Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Aku hanya berharap bisa melihatmu, karena aku kehabisan cara menghapus rindu ini

Baca sebelumnya : Seperti hujan yang menghujamkan diri ke bumi Rindu ini terus menggila, sampai tak pernah habis kumelewati persimpangan yang sebenarnya bukan jalan utama. Jalan pulangku semakin jauh akhirnya. Ku masih ingat persimpangan dan setiap jalannya, berharap melihatmu meski sekilas. Mengapa kumasih merindumu? Menampik keputusanmu untuk saling mengakhiri. Terakhir kali, aku melihatmu, kurasa kekhawatiranmu yang dulu kembali waktu itu. Bahkan jaket yang kusimpan di lemari adalah buktinya. Aku tak terlalu berharap kamu mau membawaku pergi lagi, menguarkan rindu bersamaku, mengembangkan senyumku lagi yang sudah hilang sejak kamu memutuskan untuk kita saling berjalan dijalan masing-masing. Aku hanya berharap bisa melihatmu, karena aku kehabisan cara menghapus rindu ini. Terlalu berat dan jujur aku tak kuat. Setelah usahaku yang berkali-kali melewati persimpangan,  untuk sengaja melihatmu tak kunjung berhasil. Aku melihat kontak whatsappku, menyusuri setiap pesan dan tepa...

Apakah rindu yang jadi pelakunya?

Aku hendak pergi, tapi hati tak mau diajak berkompromi. Sejak kapan aku menggilaimu seperti ini? Sampai rela menghabiskan waktu hanya untuk menanti yang tak pasti. Rindu yang jadi pelakunya, namun kutau bukan dia, melainkan rasa. Andai kamu tau tuan pembuat rindu, kamu berhasil melancarkan aksimu, hingga tertatih pun  kulakukan untuk menemuimu. Kamu berhasil membuatku merasakan candu karena rindu, dan itu penuh deru, karena tak semudah itu menguarkan yang tabu. Mengapa kamu berlama-lama disana? Apakah kamu tega membuatku menunggu? Apakah kamu mau melihatku iri dan akhirnya menggerutu?

Rasa ini sangat dalam, tapi kuhanya bisa diam

Dari caramu memandangnya, ku tau itu rasa. Dan aku ingin memilikinya, aku mengharapkannya, aku menginginkannya. Tapi ku tak bisa berbuat lebih, selain memperhatikanmu dari kejauhan, ikut tersenyum ketika lengkungan indah muncul dibibirmu. Bukan aku disana, yang membuatmu tersenyum simpul dan begitu manis. Bukan aku disana, yang menyuarakan lelucon hingga terdengar gelak tawamu. Bukan aku disana, yang melihat jelas mata teduhmu. Bukan aku. Aku hanya berdiam diri. Tanpa pernah ingin maju dan menghampiri. Aku terlalu takut, ketika ku menyuarakan perasaanku, kamu menjauh dan tak menghiraukan. Rasa ini sangat dalam, tapi kuhanya bisa diam. Bisaku hanya menyebutmu dalam sepertiga malam.

Dari laki-laki yang selalu mencintaimu dalam persembunyian

baca sebelumnya :  Dari laki-laki yang menyembunyikanmu Aku menyecap minuman yang sudah kamu pesankan sebelum aku datang, tanpa bertanya kamu sudah hapal. Aku menatapmu lekat, ternyata kita sudah saling mengenal sejauh ini, dan aku semakin sadar bahwa aku ingin memilikimu lebih dari ini. Tapi apa yang aku harapkan tidak bisa begitu saja aku lakukan, ada seseorang yang masih menungguku pulang, dan dia tidak bisa aku lepaskan begitu saja. Aku terlihat bodoh dan egois sekarang, selalu memintamu datang ketika nanti aku sendirilah yang pulang. Aku selalu mengekangmu dalam persembunyian ini, yang tak pernah kamu keluhkan. Bagaimana kah perempuanku ini? Mengapa kamu tak memprotes sedikitpun tentang kita yang sekarang, mengapa kamu hanya mengikuti alur yang akan semakin menyakitimu. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku belum bisa mengeluarkanmu dari persembunyian ini. Kamu kembali bertanya bagaimana hubunganku dengannya, apakah baik-baik sa...

Dari perempuan dalam persembunyianmu, yang ingin dikenal khalayak

baca sebelumnya :  Dari perempuan dalam persembunyianmu Mataku mengedar, menyaksikan betapa ramainya tempat ini. Sudah menjadi rutinitasku, tentunya denganmu di cafe ini, sekedar saling bertukar pikiran dan melepas rindu yang setiap hari semakin meracuni dan tidak tau diri. Senyumku mengembang tiap kali langkahmu hadir untuk menguarkan rindu yang sedari tadi membuatku gelisah. Tempat ini seperti saksi bagaimana aku yang masih malu dan pendiam, sedangkan kamu yang berusaha mengungkapkan perasaan. Tempat ini pula yang memberiku kenyataan bahwa kamu telah dimiliki oleh orang lain, dan bodohnya aku mengapa tidak berhenti sejak saat itu. Aku memilih menguarkan rindu daripada menyuruhmu pulang karena dia telah menunggu. Di tempat ini juga kamu mengerti bagaimana sesungguhnya aku, yang akan takut kehilangan ketika sudah nyaman. Dan seperti kamu sengaja, kamu melakukan itu padaku. Kamu membuatku menjatuhkan hati tanpa tau tempat. Sulit dibayangkan bagaimana aku bisa seperti ini, mengab...

