

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...

Kenyataan yang Menyedihkan

Begini, kau salah jika mengatakan aku sudah melupakanmu, itu persepsi yang salah bila diperuntukan untuk aku yang buktinya masih sangat sulit melupakanmu, gadis masalaluku. Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah tau susahnya menjadi aku. Membiarkan semuanya mengalir katamu? Itu masih sulit aku mengerti, membiarkan mengalir seperti apa? Menggantung seperti itukah? Apa kau masih takut dengan masalalumu yang mengecewakanmu dulu? Aku minta maaf. Tapi ternyata sikapku sekarang menyakitimu, membuatmu semakin kecewa dan berpresepsi lebih tentangku yang kau anggap sudah melupakanmu. Tapi perlu kau tahu, aku tidak semudah itu melupakanmu! Layaknya yang kau bilang. Meski aku sedang dikota baru, berkumpul dengan teman-trman baru, lingkungan baru, dan hari baru, nyatanya ada masalalu yang belum tuntas yang masih sangat terbayang. Oh ya, kalimat awalmu yang 'menjadi teman'. Aku masih bingung tentang hal itu, apa rasa yang dulu berakhir sebatas kalimat itu? Hanya teman? Lalu bagaiman...

Jalan Sendiri-Sendiri

Dulu pernah ada kata 'menjadi teman'. Tapi kata itu seperti lelucon yang sangat menggelikan setelah kita berjalan sendiri-sendiri seperti ini, apalagi kau sudah sangat jauh jaraknya, tak terkecuali komunikasi yang kau putus sendiri, entah aku harus berapa kali melapangkan hati melihat kenyataan itu, satu keputusan sepihak yang tak perlu persetujuanku, haha sepertinya memang aku tak pernah menjadi bagian yang terpenting ya, apalagi satu-satunya sosmed yang jadi tempat kita berteman sekarang lebih kau pilih untuk kau hapus kontakku. Oh ya apa kabar kau sekarang? Dikota orang, jaga baik-baik perilaku ya. Haha, mana bisa kau dengar, yang kau tahu aku tidak perduli lagi denganmu, kau anggap aku sudah berhasil melupakanmu, membuang jauh-jauh rasa yang dulu, mengubur dalam-dalam kenangan indah waktu dulu. Tapi asal kau tahu, itu semua salah! Kau kira itu semua sangat sangat mudah untuk aku lakukan? Haha mana mungkin, nyatanya itu sangat sangat sulit untukku. Kau harus tau itu!. Berj...

Keindahan yang tak bisa dirasa

Kau didepan sana, dengan senyum yang terus mengembang tak henti-henti. Matamu tak lagi membeku, kini yang ada hanya mata hujan yang meneduhkan, yang membuat siapapun yang memandangnya akan ikut terhanyut dalam rintiknya. Kau disana bersama masa lalumu, masa lalu yang pernah membuat kehidupanmu membatu tak berasa, yang membuat mata itu bertahun-tahun tak menampakkan keindahannya, yang ada hanya kehampaan. Namun sekarang yang kulihat semua terasa kembali, seiring dengan kedatangan masalalu yang masih tetap kau rindukan. Apa kau tahu aku sekarang sedang berdiri memperhatikan kalian berdua? Memperhatikan kalian yang sedang bersenda gurau dengan tawa yang lepas. Selama ini yang kuharap adalah bisa mengajakmu tertawa bersama seperti itu, melihat setiap lengkungan senyum yang tak segan-segan untuk kau tunjukkan, namun nyatanya sampai sekarang aku tak pernah melihat dan merasakan itu, tentu hanya saat bersamaku. Yaa, jangan salahkan aku yang terus menyalahi keadaan. Karena memang aku bukan a...

Si Dingin yang Mencinta

Wajahmu yang dingin mampu membekukan lututku ketika berdiri, mata tajammu juga mampu membiusku dalam ketegunan. Apa kau merasakan itu? Apa kau tahu bahwa aku sedang dalam posisi takut bercampur grogi karena ada didekatmu sekarang? Sekarang aku mulai melihat bibirmu mulai berucap kata-kata indah yang mampu membuatku melayang... Apa kau bilang? Mulai sekarang aku akan menjadi bagian hidupmu yang terindah? Apa kau tak salah mengatakan itu?. Gadis aneh yang selalu bertingkah konyol didepanmu, sekarang menjadi bagian terpenting dalam hatimu? Aah mungkin kau hanya ingin mengerjaiku yang selalu bersikap aneh didepanmu, kau ingin lihat aku yang salah tingkah bukan?. Kini mata itu semakin dingin, membuat setiap organ tubuhku ikut membeku. Matanya sekarang sedang menakutiku, yaa menakutiku, aku takut. Wajahnya menandakan keseriusan, tidak ada rasa bercanda atau mengerjai. Lalu bagaimana ini? Aku tidak tahu dengan hatimu yang sebenarnya, apa kau tidak merasa ilfeel melihat tingkahku selama ini...

