Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Temu yang membuatku bahagia sekaligus hancur kembali

Temu adalah obat, sekaligus juga pisau yang siap menyayat. Dari kejauhan, aku melihatnya mengembangkan senyum. Saling merasa bahagia dan lega, setelah waktu dan keadaan menjauhkan kita. Namun aku melupakan sesuatu, bahwa selama itu aku sedang berusaha melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu bersama duniamu hidup bahagia. Dan aku, menjalani hari-hariku seperti biasanya; hidup tanpa kehadiranmu.  Temu yang meruntuhkan seluruh pertahananku lagi.  Aku yang akhirnya kembali lagi dititik awal; untuk melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu kembali lagi menuju duniamu yang sesungguhnya. Persinggahan yang semakin mengerucut. Dan harusnya aku tidak lagi ada disana.  Temu yang kali ini tak pernah kuduga akan berakhir secepat itu. Begitu cepat, namun berhasil meraup semua harapan. Harapan yang sudah kukubur sejak lama, muncul kembali ke permukaan. Tapi lihatlah, tidak ada yang bisa didapatkan hanya dengan berharap, dan aku- tidak dapat melakukan apapun. Karna kita tetap tidak per...

Enggan menuang perih

Pergilah, sebelum kamu menghadirkan rasa, dan sebelum kamu menancapkan luka. Berjalan melewati kerikil tajam, duri melingkar, petir menyambar dapat kulakukan untuk meraih tangan yang ingin bersamaku. Tapi jika kamu tak sungguh, maka pergilah. Sebelum semuanya sia-sia. Bertahanlah, jika kamu enggan melukai, dan enggan menuang perih. Jangan pernah menuangkan cuka, garam, dan perasan jeruk nipis pada lukaku yang belum mengering. Jika kamu datang untuk menyembuhkan, maka bertahanlah. Yakinkan aku sekali lagi, bahwa kamu bukanlah luka seperti yang kutakutkan.

Tak perlu lagi menunggu puluhan abad

Menunggumu datang butuh berpuluh abad sampai kamu ikhlas, percuma jika setiap hari kamu datang hanya dengan senyum culas. Menggenggam tanganmu rasanya dingin dan kaku, seperti mayat hidup. Yah, aku bersama dengan seseorang yang menyebut dirinya manusia, sedangkan sebenarnya hanya tulang dibalut luka. Kamu masih meratapi duka masa lalu dengan menggenggam tanganku. Apa yang sedang kamu cari? Apakah ini semua hanya drama belaka, yang kamu bentuk sedemikian sempurna? Seolah nampak kamu sedang melangkah kearahku, padahal sebenarnya kamu melangkah untuk melewatkanku. Begitu rupanya. Tidak apa-apa, mari kugenggam tangan dinginmu. Anggap saja aku sedang berada dalam drama bersamamu, yang nantinya akan mendapat tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang terkagum-kagum melihat kita. Tapi akan aku pastikan juga, kamu akan lupa bahwa seseorang yang kamu sebut teman peran, akan berubah menjadi sandaran.  Tak perlu lagi aku menunggu puluhan abad untuk menggenggam tanganmu dengan hangat, tapi per...

Datang tanpa sebab

Aku yang menutup rapat luka, mengiris juang, dan mematahkan langkah. Membuka deretan, untuk sebuah hal kecil; yaitu asa. Memantik api bukan lagi harapan, hanya ingin mengarungi lautan untuk menuju palung terdalam. Kamu datang tanpa sebab, saat aku masih berusaha bangun dari terjerembab. Kamu mengulurkan tangan, seolah permukaan halus itu adalah bantuan. Kamu mengeratkan rangkulan, seolah dari dadamu lah aku mendapatkan kehangatan. Siapa kamu? Berasal darimana? Dan kenapa? Setelah kedatangan, uluran tangan, rangkulan, kamu menutupnya dengan kepergian. Meletakkan diriku lagi dikalimat pertama. Dan kini semakin jauh lebih berat.