Dari perempuan dalam persembunyianmu

Aku menatapmu, mencari kejujuran dari mata yang selalu indah dipandang. Mengapa aku bisa sejatuh ini? Mengapa aku masih disini menemanimu? Dan dari mata itu, tidak ada satupun kebohongan yang kulihat. Itulah sebab yang membuatku bertahan hingga sekarang, menemanimu sampai kamu sendirilah yang menyuruhku untuk berhenti. Misiku saat ini hanya ingin laki-laki yang kucintai tersenyum bahagia, dan merasakan nyaman ketika bersamaku. Bukan hati bermaksud memintamu dari perempuan lain, yang nyatanya lebih dulu memilikimu, dan mencintaimu mungkin lebih dari yang kurasakan. Detik tak urung terus berputar, dan aku tetap disini menghiraukan dia yang akan sakit jika tau ini semua. Mengapa aku sebodoh ini? Mengapa sebagai sesama perempuan, aku tak memiliki rasa kasihan? Dan mengapa kamu malah memberiku jalan untuk melakukan ini semua? Ponsel pun bergetar, itu tandanya dia sedang coba menghubungimu lagi. Kamu mengalihkan pandangan kearahku saat tau siapa yang menelponmu. Dengan endikkan alis, kamu ...

Dari laki-laki yang menyembunyikanmu

Sebagai perempuan yang kusembunyikan, aku selalu memintamu untuk menetap dalam hubungan yang tak dapat didefinisikan namanya. Teman? Mana ada teman dengan perhatian melebihi seorang kekasih, mana ada teman yang mengkhawatirkan keadaan dan mencemooh ketika tak ada kabar. Aku melihatmu seperti jingga yang menyempurnakan senja. Senja yang sejatinya mempunyai banyak warna, namun jauh lebih indah jika dengan warna jingga. Kamu yang selalu memprotes ketika kumulai mengabaikan kecerewetan dan kekonyolan yang sering kamu lakukan. Bukan karena aku tak suka sikapmu, namun aku tidak suka kamu jadi pusat perhatian, apalagi laki-laki lain. Sekarang mengerti maksudku kan? Ponselku berbunyi, dan itu artinya dia kembali menghubungiku. Seseorang yang tidak kamu suka, dan nyatanya dia ada dalam hidupku sebelum kamu. Seperti sebelum-sebelumnya, kamu memilih diam dan memberiku waktu untuk mengangkat telpon darinya. Entah mengapa, kamu begitu mengerti tentangku. Dan mungkin karena itu aku merasa nyama...

Seperti Hembusan Angin yang Menjarah Duka

Angin berhembus dengan kencang, awan hitam mulai menginterupsi langit yang tadinya cerah. Suara bising "Ayo pulang, keburu ujan" tiba-tiba memenuhi ruangan. Gorden yang tadinya diam, menjadi banyak tingkah. Laki-laki itu menatap keluar ruangan, tepatnya dipersimpangan tempatnya dulu menyuarakan perasaan. Mencuri pandang pada gadis bak rembulan di punggung bukit. Seperti hembusan angin yang menjarah duka kala itu, dia kembali teringat senyumnya, matanya, dan pelukannya. Sudah beberapa kali mencoba untuk lupa, tapi rasa jadi penjara, baginya. Memutuskan untuk pergi, tanpa menengok sedikitpun sebenarnya bukan pilihan. Tapi sesuatu telah membuatnya mundur. Menghancurkan mimpi besarnya yang masih setengah perjalanan diraih. Kemudian matanya mengerjap ketika seseorang yang ada dalam ingatannya sedang berhenti disana, dipersimpangan. Pandangannya tertuju pada ruangan dimana laki-laki itu berada, dan dia segera sembunyi. Meski rindunya terus berbisik untuk menyuruh datang mengh...

Seperti hujan yang Menghujamkan Diri ke Bumi

Diluar hujan turun dengan derasnya, buliran air yang menghujamkan diri pada bumi sebagai penghabisan rindu. Dedaunan layu sebab air melewatinya tanpa maaf, hingga tergugurlah sebelum masanya. Angin berhembus cukup kuat, memporak porandakan yang lemah, menjatuhkan yang rapuh. Disudut jalan, tepatnya didepan rumah yang penghuninya memilih untuk tidur dan berlindung dibawah meja. Seorang gadis berteduh, mengibaskan sebagian pakaiannya yang basah karena hujan. Matanya menyusuri jalanan, andai dia tak sendirian. Dia baru saja dari persimpangan, menantikan yang dirindukan. Berjam-jam, dan akhirnya tersadarlah bahwa semuanya sudah berakhir lama. Ketika pamit yang urung diingkari. Gadis itu berharap hanya mimpi, ucapan pamit perpisahan itu hanya bualan karena lelah. Tapi ternyata tidak, semuanya sudah berakhir waktu itu juga, tanpa terkecuali harapan dan mimpi untuk melawan waktu bersama. Jarak menghabisinya hingga berdarah-darah. Hujan seakan menguarkan airmatanya lagi, sebagai topeng d...