Salah Tamu, Bukan Tuan Rumah

Hanya orang jahat yang datang dikehidupan orang lain, mengacaukan semua kebahagian itu, kebahagian yang susah payah dijaga oleh dua hati. Namun tamu yang tak mempunyai rasa, datang begitu saja tanpa menghiraukan ada satu hati yang tersakiti nantinya. Tamu tidak akan hadir jika tidak dipersilahkan oleh tuan rumahnya. Ya, tuan rumah yang salah. Tapi apakah tamu tidak salah? Hanya dua alasan tamu salah atau tidak, yaitu untuk kebaikan atau keburukan. Jika untuk kebaikan, dia tidak akan menghancurkan kehidupan sang tuan rumah, tapi jika memang dari awal berniat buruk, dengan segala cara dia akan melakukannya agar hancur kehidupan orang itu. Jadi, jangan salahkan tuan rumah jika tamu hadir dari awal untuk mengacaukan kebahagian tuan rumah dengan pasangannya. Tuan rumah hanya perlu selektif dan berfikir panjang. Niat baik atau burukkah sang tamu. Entah, perumpamaan tadi tepat atau tidak. Tapi seseorang yang jahat dan tidak punya hati, tidak menghiraukan kebahagian orang lain yang dijaga se...

Jangan Salahkan Waktu

Read : http://w.tt/1NK3voC Setelah aku sadar bahwa hanya aku yang tersakiti selama ini, apa kau sedikitpun tak menyadarinya? Aku hanya secuil dari bagian hidupmu, yang tak pernah kau lirik bahkan kau pandang. Aku hanya alunan lagu melow yang tak pernah dan tak ingin kau dengar, ya karena kau tak suka dengan lagu kalem seperti itu. Tapi apa pernah kau mencoba mendengarkannya, cobalah, mungkin kau sedikit tertarik, cobalah dengar lagunya, aku tak berharap kau mencoba melihatku. Biarkan aku mengubur dalam-dalam rasa yang tak mungkin terbalas, rasa yang hanya menyakiti dan menyesakkan. Dan semoga kau tak pernah merasakannya, biarkan aku yang sakit, dan kau tidak. Aku hanya takut kau tak mampu. Dan sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat kau menyuruhku melupakan semuanya, aku seharusnya menyutujuinya dan tak ambil resiko seperti halnya sekarang. Bertahan namun hanya memendam, sedangkan disana entah kau sudah berbahagia. Sekarang siapa yang harus aku salahkan? Kau? Kau tidak layak...

Teruntuk Ayah di Surga

Dia bukan laki-laki yang tampan, bukan juga orang yang memiliki banyak harta. Dia hanya laki-laki sederhana yang begitu setia mencintai istrinya, menyayangi anaknya. Iya, dia ayah. Ayahku. Ayah terhebatku.. Dia yang mengajariku arti sebuah kesabaran, memaafkan dan tak membalas perbuatan orang yang jahat. Dia ayahku. Aku bangga memiliki ayah seperti dia. Tidak ada laki-laki teromantis didunia kecuali dia. Dia yang rela berkorban hanya untuk keluarga dan anak-anaknya. Ayah yang tak pernah bosan bekerja membanting tulang untuk keluarganya. Ayah yang selalu bersyukur ketika pulang bekerja dan bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya ini. Dan aku rindu saat-saat seperti itu. Aku rindu sosokmu. Sosok yang tak pernah! Tak pernah mengeluh. Yang selalu menghiasi hari-harinya dengan senyuman kecilnya. Senyuman kecil penutup rasa lelahnya. Kecil, namun begitu berarti bagi yang menikmatinya. Dan yang paling aku suka darinya adalah kesabaran, ketulusan memberi, dan memaafkan. Dia orang yang...

