Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

AISYA

Halo halo Assalamualaikum (secret) readers, kali ini aku mau publish cerita yang ada di akun wattpadku dan sudah kelar. Cuman bersambung ke judul selanjutnya huehe : Ini dia yang judulnya "Aisya" dan nanti InsyaAllah kalo ada waktu aku akan publish juga cerita kelanjutannya yang berjudul "Remains The Same". Selamat membaca, sebelumnya budayakan untuk meninggalkan komentar (entah itu hanya sekedar memberi semangat) karena aku haus akan hal itu, aku butuh semangat wkwk. Dan yang paling penting, JANGAN PLAGIAT!. Hargai kami yang bersusah payah berimajinasi (meski berimajinasi itu mudah) namun menuangkannya dalam cerita, hanya beberapa orang yang merelakan waktunya untuk hal itu. Bagian 1 bagian 2 bagian 3 bagian 4 bagian 5 bagian 6 bagian 7 bagian 8 bagian 9 bagian 10 bagian 11 bagian 12 bagian 13 bagian 14 bagian 15 bagian 16 bagian 17 bagian 1 8 bagian 19 bagian 20 bagian 21 bagian 22 bagian 23 bagian 24 bagian 25 bagian 26 bagian 27 ...

Kamu, yang kusembunyikan

Menjadikanmu prioritas bukanlah pilihanku lagi, Tapi keinginanku untuk menjadikanmu bagian dalam hidupku masih berlangsung hingga sekarang, Tidak bisa semudah itu aku enyahkan, Dan tidak bisa semudah itu aku singkirkan. Semua yang terkait tentangmu adalah kebahagian. Aku pernah berpikir untuk menjadikanmu dalam bagian kenangan yang harus kulupakan, Tapi aku sadar, dari semua kenangan yang buruk, tidak menjadi bandingan dengan kenangan tentangmu; yang tidak ada keburukannya di mata ku. Kamu yang pernah menjadi perisaiku, tamengku, dan senjataku, disetiap keadaan, bahkan aku berpikir dengan menutup mata saja aku bisa berjalan tanpa terseok. Itu adalah lalu, Yang sudah berlalu, Dan tak mungkin kembali seperti dulu, Meski berusaha sekuat pilu. Pilu yang menyiratkan keheningan, Karena hanya dengan sendiri, dan menadahkan tangan diatas sajadah, Akan terkuar segala apa yang menjadi beban, Tanpa meminta orang mengerti, dan paham. Karena apa yang kuharap mengerti, belum tentu pa...

Hijabmu

Salma melepaskan ikat rambutnya, dan meletakkannya ditas sekolah. Dia berlari kearah teman-temannya yang sedang berkumpul. Beberapa diantara mereka terlihat bahagia kala melihat gadis itu dengan rambutnya yang terurai. "Naah gitu dong, Sal. Kan lo keliatan cantik." ucap Cindy melihat temannya itu mengurai senyum. "Beeh, gue yakin mah si Alan bakal lebih gencar ngejar lo. Fix ini mah." sahut Velia. "Astaghfirullah," berbeda dengan Jingga yang baru sampai, gadis itu terhenyak karena Salma lagi-lagi melepas jilbab sekolahnya. "Kenapa kamu copot kerudungnya?" "Duh gerah, Ga. Lo tau kan, hari ini terik banget. Panasnya matahari nusuk banget." "Terus kenapa malah kamu lepas? Kerudungmu itu bisa melindungi kepalamu dari teriknya matahari." Cindy dan Velia mulai berdecak. Susah kalau sudah berdebat masalah hijab dengan Jingga yang notabenenya muslimah sekali. Lengannya tersingkap sedikit saja gadis itu sudah ketar-ketir. Bahkan...

Kuingin melihatmu bahagia, perempuanku

Setiap kali ku ingin melupakan segalanya yang berkaitan tentangmu, rasanya seperti menguras habis segala isi yang ada dalam memori otakku. Bagaimana caranya melupakanmu? Jika setiap hari kamu masih ada dalam hidupku, dan kamu pun masih sangat berpengaruh dalam segala aktivitas ku. Meski setiap hari pula aku berusaha untuk tak membiarkan kamu ikut andil dalam semangatku, aku terus berusaha. Sampai aku sadar, melupakanmu dengan cara ini adalah salah. Mungkin benar yang kamu katakan, aku butuh "seseorang yang membuatku bisa melupakanmu", karena dengan usahaku sendiri tidak membuahkan hasil sama sekali. Mungkin ini menyakitkan, bagimu, apalagi bagiku yang tidak sepenuhnya mau melupakanmu. Tapi bagaimana lagi, aku ingin melihatmu bahagia karena tau aku bisa melupakanmu, meski dengan berbagai cara. Tapi rasanya, apa ini tidak salah? Membiarkan orang lain masuk dalam hidupku, untuk menggantikan mu. Dan hanya kujadikan alat untuk melupakanmu? Apakah dia juga tidak sakit? Ah ent...