Terbesit Harap Bisa Melihatmu

Dimalam itu, aku menyusuri jalan dimana kita sering bertemu, sewaktu dulu. Terbesit harap bisa melihatmu malam itu. Rindu membuatku mengambil keputusan untuk menyakiti hatiku lagi. Aku memilih melihatmu, padahal kutau itu berakibat fatal pada ingatanku. Rindu yang kucoba kubur selama ini, mungkin juga terjadi padamu. Tapi apakah kamu pernah berpikir juga sepertiku? Yang rela sakit hati lagi, karena hanya ingin menemuimu. Yang rela tidak bisa tidur, karena teringat saat melihatmu. Culik rasaku, jangan biarkanku menjatuhkan rindu ini lagi. Kusakit, bila rindu tak berujung.

Padanya yang membuat kunang tak benderang

Merindumu bak renung yang berkabung, Hanya menyisakan ruang yang terkarung. Tak lebih luas dari sekelumpit jari yang menggenggam, Tak mampu bergerak meski terus coba meredam. Padanya yang membuat kunang tak benderang, Akankah ruang masih tetap terkarung. Ingin rasa mencuri jarak, Agar tak ada lagi yang berserak. Rasa ini, Hati ini, Jiwa ini, Dan cinta ini. Pada siapa, jika bukan padanya. Ruang semakin menyempit, Seperti zona yang hanya sekelumpit. Entah, pada ruang atau jarak, Bolehkah ku pinta satu saja. Agar tak berserak, Satukan kita yang berharap saling bersama.

Seperti jejakmu yang sudah hangus

Karena yang pergi, tidak benar-benar hilang. Seperti kamu, yang masih kupaksa hadir meski jarang. Mungkinkah ketakutanmu masih berlebih? Kutau kamu menerima kembaliku, Tapi kamu memberi jarak yang bisa kurasakan. Jujur, naluriku terluka. Tapi tak bisa kusalahkan. Kamu hanya tidak mau perasaan itu muncul dihatimu lagi bukan? Tapi sesungguhnya, ketakutan terbesarmu bukan lah hal itu, melainkan perasaanku yang akan kembali tumbuh karena kebersamaan kita. Kau tau? Jejak langkahmu sudah hancur sejak dulu, berpuih sejalur dengan tanah kering yang tandus dan retak. Kutangisi, kepergianmu yang tanpa berbalik. Kuhanya ingin melihat wajahmu kala itu, meyakinkanku bahwa semua itu benar. Tapi nyatanya salah. Yang benar, kamu masih mencintaiku. Untuk berbalik adalah tantangan terbesar yang berakibat menyakiti hatimu lagi jika tak kuat. Aku tau. Aku salah. Aku memintamu tetap menetap, padahal kamu sudah berusaha berlari. Kedatanganmu untuk hari ini, masih menjadi pertanyaan. Apakah ...

Utuh memilikimu

Ku menatapmu dari kejauhan, Pemandangan yang indah melihatmu dengannya. Tak pernah ada kesedihan, Jika hanya ada gelak tawa yang nyaring dia gumamkan. Aku pernah ada diposisinya, Mungkin sekarang masih. Tapi aku tetap tidak bisa memilikimu, Tidak seperti dia yang utuh memilikimu.

Padi yang berbaris

Aku ingin berhenti disini, Menelan pahit sekaligus manis secara bersamaan. Tak ada yang tau, bahkan aku. Karena dari semua padi yang berbaris, masih ada satu-dua yang layu karena tak sehat. Pemberhentian yang tak urung menyisakan sedih berkepanjangan, Namun harus terjadi jika sudah dipersilahkan. Siapa yang rela? Apabila itu semua membuat lega. Tak patut dipertanyakan, Karena yang pasti adalah takdir. Dan kita tak dapat sendiri mengukir.

Dipersimpangan itu aku melihatmu

Kemarin, aku melewati persimpangan tempatku menunggu. Inginku melupakanmu ternyata tak semudah mengingatmu dalam setiap detik. Seperti berlari dalam gurun pasir yang luas dan panas. Aku kelelahan dan tak tau arah. Bagaimana lagi caranya agar aku bisa melupakanmu? Lalu waktu itu, aku kembali melihat sosokmu. Kini kamu terlihat lebih gemuk. Kamu jauh lebih bahagia ya? Kamu masih sama, Monster Senja. Seperti pertama kalinya aku menemukanmu. Kamu selalu memalingkan wajah, dan bersikap angkuh. Kamu kira aku akan takut seperti dulu? Jika sikap manismu sudah menjadi makananku setiap hari. Apa kamu tak mengingat bagaimana kita yang dulu? Mencari suka didalam duka bersama-sama. Hanya untuk saling menguatkan. Tapi ternyata berakhir saling membiarkan. Jujur, bagaimana aku bisa membiarkanmu? Sedangkan bayanganmu saja masih menghantui ingatanku. Boleh aku berasumsi? Jika kamu juga seperti itu. Mana mungkin kamu bisa semudah itu melupakannya. Hari ini aku kembali melewati persimpanga...