Sudah berjuta kali aku sembuh

Ada ketakutan, yang membuatku enggan membuka lebar sayap untukmu terbang bersamaku. Sayap yang sering kali kamu lukai, ketika telah terbang kelapis awan. Yang membuatku kembali jatuh, untuk kesekian kali. Ketika aku sedang mengobati luka pada sayapku, aku mengajak bicara pada sisi diriku yang lain, memberi cermin dan membuka mataku; bahwa sudah berjuta kali aku sembuh oleh sayap yang terluka karenanya, dan berjuta kali juga aku mengulang luka yang sama dengan membawamu terbang bersama.  Seolah bukan hanya keledai yang jatuh dilubang sama berulang kali, tapi aku juga. Meskipun aku takut untuk terbang lagi denganmu, tapi aku masih mengepakkan sayap dan mulai membawamu kelangit, dimana itu tempat yang paling membuatmu bahagia. Kamu bersorak sorai, dan semakin mengeratkan pelukan. Mengecup keningku dengan kehangatan. Lalu berbisik, bahwa kita sedang bersama, dan berbahagia. Aku senang mendengarnya, tapi lagi-lagi aku ketakutan. Karena pelukan, kecupan dan bisikan itu akan segera hilang...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Masih tentangmu, November

Masih tentangmu November, Mengingat betapa kuatnya aku hari itu, merias wajahku dengan senyum kebahagiaan, merangkul seolah tak terasa luka menancap semakin dalam seiring pelukan yang makin erat. Aku bangga pada diriku saat itu, mampu menatapnya tanpa mengeluarkan air mata, tanpa harus menuju pundaknya untuk tenang.  Hari itu, aku menunjukkan pada dunia bahwa pecundang juga dapat bangkit. Hari-hari sebelum semua itu terjadi, aku menjadi pecandu pundaknya untuk mendapatkan ketenangan. Aku menjadi pagar untuknya pergi, aku menjadi tidak waras untuk menikmati setiap waktu bersama. Tapi pada kenyataannya, penginapan tetaplah bukan rumah tetap. Meskipun terus menahan, pada akhirnya tetap akan kulepaskan. Dan hari itu, aku dengan nyaliku yang tidak pernah tau seberapa besar, berani menemuinya, membawa senyum bahagia seolah aku bisa melakukan apapun tanpa harus bersamanya, membawa kenyataan juga bahwa aku telah menang sekaligus kalah. Entah apa yang dia rasakan, bertemu denganku, saling m...

Setegar hujan dibulan November

Menari mengiringi suka cita yang tak ayal adalah tipu daya, menguak satu demi satu luka yang dinamakan percuma. Kamu telah berhasil, berbahagialah. Berhenti mengeruk masa ketika kamu jadi orang gila, ingatlah bahwa itu hanya dinamakan percuma. Kamu telah menang, kamu menjadi juara. Kamu, setegar hujan dibulan November ini. Berjalan tanpa menunduk sedikitpun, menatap lurus suka yang kamu sebut duka. Kamu hebat, kamu menjadi sangat hebat saat menatap mata itu seolah tanpa rasa. Padahal saat itu hatimu sedang kalang kabut mencari pundak, menenggelamkan wajah untuk menutupi buih dari air laut. Menggulung ratusan kata yang pernah ia janjikan, dan kamu ingin menghempaskannya tepat disana, didepan matanya. Tapi, kamu memilih berdamai.  Menjadi manusia yang paling taat aturan. Dan semua berjalan sesuai tatanan. Kamu menjadi setegar hujan dibulan November. Dihempas begitu keras, dijatuhkan dan dibiarkan. Seolah kamu tak diberi waktu bertemu Desember. Menangislah, habiskan airmata dan lukamu...

Apakah yang suak tak dapat lagi berjaya?

Apakah seseorang yang dimasa lalunya telah gagal, tidak pantas memberi pendapat hidup untuk orang lain? Apakah yang patah, tak bisa menumbuhkan tunas ditubuhnya? Apakah seseorang yang telah kalah telak, dihempas oleh kehidupan untuk tak lagi bisa menang? Apakah yang suak, tak lagi dapat berjaya? Sebagai seseorang yang gagal, ia terus merangkak untuk maju, meski kaki telah dipatahkan oleh mulut-mulut orang. Merintas jalanan menuju bukit yang penuh kerikil, untuk menghindar dari tatapan sanksi orang. Menyusur bentang lautan, halau daratan dari kata-kata orang. Ia hanya sebuah luka, yang berharap cuka mengering. Ia hanya buih embun, yang berharap menjadi deretan hujan. Ia seseorang yang gagal dimasa lalu, masih punya harapan pantas dimasa depan.  Masih bisakah? Ini pertanyaan untuk orang-orang yang bermulut seperti hunus pedang, berpandangan dangkal, berpikiran curam. Menarik kesimpulan atas dasar "dulu", kemudian menuangnya menjadi "aduh". "Aduh, dia dulu seseora...