Ku ingin melihatmu bersama perempuan lain

Kuingin setiap langkahmu, tidak ada lagi aku. Bukan berarti aku ingin menghapus apapun yang pernah kita jalani, bahkan aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya. Tapi, aku ingin melihatmu berbahagia, meski tanpa aku. Terbesit keinginan untuk melihatmu berjalan beriringan dengan seseorang. Seseorang yang menggantikan ku menemanimu, mengajakmu bercanda dan menerima mu dengan senang hati. Meski ku berharap apa yang pernah kita lewati tidak kamu lupakan dengan mudah. Aku terus berusaha, dan kamu pun harusnya seperti itu. Meski kamu tidak pernah tau bagaimana sulitnya berusaha menjadikan semua ini hal biasa yang harus kulewati. Melangkah, tidak lagi denganmu. Bercanda, tidak lagi bersama tawamu. Hanya memori yang terus terputar tiap melewati jalanan yang pernah kita lewati. Terkadang aku berpikir, ini adalah hal paling lucu dalam hidupku. Aku menginginkan mu berbahagia dengan perempuan lain, namun aku sendiri masih tidak benar-benar ikhlas. Kamu masih mengalihkan perhatianku hing...

Suara perempuan yang kurindukan

24 Menit Aku mengingat benar waktu singkat itu, Entah kenapa aku bisa berpikir untuk mendengar suaranya. Suara yang jujur sangat-sangat kurindukan. Suaranya yang cempreng dan khas membuatku sangat mengenali nya, bahkan saat dia banyak bicara dan bertanya. Seakan kita lama tak pernah berjumpa, hingga banyak hal yang terlewatkan, sesekali dia mengoyak kesadaranku bahwa aku membutuhkannya untuk bercerita. Namun bukan lagi hatiku yang berkata sekarang, mungkin hatiku masih menginginkan kerinduanku tuntas, meski itu tidak mungkin terjadi, karena rindu ini tidak pernah berujung. Tapi, logikaku ikut bicara, bahkan mengambil alih hatiku yang sesungguhnya masih ingin mendengar suaranya. Logikaku mengingatkan bahwa ada benteng besar yang tidak bisa kutembus, dan ada jarak tak kasat mata yang menghancurkan kita, begitupun pada hatiku sendiri. Seketika ku diam, meski dia mencoba bertanya lagi. Aku bisa membacanya, betapa rindunya sama denganku. Namun, aku harus mengingatkannya lagi pada apa ...

Suara laki-laki yang kurindukan

24 Menit Waktu yang singkat, namun bisa kuingat jelas. Bagaimana suara baritonmu bercerita, dan kumendengarnya dengan seksama. Seperti sebuah rintik hujan di musim kemarau, yang membuat semua orang merindukannya. Yah, suara yang telah kurindukan, bahkan tak terpikirkan bisa mendengarnya lagi, menjadi suara terspesial entah hingga kapan, namun aku merasakan kenyamanan olehnya. Lama aku tak menulis, karena hari-hariku pun tak ada kamu, Monster Senjaku yang dulu. Ingatkah betapa banyak bait hingga baris tulisan tentangmu? Entah mengapa, mengenai dirimu selalu ada yang ingin kuungkapkan. Bahkan kali ini, mendengar suaramu saja aku tak ingin terlelap. Waktu yang singkat itu, terasa tak cukup, namun aku bersyukur. Setidaknya pemilik suara itu menyapaku dibalik suaranya. Mungkin, ini hanya terjadi sekali saja, tapi akan kuingat bagaimana dan seperti apa ceritamu kala itu. Cerita yang menyadarkan kita, betapa sudah jauhnya kita. Dan pula membuktikan bahwa jarak benar-benar terbentang luas...

Hijabmu

Mahkota terindah adalah hijabmu, Dan akan semakin terlihat indah, bila dengan niat tulusmu. Bila dikaitkan, hijabmu pun berkaitan dengan pandanganmu, Jikalau kau tertutup, maka kau pun akan tertunduk. Maka, malu lah pada hijabmu, yang sudah memuliakanmu.