Sinar diantara semak belukar

Ku melihat sesuatu yang bersinar muncul diantara semak belukar. Sejak kapan rumahku jadi banyak rerumputan? Dan kumelihatmu. Kamu datang lagi, dengan sinarmu. Disaat gelap telah menutupi segalanya, hingga semak belukar tak ku ketahui kapan tumbuhnya. Ku mengerjap, mencerna yang berusaha tak kuanggap. Kamu hadir tanpa memberi kabar, Membuatku tercengang, dan tak sadar. Sudah berapa lama kudalam kegelapan? Hingga dengan sinarmu aku gelagapan. Aku pernah coba menculikmu, Tapi kamu berusaha melarikan diri. Hingga ku menyerah dan mengasingkan diri, Dalam kegelapan yang tak kamu ketahui. Tapi kamu datang, dengan kemustahilan yang hilang.

Perempuan terakhir disepertiga malam

Hakimi aku. Salahkan aku. Benci aku. Jika dengan itu membuatmu lega dan bisa melupakanku. Apa yang mudah dari menyakiti seseorang yang sangat aku cintai? Aku kesal dengan diriku sendiri, mengapa aku terus membuatmu menunggu selama ini, mengapa aku membuatmu terus membangun harapan untuk kita. Mengapa baru sekarang aku membuat keputusan untuk benar-benar pergi dan berhenti. Dadaku sakit, kamu tau? Aku ingin menoleh dan melihatmu. Tapi aku terlalu takut, akan mengurungkan niatku yang sudah ku bangun sejak beberapa waktu ini. Tidak mudah. Dan rasanya menyakitkan. Jika boleh aku berkata, aku masih sangat mencintaimu. Jika boleh aku meminta, aku pun ingin tetap bersamamu. Jika boleh aku berharap, sepertimu, aku ingin hidup selamanya denganmu. Tapi bisakah beri aku satu alasan, apa yang bisa membuatku untuk tetap mempertahankanmu? Jika sebanyak orang didunia ini menolak kita bersama. Kita hanya berdua, dan mereka banyak. Kita hanya punya dua tangan, dan kita tidak bisa menutup sem...

Laki-laki yang pergi dipersimpangan

Setelah kepergianmu. Aku berusaha bahagia, dengan senyum yang kubuat-buat. Pantas jika kamu tertawa dari jauh melihatku sekarang. Karena, aku pembohong besar dengan topeng kebahagiaan. Sekarang aku tanya, apakah aku akan baik-baik saja setelah sekian lama menunggu dipersimpangan, dan berakhir merelakan untuk selamanya. Apakah aku akan baik-baik saja? Hm. Pernahkah kamu berpikir, bahwa aku terus merutuki kebodohanku itu? Aku menyerahkan semua harapanku terhadap satu orang, dan itu hanya kamu. Aku yakin, aku akan bahagia bersamamu. Aku akan jalani kehidupanku dengan bahagia bersamamu. Bersamamu. Kamu dengar itu? Tapi sepertinya itu tak berarti. Aku ingat bagaimana caramu memalingkan wajah untuk pergi, tanpa melihatku sedikit lagi. Bagaimana terlukanya aku waktu itu? Apa kamu berpikir? Laki-laki yang datang kemarin, seperti bukan sosok yang kukenal selama ini. Awalnya aku menganggap pemilik mata teduh datang, ternyata tak lebih hanya membawa hujan bersama petirnya. Belum sempat a...

Dipersimpangan itu kamu menyuruhku berhenti

Aku mengerjap, melihatnya datang. Setelah sekian lama aku menunggu. Dengan wajah khas hujan yang meneduhkan, aku masih jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Mencari alasan kenapa aku masih mengharapkannya, mencuri iba agar dia datang kembali. Dan benar, dia datang. Mengembangkan senyum bak pelangi terbalik dengan warna indahnya. Kembali membuatku menemukan kebahagiaan sederhana. Begitulah definisi yang sesungguhnya ketika dia datang. "Hai." Sapanya, terdengar bergetar. Entah karena apa. "Hai juga." Balasku. Jauh lebih bergetar. Kecanggungan itu melingkupi suasana hari ini. Sudah berapa lama kita tak bertemu? Sampai kita lupa cara bercakap dengan benar. Dan selama itu juga aku masih menunggunya. "Kabarmu bagaimana?" Tanyanya dengan basa-basi yang sudah umum. "Seperti yang kamu lihat. Aku masih disini. Itu artinya aku masih baik-baik saja." Tidak sepertinya, aku lebih bisa menjabarkan keadaanku. Kesal menunggu, mungkin faktor khususnya. ...

Pada sebuah waktu

Setiap hari bersamamu, bukan berarti aku bisa memilikimu. Nyatanya kamu pergi untuk sebuah waktu, yang menahanmu. Dan aku hanya bisa menunggu, sampai nanti kamu datang kembali untuk menyapaku. Merengkuh bayangmu kembali, agar bisa kumiliki. Meski kutau itu mustahil. Pada sebuah waktu, boleh aku merayumu? Agar waktunya denganku, lebih lama. Pada sebuah waktu, boleh aku meminta? Perlambatlah tiap detik, agar lebih lama. Pada sebuah waktu, bolehkah aku memilikinya? Untuk selamanya. Sehingga tanpa perlu lagi aku merayu dan meminta padamu.

