Temu adalah obat, sekaligus juga pisau yang siap menyayat. Dari kejauhan, aku melihatnya mengembangkan senyum. Saling merasa bahagia dan lega, setelah waktu dan keadaan menjauhkan kita. Namun aku melupakan sesuatu, bahwa selama itu aku sedang berusaha melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu bersama duniamu hidup bahagia. Dan aku, menjalani hari-hariku seperti biasanya; hidup tanpa kehadiranmu. Temu yang meruntuhkan seluruh pertahananku lagi. Aku yang akhirnya kembali lagi dititik awal; untuk melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu kembali lagi menuju duniamu yang sesungguhnya. Persinggahan yang semakin mengerucut. Dan harusnya aku tidak lagi ada disana. Temu yang kali ini tak pernah kuduga akan berakhir secepat itu. Begitu cepat, namun berhasil meraup semua harapan. Harapan yang sudah kukubur sejak lama, muncul kembali ke permukaan. Tapi lihatlah, tidak ada yang bisa didapatkan hanya dengan berharap, dan aku- tidak dapat melakukan apapun. Karna kita tetap tidak per...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.