Mengenangmu

Ku pejamkan mata, dan ku temukan seberkas cahaya yang menyilaukan. Alih-alih berpaling untuk menjauh, hati dengan pongahnya menyuruhku mendekat. Meraih yang nyatanya mustahil untuk direngkuh. Cahaya yang tadinya begitu terang menyilaukan, perlahan meredup. Seiring sosok yang selama ini kurindukan, datang dengan senyum khasnya. Bibirku melengkung membalas senyumnya, begitupun dengan airmata, yang tidak pernah bisa lepas kala bertemu dengannya. Mimpi yang selalu kunanti, namun juga kutakuti. Yaitu kembali menemukannya, namun juga harus kembali melepaskannya. Adakah alasan aku tak menangis? Jika berulang kali bertemu, berulang kali juga aku harus kehilangan orang yang sama. Raga nyatamu pun sudah tak bisa lagi ku peluk, ku rengkuh, ku lihat. Yang ku dapatkan hanya bayanganmu, bayangan dalam mimpi tiap malamku. Bisa ku rasakan, tapi tidak bisa kuminta menetap. Pernah, kurasakan lelah. Setiap membuka mata, dan tak kudapati sosok yang kurindukan didunia nyata. Senyum manisnya, Ta...

Dua sosok tercinta

Sosok dua insan yang bertemu dalam garis takdir, menyempurnakan perbedaan, dan menyatukan persamaan hinga menjadi satu kesatuan yang sempurna. Karena kalian lah, aku hadir di dunia ini. Karena kalian juga lah, aku mengerti betapa indah kasih sayang yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Untuk pertama kalinya aku membuka mata, dan melihat dunia, saat itu lah aku diberi anugerah paling indah hingga sekarang- hingga nanti aku kembali menutup mata; yaitu sebuah nama, yang sekaligus memberikan makna dan doa disetiap aku melangkah. Suara kumandang adzan menyambutku, menghangatkan tubuhku yang belum sepenuhnya sempurna di dunia baru. Pemilik suara itu adalah pria yang ku panggil Bapak. Lalu, dekapan hangat menjadikan lelahku menangis hilang sekejap, kecupannya dikening memberikan tanda sebuah kasih sayang yang luasnya sama dengan seisi dunia. Dia adalah wanita yang ku panggil Ibu. Aku merindukan masa itu, ketika Bapak dan Ibu sama-sama merawatku dalam kasih sayang yang utuh. Namun, ken...

Mimpiku

Mataku terpejam sebentar, namun aku sudah melihat wajahmu mengukir senyum. Dengan baju batik dan sarung kesukaanmu, kau hadir dalam mimpiku. Pria yang selalu kusebut dalam doa untuk kebaikan disisi-Nya, memintakan surga istimewa untukmu, dan menghadiahkan satu untaian surat agar kau tak merasakan rindu sepenuhnya. Kau adalah Ayah tercintaku. Sudah tugasku sebagai putrimu, untuk membuatmu tak merasakan keresahan dan hanya kebahagiaan yang selalu menyelimutimu tiap melihatku. Beribu maaf, jika aku belum menjadi sholehah untukmu Yah, hingga kini aku selalu berusaha. Berusaha membalas segala yang pernah diberikan olehmu untukku, yang tak bisa kuhitung meski dengan jangka waktu seribu tahun pun. Aku melihat matamu mengerjap, sama persis kala kau melihatku sewaktu dulu, mata yang menyiratkan keteduhan, manik-maniknya yang memancarkan cahaya dan siapapun yang melihatnya seperti sebuah bulan datang di senja hari, indah dan menenangkan. Tanganku coba meraihmu, aku takut dadaku kembali sakit...

Bidadari Surga ( Ari & Raina )

Ari dan Riana. Mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan. Ada kah suatu janji dalam ikatan akan berlanjut jika hanya mencintai, namun tidak dicintai? Jawabannya, ada. Dan itu terjadi dalam kehidupan mereka. Ari, laki-laki pekerja keras yang diusia mudanya sudah berhasil menjadi pengusaha, ternyata telah menjatuhkan hati pada seorang perempuan, dan dialah Riana. Meski banyak perempuan yang menginginkannya, tapi yang diinginkan Ari hanyalah Riana. Hanya Riana. Hingga, semua perempuan itu iri dan ingin berada diposisi Riana. Pernah suatu hari, perempuan dari masa lalu Ari datang. Riana sempat takut, bagaimanapun juga perempuan itu pernah mengisi hari-hari Ari, bahkan dia terlihat lebih cantik. Namun, sesungguhnya jika laki-laki sudah jatuh cinta, maka ketulusannya akan mengalahkan ketulusan cinta perempuan. Dan, dia akan menundukkan pandangannya sendiri dari perempuan selain istrinya. "Sayang, berjanjilah untuk menjaga putri kita ya?" ucap Ari tiba-tiba, dia sedang mengantarkan...