Menjadi pelukis algoritma didinding yang rapuh

Ketika kamu datang ke tempat dimana perempuan yang kamu sembunyikan berada, maka kamu hanya menemukan tempat kosong dengan dinding yang penuh goresan. Goresan itulah, caranya menghitung hari dimana kamu memilih pergi tanpa berpamitan. Perempuan yang tak tau bagaimana caranya mencari kabarmu, karena dinding terbentang menghadangnya tanpa belas kasihan.  Seandainya, di detik akhir kamu berjalan, masih menyempatkan diri untuk menilik, mungkin semuanya tak akan serumit ini. Kamu bisa berdansa mesra disana, dikelilingi oleh orang-orang yang memuja keserasian kalian.  Tapi bagaimana dengan perempuan yang masih dalam persembunyian?  Di detik akhirmu menuju kebahagiaan, ia masih menunggu sebuah uluran tangan, yang diharapkannya adalah kamu.  Ia masih merayu waktu untuk menemaninya sebentar, sampai seseorang yang diharapkannya datang. Namun, sekali lagi. Harapannya hanyalah buih di saat hujan turun dengan deras. Tak pernah berarti, selagi dihatimu hanya menyerukan pengkhianat...

Bukan perkara yang bisa dimafhumi

Tak perlu bertanya tentang perasaan Karena air adalah jalan Tentang hati Bukan perkara yang bisa dimafhumi Terkadang benar belum tentu pasti Hanya perlu mengalir untuk menepi Jangan takut, aku tak pergi Hanya perlu percaya dan pahami Yang berjanji pun belum tentu ditepati Jadi, biar akhir ini kan menepi Bab mencintai, Apapun lezat meski itu tai Dan takut kehilangan adalah hak murni Tak mengapa itu alami Setidaknya tak melebihi

Mengikatmu dengan kekuatan

Aku pernah kehilanganmu, dan kamu kembali. Namun aku baru sadar, bahwa sebab kehilanganmu adalah alasanku menjadi orang yang paling tidak bisa mempercayaimu, meski telah bersumpah. Maaf, kekasihku.  Tapi apa yang terjadi dimasa lalu, ternyata menyisakan kesan dalam aku menilaimu. Dan ini salah.  Mulai dari hal ini saja, aku sudah salah. Mendasari hubungan ini atas ketidakpercayaan. Menerimamu kembali, masih menguatkanku untuk bertahan. Menata lagi yang pernah kamu retakkan. Kenapa harus lagi? Pertanyaan itu sempat menjadi benalu dalam pikiranku, seolah keputusasaan menjadi alasanku. Lelah akan menemui orang baru, mengenal, menjajaki, menerima dan mungkin saja akan terjadi hal yang sama. Bukan karena itu. Seperti pepatah yang kudengar. Ketika menerima dan memberi, gunakanlah hati dan perasaan. Aku, memutuskan untuk menerimamu dengan segala kecaman masa lalu. Kupikir, semua bisa berubah seiring berjalannya waktu, begitu juga dengan janjimu. Kamu datang lagi tidak hanya dengan ta...

Tak perlu menciptakan satir

Sejak sajak menjadi sejuk Beningnya hening menjadi suara sorak sorai Kunang dulu bersembunyi dipunuk Kini ia terbang meninggalkan tungkai Dengan sebuah seringai Bulan berbisik pada mentari Merayu bahwa duka harus pergi Lelah menjadi bukti Dari bunga, tangkai juga berduri Tak ada yang selamanya berbahagia Tak ada yang selamanya berduka Porsi ditakar dengan semestinya Tak perlu khawatir, dan tak perlu menciptakan satir Tenanglah, duka bukanlah benalu Waskitalah, bahagia tetap akan berlalu Berganti secepat hilang oleh halu Tuhan menciptakan beda dari yang lalu Jadi tau, tak perlu bersedih untuk keluar dari belenggu.