Mari berbagi denganku

Mari berbagi denganku, Aku mencintainya, begitupun kamu. Tapi sayangnya, dia jauh lebih mencintaimu. Dan untuk melepaskannya, aku perlu berpikir berulang kali. Itu tidak akan mungkin. Dia cinta pertamaku, mencari yang lain bukan keahlianku. Aku hanya ingin bersamanya sampai nanti berumur dan beruban. Tapi cintanya jatuh padamu. Kamu yang membuat dia mengalihkan semua kasih sayangnya padamu. Tidak menyalahkan siapapun, apalagi dia. Mana mungkin aku menyalahkan dan menghakimi orang yang aku cintai. Aku hanya mau mempertahankannya, meski harus berbagi. Meski kutau, apa yang kulakukan semakin membuatku sakit.

Kaset Usang

Aku datang saat kamu cari, Aku menenangkan saat kamu emosi, Aku peluk saat melerai, Aku hancur saat semua tak berarti. Ketika kamu kembali lagi padanya, Sekedar menengok pun kamu sudah tak peduli. Baiklah, aku sadar, aku hanya obat penenang saat kamu gusar karenanya. Pundakku hanya dibutuhkan saat tawamu hilang karenanya. Senyumku tak lebih hanya hiburan palsu karena mengingatnya. Ceritamu panjang disana, sedang aku hanya kaset usang yang tak berbentuk, dan hanya menjadi tempat tak berarti untuk menyimpan cerita. Aku memang tidak pantas berada disana, menjalin cerita panjang yang kumimpikan bersamamu.

Dipenghujung senja

Ijinkan aku pergi dipenghujung senja, menenggelamkan diri bersamanya ketika malam. Menghapus semua gelisah yang tak berarah. Mengapa? Ada banyak kata, tapi tak bisa diucapkan karena percuma. Hanya senja yang tau, tapi tak melakukan lebih selain mengajakku tidur. Menutup mata, dan berjanji ketika kukembali membuka mata, semuanya akan indah. Tapi percuma. Saat kukembali membuka mata, semuanya tetap sama. Dan tak adapun yang indah seperti yang dijanjikannya. Yang ada hanya luka, yang tak tau akan sembuh sampai kapan.

Meski duduk berdua, bukan berarti kita bersama

Kita menyatukan cerita, hingga tau isi hati yang tak terduga. Pada pandangan itu, aku ingin meleleh hingga tak bisa lagi beku sempurna. Aku bahagia sekaligus hancur seketika. Mengapa? Meski duduk berdua, bukan berarti kita bersama. Dunia mengiyakan, mencari bukti bahwa kita sempurna. Tapi tak bisa lebih dari hanya melempar pandangan, mencuri perhatian, dan merangkul bayangan. Berdekatan hanya semakin membuat rasa nyaman itu berkembang lebih. Dan tak tau diri. Semakin larut dalam pembicaraan, semakin kumengerti bahwa ini mustahil. Kehilanganmu, sudah pasti, dan harusnya aku mulai belajar dari sekarang. Tapi, rasa nyaman itu mengelak segala usaha. Dan ego tak bisa mempermainkan perasaan.

Tempat singgah ketika letih

Aku masih menahanmu, Dalam luka yang kita anggap suka. Suka yang membuat kita enggan pergi. Berulang kali aku memintamu menetap, Meski kutau tetap bukan aku tempatmu berhenti. Aku hanya tempat singgah ketika kamu letih. Jangan tanya sampai kapan aku begini, Karena yang kurasakan bukan sebuah alibi, Melainkan hati. Aku mengikuti hati, Dan hati memilihmu. Lalu, apa aku harus menunggumu? Jika aku sadar, kamu bukan untukku. Bukan. Dan, tidak akan. Cukup sekian. Karena aku tau hatiku tetap tidak beraturan.

Pasir Putih

Seperti pasir putih diujung pantai, Menunggu air kembali mendekat, hanya untuk sekedar mengucapkan "hai". Lalu hilang, bersama sekawannya. Menyisakan sapa itu menjadi cinta. Hingga pasir tak berniat untuk beranjak, Karena dia tau air akan mendekat padanya. Lagi dan lagi. Kemudian pergi lagi. Tak apa, pasir tak pernah mengeluh. Karena dengan cara itu dia menguarkan rindu. Menanti sapaan air yang membuatnya bahagia berharu. Berela diri untuk menjadi tumpuan yang bisa saja berhambur. Menahan luka yang membuatnya berkabur. Demi menemukannya kembali. . Air yang terus mempermainkan pasir. Datang dan dan berangsur pergi.

Aku pengharap yang mustahil

Kutatap matamu, mencari arti dari semua yang terjadi selama ini; perhatianmu, rindumu, katamu, hingga bait tulisan dalam pesanmu. Sungguh adakah aku disana? Sepenting itukah aku dihidupmu selama ini? Dan pantaskah aku bertanya seperti itu. Pada seseorang yang raganya sudah dimiliki orang lain. Keterlaluan jika ku menginginkan ini lebih. Menahanmu dalam perasaan ini. Memintamu disini, dan membiarkannya menunggumu. Menunggu seseorang yang sudah pasti untuknya. Sedang aku? Menahan seseorang yang hanya sekejap dalam dekapan, lalu menghilang bersama rindumu padanya. Boleh aku berharap? Pada hal-hal yang mustahil sebenarnya. Menggantikan semua luka diantara kita, menjadi bahagia yang tak terduga. Andai bisa. Aku hanya ingin pertemuan kita membuatmu senang, bukan bersenang-senang. Dua kata yang hampir sama, tapi memiliki makna yang sangat berbeda. Aku ingin menjadi alasanmu berbahagia, bukan alasanmu tertawa. Karena terkadang tawa menjadi penyembunyi luka paling ulung. Aku, pen...