Bukan tokoh cerita fiksi

Ku ciptakan dia dalam sebuah cerita, Dia seorang gadis dengan kehidupannya yang penuh luka, namun tak begitu berarti daripada nikmat yang disyukurinya. Andai, aku sepertinya. Yang tercipta begitu sempurna dengan kelapangan hati dan cintanya. Yang mengisyaratkan suatu masalah hanya dengan senyuman, tanpa keluh. Tapi siapa kah aku? Aku bukanlah dia yang ada dalam cerita. Yang bisa meluapkan emosi dengan senyuman, mengesampingkan ego demi orang lain. Ini lah aku, seseorang yang mampu membuat sebuah tokoh begitu sempurna, namun dirinya sendiri tidak bisa mencontohnya.

Memeluk Bayang

Adakah aku disana? Disaat masa-masa sedih sedang kamu lewati, Airmata mana yang tak bisa kulihat kala itu. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, dengan menggumamkan agar segala kesedihan itu tersudahi. Melihatmu seperti ini, mengingatkan aku diwaktu itu. Dimana aku juga pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Mata mana yang tidak menumpahkan buihnya, ketika seseorang yang begitu berarti harus pergi tanpa berpamit. Sedih, dan kecewa pada diri sendiri yang merasa belum menjadi baik dimatanya sewaktu itu. Andai, dengan menukar nyawa bisa membuat usianya tak bermasa secepat itu. Tapi, takdir mana yang bisa ditebak. Usia merupakan takdir, yang berakhirnya tak bisa diduga. Meski perih, namun apa yang bisa diperbuat? Yang berusia, pasti bermasa. Dan yang bermasa, pasti berakhir. Tidak ada yang lebih sedih, dari kehilangan seseorang yang begitu berarti dihidup. Bahkan, sampai kapanpun. Tapi kesedihan yang berlarut-larut, itu tidak diperbolehkan. Andai, aku a...

Sebagai pelaku

ku ditakdirkan, bukan mentakdirkan. Aku hanya bisa berusaha, namun tak bisa mentakdirkan usahaku berjalan sempurna. Sesungguhnya, aku hanya sebagai pelaku, bukan penentu. Ku serahkan semuanya pada Dia, pemilik takdir yang sesungguhnya. Yang tau dimana dan sampai kapan perjalanan hidupku berhenti, begitupun dengan perasaan yang kuemban. Ingin ku tak terlalu menjatuhkan hati, yang sesungguhnya bukan aku lah penentunya, Namun sebagai pelaku, aku terlalu terbuai dengan manisnya cinta, yang belum tentu berbuah indah. Sebagai pelaku, aku takut mengemban perasaan yang tak terkendali ini. Sebagai pelaku, aku sedih mengingat cintaku yang menjadi benalu dalam hidup, merusak segala keadaan yang harusnya baik-baik saja. Sebagai pelaku, kurutuki kesalahan yang membiarkan hatiku jatuh dan pecah berkeping-keping. Hingga membuatku lupa, bahwa aku ditakdirkan hanya sebagai pelaku. Bukannya penentu. Sebagai penentu, Dia lah yang memberi cinta dalam hatiku. Sebagai penentu, Dia lah yang menci...

Kamu, yang berusaha ku lupakan

Kamu, yang selalu menempati ruang tersendiri dihatiku. Baru satu minggu yang lalu, kamu datang ke rumah untuk bersilaturahmi dengan ayah-ibuku. Mereka terlihat menyukaimu, banyak pujian yang mereka lontarkan setelah kamu pergi untuk pulang. Satu senyum saja, menggetarkan hati mereka sebagai orang tua, betapa bahagianya ketika aku melihat mereka bahagia, dan itu karenamu. Harapanku ternyata berjalan mulus karena restu mereka. Tapi, dua hari yang lalu, kamu mengatakan hal itu secara tiba-tiba. Membuatku harus berperang lagi dengan sikap egois. Terkadang begitu lelah, tapi melihatmu membuatku takut kehilangan. Ya, kamu memintaku untuk merelakanmu, menjauhimu, dan melupakanmu. Lagi. Aku kira kejadian diwaktu dulu, tepatnya saat kamu meminta hal yang sama, tidak akan pernah terjadi lagi, karena aku berusaha untuk menyanggupi apa yang kamu inginkan, dan saling berjanji kalimat itu tak akan diulang lagi. Tapi ternyata? Mungkin, pertahananku sebagai laki-laki harus runtuh sampai disini, h...