Hak dan kuasamu sepenuhnya

Aku adalah apa yang kamu pikirkan dan katakan. Karakter, sifat, dan sikapku semua tergantung pandanganmu. Aku tidak bisa memaksa kamu untuk paham dan setuju, Persepsi tentangku adalah hakmu. Ekspektasi mengenaiku adalah kuasamu. Aku tidak akan menuntut kamu untuk percaya dan bersikukuh. Karena aku tetaplah apa yang ada dikalimat pertama. Meski kugambar sesempurna apa diri ini disebuah kertas, seni tetap tidak mempunyai nilai sempurna. Jika kamu terus menciptakan persepsi terhadapku sesuai dengan ekspektasimu, mungkin saja aku bisa, tapi jika tidak, bukan mundur, tapi aku akan berhenti. Memberimu jeda untuk memperbaiki segalanya, sebelum aku benar-benar lelah.  Pergi atau bertahan, tetap menjadi hak dan kuasamu sepenuhnya.  Sabtu, 17 Oktober 2020 Umi Masrifah

Toh nyatanya kamu pergi tanpa pamit meninggalkan

Ingatkah kamu ketika dua anak laki-laki dan perempuan yang berlari kearah kita berdua? Terlihat bahagia, begitupun kita. Ya, aku bisa melihat dari senyum yang tercipta dibibirmu dengan tulusnya. Kenangan itu, tak lebih hanya selingan dalam ceritamu. Tak lebih hanya bumbu dalam duniamu. Aku bersama kenangan, hilang dengan mudah bersama angin dimalam itu. Kehilanganmu harusnya menjadi hal biasa, karena kamu tidak pernah mau kurangkul. Kamu, tidak pernah mau mengakuiku. Kamu, hanya menyembunyikanku dari apa yang tidak pernah kamu dapatkan.  Dan kini, kamu benar-benar hilang tanpa mengucap selamat tinggal.  Mungkin hal itu lebih baik, daripada berbelit dan mendebatkan siapa yang akan pergi dan menang karena bertahan. Ya, pada dasarnya aku lah pemenang sekaligus menelan kekalahan. Aku menang karena membenarkan egoku dengan bertahan pada sesuatu yang kamu sebut persembunyian. Dan aku kalah karena tetap menjadi bodoh untuk menunggumu. Aku tidak pernah tau dan tidak mau tau apa yang k...

Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi

Pernah berpikir untuk beranjak, namun tiba-tiba kamu datang dan mengelak. Semuanya masih baik-baik saja, dan tidak perlu ada yang saling meninggalkan, ucapmu. Aku kembali terduduk, dan menikmati hangatnya tatapanmu dan senyuman yang kian semakin manis. Baru kemarin kamu melakukan itu, menahan dan seolah mengikatku pada kepastian. Sayangnya, hari ini kamu menghilang bersama bualan. Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi. Seharusnya waktu itu, aku terus beranjak dan pergi meninggalkanmu. Meninggalkan ketidakpastian dan keraguan yang selalu kulihat dimatamu.  Aku memang bukanlah perempuan sesempurna dalam bayanganmu, aku juga bukan yang baik-baik saja dalam masa lalu, aku pun masih menyimpan bekas luka yang akan cacat selamanya.  Aku jauh dari apa yang kamu bayangkan. Lalu kenapa aku masih berpikir kamu akan menerimaku? seolah aku sangat layak bagimu. Tolonglah, setidaknya jangan membuatku bingung dengan perasaanmu.  Jika memang aku bukan salah satu dari daftar orang yang ...

Menyatukan alur yang berbeda

Masih beberapa judul untuk mejabarkanmu dalam tulisan, tapi kamu memilih menarik diri, entah untuk berapa lama, atau mungkin untuk selamanya. Baru saja aku menyusun rencana dalam daftar hari-hariku, yang disitu tercantum namamu, tapi sepertinya harus dicoret dengan paksa karena; kamu memilih pergi.  Aku memang bukanlah seperti perempuan yang kamu bayangkan, tidak punya hal yang kamu cari. Maka pantas kamu kecewa, dan memilih pergi. Menyatukan alur yang berbeda, ternyata membuat kita kesulitan. Dewasa ternyata belum mendewasakan kita. Dan salah ternyata mampu membuat kita saling menyalahkan. Keras kepala membuat kita enggan menguarkan keadaan. Serumit itu, sesuatu yang baru dimulai. Kamu yang selalu menarik diri belakang ini, membuatku sadar bahwa telah terciptanya jarak, sebagai peringatan agar aku tak terlalu berharap.  Aku memang bukanlah apa yang kamu inginkan. Jadi pantas kamu tinggalkan.