Tunggu Menunggu

Aku terbang, saat mendengar kejujuranmu. Salahku memang, membuatmu harus menunggu kabar dariku. Tanpa kutau, sampai kamu menjadi uring-uringan, kesal dengan sekitarmu, mencaci yang sebenarnya sepele. Yah, ku baru tau kegusaranmu setelah kamu bercerita dengan wajah yang masih enggan melihatku. Tak apa, memang salahku. Aku balik bercerita, aku pun menunggumu. Saat kita sudah bertemu, tapi ternyata kamu enggan untuk melihatku. Sakit sebenarnya. Tapi sekali lagi memang salahku. Aku membelikan makanan kesukaanmu, menunggumu ditempat kita biasa berdua, sampai ponselku hampir saja mati karena batrai yang lupa ku isi. Aku takut tidak bisa mengabarimu, bahwa aku disini, menunggumu dengan makanan kesukaanmu. Kemudian kamu datang, tanpa kuketahui. Dengan wajah yang masih enggan melihatku, kamu berkata jujur. "Bagaimana caranya aku bisa luluh seperti ini, saat aku benar-benar kesal padamu? Dua hal terbalik yang aku rasakan sekaligus." Aku tersenyum. Tidak bisa menahannya lagi. Ka...

Sebentar, tidak untuk sandar

Aku datang menjemput luka, Menemuimu dengannya untuk bertegur sapa. Persepsiku mungkin tak akan seberapa, Namun ternyata aku benar-benar sedang terluka. Kamu tertawa bersamanya, Seakan tawamu bersamaku sudah tak bernyawa. Sesaknya mungkin tak akan seberapa, Tapi goresannya membuat semua porak poranda. Ini tidak adil. Dan aku terlihat egois. Aku selalu memintamu untuk datang, Ketika seharusnya kamu pulang. Aku yang menahanmu, Untuk perih dihatinya ketika menunggumu. Salahkah? Jika aku memintamu menetap, sebentar. Karena aku tau, dia lah satu-satunya tempatmu sandar. Aku, ombak yang menerjangmu, Menghalangimu untuk menepi kebahu pantai. Aku, duri dijalanmu, Menahanmu untuk kembali memulai.

Menanti dan takdir

Menantimu sama halnya dengan penantian senja untuk malam. Sedetik akan bertemu, tapi garis takdir memisahkannya. Memberi dimensi jarak yang tak bisa dilewati. Menguarkan warna jingga menjadi gelap tak berwarna. Mengapa? Sulit menyatukan, sedang takdir terus merencana. Rencana yang tak bisa dilihat mata, didengar telinga, dan disentuh tangan. Hanya hati, yang dapat merasa, meski harus nelangsah. Takdir yang membawaku menemukan luka, kecewa, duka, lara dan resah. Dan takdir juga yang membawaku untuk jatuh cinta. Seperti halnya hati, untuk apa dibuat menanti, yang tak bisa berhenti, hanya dengan mengerti. Mengerti saja tidak cukup. Karena menanti tidak butuh itu. Menanti hanya butuh seseorang yang dinantinya datang. Dengan membawa rasa yang sama, meski dinding jarak berada ditengah-tengah untuk memisahkan. Takdir tidak pernah memungkir. Dan penantian itu pun tidak akan sia-sia. Menantilah. Selagi kamu yakin, takdir akan memihakmu.

Apakah rindu kita sama?

Apa boleh aku bertanya? Mengapa kamu senang disana? Dihati dan pikiran yang selalu rapuh karena rindu. Berputar-putar layaknya jarum jam yang tak berhenti menemui tiap angka, dan hasilnya ribuan kali ia berputar, tetap saja ia akan menemui angka yang selalu sama dan tidak berubah. Sejak kapan rindu ini mencuat? Membombardir, dan menyebabkan resah yang berkepanjangan. Aku tenang, jika kamu disini. Bersama senyum pelangimu, mata hujanmu, dan kalimat menenangkan seperti halnya senja. Aku tenang, hingga aku terbuai dan larut. Mengedip beberapa kali untuk menormalkan pandanganku yang kabur karena embun bening. Kamu datang. Dengan senyum dan mata yang ku rindukan. Ku lihat tidak ada lagi sedih diwajahmu, seperti terakhir kali aku melihatmu pergi. Yang kulihat sekarang, hanya rasa rindu. Rindu yang membuatmu kembali menemuiku, untuk kesekian kalinya kamu pergi. Kenapa harus pergi? Kenapa kamu tak mau menetap? Apakah, aku akan selalu menjadi tempat singgahmu sebelum pulang? Tetap ...