Untukmu, yang pernah menjadi perempuanku

Aku , yang menjatuhkan hati padamu, perempuanku. Yang ku mengerti satu hal tentang tujuan-Nya menghadirkanmu dalam hidupku saat ini; untuk menjadi milikku, atau hanya sebagai pembelajaran. Rahasia takdir yang tak pernah bisa kubaca hingga kini. Aku hanya ingin menjadikanmu sekelumpit mimpi besar yang sedang ingin kuraih. Berusaha memantaskan diri, masih terus kucoba, Agar yang kau kenal hanya airmata kebahagiaan, bukanlah sebaliknya. Perempuan istimewa sepertimu, harus memiliki pendamping yang sama istimewanya. Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu, Pemilik senyum khas syurga yang tak ada habisnya membuat hatiku damai. Pemilik tatapan meneduhkan yang membuatku ingin terus menetap. Pemilik suara selembut sutra yang membuatku merasakan kenyamanan. Ingin rasanya, dengan cinta aku bisa memilikimu. Tapi, alasanku memantaskan diri tidak ada apa-apanya dengan yang sudah pantas sejak awal. Dia hadir, Laki-laki yang mampu memberikan cinta dan materi yang sesungguhnya. Perempu...

Untukmu, yang masih kuanggap laki-lakiku

Aku, yang menjatuhkan hati padamu, laki-lakiku. Terhitung kala itu aku mencintaimu, Berharap yang pernah terlewati, menjadi bagian paling terkenang saat kita tua nanti. Ku menemukanmu, dengan segala yang kucari. Kebahagiaanku ada pada senyum dan perhatianmu, Terbilang berlebihan, tapi itu kenyataannya. Hingga kita saling berjanji, Menjatuhkan hati satu sama lain, Dengan tujuan yang sama untuk nantinya. Tapi, dia datang. Mengambil alih kehadiramu, Membuatmu harus mengalah dan mundur. Tapi kenapa? Kenapa kamu harus mengalah dan mundur? Bukankah kita memiliki janji-janji yang sebentar lagi sudah didepan mata. Jujur, aku kecewa padamu. Cinta yang seharusnya menguatkan kita, Tak berarti apapun karena materi. Seandainya, kau mau menetap bersama cinta itu, Seandainya, kau tak pergi meninggalkan cintaku, Seandainya, kau mengalahkan materi dengan cintamu. Berandai-andai membuatku semakin sakit. Karena yang kuandaikan, tak akan bisa menjadi kenyataan. Waktu berubah secepa...

Definisi ikhlas yang sesungguhnya

Aku tak pernah mengerti definisi ikhlas yang sesungguhnya, Karena yang kuanggap bisa direlakan, ternyata tak benar-benar bisa ku terima dengan lapang dada. Termasuk; keputusan kita untuk memilih jalan masing-masing. Bukan kita, tapi keadaan yang mengharuskan kita saling mengikhlaskan. Kita, maksudku aku dan kamu, sama seperti yang lainnya. Memiliki keinginan untuk menjadi satu-kesatuan yang sempurna, hingga celah sebesar apapun tak dapat dilihat karena kesempurnaan kita. Lucu, aku dan kamu pernah mempunyai mimpi sebesar itu, Hingga akhirnya jarak mulai terbentang begitu luasnya, Dengan pongahnya keadaan menyita seluruh mimpi-mimpi yang pernah kita harapkan. Sungguh seharusnya aku sadar, ini masih mimpi; yang bisa terwujud- atau sebaliknya. Kita sama-sama didunia dengan takdir yang menjadi penentu, Penentu sang pemilik hati. Sekuat keinginan, sebesar perasaan, tidak bisa mengalahkan takdir. Kamu berkata, "Sebesar apapun perasaanmu, akan bisa berubah begitu saja. Jadi, ...