Mungkin aku masih mengenalmu sebatas nama

Belum sempat kita duduk berdua, menyeduh teh hangat dan berbagi cerita tentang yang sudah-sudah. Kini kita sudah menciptakan jarak, yang disebut keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah, dan sedikit meredam amarah, Semua berubah karena kita belum mengenal sejauh arah yang akan kita langkah. Atau, aku lah yang terlalu berlebihan dalam menerka, bahwa kamu juga merasakan hal berbeda ketika kita bersama. Mungkin, aku masih cukup mengenalmu sebatas nama, tidak dengan perasaanmu yang sudah menganak ruah, dan tak terbatas hingga ribuan rasa. Kamu yang telah jauh menjelajah, menjamah tiap bagian rasa hingga mahir menyimpulkan mana yang sungguh-sungguh dan bercanda. Sedangkan aku?  Aku hanya perempuan yang memiliki sekat sendiri disebuah jalan, sebab sadar bahwa terlalu mudah untuk nyaman membuatku terlihat rapuh dan berantakan. Meski tak semahir kamu, Aku punya luka yang membuatku belajar untuk menghargai diriku sendiri, dan senyuman. Menarik diri, ketika seseorang mulai menja...

Tuan ini bukan ancaman, hanya sebuah pemberitahuan

Kemarin baru saja kita berbincang, tapi hari ini kamu sudah menghilang. Seperti angin, sebentar kamu datang dan sebentar kamu pulang.  Setidaknya, jangan menaruh harapan kalau kamu tau ini hanya permainan. Harus kamu tau, tidak ada yang baik-baik saja, ketika dunia-nya yang baru diciptakan, tiba-tiba dihimpit menuju permukaan. Baru saja menenggelamkan diri pada kebahagiaan, namun dalam sekejap ombak menggulung hingga menuju daratan. Menurutmu, ini seperti kembang api di tahun baru? Warna warni, kemudian menguar bak abu. Atau menurutmu, ini seperti ajang perlombaan? Mengejar, lalu menjatuhkan. Semenyenangkan itu kah menurutmu? Datang dan pulang, tanpa berpamitan. Tapi naasnya, ini bukan perlombaan atau kembang api yang membuatmu bahagia dalam satu waktu, lalu kamu tinggalkan ketika bosan atau sudah menang. Ini tentang perasaan, yang dijatuhkan untuk bertahan. Bukan ditinggalkan. Sesederhana itu menghargai perasaan, ketika kamu berniat untuk mulai menguarkan rasa nyaman. ...

Aku yang akan mengantarmu

Tangan itu meraihku, dengan bersemangat kamu membawaku pada kenyataan yang belum bisa kuterima.  Tanpa menilikku, kamu semakin mengeratkan genggaman ketika ku hendak melepasnya.  Mengapa kamu melakukan itu? Kamu mau aku menyaksikan semua luka yang telah kamu buat? Setelah membawaku berjalan cukup jauh, kamu berhenti. Tetap tanpa menilikku, kamu mulai melepas genggaman yang tadinya begitu erat. Ada ketakutan yang sangat besar, kehilanganmu nyatanya masih menjadi mimpi burukku.  Diseberang ada seorang perempuan telah menunggumu, dengan sebuket bunga ditangannya ia tersenyum. Dan kamu tetap tak menilikku, melangkahkan kaki kearahnya.  Yang berbeda, kamu tak meraihku lagi, genggaman yang begitu erat tadi terhapus oleh udara malam itu.  Kamu melangkah pergi... Seketika udara malam itu membentuk bentangan dinding tak kasat mata, menahanku untuk meraih, dan menghalangimu untuk berbalik.  Ternyata saat-saat itu telah tiba. Keadaan pada akhirnya memisahkan kita, set...