Definisi Rindu

Merindu yang tak berujung, Pada siapa ku akan menghujung, Jika yang kurindu pun tak kunjung. Apa definisi rindu yang sesungguhnya? Apakah seperti kulit yang tersilet namun tak berdarah? Atau kah seseorang yang berjalan didalam kabut, berputar-putar untuk menemukan jalan keluar? Atau kah seperti jam yang terus berdetak membentuk sebuah lingkaran? Benar. Semuanya benar. Atau mungkin bisa lebih dari itu semua. Definisi rindu bermacam-macam. Dan memiliki takarannya masing-masing. Rindu, seperti kulit yang tersilet namun tak berdarah. Ada luka sebenarnya, ada lelah, ada cemas, dan ada juga khawatir yang berlebih. Namun manusia tidak bisa mengisyaratkannya secara langsung, apalagi makhluk pemalu dan naif yang disebut perempuan. Mereka hanya bisa memendam, menimbulkan luka, tapi terlalu hina baginya untuk mengatakan itu. Rindu menyelimuti pikiran dan hatinya, namun untuk mengungkapkan adalah sebuah hal yang mustahil. Rindu, seperti seseorang yang berjalan didalam kabut, dan tak men...

Aku hanya sebuah pohon

Aku adalah pohon, Dan kamu adalah daunnya. Aku yang berusaha berdiri dan menetap, Sedangkan kamu terus menggugurkan diri. Pergi, meninggalkanku tanpa berpikir ulang. Aku masih berdiri, Menantimu kembali, Untung kedua kali, Ketiga kali, Hingga berulang kali. Tanpa lelah meski kutau ini akan berkelanjutan dan semakin tak tau diri. Apa ini? Luka dibutakan oleh rindu, Sedikit pun tak pernah ingin kumengadu, Karena pada akhirnya aku lah yang termadu, Yang menjadi tempat singgahmu, Ketika hanya perlu. Aku hanya sebuah pohon, Yang selalu bahagia ketika daun kembali hadir. Dan selalu tabah ketika daun mulai memungkir.

Membiru hiru, Memburu haru

Aku yang jatuh, berusaha berdiri tanpa meminta bantuan dia ataupun kamu Aku yang pecah berkeping-keping, enggan meminta siapapun menyatukanku Aku yang berjalan, menembus kabut sendiri tanpa meminta siapapun menemaniku Aku yang memburu haru, Aku yang menyembunyikan luka tanpa siapapun tau. Biarlah, ini jadi ceritaku, Yang tak perlu kamu dan lainnya tau, Biarlah ini luka hilang dengan sendirinya tanpa bantuanmu. Aku tidak mau ada yang campur tangan, begitupun kamu. Aku yang membiru hiru, Menjadikanku tamengmu, membantumu bangun ketika terjatuh Menyatukanmu, ketika pecah berkeping-keping dan tak utuh, Menemanimu menembus kabut dijalanmu yang berbatu, Aku yang akan jadi temanmu, yang menyembuhkan lukamu, Meski kamu sendiri tidak akan pernah menyadari hal itu. Karena aku melakukannya dengan tulus, tanpa memintamu untuk mengerti. Baiklah, biarkan aku membuatmu nyaman hanya dengan sebagai teman. Terimakasih.

Aku tidak mau kamu jadi pusat perhatian

Aku tidak mau kamu dikenal banyak orang, Menjadi pusat perhatian setiap langkahmu berjalan. Anggap ini rasa cemburu, tapi tak berlebihan kan? Aku hanya ingin, cuma aku lah yang bisa memperhatikanmu setiap waktu, setiap langkahmu. Dan hanya aku lah yang tau segalanya tentangmu, bukan orang lain yang bahkan mereka pun tidak kamu kenal. Aku tidak mau mereka lebih tau dariku. Perempuanku, aku ingin berada disampingmu. Menunjukkan pada khalayak bahwa kamu sedang kujaga, dan tak boleh seorang pun menjadikanmu pusat perhatian. Karna, kamu bersamaku. Meski tidak pernah kumiliki. Baiklah, mungkin ini membingungkan. Tapi coba tanya pada orang yang melihat kita, dan dengar apa yang mereka katakan tentang kita. Serasi? Cocok? Ya. Dan itu berhasil membuat laki-laki yang memperhatikanmu menundukkan pandangannya. Kita serasi. Meski tidak pernah saling memiliki.

Melawan waktu dan jarak

Kamu, yang kutemui pertama kali dengan tatapan meneduhkan. Menggiringku untuk berasumsi bahwa cukup dengan melihatmu, aku bisa berdamai dengan waktu. Waktu yang nyatanya hanya berkompromi dengan jarak, tidak denganku. Mereka saling berbisik untuk menjauhkanmu dariku, membawa jauh si pemilik tatapan meneduhkan, hingga untuk kuraih pun menjadi sangat mustahil. Dan tabu dimata yang lain. Tapi, ketika aku mulai memejamkan mata, coba merelakan yang memang tak direstui oleh waktu, sesosok bayangan berlari dari kejauhan. Berlari dengan sekuat tenaga, sampai suara napas yang tersendat-sendat pun terdengar jelas. Sangat jelas, bersama kamu dengan wajah letihmu. Namun tidak pernah merubah tatapan meneduhkan itu. Tatapan yang hanya dimiliki satu orang, yaitu kamu. Cukup lama kamu mengatur napas, aku tau betul kamu pasti lelah, karena waktu benar-benar menyeretmu sejauh mungkin. Dan sekarang aku hanya bisa memperhatikanmu, menatap seseorang yang kuanggap mustahil untuk datang menjemputku. Ras...