Sosoknya bersama perasaanya

Letak sebuah kesalahan adalah; pada orang yang tak mau merubah perasaannya meski keadaan sudah tak mendukung. Jika setiap orang punya pemikiran hati bisa berubah secepat dan sesempurna bulan dari purnama ke sabit, maka tak dipungkiri hati pun bisa berubah meski secara merangkak perlahan. Tapi bisa kah beri satu alasan selain takdir, untuk hati yang sejak dulu hingga sekarang- bahkan sesering mungkin coba dielak dan dihapus- tetap tak bergeser sedikitpun dari letaknya. Yang mungkin, orang lain akan dengan mudahnya memberi motivasi-inspirasi-simpati untuk hati-hati yang seperti kalang kabut tanpa sosoknya. Apa alasannya? Kenapa memendam sesuatu yang sudah tak diharapkan oleh pihak manapun, menjadi begitu sulit, bahkan meski coba dienyahkan juga? Apa? Sosoknya pun terus-dan terus, meminta agar rasa itu dihilangkan. Hakimi saja. Seolah semuanya berhak menghakimi dengan statement-statement yang mereka miliki, yang mereka yakini, dan yang mereka agungkan. Perduli apa mereka? Bahkan sosokny...

Perbedaan - ( Feza & Yumna )

Feza menemui gadis yang sejak beberapa menit lalu telah menunggunya di taman. Sedangkan gadis itu menyunggingkan senyum sempurnanya ketika melihat Feza. Mereka pun kini sudah ada dititik yang sama, yang tanpa berkata apapun mereka sudah tau isi hati satu sama lain. Karena dihati mereka masing-masing menyeruakkan rasa rindu, kerinduan yang hanya bisa dikuarkan saat itu. Rindu yang disebabkan oleh jarak, ya, mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. Perusahaan baru yang perlu banyak dipantau olehnya berada di luar kota, dan itu bukan hal mudah untuk menjadikan anak perusahaan miliknya menjadi sebesar yang lainnya, itu kenapa dia berniat untuk menetap di kota tersebut. "Yumna, apa aku sekarang salah mengatakan rindu?" Tanyanya pada gadis yang sudah berdiri dengan setelan gamis berwarna biru wardah, dia mengerjap kala mendengar suara Feza yang baru didengar bersama wujudnya secara langsung, setelah beberapa bulan hanya bisa didengarnya lewat voice note atau telpon. "A...

Project : PERBEDAAN

Halo Assalamualaikum semua, yang sedang sengaja atau nggak telah mampir ke blog aku. Aku mau buat beberapa cerpen dengan tema "PERBEDAAN", mungkin ada yang punya ide dan mau dibuatin cerita, bisa coment dibawah ya, bisa dari segala aspek kehidupan, intinya tentang perbedaan yang membuat dua orang sulit untuk bersatu. Untuk selanjutnya, tunggu part pertama darikuu. Kira-kira perbedaan apa yang coba aku tuangkan? Bye, see you😘 Umi Masrifah

Kamu kembali

Aku melihatmu, melihat senyummu yang mengembang membentuk garis simetris. Andai ini bukan khayalan saja. Tapi kesadaranku tersentak, karena senyum yang kukhayalkan tak juga kunjung hilang, bahkan semakin dekat hingga menghapus jarak yang kupikir tak akan sedekat ini lagi. Kau kembali. Seseorang yang kutunggu dipersimpangan, dengan waktu yang kurasa seperti berabad-abad lamanya. Kau kembali. Disaat aku mulai lelah, dan jenuh mengarungi waktu yang terus berganti, tanpa bisa kuajak kompromi. Inilah alasannya kenapa aku bersikekeh untuk tetap disini, menunggumu dipersimpangan yang sering kita kunjungi atau sekedar kita lewati biasanya. Karena aku yakin, kamu akan kembali. Kerinduan yang kurasakan juga pasti kamu rasakan. Setelah lama kita berdebat dengan keheningan, suara yang pertama kali muncul, adalah suara yang telah lama dirindukan oleh indera pendengaranku. Dengan seksama aku mendengar suara bariton yang kudengar terasa sangat lembut. "Apa yang kamu lakukan disini?" ...

Pilihan

Apakah ada seseorang yang hidup tapi tidak punya pilihan? Jawabannya, ada. Bukannya memang tidak punya pilihan, tapi tidak diperbolehkan punya pilihan. Terkadang seseorang bersikap seolah satu keputusan adalah yang paling benar, dan menyalahkan keputusan lainnya. Dan terkadang juga, seseorang enggan mendengar lagi ucapan orang lain, karena sudah merasa keputusannya lah yang paling benar. Tapi, apakah seseorang itu pernah berpikir bahwa semua itu membuat orang lain merasa tidak punya pilihan? Setiap orang berhak memilih, setiap orang berhak menyuarakan isi hatinya, keinginannya, tapi kenapa harus dibatasi? Apakah seseorang tidak punya kehendak untuk bahagia dengan pilihannya? Lucu, ada banyak ruang cara untuk memilih, tapi pintunya telah sengaja ditutup sebelum berhasil masuk. Pilihan, pilihan, pilihan. Rasanya terlalu kecil dan mudah, banyak beberapa orang mengumbar janji, janji dan janji, berjanji bahwa seseorang tetap akan memiliki pilihan meski awalnya dipilihkan. Janji yang ...