Persimpangan Jalan

Ternyata aku dan kau sudah sangat jauh ya, sampai-sampai aku tidak lagi bisa berharap melihatmu. Jarakmu sekarang sudah sangat jauh, dan aku yakin kau sudah sibuk ditempat barumu itu. Aku tadi tidak sengaja lewat jalan kerumahmu, tiba-tiba ada rasa harap kau dan aku berjumpa meski sekilas. Kau tahu tidak? Tadi aku begitu antusias untuk melihat setiap sisi jalan, berharap mataku menemukan sosokmu. Tapi nyatanya disepanjang jalan aku tak menemukanmu, tidak ada sosok yang sedang aku cari. Dan kini aku baru sadar bahwa kau tidak ada lagi dikota ini. Ya, semoga kau baik-baik saja dikota barumu. Aku tahu sekali kau orang yang mudah bergaul, dan aku yakin disana kau juga sudah menemukan banyak teman, semoga temanmu baik-baik ya, yang bisa jaga dirimu dan mengajakmu dalam hal yang lebih baik. Semoga disana kau juga menjadi lebih baik dan mendapatkan yang lebih baik pula. Semoga disana juga kau bisa melupakan semua, semua yang pernah saling tersakiti. Semoga lupa dengan seseorang yang pernah...

Menjagamu dalam Diam

Menjagamu dalam Diam Baca lanjutannya di http://w.tt/1NK3voC “Abu Ayyub Al-Anshari r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, tidak dihalalkan bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan sebaik-baik keduanya ialah yang mendahului memberi salam.” Kini Ilham dan Aldi sedang mendengarkan pengajian bertemakan "Larangan Memutus Tali Silaturahmi" yang sedang dikupas maknanya oleh Ustadz Habsy di pesantren Al-Hikmah miliknya. "Santriwan Santriwati, sesungguhnya sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesama manusia tidaklah selamanya baik, tidak ada problem dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan antar sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama dan tidak mungkin dapat dihindarkan.Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga hari, yang ditandai dengan tidak saling menegur sapa dan sal...

Hatiku, Bukan Hatimu

Coba katakan satu hal. Satu hal saja, yang menyakitkan. Agar dengan sukarela aku mulai membiasakan diri membencimu, oh tidak tidak, melupakanmu maksudku. Yaa, melupakanmu. Selama ini aku terlalu sibuk menilik hatimu, dan menjaga perasaanmu. Padahal hatiku sendiri sakit karenamu, dan kau?! Apa pernah menjaga perasaanku?. Mungkin kau hanya menganggap semuanya biasa, tapi apa kau pernah mengerti bahwa satu sapamu saja akan meruntuhkan semua pertahananku? Pertahanan yang selama ini aku bangun dengan susah payah, berharap tak akan ada yang bisa meruntuhkan. Namun kali ini, perkiraanku jauh dari kenyataan. Nyatanya aku tidak bisa mempertahankan itu. Sekarang apa usahaku selama ini tidak berhasil? Apa aku kembali dalam rasa yang dulu, yang tidak terjamah oleh orang lain, Dan hanya kau yang bisa. Kenapa aku tidak bisa berhenti!. Jika melupakan terasa sesulit ini, aku ingin memilih untuk tak mengenalmu dari awal. Tak mau menjawab sapamu, tak mau memberi ruang untuk saling bertukar pikiran...

Pergi Tanpa Alasan

Bukannya pergi tanpa alasan, bukan juga tidak lagi punya rasa. Tapi sepertinya pergi adalah pilihan yang baik, baik untukmu. Kenapa? Sudah tahu bukan, karena jarak sangat berperan andil dalam hidupmu, dan sekarang jarakmu semakin jauh, jauh tak terlihat. Coba bayangkan, kita nanti akan jadi apa. Rasanya jika akan dijalani lagi, semua yang dulu tetap akan sama. Sama tak berubah. Seperti keledai yang jatuh disebuah lubang, untuk kedua kalinya, jika keledai hanya memakai hati tanpa melogikakan, lubang siap menjatuhkannya lagi, tapi coba kalau keledai itu memakai logikanya, menilik hatinya dulu sepedih apa rasanya terjatuh, mungkin dia akan menghindar dari lubang, dan tidak terjatuh untuk kedua kalinya. Ya, hanya mencoba menilik hati yang dulu begitu rapuh. Semua terasa menyakitkan karena sebuah pengorbanan tak dihargai, juga merasa diriku bukan diriku. Bukan untuk menghakimimu atas masalalu, tapi rasanya sikap dewasa saja tidak akan merubah keegoisan diri. Yang terjadi dulu dengan o...