Semua telah menjadi mimpi

Kepada seseorang yang berhasil mengunciku dalam rasa nyaman, terimakasih atas hadiah perpisahannya. Tidak ada sepatah kata, dan itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Berulang kali berusaha mengeluarkan diri, namun kembali pada sebuah ruang yang dinamakan; "kenyamanan". Siapapun berhak memilih teman dan pasangan, tapi pada akhirnya ia akan menetap pada seseorang yang membuatnya merasa nyaman. Dan tidak semua orang yang membuat rasa nyaman itu, merasakannya juga. Ia hanya memberi penawaran, yang bisa saja ditinggalkan untuk sebuah kepentingan. Ia datang dengan wajah menyedihkan, lalu pergi dengan senyuman. Begitu, ketika seseorang datang hanya untuk mencari hiburan.  Sudah seperti badut, seseorang yang berada dalam rasa nyaman, menjadi apapun agar melihatnya bahagia. Meski pada akhirnya tau, bahwa saat ia sedang penat di kehidupannya, ia membutuhkan persinggahan. Kepada seseorang yang telah membuatku jatuh pada kata nyaman, kini dengan langkah yang terseok, dan tubuh yang tak ma...

Untuk hubungan yang tak pernah punya nama

Dada yang selama ini menjadi tempat ternyaman, kembali mendekapku. Membawa sosok yang selama ini membuatku percaya, bahwa perjuanganku untuk bersatu denganmu akan segera terwujud. Namun, seiring berjalannya waktu... Aku mulai memahami bahwa; langkah juangku selama ini tak pernah beriringan denganmu. Dan hubungan yang ada diantara kita, tak pernah kamu beri nama. Kucoba merubah sajak dalam doaku, yang semula mengharapkanmu, menjadi ikhlas melepasmu.  Apa yang bisa aku lakukan selain itu? Sejak aku menyadari bahwa; aku bukan harapan di masa depanmu. Biarkan aku menangis dalam dekapanmu, untuk yang terakhir kali. Aku akan menghapus airmataku sendiri, dan menunjukkan senyum ikhlas tepat didepanmu. Aku mengikhlaskanmu, sungguh aku sedang berusaha... Untuk hubungan yang selama ini tak pernah punya nama, akan aku rubah menjadi pertemanan. Meski butuh waktu yang aku tidak tau berapa lamanya. Jangan pernah menatapku dengan mata yang seolah sangat tau apa yang sedang aku rasakan, dan jangan ...

Untuk apa ada aku

Pelukmu masih hangat, Namun semakin kemari, hatiku semakin sakit. Untuk apa memiliki sebuah kehangatan, sedang tak sepenuhnya memiliki pelukan itu. Yang ku takut adalah ketika kamu menatapku dalam,  Harusnya aku terpukau, terpanah oleh tatapan itu, Namun yang ku takut adalah kata-kata yang nanti akan kamu ucapkan, Ucapan yang membuatku lagi-lagi berantakan, dan menyadarkan diriku sebagai pecundang. Kamu pamit. Aku akan berbagi pelukan dengannya, seseorang yang sesungguhnya memiliki pelukanmu, dirimu seutuhnya. Dan kenyataan yang ada, bukan aku sesungguhnya yang kamu pilih meskipun nanti kembali. Tidak ada aku dalam masa depanmu, Tidak ada aku dalam impian besarmu, Tidak ada aku dalam harapan-harapanmu, Tidak ada aku dalam rapalan doamu, Tidak ada. Dan tidak mungkin ada. Ketika seseorang telah memilikimu sepenuhnya. Lalu untuk apa ada aku?  Untuk apa pelukanmu masih menghangatkan tubuhku, Untuk apa kecupanmu masih menghapus lelahku, Untuk apa waktumu masih diberikan padaku yang...