Rindu yang menjadi Racun

Pergilah, selagi kamu bisa. Bersenang-senanglah, selagi kamu suka. Dan lupakanlah, selagi kamu mampu. Tapi satu yang pasti, kamu tidak akan bisa mengelak jika hatimu mulai meneriakkan rasa rindu. Dimana, kepergianmu tidak dengannya, kesenanganmu bukan karenanya. Dan yang berusaha kamu lupakan adalah DIA. Seseorang yang sama, yang akan mengisi ruang rindumu. Seseorang yang senyumnya mewarnai tiap harimu, seseorang yang dengan ketidak jelasannya membuatmu berdecak heran, seseorang yang selalu memakai emoticon sama tiap chat denganmu. Kamu akan merindukannya. Lalu, apakah kamu sudah berhasil pergi? Sudah bersenang-senangkah selagi kamu pergi? Atau, dengan cepat kamu sudah bisa melupakannya? Tidak penting itu semua. Karena pada akhirnya, setiap kamu berjalan pergi, rasa rindumu semakin mengekang. Membuat langkahmu terasa berat hanya untuk sekedar diangkat. Bisa apa? Mau berdamai dengan rasa rindumu? Jika dengan menyapa adalah satu-satunya obat. Laki-laki yang selalu kudengar den...

Dipersimpangan yang sama

Wajah yang selalu menyiratkan ketenangan dengan keteduhannya, membuat siapapun yang berada disampingnya memilih untuk tidak beranjak dan ingin selalu menetap. Seperti yang kulakukan sekarang. "Qil," Aku dan dia, sama-sama menoleh kearah sumber suara. Bukan karena aku dengannya kompak, tapi karena alasan lain. Berawal dari acara kelulusan. Pada saat itu dia salah satu tamu undangan yang menghadiri acara khusus dibuat untuk perpisahan angkatan ku, dia salah satu alumni juga di sekolahan dan mendapat sambutan istimewa, entah kenapa dia menjadi sorotan selama disana, banyak yang sudah akrab dengannya, bahkan beberapa guru pun ikut menyambutnya dengan gembira. Jadi, apa hanya aku orang yang tak tahu-menahu tentangnya? Tapi tidak lagi, insiden yang cukup memalukan bagiku, malah membuatku mengenalnya, bahkan menjadi temannya hingga sekarang. Terdengar begitu instan, tapi pertemanan itu tak berjalan semulus yang dipikirkan, apalagi dipertengahan dua tahun kita menjadi teman, pera...

Menunggu 4

Hai kamu! Entah sampai kapan aku terus menulis dengan judul menunggu. Sampai kapan pula aku masih dipersimpangan ini, hanya untuk menunggu sosok yang beberapa minggu ini telah hilang, bahkan membawa bayangannya juga. Hingga tidak memberiku kesempatan untuk mencari. Menunggu, hanya itu yang dapat kulakukan. Beri satu kata kunci dari teka-teki ini yang tidak mampu kupecahkan sendirian. Bantu aku, datanglah sejenak meski tanpa mampir. Sapa aku, katakan sesuatu untuk mengakhiri rasa jenuhku ini, katakan bahwa semuanya tetaplah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari menghilangnya dirimu akhir-akhir ini. Aku sadar, siapa aku untukmu? Aku bukan siapa-siapa, kita hanya pernah ada dalam suatu keadaan, dimana kita akhirnya memiliki perasaan yang sama. Tunggu dulu, perasaan yang sama bagaimana? Jika kamu bilang, perasaanmu melebihi perasaanku. Baiklah, aku tidak bisa berbicara mengenai perasaanmu, karena sulit untukku menerkanya, hanya sang pemilik perasaanlah yang tau. Sedan...