Doa Dalam Diam "Yang terkuak"

" inna alladziina yu'dzuuna allaaha warasuulahu la’anahumu allaahu fii alddunyaa waal-aakhirati wa-a’adda lahum ‘adzaaban muhiinaa." Suara itu terdengar begitu indah melantunkan ayat-ayat Al Quran. Ilham berhenti untuk mengambil nafas, "waalladziina yu' dzuuna almu' miniina waalmu' minaati bighayri maa iktasabuu faqadi ihtamaluu buhtaanan wa-itsman mubiinaan." " kholaash Ham, cukup." Suara Ustadz Habsy mulai memecah keheningan, membuat siapapun yang mendengar suara merdu itu menjadi kecewa. Ilham mengatur duduknya menghadap Ustadz Habsy sebagai gurunya. "Sudah cukup ngajinya, Abi takut yang mengintip semakin banyak." Ucap Ustadz Habsy sembari melirik ke pintu mushola yang tidak jauh dari tempat duduknya dan Ilham. Ternyata disitu sudah banyak santriwati yang bersembunyi dibalik pintu hanya untuk mendengar suara Ilham atau bahkan melihat wajahnya. Merasa tersindir, para santriwati itu pun kusak-kusuk kemudian berlari menin...

Doa Dalam Diam (6) Dinding Perisai

"Sudah pulang?." Suara bariton menggema dipenjuru ruangan, rumah besar itu berhasil membuat suara itu bisa didengar disudut ruangan manapun. Suara itu berasal dari balik sofa besar berwarna merah darah, terdapat pria paruh baya sedang duduk sembari membaca koran. "Sudah Pa, Assalamualaikum." Jawab ilham sembari mencium punggung tangan ayahnya. Rumah besar itu hanya berisi dia dan ayahnya yang jarang pulang karena pekerjaan kantornya yang menumpuk. "Waalaikum salam warrahmatullah, bagaimana sekolahmu tadi Nak?." tanya Ibrahim, ayah Ilham. "Biasa aja pa, kayak sekolah Ilham yang dulu." jawab Ilham berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua. "Bukan begitu... gimana? Sudah ketemu..." "Ilham mandi dan sholat dulu Pa, nanti langsung berangkat ngaji ke Ustadz Habsyi." ucap Ilham memotong pembicaraan ayahnya yang masih menggantung. Ibrahim hanya berdecak kecil, dia sudah menebak putranya itu akan menga...

Jilbab itu Komitmen

Bukan menjadi orang yang sok atau keminter nih ya, tapi aku heran dengan orang yang menganggap jilbab sebagai hal yang mudah dan remeh. Berangkat pakai, pulang sudah tidak berbau itu jilbab. Apalagi tempat-tempat sekarang membatasi adanya wanita berjilbab, bukan diluar negeri saja tapi juga di negeriku sendiri! Astaghfirullah, oke, aku mengistiqomahkan berjilbab masih baru dan terlalu awam. Tapi aku ngerasa terenyuh aja, orang yang mencoba istiqomah berjilbab disuruh buat ngelepas atas beberapa alasan. Ini jilbab! Bukan mainan. Ini komitmen! Bukan dagangan. Apa sih yang menghalangi seseorang untuk berjilbab? Padahal manfaat jilbab sendiri sungguh sangat baik untuk kita sendiri sebagai seorang perempuan. Apa begitu sukanya memamerkan diri di banyak orang? Berlenggak-lenggok layaknya model (padahal gak) didepan para laki-laki. Memakai baju yang tidak layak pakai, yang hanya menutupi badan sepertiganya. Apa bagusnya? Toh dimata laki-laki itu kita diremehkan harga dirinya. Coba jika...