Aku telah menyerah

Bukannya sudah tak nyaman, namun aku sedang menahan.  Membiarkan ego sedikit mengalahkan perasaan. Sekat yang terlalu tinggi, membuatku terduduk lemas dan menyerah. Yah, aku tlah menyerah, dari semua yang kita lalui, aku tetap bukanlah tujuanmu. Adakalanya hati ini menuntut untuk meminta kabar, tapi apa akan berjalan terus menerus seperti ini? Jatuh berkali-kali untuk menggapaimu. Sungguh, jika aku dapat melihat dengan kasat mata hati ini, mungkin ia sudah penuh dengan bekas luka sayatan. Selalu bertahan, dan berjuang. Namun tetap tak pernah berujung. Aku sama sekali tak pernah menyalahkanmu, siapapun berhak merasakan nyaman. Ya, begitu pun aku dan kamu yang sudah terlanjur sangat jauh pada rasa itu.  Jika kamu tak mampu, maka aku yang akan memulainya. Memulai untuk mengakhiri rasa yang seharusnya tak pernah ada. Kamu disana bisa tanpaku, dan disini aku pun berusaha tanpamu. Berbahagialah, diriku.

Kamu membenci perasaanku

Berjanjilah pada satu hal, bahwa kamu akan mengingat hari ini. Ketika kamu mengucapkan selamat tinggal, maka pada saat itu aku tidak akan pernah lagi datang. Meski rasanya begitu berat. Aku datang karena kamu mau, dan aku pergi juga karena kamu mau. Jadi aku adalah apa yang kamu mau. Bukan yang kamu butuh.  Kini aku terlanjur jatuh, dan kamu membencinya. Kamu membenci perasaanku, yang tlah kamu tumbuhkan. Begitu kah? Rasanya tidak adil. Dari apa yang kurasa selama ini, bencimu atas rasaku sangat menyakitkan. Aku boleh memeluk, merangkul, memiliki, tapi aku tidak diperbolehkan untuk mencintai. Begitu kah? Rasanya tidak adil. Aku tau, alasanmu benar mengapa aku tidak boleh mencintaimu. Karena pada akhirnya aku akan tetap kehilanganmu. Kamu akan tetap mengucapkan selamat tinggal. Dan aku akan tetap jatuh bagaimanapun juga. Jadi perasaan ini adalah hakku.

Sejenak Menatapku

Menekan rindu ini bukanlah hal yang mudah, ketika semuanya belum sempat ku ungkapkan. Mengapa kamu pergi, sebelum tau apa yang ingin kamu ketahui selama ini. Apakah kamu terlampau lelah? Hingga pergi tanpa mengucapkan "selamat tinggal, sampai jumpa lagi atau tunggu aku". Kamu pergi dengan menghiraukan pertanyaanku, kamu pergi tanpa menoleh ke belakang. Maafkan aku, jika membuatmu menunggu, membiarkanmu memberi perhatian tanpa balasan. Aku hanya tidak ingin mengungkapkannya terlalu cepat, aku tidak ingin merasakan kehilangan seperti yang sudah-sudah. tapi ternyata pada kenyataannya, aku sudah kehilangan lebih awal dari yang kuduga. Baiklah, jika itu yang terbaik. Kamu perlu mendapatkan yang lebih dariku, yang mampu membalas perhatianmu dengan kasih sayang, yang datang ketika kamu menunggu, yang meraih tanganmu ketika kamu mengulurkannya. Karena aku masih tak seberani itu hingga kini. Aku masih berpikir berulang kali untuk menjatuhkan hati, setelah semua yang telah kulalui. Sem...

Saat yang seharusnya mendapat pengakuan

Dari dalam palung, aku merangkak menuju cahaya. Berharap yang kugapai adalah mentari. Namun ketika sejengkal jarakku dengannya, ia hanyalah kunang yang hilang bersama malam. Mengapa, ketika setiap usahaku tertuju padanya, berakhir dengan sayatan luka yang ternyata sudah menganga lebar. Aku tak pernah sadar, ketika usahaku meraihnya, duri telah melukai, pisau telah menikam, dan ribuan beban telah menahan.  Aku tak pernah sadar. Karena di depan mataku, yang ada hanyalah angan berbahagia dengannya, mengurai senyum dan dekapan, mengikat satu sama lain, juga enggan melepas genggaman meski deretan duka coba mengusik. Tapi pada kenyataannya, saat aku berusaha menghilangkan jarak, ia tak melakukannya. Saat aku menyingkirkan kerikil, ia menghiraukannya. Dan saat aku memintanya menetap, dengan lembut ia menolaknya. Saat yang seharusnya aku mendapat pengakuan, ternyata hanyalah harapan yang terabaikan.