Menunggu 3

Apakah ada terbesit sedikit saja dipikiranmu untuk mengingatku? Sedikit saja. Bagaimana lelahnya aku menunggu disini, masih dipersimpangan yang sama, yang selalu kamu lewati setiap harinya. Namun seperti berkompromi dengan waktu, beberapa minggu ini waktu tak memperlihatkan sosokmu sedikit pun, bahkan aku berniat untuk tak berkedip sekalipun jika hal itu membuatku harus melewatkanmu. Dimana kamu? Taukah jika sejak beberapa minggu lalu, aku hanya bisa menulis tentangmu, yang enggan pergi dari persimpangan hanya untuk menungguimu. Katakan sesuatu, perlihatkan sosokmu meski hanya lewat bayangan. Aku hanya ingin mendengar, bahwa kamu pun sebenarnya juga merindukanku, karena kita sama, apa-apa yang kita punyai, rasakan, dan inginkan selalu sama. Aku pun ingin rasa rindu ini sama denganmu, meski dengan menghilangnya dirimu membuat keyakinanku sedikit demi sedikit berkurang. Kamu tau? Aku merasa waktu berputar semakin cepat, apa kamu pun ikut merasakannya? Karena, waktu-waktu itu terasa si...

Menunggu 2

Masih berada dipersimpangan yang sama, dengan keyakinan bahwa niatku untuk menunggu tidak akan menjadi sia-sia, semoga. Karena hingga sekarang, selangkah pun aku tak melihatnya, hentak kakinya pun aku tak mendengar. Lalu, apakah niatku akan menciut? Entahlah, siapa yang harus kuajak bicara sekarang? Disini hanya ada tiang listrik, dan bangku yang kududuki untuk menunggumu. Keduanya begitu setia menemaniku, tapi tidak bisa kuajak berkompromi. Monster Senja, datanglah, atau kalau tidak aku akan mengadukanmu kepada seluruh pembaca, bahwa kamu telah melupakanku. Anggap ini ancaman. Aku hanya ingin tau, seberapa besarkah tubuhmu sekarang, masih cocokkah nama monster untukmu? Dan, aku juga ingin tau masih semeneduhkan apa kamu sekarang, masih cocokkah nama senja untukmu? Yang pasti, sapalah aku meski hanya dengan melewatiku. Bukan hakku untuk membuatmu mampir menemaniku duduk, atau sekedar bercanda berdua denganku. Aku hanya ingin kamu menilikku sebentar, agar aku tak terlalu lelah menu...

Menunggu

Menunggu. Apa yang lebih menyebalkan dari menunggu? Ada banyak alasan kenapa orang lebih memilih menunggu daripada meninggalkan, tapi satu yang pasti, yaitu perasaan. Paling pertama mengenai tunggu-menunggu adalah karena perasaan, seseorang yang perasaannya tidak terpaku pada satu tujuan, mungkin akan mudah meninggalkan, karena dipikirannya ada banyak hal lain yang bisa diraihnya tanpa menunggu. Padahal, dengan menunggu, kita bisa tau bagaimana hebatnya rasa sabar, dan seberapa mampukah kita menguji diri sendiri untuk tidak pergi dan menyerah. Sabarlah, ini ujian. Haha, seperti qoute yang belakangan ini sedang populer. Semua yang menyangkut dengan perasaan pun sebenarnya ujian. Karena, perasaan itu lemah, tidak seperti logika yang menatap segalanya secara logis, sedangkan perasaan? Dia bilang tai pun terasa seperti coklat. Indah namun menyakitkan. Seperti kali ini, perasaan ini mengajakku untuk menunggu, sesuatu yang seharusnya perlu kupikir beberapa kali, siapa aku? Apakah berhak ...

Monster Senja

Percayalah, ketika aku mulai menuangkan baris tulisan tentangmu, maka sudah pasti kamu berarti dalam segala hal mengenai semua yang tertuang. Seperti kali ini, aku menuliskan tentangmu, dengan gamblang namun begitu samar. Monster senja, aku mencintaimu. Semudah itu menuliskannya, tapi perlu keberanian yang terlampau besar. Jadi, seseorang, siapapun itu tolong bawakan aku tabung oksigen yang paling besar! Mengertilah, indahnya mencintai itu berbeda dengan indahnya dicintai. Karena mencintai, itu tanpa perlu persetujuan siapapun, cukup hati dan perasaan, maka untuk logika, biarkan dia bermain sendiri. Hanya hati lah yang membuatmu terlihat indah meski menyakitkan, meski jarak terus tampak menjauhkan kita, dinding kokoh semakin menjulang tinggi diantara kita, menimbulkan batas yang tak terduga, yang bisa diterima oleh logika, namun tidak oleh hati dan perasaan. Jika semua itu membuatku terjatuh, maka dengan mencintai adalah hal yang membuatku bangun tanpa tertatih. Jadi, biarkan aku ...