Kita, yang dipermainkan jarak

Kita, yang dipermainkan jarak, Bagaimana caranya mengelak? Kita, yang dipermainkan waktu Mengapa kita tidak bisa menyatu? Pada siapa kita bertanya? Mengapa kita dipertemukan tanpa tau alasannya. Siapa yang bisa menjelaskan? Saat kita saling meragukan, Kita yang menginginkan lebih, Tapi siapa yang menjamin tidak adanya hati yang tersakiti. Dan saat kita coba merangkak lebih jauh, Mengelakkan kenyataan yang nyatanya tak mungkin tersentuh. Kita, sudah diakhir penghujung, Dengan cerminan yang dianggap sudah berujung. Namun, kita merasa semua tak ada ujungnya, Sebelum kita menyempurnakannya, Dengan kita bersama. Lagi-lagi, waktu dan jarak yang mengoyak kesadaran kita. Siapa aku? Dan siapa kamu? Mengapa sedari tadi aku menyebut; aku dan kamu, menjadi; kita. Mengapa?

Jangan lagi langit

Langit pun mengeluarkan buihnya, Tak dapat lagi menahan rasa yang dienyahkannya, Apa kabar denganku? Seakan mewakili rasaku, Langit tak senggan untuk jujur. Jujur pada bumi, Bahwa tak ada lagi yang bersemi, Tak ada lagi, Sejak semuanya berubah menjadi awan gelap tak berpelangi. Bumi pun akhirnya menyadari, Bahwa langit sedang bersedih, Bersedih yang tak berarti, Karena semua sudah terjadi. Kenapa? Kenapa langit tak juga menerima, Dengan kenyataan yang sudah didepan mata, Harusnya langit menyadari itu semua. Langit, Kamu yang mengertiku, Menjadikanku gambaranmu, Menolongku saat tak tahan lagi dengan rasaku, Menjadikan buihmu penutup airmataku. Aku pernah menangis, Dan langitlah yang menutupinya, Sekarang aku menangis lagi, Dan langit masih mau menutupinya. Seakan tak lelah, Meski cukup banyak aku mengeluh, Meski akhirnya menahan itu terasa sakitnya, Dan langit tak pernah memprotes, Lagi lagi dengan ketulusannya, Dia peduli pada kesedihanku. Baiklah, sekar...

Apa definisi Rindu?

Rindu ini tidak berujung. Seperti halnya bintang yang selalu merindukan bulan, meski mereka selalu bertemu di tiap malam. Apakah mungkin bisa aku hentikan, jika caramu berbicara masih jelas kuingat. Dan membuatku semakin rindu. Rindu macam apa, yang muatan nya melebihi berton-ton besi, dan berhasil memenuhi pikiranku. Memperjelas bagaimana aku tidak bisa tanpa kehadiranmu. Definisi Rindu itu apa sebenarnya? Sampai seseorang yang merasakannya terlihat gila dan tidak waras hanya untuk mencari kabar. Kabar yang meski sangat sepele dimata orang lain, namun sangat berarti bagi orang yang merindu. Merindukanmu, Seperti langit pada bumi, yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan, namun enggan untuk beralih.

Kamu, sosok yang membuatku nyaman

Kamu yang membuatku terbang sekaligus jatuh berkali-kali. Bukan karena kamu menyakitiku, tapi karena keadaan yang membuatku harus sadar bahwa sayap yang kukepakkan untuk menggapai mu sedang terluka dan tidak mampu untuk terbang. Entah untuk berapa kalinya aku berusaha menormalkan perasaanku, bersikap biasa saja setiap kamu mulai menyapaku, namun yang aku rasakan berbanding terbalik dengan alibiku selama ini. Karena Kamu, selalu menjadi alasanku bersemangat menjalani hari. Menyisakan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatmu, atau bahkan menahan tawa ketika kamu mulai mengujar kata-kata yang menggelikan perut. Karena Kamu pula, tempat ternyamanku setiap bertemu. Pundakku yang jadi sandaranmu berusaha kuelakkan dari rasa lelah, sebab ingin kubuat senyaman mungkin untukmu, agar kamu pun menyadari bahwa aku juga nyaman setiap bersamamu. Aku nyaman sekali, hingga aku terlampau egois untuk bisa terus bersamamu. Ingatkah kamu? Saat pada akhirnya kita memutuskan untuk bertukar pikiran. ...

Pundak ternyaman untuk Perempuanku

Perempuanku , yang membuatku terbang sekaligus jatuh berkali-kali. Entah untuk berapa kalinya aku berusaha menormalkan perasaanku, bersikap biasa saja setiap kamu mulai menyapaku, namun yang aku rasakan berbanding terbalik dengan alibiku selama ini. Karena Kamu, masih menjadi alasanku bersemangat menjalani hari. Menyisakan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatmu, menahan tawa ketika kamu mulai mengujar kata-kata yang menggelikan perut. Karena Kamu pula, tempat ternyamanku setiap bertemu. Pundakku yang jadi sandaranmu berusaha kuelakkan dari rasa lelah, ingin kubuat se nyaman mungkin untukmu, agar kamu pun menyadari bahwa aku juga nyaman setiap bersamamu. Perempuanku, aku tidak pernah lupa ada batas yang tak kasat mata, yang tidak bisa menyatukan kita hingga sekarang. Menjadikanku hanya secuil cerita dihari dan hatimu. Terkadang aku berpikir untuk mundur. Tapi mundur atas apa? Jika pada dasarnya kita tidak pernah memiliki hubungan lebih dari teman. Mundur dari menjadi temanmu? ...