Doa Dala Diam (5) Al-Mahabbah

"Raraaaa... Cepet dong." teriak Rumi tanpa menghiraukan suara cemprengnya yang menggelegar diseluruh penghujung lorong. Pantas saja Rumi berteriak kesal, sudah hampir setengah jam dia di lorong sebelah kelasnya hanya untuk menunggu Rara yang masih di kelas. Semua teman kelasnya sudah keluar kelas dan pulang. Kalau saja Rumi tidak terlanjur bilang nebeng Rara, sudah daritadi dia meninggalkannya meski dengan jalan kaki untuk pulang. Tiba-tiba perasaannya tidak enak sendiri, kenapa sahabatnya itu masih didalam kelas sedangkan semuanya sudah keluar bahkan mungkin Ani dan Ami sudah berada dirumahnya sendiri-sendiri. "Rara, Ra..." Kini Rumi melangkahkan kakinya menuju kelas, ngeri juga, Masih sore gini, kelas udah gelap. Kepalanya mencoba mengintip dari sela-sela pintu yang ia buka perlahan --gelap--banget. Dan sepertinya tidak ada bentuk-bentuk manusia didalamnya, lalu Rara kemana? Bukannya tadi dia ijin kedalam kelas lagi untuk mengambil sesuatu? Aah itu bocah lama...

Doa Dalam Diam (4) Hati yang Tulus

Gadis berkerudung putih yang menjuntai hingga menutupi lengan dan dadanya itu turun dari motor setelah melepas helm yang menempel dikepalanya. "Terimakasih, Kak Nada yang cantik." Akhirnya kakaknya itu mau juga mengantarkan adiknya berangkat sekolah, setelah melalui tahap demi tahap merayu. Dan alhasil Nada mau mengantarkannya, setelah Rumi berjanji untuk memijit kakinya nanti setelah pulang dari seminar organisasinya disebuah kampus. "Jangan lupa nanti..." "Yaelah, iya Kak. Kenapa sih gak ikhlas banget nganterin adeknya sendiri." Gerutu Rumi yang membuat Nada terkekeh. "Hahaha udah deh, pokoknya entar kudu mijet nih kaki. Oke," Ucap Nada sembari memakai helm-nya kembali, Rumi hanya diam, percuma menanggapi kakaknya. Toh, memang dia sudah berjanji, terus mau diapain lagi. "Yaudah, Kakak pulang dulu. Assalamualaikum..." "Waalaikum salam." Rumi membalikkan badannya, Seketika pandangannya lurus tertuju pada sebuah pung...

Pengharap

Sungguh, kita sangatlah jauh. Dari sebuah jarak merembet ke segala hal. Kenapa selalu egois sih? Kenapa harus hal itu yang menjadi dinding besar yang tak kasat mata diantara kita? Kenapa? Katamu kita bisa menjadi satu, namun nyatanya hanya omong belaka yang entah kapan akan tercapai. Atau memang sudah ditakdirkan seperti ini? Jika ditanya "apa kau masih menyayanginya?" kita saling menutupi apa yang sebenarnya, memilih untuk menggeleng atau diam. Padahal dihatinya, sampai kapanpun tetap sama. Oh ya? Atau aku yang terlalu jauh berharap akan kembali seperti dulu, seperti sebelumnya? Yang hanya sebuah jarak tidak menjadi masalah untuk kita. Namun, kini hal itu seperti bongkahan besar yang hidup dalam diri kita. Apa aku yang terlalu jauh berfikir, bahwa ini akan kembali sama seperti dulu. Bahwa tidak ada yang penting, selain saling mengabari. Tuhan, jika iya, boleh aku menjauh? Bukan untuk apa-apa, bukan karena siapa-siapa, tapi rasanya keegoisan diri kita tetap sama, tidak...

Doa Dalam Diam (3) Bintang Jatuh

Setelah selesai makan dan membereskan meja serta mencuci piring, sepertinya duduk santai didepan rumah menjadi hal cukup menarik untuk Rumi sebelum harus bergulat dengan buku-buku tebal yang setelah ini akan terjamah oleh tangannya, setidaknya dia merefresh otaknya dulu sebelum mengerjakan tugas yang menumpuk. "Dek, pinjem hp dong." Dengan gesit tangan Nada sudah berhasil menyambar hp yang ada ditangan Rumi, dan mengambil posisi duduk dikursi sebelah Rumi. "Pinjem apa ngerampok?." Bukan pertanyaan, lebih tepatnya sebuah pernyataan. Selalu memang, kakaknya itu tidak ada bosannya untuk mengganggu adik satu-satunya itu, sifatnya tidak sepadan dengan umurnya yang hampir 21 tahun. Tapi jika dibilang kekanak-kanakan juga tidak bisa dikatakan seperti itu, karena ketika mood adiknya jelek, Nada bisa menjadi kakak yang lebih dewasa dari umurnya, bisa sangat mengemong Rumi. Mendengar kata Rumi yang sinis, Nada hanya terkekeh dan kembali meluruskan pandangannya ke ponsel...