Yakinlah duka akan cepat berlalu

Jika memang kita sudah tak sejalan, Mengapa harus menceritakan hal buruk pada orang lain? Yang lalu memang sudah berlalu, Dan hanya kita yang tau. Berhenti bertanya mengapa takdir membawa kita bertemu, Mengapa pada pertemuan itu kita tak bersatu. Kamu mau, Tuhan yang menjawabnya langsung? Bersyukurlah kita masih pernah dipertemukan, Bagaimana jika seperti pagi yang tak pernah bertemu dengan malam? Dan seperti gurun yang tak pernah bertemu dengan hujan? Mengapa kita masih meragukan? Aku tau, luka mungkin merubah jati diri seseorang. Bahkan dapat menjatuhkan ke sebuah palung yang terdalam. Tapi mengapa kita tidak berpikir, bahwa saatnya nanti, Sebuah tangan lain akan meraih, membantu keluar dan membawa ke sebuah cahaya yang kita tau nanti bahwa itu adalah takdir. Semua kembali pada garis yang sudah digoreskan Tuhan pada Lauhul Mahfudz. Yakinlah bahwa duka akan cepat berlalu, Dan luka akan cepat sembuh. Dengan menceritakan keburukan, maka semua itu akan terasa lambat.

Dari seseorang yang pernah memelukmu

Dulu, ketika suaramu menjadi alunan terindah ketika mata terlelap, Kini tak lebih menyisakan petir dalam malam yang gelap. Berharap memiliki akhir yang bahagia, Kini yang kudapatkan hanyalah perih yang mendera. Mengapa ketika kutunjukkan kesungguhan, Kau pergi tanpa alasan. Janji yang kala itu kau ucapkan, membuatku sadar bahwa itu semua hanyalah bualan. Andai aku bisa membaca sirat matamu, aku tidak akan sejauh ini memperjuangkanmu. Seseorang yang selama ini ada dalam harapanku, Ternyata takut akan waktu. Lalu menyerah Bersama dukaku. Terimakasih Tuan, Mungkin kali ini tak ada lagi aku yang berjuang, ataupun aku yang menangisi keadaan. Karena seseorang yang pernah memelukmu, kini akan mengikhlaskanmu.

Bolehkah mencari rumah baru untuk disinggahi?

Ketika hati lelah menetap dalam rumah yang sudah tak kokoh, Bolehkah mencari rumah baru untuk disinggahi? Keluar dari rumah yang tuannya tak tau harus membawa kemana, yang hanya mensajikan peluk hangat lalu pergi padanya, Ku kuatkan langkah agar tak tertatih dan terluka, Meski kutau ini bukanlah hal yang mudah. Keluar untuk masuk dalam rumah yang baru, Dengan tuan yang sungguh-sungguh, Yang tak hanya datang ketika duka dan pergi ketika sembuh, Dan di bola matanya hanya ada satu perempuan, yaitu aku. Seperti halnya perempuan lain, harapku ingin menjadi one and only,  Tapi nyatanya aku hanya menjadi orang tak tau diri.

Kemarau berlalu

Kemarau berlalu seolah ia telah usai, membakar diri-diri yang tetap terus merindu. Lalu tetes air turun, satu dua tiga hingga kemudian jutaan. Menghadirkan genangan pada lubang-lubang yang dulunya kering hingga terlihat bebatuan. Anak kecil berlarian, menatap ke langit dengan tawa kebahagiaan. Memercikkan air di genangan untuk membuat temannya kelabakan, dan akhirnya tertawa bersama. Tidak lama kemudian seorang pengendara yang mengejar waktu, melewati mereka begitupula genangan yang semakin meninggi. Ketika mereka masih tertawa riang, tiba-tiba mulutnya penuh dengan air genangan akibat pengendara yang tak peduli jalan.  Sereceh itu aku tertawa, melihat mereka memaki dan menyesali rasa air genangan yang tertelan. Seperti itu ketika aku bersamamu, hal kecil yang berbuah tawa Mengartikan bahagia hanya saat mendengarmu bercerita Dan menjadi candu untuk terus menikmatinya. Akankah ini semua berlalu? Ketika kamu kembali pada pelukan yang sesungguhnya bukanlah aku, Melainkan dia yang tela...